
Aku mohon pamit."
Tidak ada kata - kata apapun yang Ronald sampaikan kecuali hanya anggukan pelan.
Ronald menatap kepergian Luisa di atas tempat duduk, tanpa ada sesuatu hal yang akan di ucapkan lagi kepada Luisa.
Luisa keluar dari dalam ruangan Ronald dengan mengepalkan ke dua tangan.
Dengan sekuat tenaga Lusia menahan air matanya, Luisa berjalan menuju ke studio dengan tatapan kosong dan sangat terluka hati.
Ketika Luisa masuk ke dalam studio, semua mata tertuju kepadanya, bagaimana tidak kabar pemutusan kontrak langsung menyebar pagi ini.
Dengan sekuat tenaga Luisa berusaha untuk profesional di dalam membawakan acara talk show untuk terakhir kali
Sepanjang acara hampir saja air mata Luisa terjatuh, namun saat melihat camera yang masih menyala, dengan sesak hati Luisa tetap membawakan acara tersebut sampai selesai.
"Jadi sekarang kau sudah di pecat dokter?"
Deg
Begitu acara selesai dan Luisa turun dari panggung ada satu wanita cantik yang menghampirinya.
Luisa yang sudah tidak asing lagi dengan wanita tersebut segera menatapnya dengan tajam.
"Dokter Katherine, apakah anda ada urusan sehingga mendatangi studio ini?"
Dengan tersenyum sinis Katherine langsung menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja aku ada urusan dokter Luisa, aku sedang melihat kondisi studio ini, karena mulai Minggu depan aku yang akan mengantikan mu."
Deg
Luisa yang mendengarkan apa yang dikatakan oleh Katherine hanya bisa membalas tatapan wanita tersebut dengan sangat tajam.
"Itu bukan lagi menjadi urusan ku dokter Katherine, karena tugasku sudah selesai sampai di sini."
"Ya, ya kau benar mulai besok ini bukan menjadi urusan mu lagi, karena kau bukan lagi menjadi bagian dari televisi swasta nomor satu di Indonesia ini, dan kau juga bukan lagi menjadi seorang presenter kesehatan mental, acara yang selalu mendapatkan rating terbaik."
"Permisi dokter Katherine, urusan ku masih banyak."
__ADS_1
Selesai mengatakan hal tersebut Luisa segera kembali berjalan menerobos Katherine.
"Luisa, Luisa kau begitu bodoh di dalam perjalanan hidup mu, gelar dokter Psikiater yang kau miliki, rupanya tidak bisa membuat mu menjadi pintar."
Katherine mengatakan hal tersebut dengan tersenyum penuh kemenangan.
Sedangkan Luisa dengan berjalan cepat kembali ke ruang wardrop dan menangis tanpa mengeluarkan suara.
Luisa membenamkan wajahnya yang penuh dengan air mata tersebut ke dalam ke dua tangannya.
Tuhan apakah aku begitu buruk di mata orang lain? mengapa ini semua terjadi dengan ku? setiap orang selalu menuntut ku untuk jujur, namun terkadang mereka melupakan satu hal, kejujuran itu juga butuh penerimaan, kejujuran itu juga butuh kesiapan.
Tuhan, saat ini aku sedang berusaha untuk jujur, berusaha untuk mengatakan kebenaran seperti yang orang - orang minta, namun rupanya mereka belum bisa menyiapkan hati untuk menerima kejujuran ku ini, Tuhan apakah aku harus melanjutkan hal ini?
Atau aku harus kembali hidup di dalam kebohongan dengan berpura - pura Bahagia?
Hal tersebut Luisa ucapkan di dalam hatinya, sambil masih menenggelamkan wajahnya yang penuh dengan air mata.
Hari ini Luisa begitu terpuruk dengan setiap kejadian yang terjadi sekaligus di dalam hidupnya.
Ketika dia ingin jujur dengan semua orang yang menuntut kejujuran tersebut,namun bagi Luisa mereka lupa mempersiapkan hati untuk menerima kejujuran Luisa.
