
Di dalam mobil Luisa mendapatkan telepon dari salah satu asisten rumah tangganya di rumah Sukabumi.
Kondisi Jovan membuat Luisa mau tidak mau hari ini harus mengarahkan mobil tersebut ke arah Sukabumi.
Kondisi lelah Lusia sama sekali tidak menghalanginya dirinya untuk tetap menemui Jovan.
Dengan melajukan kendaraannya Luisa terus memikirkan keadaaan putra kecil kesayangan tersebut.
"Maafkan mama sayang, mama belum bisa membawa mu ke Jakarta, maafkan mama yang belum bisa mengenalkan mu di hadapan semua teman - teman mama, dan maafkan mama yang sampai saat ini masih tidak berani mengakui kau ada di depan media sosial."
Air mata yang akan selalu mengalir ketika Luisa mengatakan semua hal tersebut di dalam mobilnya.
Sungguh saat ini Luisa masih belum bisa mengakui tentang kehadiran sosok putra kecilnya yang sebenarnya sangat membutuhkan kehadiran setiap saat oleh ibu kandungnya.
"Bibi, bagaimana keadaan Jovan bi?"
Sesampainya di Sukabumi, di salah satu desa Luisa segera berlari ke dalam kamar dan melihat sang bibi dengan Jovan yang sudah tertidur dengan pulas.
"Hari ini Jovan kejang mbak."
__ADS_1
Deg
"Kejang bi? apakah obat yang aku berikan tidak di minum oleh Jovan? bi jika obat itu satu kali saja tidak di minum maka Jovan harus mengulangi ke dosis awal!"
Luisa mengatakan hal tersebut kepada bibi dengan sedikit kesal, karena Luisa berpikir sang bibi lalai di dalam memberikan obat untuk Jovan.
"Maafkan bibi mbak Luisa, bibi sudah berusaha agar Jovan mau meminum obatnya lagi, namun..."
Sang bibi tiba - tiba saja menghentikan ucapannya dan hanya memandang ke arah Luisa.
"Namun apa bi?"
Deg
Sungguh hati Luisa saat ini sangat bergetar hebat, dirinya tidak menyangka jika hal ini sangat berpengaruh terhadap kesehatan Jovan.
Luisa hanya bisa terdiam memandangi putra kecilnya tersebut yang sudah terlelap.
"Jadi sekarang bagaimana mbak? Jovan tidak mungkin seperti ini terus mbak, karena bagi Jovan keberadaan mbak Luisa di sampingnya itu sangat penting."
__ADS_1
Luisa yang mendengarkan perkataan bibi hanya bisa terus terdiam.
"Tinggalkan aku dan Jovan di dalam kamar bi."
Dan di akhir Luisa hanya bisa mengatakan hal tersebut kepada sang bibi, sungguh saat ini Luisa butuh ketenangan yang sangat ketika dirinya harus mengambil keputusan mengenai Jovan.
"Nak, maafkan mama, maafkan jika mama belum bisa menjadi mama yang baik untuk Jovan."
Air mata Luisa kembali menetes saat Lusia mengatakan hal tersebut sambil membelai kepala Jovan.
Malam yang telah larut di kota Sukabumi pada akhirnya membuat Luisa hanya bisa menangis sambil memikirkan keputusan yang terbaik untuk Jovan.
Sementara itu di luar rumah.
"Mas Ronald, sungguh saya tidak menyangka jika mas Ronald akan mengikuti dokter Lusia sampai ke Sukabumi setelah saya memberitahukan posisi dokter Luisa."
Di dalam mobil sang asisten pribadi Rico mengatakan hal tersebut kepada Ronald..
Sungguh di luar dugaan ketika Ronald sang atasan langsung berangkat ke Sukabumi begitu mendapatkan informasi keberadaan Luisa.
__ADS_1
"Ya, Rico ada beberapa hal yang harus ungkapkan tentang dokter Luisa, satu kejadian yang masih menjadi misteri tersendiri untuk ku sampai saat ini."