Dosenku

Dosenku
Dia Yang Dulu


__ADS_3

Surabaya adalah salah satu kota dengan suhu terpanas di Indonesia. Di mana saat siang hari bisa mengalahkan panasnya gurun pasir. Siapa pun yang berkeliaran di siang ini, maka bersiaplah untuk merasakan teriknya sinar matahari menerpa ubun-ubun, derasnya keringat sudah seperti berada di dalam sauna.


Begitulah yang di rasakan Audie O'Malia saat ini, es tebu di dalam cup yang ia genggam tidak sengaja tumpah membasahi jalan beraspal. Airnya langsung meresap ke dalam, bisa dipastikan panasnya siang ini mencapai suhu 34°Celcius.


Sudah ada tiga bus yang berlalu, namun Audie masih terdiam di bangku halte seraya berdecak sebal, syukur-syukurnya ia tidak mengucapkan kalimat sumpah serapah.


Dari arah jalan sana, dua gadis sedang berjalan riang menuju di mana saat ini Audie tengah jenuh menunggu kedatangan mereka. Indah namanya, si gadis nan ayu dengan samurai panjang seperti Rapunzel. Di sebelahnya ada Arini si cewek cetar, si gadis berambut pirang sebahu.


Audie memutar bola matanya malas setelah melihat kedatangan dua makhluk yang ia tunggu-tunggu.


"Udah nunggu lama?" tanya Arini lalu menyeruput es cendolnya.


"Udah, semenjak Jokowi belum jadi Presiden," Jawab Audie ketus sebelum akhirnya ia mengerutuki kedua temannya tersebut.


Kedua gadis bernama Indah dan Arini pun duduk berhimpitan menengahi Audie, membuat gadis itu semakin merasa gerah.


"Di halte kita cuma bertiga. Bangku selebar ini kenapa kita harus duduk berhimpitan segala, sih? Mana gue lagi kegerahan, udah tahu kalian berdua itu nggak ada bedanya sama bara api. Panas dan membakar," ujar Audie dengan mulut yang berkobar-kobar. Dia mengibaskan kedua tangannya sejajar dengan leher jenjangnya.


"Ussttt ...." Telunjuk Arini menempel di permukaan bibir Audie, membuat gadis itu terdiam sejenak. "Nanti aja merepetnya."


"Gue pengen ngomong sesuatu, Audie. Ini penting banget, lebih penting dari tugasnya Bu Nina," ujar Arini segera merocos, Indah yang duduk disebelah Audie pun mengangguk semangat.


"Iyes banget, dan gue yakin lo pasti suka.," timpalnya kemudian.


"Lo harus ikut gue sama Indah les private, nggak ada penolakan dan nggak ada sistem tawaran." Arini menunjuk dirinya dan Indah secara bergantian.


Gadis Surabaya itu mendesis pelan, entah ia sedang mengejek temannya atau sedang mengejek dirinya sendiri. "Gue? Les Private?" Kedua sahabatnya mengangguk semangat.


"Kalian kenal Pak Xavier nggak?"

__ADS_1


"Ya kenal lah, masa nggak. Pak Xavier 'kan dosen yang lo kejar-kejar sejak lo kenal sama dia. Gue udah tahu lo cinta banget sama dia, sampe-sampe ke liang lahat pun keknya lo mau ngejar. Emang benar kata orang, kalau cinta itu nggak kenal usia. Buktinya Pak Xavier yang usianya hampir tiga puluh tahun pun lo masih demen," ujar Indah panjang lebar, menceritakan mulai dari akar hingga ke pucuk.


"Gue les private itu nggak ada bedanya sama gue dapetin Pak xavier, sama-sama mustahil. Jadi, berhenti nyuruh gue ikut les private, gue nggak suka sesuatu yang berhubungan dengan belajar."


"Nah, makanya itu kita-kita mau ajak lo les private, gue sama Indah sekarang udah dukung lo buat dapetin tuh cowok. Meski sebenarnya kami agak ragu juga sih."


"Pak Xavier sama les private apa hubungannya? Aneh deh kalian berdua! Lagian kalian 'kan udah tahu kalo gue itu anti banget buat belajar tambahan. Tugas dari Bu Nina aja gue malas ngerjain, terus kalian mau nambah beban gue dengan ikut les privat gitu?" Audie menghembuskan napasnya jengah.


"Ini nih alasan kenapa tangan gue gatal banget pengen nabok batok kepala lo. Gue belum selesai ngomong lo udah main nyerocos aja."


"Karena gue udah tahu, kalian pasti nyari seribu satu cara buat ajak gue ikut les privat sama kalian berdua. Kalian gak bosan apa, sejak dua bulan lalu yang kalian bahas cuma les mulu tau?!"


Arini mengambil sesuatu dari dalam tasnya, membuka galeri di dalam benda persegi yang ia genggam.


"Belajar tambahan itu seperti..." Sepasang bola mata Audie membulat sempurna seperti bola mata boneka. Bahkan ia enggan untuk melanjutkan ucapannya saat melihat sebuah foto terpampang jelas di depan matanya.


