
Dokter Luisa, kami membutuhkan konfirmasi sekali lagi, dan kami harap dokter Luisa mengatakan kebenaran, karena kami semua sudah memiliki buktinya."
"Apakah Jovan adalah anak kandung dokter Luisa?"
Luisa hanya terdiam dan menatap satu per satu para awak media yang saat ini masih menunggu jawabannya.
Dengan menarik nafasnya dalam - dalam pada akhirnya Luisa bersiap untuk mengatakan sesuatu kepada para awak media.
"Ya Jovan adalah putra kandungku."
Sungguh kata - kata yang pada akhirnya keluar dari mulut Luisa membuat ke dua matanya kembali berkaca - kaca.
Kini para awak media hanya bisa saling pandang mendengarkan pengakuan yang sungguh sangat mengejutkan.
"Lalu siapa ayah kandung dari Jovan? apakah CEO Bramasta adalah ayah kandung dari Jovan?"
Deg
Dada Luisa berdegup sangat kencang dan ke dua tangannya langsung mengepal ketika salah satu awal media menyebutkan nam Bramasta, ya satu nama yang sedang Luisa perjuangkan untuk di lupakan.
"Bukan mas Bramasta."
Dengan cepat Luisa menggelengkan kepalanya dan mengatakan beberapa pernyataan yang kini semakin membuat para awak media penasaran.
"Lantas siapa sebenarnya ayah kandung dari Jovan dokter Luisa?"
Pertanyaan kembali di lontarkan kepada Luisa yang kini semakin tidak bisa menjawabnya.
"Maaf untuk itu aku belum bisa menjawabnya."
Dan setelah mengatakan hal tersebut Luisa kembali berjalan dengan beberapa pengawal yang tiba - tiba muncul dan siap melindungi dirinya dari sisi kanan dan kiri.
Sepanjang perjalanan sampai di tempat parkir para pengawal yang sudah di tugaskan oleh Ronald mengawalnya dengan setia hingga Luisa masuk ke dalam mobil pribadinya.
Dengan cepat Luisa segera melajukan mobil tersebut hingga menuju ke pusat kota.
Sementara itu di ruangan CEO, nampak Ronald sedang menyalakan televisi dan melihat acara gosip yang sedang siarkan secara langsung.
Ronald melihat bagaimana pucatnya wajah Luisa ketika dia harus mengakui bahwa Jovan adalah putra kandungnya sendiri.
Namun semua itu harus selesai ketika ada ketukan pada pintu ruang kerjanya.
"Masuklah."
__ADS_1
Dan setelah Ronald mengizinkan masuk, nampak satu wanita muda nan cantik masuk ke dalam ruangannya.
"Ayundira, untuk apa kau kemari?"
"Apakah seorang adik kandung tidak boleh mengunjungi kantor kakaknya sendiri?"
Ayundira wanita cantik tersebut mengatakan hal itu sambil melihat sekeliling ruangan Ronald.
"Ya tidak ada yang salah ketika seorang adik tiba - tiba saja datang ke kantor sang kakak, meskipun sebelum itu sama sekali tidak pernah mengunjungi sang kakak dan sibuk dengan urusannya sendiri."
Ayundira hanya tersenyum ketika Ronald mengatakan hal tersebut kepadanya.
"Ya mas Ronald, maafkan aku yang jarang mengunjungi mu, sekarang jadwal ku sangat padat sekali."
"Lalu hal penting apa yang membuat mu kemari? setelah kau memutuskan untuk keluar dari rumah dan memilih untuk tinggal di apartemen mewah seorang diri?"
"Aku ingin meminta tolong kepada mas Ronald."
Ronald yang mendengarkan perkataan Ayundira hanya bisa mengernyitkan dahinya.
"Minta tolong? sejak kapan adik ku yang angkuh, sombong ini datang kemari dan mengucapkan kata - kata minta tolong?"
"Ya mas, karena hanya mas Ronald yang aku miliki, untuk menjadi wali dari kedua orang tuan kita yang sudah meninggal."
"Mas, aku mau menikah dengan mas Bramasta, dan aku mau mas Ronald bisa menjadi wali orang tua untuk merestui pernikahan ku."
