DOKTER LUISA

DOKTER LUISA
JOVAN LELAH MA


__ADS_3

Sungguh di luar dugaan ketika Ronald sang atasan langsung berangkat ke Sukabumi begitu mendapatkan informasi keberadaan Luisa.


"Ya, Rico ada beberapa hal yang harus ungkapkan tentang dokter Luisa, satu kejadian yang masih menjadi misteri tersendiri untuk ku sampai saat ini."


Ronald mengatakan hal tersebut di dalam mobilnya.


"Sepertinya dokter Luisa sudah tidur mas, apa tak sebaiknya kita juga beristirahat?"


Malam hari ini Rico mencoba untuk memberikan solusi terbaik, agar mobil mereka tidak terus terparkir di depan rumah tua Luisa ini.


"Ya Rico, carilah penginapan yang lokasinya tidak jauh dari rumah tua ini."


"Baik mas Ronald, jalan pak."


Dan Rico pun meminta sang supir untuk melajukan kembali mobil mereka.


Sungguh bagi Rico untuk pertama kalinya Rico melihat bahwa atasannya begitu terobsesi untuk mengetahui semua hal tentang seorang wanita bernama Luisa.


Malam hari ini baik Ronald dan juga Luisa tidak bisa betul - betul tertidur dengan nyenyak.


Semua sedang tenggelam di dalam pemikiran dan masalahnya masing - masing.


"Selamat pagi Jovan."


Pagi ini Luisa yang sejak semalam tidur di samping Jovan mengatakan hal tersebut begitu Jovan membuka matanya.

__ADS_1


"Mama, mama ini bukan mimpi kan?"


Laki - laki bertubuh kecil tersebut langsung memeluk Luisa ketika dirinya bangun mendapatkan sang ibu berada di sampingnya.


"Iya sayang anak mama yang paling tampan, hari ini mama akan menemani Jovan."


"Hanya hari ini saja ma?"


Deg


Satu perkataan Jovan yang kembali membuat Luisa mengernyitkan dahinya..


"Nak, maafkan mama, akhir - akhir ini mama sangat sibuk dengan pekerjaan mama, jadi mama tidak bisa sering - sering kembali ke Sukabumi."


Sungguh perkataan Jovan membuat hati Luisa begitu teriris.


"Nak maafkan mama, untuk sementara mama belum bisa mengajak Jovan untuk tinggal bersama mama di Jakarta."


"Kenapa ma? mama malu punya anak seperti Jovan ya?"


Di atas tempat tidur dengan ke dua bola mata yang terbuka dengan lebar, Jovan mengatakan beberapa pertanyaan yang membuat Lusia hampir meneteskan air matanya.


"Nak, maafkan mama yang belum bisa menceritakan alasan mama mengapa sampai saat ini mama belum bisa membawa Jovan untuk tinggal di Jakarta bersama dengan mama."


"Namun suatu saat mama yakin Jovan akan mengerti mengapa mama melakukan hal ini kepada Jovan."

__ADS_1


Luisa mencoba untuk memberikan pengertian terhadap anak berusia lima tahun, anak yang saat ini masih menatapnya dengan sangat tajam.


"Terlalu lama ma, untuk menunggu Jovan dewasa baru Jovan bisa mengerti mengapa mama bisa seperti ini."


Dan Luisa hanya bisa terdiam dengan semua perkataan Jovan.


"Nak mama berjanji di dalam waktu dekat akan segera mengajak mu untuk pindah ke Jakarta."


"Benar ma?"


Dengan cepat Luisa segera menganggukkan kepalanya dan begitu Luisa mengatakan hal tersebut kepada putra kecilnya.


Ada satu kebahagiaan yang terpancar dari wajah kecilnya tersebut.


"Nah sekarang bersiap - siap yah Jovan, kita akan pergi."


"Pergi kemana ma?"


"Kita akan ke puskesmas, mama akan meminta obat yang baru untuk mu."


"Ma, Jovan gak mau minum obat lagi, Jovan capek ma."


Dan Luisa kembali menatap tajam putra kecilnya tersebut ketika dengan berani mengemukakan isi hati terhadap Luisa.


"Ya mama mengerti, tapi ini adalah salah satu syarat yang mama ajukan ketika nanti mama harus membawa Jovan ke Jakarta."

__ADS_1


__ADS_2