DOKTER LUISA

DOKTER LUISA
KEPUTUSAN DIREKSI


__ADS_3

Ini sungguh mustahil, aku berharap apa yang telah CCTV katakan nanti itu tidak terbukti, karena CCTV itulah kunci dari semua hal yang menjadi awal kejadian ini terjadi kepada Luisa..


Ronald mengatakan hal tersebut di atas kursi roda sambil didorong oleh para pengawalnya meninggalkan tempat hiburan malam tersebut.


Malam hari ini tanpa sadar Luisa telah menceritakan sedikit rahasianya kepada laki - laki yang masih belum dengan baik di kenalnya.


"Selamat pagi dokter Luisa."


Pagi ini seperti biasa Luisa sudah rapi masuk ke dalam studio televisi swasta tersebut.


Sampai saat ini tidak ada yang mengetahui bahasa Luisa seorang dokter Psikiater terkenal, selalu menghabiskan malam - malam kelamnya di dalam tempat hiburan malam eksklusif dengan beberapa botol minuman beralkohol.


"Dokter Luisa, pagi ini sebelum acara talks show, CEO Ronald meminta anda untuk menemuinya di ruang kerja."


Salah satu karyawan televisi swasta tersebut memberitahukan hal itu di dalam ruang wardrop saat Luisa sedang sibuk dengan catokan Rambutnya.


"Ah, ya aku akan kesana, namun sebelum aku pergi apakah aku boleh menanyakan sesuatu hal kepada mu?"


"Silahkan dokter."


"Apakah Franda manager ku sudah datang?"


Dengan cepat sang karyawan tersebut langsung menggelengkan kepalanya.


"Mbak Franda belum datang dokter, tapi mbak Franda menitipkan ini untuk di sampaikan kepada dokter."


Deg


Hati Luisa tersentak ketika karyawan tersebut memberikan satu amplop putih ke tangan Luisa.


"Terima kasih, dan aku boleh pergi."


Setelah mengatakan hal itu, karyawan tersebut langsung meninggalkan Luisa seorang diri di dalam ruangan.


Kedua tangan Luisa bergetar saat dirinya akan membuka isi amplop tersebut, berbagi pikiran negatif mulai menghampirinya.


Dan pada akhirnya Luisa membuka satu surat yang berada di dalam amplop putih tersebut, dengan perlahan Luisa membaca kata demi kata yang sudah di tuliskan oleh Franda.


"Sudah aku duga, kau pada akhirnya mengundurkan diri Franda!"


Luisa mengatakan hal tersebut dengan ******* - ***** kertas putih tersebut lalu membuang kertas itu ke dalam tong sampah.

__ADS_1


"Sahabat seperti apa yang meninggalkan sahabatnya hanya karena ketidak jujuran sahabat tersebut, dan apakah ini dinamakan sahabat yang baik?.


Luisa mengatakan hal tersebut dengan ke dua tangannya saling mengenggam menahan marah.


Namun pada akhirnya kemarahan Luisa harus tidak berlangsung lama, karena tiba - tiba saja ponsel Luisa berbunyi.


"Baik pak Ronald, saya akan langsung ke ruangan anda sekarang juga."


Setelah mengatakan hal tersebut di ponsel, Luisa segera bergegas keluar dari ruang wardrop.


Sejenak Luisa menghempaskan pikirannya tentang Franda, karena pagi ini Luisa harus dengan segera menghadap ke Ronald.


"Selamat pagi pak Ronald."


"Dokter Luisa, silahkan duduk."


Ronald yang melihat Luisa sudah ada di depan matanya segera meminta wanita tersebut untuk duduk.


"Apakah ada keperluan yang sangat mendesak sekali pak Ronald? kenapa anda memanggil saya pagi ini?"


Luisa mengatakan hal tersebut sambil duduk di hadapan Ronald.


"Ya dokter, ada beberapa hal yang pagi ini harus aku sampaikan kepada mu, lihat ini."


"Ini laporan setiap progam acara kan pak Ronald?"


"Ya tepat sekali dokter Luisa, dan acara yang anda bawakan mengalami penurunan rating yang sangat drastis karena issue yang terjadi pada diri anda saat ini."


Deg


Hati Luisa kembali bergetar ketika Ronald mulai menyampaikan hal ini.


"Pak Ronald maafkan saya, jika karena hal ini membuat salah satu progam acara di televisi menjadi turun."


Luisa mengatakan hal tersebut sambil menundukkan wajahnya, saat ini sebenarnya Luisa sedang menahan tangisannya dan menundukkan wajah adalah cara yang paling ampuh untuk hal tersebut.


"Ya aku akan mencoba mengerti semua hal ini dari sisi mu dokter Luisa, sebagai Ronald mungkin aku bisa memahaminya."


"Namun sebagai CEO di sini, aku harus minta maaf aku tidak bisa."


Ronald mengatakan hal tersebut dengan menatap tajam ke arah Luisa.

__ADS_1


Sungguh saat ini menjadi hal yang sedikit berat untuk Ronald harus menyampaikan ini semuanya.


"Pagi sekali, aku melakukan rapat dadakan dengan tim direksi mengenai hal ini, dan suara terbanyak mengatakan bahwa kau harus turun dari panggung talk show."


Deg


Mendengarkan ucapan Ronald, Luisa langsung mengangkat wajahnya.


"Maksud Pak Ronald kontrak yang aku sudah tanda tangani akan di putus sepihak oleh pak Ronald?"


Sungguh Luisa mengatakan hal tersebut dengan lidah yang sangat kelu.


"Aku minta maaf Luisa, namun ya aku harus mengatakan bahwa hari ini adalah hari terakhir mu untuk bisa berada di acara talk show tersebut, pihak televisi memutuskan kontrak sepihak dengan mu, dan kami akan mengantinya dengan beberapa kompensasi."


Deg


Sakit sekali hati Luisa pagi ini ketika Ronald secara terus terang menyampaikan hal ini kepadanya.


"Apakah ini adil untuk ku pak Ronald?"


Ronald langsung mengernyitkan dahi ketika mendengarkan pertanyaan Luisa.


"Adil? dengar ini bukan masalah adil dan tidak, namun ini masalah nama baik."


"Lalu bagaimana dengan progam di televisi yang di pandu oleh artis yang saat ini juga sedang bermasalah dengan pernikahannya pak Ronald?"


"Aku mengerti apa yang kau maksudkan dokter Luisa, namun yang harus kau ingat talk show yang kau bawakan itu berhubungan dengan kesehatan mental."


"Bagaimana bisa di bawakan oleh mu yang saat ini masih berada di dalam kasus? acara yang kau bawakan itu bukan acara gosip, itu sebabnya hal ini yang sangat di sorot oleh para netijen Indonesia."


"Jadi aku harus minta maaf kepada mu dokter Luisa, keputusan para direksi ini adalah keputusan akhir, mulai besok kau tidak bisa lagi mengisi acara talk show di televisi ini."


Deg


Rasanya Luisa ingin berteriak ketika Ronald kembali menyampaikan hal ini, namun tidak ada yang bisa Luisa lakukan kecuali menerima keputusan Ronald dan harus menandatangani beberapa berkas.


"Terima kasih pak Ronald untuk pemberitahuan nya pagi ini."


Setelah selesai membubuhkan tanda tangan Luisa langsung berdiri dan mengatakan hal tersebut kepada Ronald.


"Aku mohon pamit."

__ADS_1


Tidak ada kata - kata apapun yang Ronald sampaikan kecuali hanya anggukan pelan.


__ADS_2