Deg
Ronald langsung menatap tajam ke arah Ayundira saat Ayundira menyampaikan keinginannya untuk menikah dengan Bramasta.
"Kau gila Ayundira."
"Aku tidak gila mas Ronald, aku mencintai mas Bramasta begitupun sebaliknya, mas Bramasta juga laki - laki yang belum beristri dan saat menjalani hubungan dengan ku ini bukan karena hasil dari perselingkuhan."
"Ya tapi kalian belum lama mengenal, dan kau masih muda Ayundira."
Ronald berusaha untuk menghalangi permintaan Ayundira dengan mencoba untuk mengatakan hal itu.
"Mas, mau mas Ronald bersedia menjadi wali orang tua ku atau tidak, aku akan tetap menikah dengan mas Bramasta."
"Aku datang kemari karena bagaimanapun juga mas Ronald adalah kakak kandung ku sendiri, sebagai seorang adik aku pasti akan tepat menceritakan rencana besar ku ini."
"Mas saat ini kita hanya tinggal berdua, ke dua orang tua kita sudah meninggal, tak bisakah mas Ronald mengabulkan permintaan ku ini?"
__ADS_1
"Selama ini aku tidak pernah meminta apapun kepada mas Ronald, bahkan saat aku masih remaja dimana mas Ronald yang aku anggap sebagai pengganti ke dua orang tua kita dan bisa memberikan aku kasih sayang, namun apa yang aku dapatkan? saat itu aku tidak pernah melihat mas Ronald di rumah."
"Entah apa saja yang mas Ronald lakukan di luar, mas hanya ini kebahagiaan ku, bersama dengan mas Bramasta aku yakin aku akan bahagia, dan mas Ronald masih tega merusak kebahagiaan ini dengan tidak memberikan persetujuan kepada kami?"
"Mas Ronald kau sungguh amat egois!"
Ayundira mengatakan hal tersebut sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Ayundira, dengarkan penjelasan ku terlebih dahulu."
"Tidak mas, tidak perlu, Ayundira cukup tau jika satu - satunya keluarga Ayundira yang dimiliki ternyata seperti orang asing."
Deg
Sungguh sakit hati Ronald saat Ayundira adik kandung satu - satunya tersebut mengatakan hal demikian.
"Ayundira dia buka laki - laki baik."
"Darimana mas Ronald tau jika mas Bramasta bukan laki - laki baik? apa karena dia memutuskan hubungannya dengan dokter Luisa secara sepihak?"
"Jika karena hal itu alangkah lebih baiknya mas juga menanyakan hal yang sama kepada dokter Luisa."
"Sudah, sudah aku tidak ingin pembicaraan kita melebar kemana -mana, saran dari ku lebih baik kau berpikir dengan sangat matang sebelum kau melangkahkan kaki mu ke jenjang pernikahan dengan Bramasta."
"Justru karena mas peduli dengan mu, mas mengatakan hal ini."
"Itu bukan peduli mas, ah sudahlah percuma aku berada disini, inti yang aku dapatkan adalah mas Ronald tidak akan merestui hubungan kami masuk ke jenjang pernikahan."
"Jika karena hal itu, lebih baik aku pergi saja sekarang!"
Dan setelah mengatakan hal tersebut Ayundira berjalan ke arah pintu, membuka pintu lalu keluar dan membanting pintu tersebut kembali.
Ronald yang masih berada di dalam ruangan hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kau sama sekali tidak berubah Ayundira, setiap keinginan mu pasti harus selalu dituruti."
"Itulah yang menjadi kelemahan mu sendiri Ayundira."
Ronald mengatakan hal tersebut sambil memijit - mijit pelipisnya.
Ronald sangat mengetahui siapa sebenarnya Bramasta, laki - laki dengan segudang cerita cintanya yang selalu kontroversial.
"Halo Rico, selidiki tentang CEO Bramasta dengan kabar terbaru darinya, aku mau ini cepat untuk dilakukan, karena semuanya berhubungan dengan adik ku Ayundira."
__ADS_1
Ronald pada akhirnya mengambil ponsel dan segera menghubungi Rico sang asisten pribadinya.