Luisa mengatakan hal tersebut sambil menghapus air matanya dengan segera.
Luisa bangkit dari tempat duduknya dan membereskan setiap perlengkapan make up yang selalu dia bawa di dalam tas.
"Selamat tinggal semuanya."
Dan setelah mengatakan hal tersebut Luisa keluar dari dalam ruangan wardrop menuju ke lobby untuk bersiap menghadapi para awak media yang sudah tadi menunggu kemunculannya.
Sementara itu di ruangan kerja Ronald.
"Mas Ronald, apakah mas Ronald sudah mengatakan kebenaran mengenai dokter Luisa?"
Rico yang baru saja masuk ke dalam ruang kerja Ronald langsung mengajukan pertanyaan tersebut kepadanya.
"Ya Rico, bagaimanapun juga akan lebih baik jika Luisa segera mengetahuinya."
"Apakah mas Ronald tidak berniat untuk menolong dokter Luisa dengan kekuasaan yang mas Ronald miliki sebagai CEO disini?"
__ADS_1
Dengan cepat Ronald langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak bisa membantu Luisa di dalam hal ini Rico, masyarakat sudah mengetahui jika Luisa seorang pembohong, jika aku membantunya maka semua progam di televisi ini akan menjadi taruhannya."
"Aku juga harus memikirkan betapa banyak orang yang bergantung dengan penghasilan di dalam progam - progam yang di buat, aku tidak akan mengorbankan satu orang lalu membuat banyak orang lain terluka."
Ronald mengatakan hal tersebut sambil menenggelamkan wajahnya di kedua tangannya.
Merupakan keputusan yang cukup sulit bagi Ronald ketika dirinya harus melepaskan Luisa di dalam progam talks show untuk menyelematkan banyak orang.
"Namun bukan berarti aku akan melepaskan Luisa begitu saja Rico, ada beberapa rencana yang sudah aku susun dengan rapi dan semua rencana ku nanti hanya aku berikan untuk Luisa."
"Untuk sementara aku akan membiarkan dia seperti ini, aku sangat percaya bahwa dia adalah wanita yang kuat dan bisa menghadapi semuanya sendiri, ya sendiri namun tidak akan lama lagi."
Ronald mengatakan hal tersebut sambil memandang foto Luisa yang diam - diam dia simpan di dalam ponselnya.
"Di lobby sudah banyak awak media yang menunggu dokter Luisa mas Ronald."
"Ya aku tau, siapkan saja pengamanan ekstra ketat untuk Luisa, aku tidak ingin dia di sentuh oleh awak media tersebut secara paksa, berikan pengawalan secara diam - diam kepada Luisa, tanpa Luisa harus mengetahuinya."
"Baik mas Ronald."
Dan setelah mengatakan hal tersebut Rico segera pergi dari hadapan Ronald untuk melakukan perintahnya.
"Kau tau, semua hal yang akan aku lakukan ini hanya untuk melindungi mu Luisa, ada beberapa rencana yang kau sendiri tidak perlu untuk mengetahuinya saat ini."
"Mungkin saat ini kau mengatakan bahwa aku adalah atasan yang tidak memiliki hati nurani, atau apapun itu aku akan menerimanya."
"Namun suatu saat jika kau mengetahui maksud hati ku melakukan hal ini, engkau akan tau satu hal."
Ronald mengatakan hal tersebut sambil kembali memandang foto Luisa di dalam ponselnya.
Ada banyak rencana yang Ronald sedang persiapkan untuk Luisa, rencana demi rencana yang sampai saat ini masih tertutup oleh siapapun.
Sementara itu Luisa yang sudah sampai di lobby segera di serbu oleh awak media.
"Dokter Luisa, kami membutuhkan konfirmasi sekali lagi, dan kami harap dokter Luisa mengatakan kebenaran, karena kami semua sudah memiliki buktinya."
"Apakah Jovan adalah anak kandung dokter Luisa?"
__ADS_1