DOKTER LUISA

DOKTER LUISA
ANAK KU PENDERITA EPILEPSI


__ADS_3

Menurut mu apakah aku cocok dengan pak Roland?"


"Cocok - cocok saja."


Luisa mengatakan hal tersebut sambil terus menatap kaca dan tidak menatap Franda.


"Hei Luisa ayolah tatap mataku saat kau berbicara dengan ku."


Franda yang merasa tidak mendapatkan perhatian dari Luisa kembali merajuk.


"Ada apa Franda?"


Dengan sabar Luisa kembali menatap ke arah Franda.


"Kau mengatakan hal itu, hanya karena ingin menghibur aku saja kan?"


Luisa yang mendengarkan jawaban dari Franda kini hanya bisa tersenyum.


"Franda, kau tau aku mengatakan hal itu betul - betul tulus dari hati ku yang paling dalam, kau tau di hadapan Tuhan tidak ada hal yang tidak mungkin, yang perlu engkau lakukan adalah berdoa dan menyerahkan kepada Tuhan."


Franda yang mendengarkan perkataan Luisa langsung memeluknya kembali.

__ADS_1


"Terima kasih Luisa, kau adalah sahabat terbaik yang aku miliki."


"Lepaskan Franda."


Dan Franda langsung melepaskan kembali pelukannya.


"Aku pamit dulu Luisa, daaaaa."


Dan setelah mengatakan hal tersebut Franda langsung keluar dari ruangan Luisa.


Luisa kini sendiri di dalam ruangan langsung mengunci pintu ruangan tersebut dan kembali duduk di depan kaca.


Air mata Luisa mulai mengalir saat Luisa mengatakan hal tersebut di depan cermin.


"Di dalam hati mu hancur, tapi kau masih bisa tersenyum di depan camera, menjadi penasehat yang baik untuk orang lain, sungguh Luisa kau berbakat sekali untuk bermain film dan mendapatkan peran sebagai pemeran utama wanita."


Air mata Luisa semakin mengalir dengan deras saat semua hal tersebut terlontar pelan dari bibir mungilnya.


Dengan perlahan Luisa mengambil sisir yang ada di meja dan mulai menyisir rambutnya yang kini telah menjadi kusut.


"Mas Bram apakah kesalahan ku sebesar itu kepada mu? apakah kau tidak bisa menerima ku kembali hanya karena aku tidak perawan lagi? bagaimana jika kau mengetahui rahasia ku yang lainnya?"

__ADS_1


"Bagaimana jika kau mengetahui bahwa aku adalah seorang ibu dengan satu orang anak penderita epilepsi? apakah kau akan semakin menghina dan mencaci maki aku di depan banyak orang?"


"Mas Bram, aku itu bukan pembunuh, aku juga bukan pencuri, aku hanya seorang ibu yang memiliki anak tanpa status pernikahan, apakah hal ini begitu hina bagi mu mas Bram? sehingga kau begitu mudah mengakhiri hubungan kita?"


Luisa mengatakan hal tersebut sambil terus menyisir rambutnya..


"Kau tau mas, sampai saat ini, sampai detik ini aku juga belum mengetahui siapa ayah dari putra kecil ku Jovan, karena kejadian waktu itu .."


Dan tiba - tiba saja Luisa menghentikan ucapannya, ke dua tangannya mencengkram tepian meja rias tersebut dengan sangat kuat.


"Kejadian malam itu dimana aku tidur dengan laki - laki yang tidak aku kenal."


Rasa sakit hati yang luar biasa seketika menjalar di sekeliling tubuh Luisa.


"Kau tau mas Bram, tidak mudah bagi ku ketika aku mengetahui bahwa aku mengandung dan harus di usir dari keluarga ku."


"Bekerja keras sendiri, dan lebih menyakitkan bagiku ketika Jovan di vonis dokter menderita epilepsi."


"Seandainya mas tau rasanya dunia seakan - akan runtuh ketika aku mendengar vonis dokter akan putra kecilku itu."


Luisa mengatakan hal tersebut dengan perlahan sambil terus menghapus air matanya yang masih tidak berhenti untuk mengalir.

__ADS_1


__ADS_2