DOKTER LUISA

DOKTER LUISA
KLARIFIKASI


__ADS_3

Kata - kata tersebut yang Luisa ucapkan di penghujung acara talk show yang di pandunya.


Selesai acara tersebut Luisa melihat Bramasta langsung berpelukan dengan satu gadis yang sejak tadi berada di samping Bramasta.


Rasanya sakit sekali hati Luisa, baru beberapa hari hubungan mereka berakhir dengan cepat Bramasta langsung menemukan penggantinya.


"Maafkan adik ku."


Deg


Luisa langsung mencari sumber suara yang mengatakan hal tersebut.


"CEO Ronald."


Ronald tiba - tiba saja sudah berada di samping Luisa, seperti biasa Ronald selalu duduk di kursi roda kesayangannya bersama dengan sang asisten pribadinya Rico.


"Ya, aku bisa melihat dengan jelas kesedihan mu dokter Luisa, maafkan aku yang tidak bisa melarang adik ku Anindira untuk tidak menjalin hubungan dengan Bramasta Brawijaya."


Ronald mengatakan hal tersebut sambil menatap tajam ke arah Luisa.


"Tidak perlu CEO Ronald untuk meminta maaf akan hal ini, CEO Ronald tidak salah, aku yang seharusnya tidak perlu cengeng seperti ini."


Luisa yang sudah tidak bisa menyembunyikan air matanya tiba - tiba menghapus air mata tersebut dengan ke dua tangannya.

__ADS_1


"Ini."


Ronald mengatakan hal tersebut sambil mengulurkan sapu tangan berwarna putih.


"Tidak baik jika memendam kesedihan, semua tetap harus di keluarkan termasuk tangisan, namun kau harus tau dimana saja kau bisa mengeluarkan semua air mata mu itu."


Ronald mengatakan hal tersebut dengan wajah datar tanpa ekspresi..


"Terima kasih CEO Ronald, maafkan aku yang kurang profesional di dalam hal ini, aku berjanji aku akan lebih profesional lagi."


Ronald melihat tatapan Luisa saat mengatakan hal tersebut, tidak ada kata - kata balasan yang di ucapkan kembali oleh Ronald..


"Rico ayo jalan."


Dan hal itulah yang di katakan oleh Ronald sebelumnya pada Rico, tanpa melihat lagi ke arah Luisa.


"Sapu tangan ini, sapu tangan milik ceo Ronald."


Sadar akan barang Ronald yang masih tertinggal di tangannya Luisa berniat untuk mengejar Ronald, namun baru beberapa langkah tiba - tiba saja Luisa berhenti.


"Tunggu, bau parfum ini, bau parfum ini sepertinya aku kenal."


Luisa mengatakan hal tersebut sambil mencium - cium sapu tangan milik Ronald.

__ADS_1


"Bau parfum di sapu tangan ini, sama dengan bau parfum baju yang aku gunakan di ruang eklusif tadi malam."


Luisa terus mengatakan hal tersebut sambil terus mencium sapu tangan yang saat ini masih berada di dalam genggaman tangannya.


"Tapi apakah benar CEO Ronald yang malam itu bersama dengan ku?."


Luisa mengatakan hal tersebut dengan penuh keraguan, tatapan ke dua matanya tidak berhenti menatap tajam ke arah CEO Ronald yang sudah semakin mulai tidak nampak dari pandangan matanya.


"Ah tidak mungkin."


Dengan cepat Luisa langsung menggelengkan kepalanya, Luisa berusaha untuk menepis jika semalam adalah CEO Ronald yang bersama dengan dirinya.


"Luisa ayo, kau harus memberikan keterangan kepada media tentang hubungan mu dengan mas Bramasta seperti apa, para media sudah menunggu di lantai tiga."


Franda datang dan segera menghampiri Luisa.


"Ya aku tau, berapa lama kita akan berhadapan dengan mereka Franda?"


"Tiga puluh menit Luisa, aku meminta para wartawan hanya sampai dengan waktu itu saja."


"Bagus, karena aku harus segera kembali ke Rumah Sakit."


Setelah itu mengatakan hal tersebut Luisa dan Franda segera menuju ke lantai tiga untuk bertemu dengan para wartawan.

__ADS_1


__ADS_2