DOKTER LUISA

DOKTER LUISA
DIA BUKAN ANAK KU


__ADS_3

Dengan tersenyum sinis Katherine mengatakan hal tersebut kepada para laki - laki yang saat ini berdiri di hadapannya.


"Kami mengerti dokter Katherine."


Dan para laki - laki tersebut pada akhirnya pergi dari hadapan Katherine....


"Kau tau Luisa, tidak ada yang boleh satu wanita pun dekat dengan Ronald, jika aku tidak dapat memilikinya, berarti tidak seorang pun wanita berhak untuk memilikinya juga."


Katherine mengatakan hal tersebut sambil ******* - ***** ujung roknya.


Malam yang semakin larut membuat pada akhirnya pembicaraan ringan antara Luisa dan Ronald pun selesai.


"Terima kasih pak Ronald untuk jamuan makan malamnya, saya tidak menyangka bahwa anda adalah laki - laki yang humoris."


"Jadi selama ini apa yang kau pikirkan tentang ku?"


Ronald mengatakan hal tersebut di parkiran mobil bersama dengan Luisa.


"Laki - laki dingin dan sedikit misterius."


Hal ini lah yang di ucapkan Luisa secara spontan.


"Ya dan hampir semua orang mengatakan hal seperti itu, karena mereka tidak mengenalku."


"Itu benar pak."


"Panggil saja aku Ronald, usia ku belum cukup tua bukan untuk di panggil bapak."


Luisa tersenyum manis, dan sungguh senyumnya itu membuat Ronald memandangnya cukup lama.

__ADS_1


"Baiklah, Ronald, aku harus segera kembali ke rumah, karena esok hari ada siaran langsung di televisi."


"Sampai jumpa besok Luisa."


Dan setelah Ronald mengatakan hal tersebut Luisa segera masuk ke dalam mobilnya dan Ronald melihat mobil Luisa mengarah ke jalan raya dengan kecepatan sedang.


Malam hari ini baik Luisa dan Ronald memperoleh satu hal baru, bahwa mereka tidak boleh untuk menilai orang sebelum mengenalnya lebih dekat.


"Ada apa pagi ini di studio?"


Pagi ini sungguh Luisa sangat heran ketika di lobby banyak sekali awak media seperti sedang menunggu sesuatu.


"Itu dia dokter Luisa."


Salah satu awak media langsung berteriak ketika melihat Luisa keluar dari dalam mobilnya.


"Dokter Luisa, siapa anak kecil ini."


Deg


Luisa langsung terdiam ketika salah satu awak media memberikan foto anak kecil yang di gendong olehnya keluar dari rumah.


"Rumor mengatakan bahwa anak kecil ini bernama Jovan dan anak kecil ini adalah putra kandung dokter Luisa."


Hancur sudah hati Luisa ketika salah satu awak media mengatakan hal tersebut kepadanya.


Tidak ada satu katapun yang terucap dari bibir Luisa ketika puluhan camera mengarah kepadanya.


"Aku, aku tidak tau."

__ADS_1


Deg


Beberapa kata yang pada akhirnya keluar dari mulut Luisa.


"Katakan kepada kami, apakah betul bahwa Jovan adalah putra anda?"


Luisa kembali terdiam dengan semua pertanyaan awak media.


"Dia bukan putra ku, dia adalah anak dari bibi yang bekerja di tempat ku!"


Seperti petir yang menyambar dirinya sendiri ketika kata - kata itu keluar dari mulutnya.


Ke dua tangannya saling mengenggam menandakan bahwa hatinya telah hancur dengan perkataannya sendiri.


"Maaf aku harus segera masuk ke dalam studio."


Dan dengan setengah berlari Luisa kembali berjalan masuk ke dalam studio.


Luisa sengaja menggunakan kembali kacamata hitam kesayangannya, agar setiap orang saat tidak mengetahui bahwa dirinya sedang berjalan sambil menangis.


"Franda."


Setelah sampai di ruang wardrop Luisa segera memanggil nama managernya sedang duduk tersebut.


"Cepat ganti, karena sebentar lagi acara talk show akan di mulai."


Dengan datar Franda mengatakan hal tersebut kepada Luisa.


"Franda dengarkan aku dulu."

__ADS_1


__ADS_2