
Ma."
Panggilan terhadapnya sama sekali tidak Luisa hiraukan, ke dua matanya berpura - pura untuk tetap memandang ke depan agar dirinya tidak melihat tatapan iba dari ke dua mata Jovan yang saat ini membutuhkan kepastian darinya.
"Ma."
"Jovan diam! mama sedang menyetir, nanti akan mama sampaikan setelah di rumah!"
Dan pada akhirnya Luisa membentak Jovan, ya Luisa mengatakan hal tersebut kepada anak kecil berusia lima tahun, dan seketika itu juga Luisa menyesal.
Luisa melirik dari sela - sela sudut mata, kini Jovan duduk meringkuk di kursi mobil di sampingnya.
Maafkan mama sayang, mama memang belum bisa menjadi ibu yang baik untuk mu.
Luisa hanya bisa mengatakan hal tersebut di dalam hatinya, jauh dari lubuk hatinya yang paling terdalam, saat ini sebenarnya Luisa ingin sekali memeluk Jovan, namun ke dua tangannya yang masih memegang kemudi membuat Luisa tidak bisa melakukan hal itu.
Tak lama kemudian mobil pun sudah masuk ke dalam halaman depan rumah tua milik Lusia.
Dengan cepat Luisa keluar dari dalam mobil sambil menggendong Jovan yang sudah mulai tertidur.
"Mbak Luisa, bagaimana pemeriksaan Jovan kali ini, apakah Jovan baik - baik saja mbak?"
__ADS_1
Sesampainya di dalam sang bibi segera memberikan beberapa pertanyaan kepada Luisa.
"Semua hasil pemeriksaan baik - baik saja bi, bi tolong siapkan semua barang bibi dan juga Jovan yah."
Sang bibi yang mendapatkan perintah hanya bisa terdiam sambil memandang ke arah Luisa.
"Kita mau kemana mbak Luisa?"
"Kita pindah saja bi ke Jakarta."
Dengan menarik nafasnya dalam - dalam Luisa mengatakan hal tersebut dengan sang bibi.
"Ya bi aku yakin, bagaimanapun juga kesehatan Jovan saat ini tergantung dari kehadiran ku juga, dan aku tidak mungkin kuat untuk terus bolak balik Jakarta Sukabumi setiap harinya."
"Baiklah mbak, bibi akan menyiapkan segalanya."
"Terima kasih bi, kita akan berangkat sore hari, agar udara tidak terlalu panas, aku ke kamar Jovan dulu ya bi."
Dan setelah mengatakan hal tersebut Luisa segera masuk ke dalam kamar Jovan dan menidurkan Jovan di atas tempat tidur.
"Maafkan mama sayang, mama terlalu lambat mengambil keputusan ini, maafkan mama yang tidak bisa mengerti isi hati mu lebih cepat."
__ADS_1
"Ada perasaan takut ketika mama akan membawa mu nanti sayang, namun kau adalah anak mama, ya anak mama akan lebih berarti dari segala hal yang mama miliki."
"Sayang maafkan mama, maafkan mama."
Luisa mengatakan hal tersebut sambil memeluk erat Jovan yang masih tertidur.
Cukup lama untuk Luisa bisa dengan berani mengambil keputusan ini, dirinya terlalu takut untuk kehilangan popularitasnya.
Namun saat ini tidak ada yang lebih penting bagi Luisa selain kesembuhan putra kecilnya tersebut.
Sore hari Luisa membangunkan Jovan dan mencsri kepindahannya tersebut, sudah sangat bisa di tebak, Jovan begitu bahagia dengan keputusan sang ibunda, berkali -kali anak berusia lima tahun tersebut memeluk Luisa
"Bi apakah semuanya sudah di bawa? apakah yakin tidak ada yang tertinggal lagi?"
Di dalam mobil Luisa kembali mengingatkan kepada sang bibi jika ada suatu barang yang tertinggal.
"Sudah mbak, semuanya sudah ada di dalam koper."
"Baiklah bi."
Dan setelah mengatakan hal tersebut Luisa melajukan mobilnya ke arah jalan raya.
__ADS_1