Dengan gesit tangan Audie meraih ponsel Arini, "wuahhh..." ungkapan kagum itu sepertinya akan merubah pikiran Audie.


"K-Kenapa pangeran gue ada di galeri HP lo? Dan kenapa kalian bertiga bisa foto bareng? Jelasin sama gue, Arini, kapan lo ketemu sama pangeran gue dan nggak ngajak-ngajak gue. Hah?" napas Audie memburu.


"Ini yang mau gue bilang sama lo, alasan kenapa gue sama Indah ajak lo les private. Karena guru privatenya tuh nggak lain Pak Xavier sendiri."


"Kenapa kalian nggak bilang dari tadi, sih? Kalo guru privatnya Pak Xavier, jelas gue maulah. Rezeky 'kan nggak boleh ditolak."


Dua makhluk disamping Audie hanya geleng-geleng kepala melihat sahabat mereka yang belum bisa move on dari Xavier, lelaki yang hampir mirip dengan pangeran Constantine Alexios dari Yunani.


"Setelah satu tahun gue berjuang mati-matian buat ngelupain Pak Xavier, akhirnya gue gagal total. Dan sekarang gue punya peluang besar, kali ini gue nggak mau nyia-nyiain kesempatan emas buat dapetin hatinya Pak Xavier."


"Tapi, Audie ...." tangan Indah terangkat memberi isyarat agar Audie memberinya peluang untuk bicara.

__ADS_1


"Duh, gue seneng banget deh, gue udah nggak sabar buat ngerasain gimana rasanya punya guru les private kayak Pak Xavier, gue udah kangen banget setelah mati-matian nahan diri untuk melupakannya. Gue bakalan--"


"Pak Xavier udah tunangan, Audie!" Sambung Arini saat Indah tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Arini hanya tidak mau Audie terlalu bersemangat untuk mendapatkan lelaki yang sangat mustahil untuk ia gapai.


Detik ini juga semua terasa hambar. hati Audie yang tadinya berbunga-bunga kini kembali pecah berkeping-keping. Bumi seakan hanya memiliki tumbuhan mati saat mendengar dukanya. Hampir saja Audie ingin mengumumkan kepada seluruh belahan dunia bahwa ia sangat bahagia, namun semuanya harus patah saat mendengar kabar Xavier telah memiliki tunangan.


"Kalian jangan bercanda deh, jangan PHP in gue gini dong. Ngaku, kalian berdua pasti cuma bercanda'kan?" tanya Audie histeris, berharap kedua gadis di dekatnya mengangguk lalu berkata 'iya'.


"Beneran, Audie. Arini nggak bohong. Pak Xavier baru aja tunangan dua minggu lalu. Namanya Alea Zuvanari, wanita 28 tahun sekaligus dosen di salah satu Universitas di kota surabaya ini. Kalo nggak salah mereka sudah pacaran satu tahun, yang berarti pak Xavier pacaran sama tuh cewek setelah lo berusaha move on."


Audie menunduk lesu, kedua bahunya merosot. "Kalau Pak Xavier udah punya tunangan, terus ngapain kalian ajak gue les privat kalau gurunya Pak Xavier sendiri? Kalian mau lihat hati gue semakin patah gitu? Atau kalian suka liat gue menderita saat Pak Xavier nolak cinta gue?"


"Ya maaf, 'kan gue sama Indah cuma niatan buat bantuin lo. Selama ini kita selalu maksa lo buat ngelupain Pak Xavier, dan kita pikir cara seperti itu ternyata buat lo lebih patah lagi karena nggak ada yang ngedukung. Tapi, kalo lo udah berhasil move on, sepertinya itu lebih baik juga, sih."


Gelengan kecil menandakan apa yang dikatakan Arini sepenuhnya tidaklah benar. "Jujur, sampe sekarang gue masih punya rasa sama Pak Xavier. Gimana yah cara ngejelasinnya? Semakin gue berusaha ngelupain, Pak Xavier justru makin lengket diingatan gue, dan itu nyiksa banget tau nggak?!"


Audie menarik napasnya dalam, mengisi kekosongan paru-parunya. "Yaudah, gue ikut les private. Kalian nggak usah takut, apapun nanti yang terjadi, gue siap ambil resikonya." Audie memantapkan diri, ia berusaha yakin pada pilihannya sendiri.


"Lagi pula, lo itu perlu les privat juga, Audie. sekali-kali lo asah dulu Speaking English lo," ancam Arini.


"Gimana dia mau ngasah Speaking English nya, bahasa Inggris warna aja Audie nggak tahu," timpal Indah.


"Jangan gibahin gue, hati gue masih sakit denger Pak Xavier udah tunangan."


Kedua sahabat Audie terdiam, membiarkan Audie menenangkan diri untuk memperbaiki hatinya yang telah retak. Sebelum akhirnya sebuah bus warna hijau menepi di depan halte, ketiga gadis pelajar itu pun masuk ke dalam bus. Transportasi yang akan membawa mereka pulang ke rumah masing-masing.


..."Satu tahun itu perjalanan yang sangat panjang untuk dilalui ketika tugasku saat itu hanyalah melupakanmu."...


...~Audie O'Malia...

__ADS_1


__ADS_2