Dosenku

Dosenku
At that time


__ADS_3

Dan disinilah mereka, tiga anak gadis yang hoby-nya menggibah hanya untuk menumpuk dosa. Semilir angin berhembus lancang dari kaca jendela yang terbuka. Indah duduk di atas Kasur dengan kaki menyila seraya memeluk lembut guling Audie. Sedangkan Arini, ia lebih suka memeluk boneka BT21 yang bertumpuk diatas tempat tidur Audie. Kedua gadis itu menatap Audie lamat-lamat, membuat orang yang sedang difokuskan menautkan kedua alisnya heran.


Anak perempuan itu menyunggingkan bibirnya, "kalian berdua kenapa, sih?" sewot Audie ketika sudah tidak tahan dengan tingkah Arini dan Indah yang membuatnya tidak nyaman sedari tadi.


Indah menghembuskan napasnya panjang, "lo kira gue sama Arini nggak tahu kenapa wajah lo bisa hancur gitu? Udah kayak habis berantem sama kucing garong aja."


"D-Darimana kalian bisa tahu? Apa jangan-jangan..." tebak Audie dengan kalimat terpotong sebelum akhirnya Arini menimpali.


"Iya, Jack yang bilang sama kita-kita saat berkumpul untuk ngerencanain hari ulang tahun lo. Bahkan Zayn sama Yuda juga tahu kok."


Audie mendengus, sudah ia duga. "Cowok itu memang!"


"Kenapa bisa gitu, berantem karena Pak Xavier lagi?" selidik Indah, namun tidak ada sahutan. Audie hanya menunduk malu, malu dengan perbuatannya meski bukan sepenuhnya ia yang salah.


Arini mendesis, " lo kebanyakan nonton drakor, Audie. Lo sadar nggak sih, usia lo sama Pak Xavier itu terpaut jarak sepuluh tahun. Lagi pula, cowok dingin dan nyebelin kek Pak Xavier susah untuk digapai. Dosen di dua Universitas plus cowok tajir yang digemari seluruh mahasiswi."


"Ingat, Audie. Lo itu bintang laut, sedangkan Pak Xavier itu bintang langit. Pasti lo tahu, 'kan? Kedua bintang ini tidak ditakdirkan untuk bersatu!" timpal Indah membuat semangat Audie kembali menciut.


Anak perempuan itu mengangkat dagunya, ia mencium bau-bau ketidak benaran dari kalimat sahabatnya barusan. "Maksud lo apaan, Ndah? Asal lo tahu yah, gue itu juga bintang langit sama kayak Pak Xavier. Hanya saja, gue jatuh dari langit dan terdampar dilaut. Noh, kayak gitu tuh..." tunjuk Audie kearah jendela kaca, dimana dilangit sana ada cahaya kecil yang biasa disebut dengan bintang jatuh.


Satu jitakan mendarat dikening Audie, siapa lagi yang hoby melakukan perbuatan seperti itu kalau bukan Indah orangnya. "Heleh, nggak usah ngaur loh. Mana ada bintang jatuh, yang ada meteor kali. Sekarang lo lihat sendiri 'kan, gimana sakitnya mencintai Pak Xavier? Setelah dapat cakaran dari kuku-kuku Bu Alea, kita nggak tahu, kekejaman apa lagi yang bakal wanita jahanam itu lakuin sama lo."


"Benar apa yang Indah bilang, Audie. Seharusnya, sedari awal gue nggak ngajak lo ikut les kalo ujung-ujungnya kayak gini. Gue nyesel banget ingetin lo tentang Pak Xavier padahal lo udah hampir berhasil move on. Mana otak lo gitu-gitu aja, sedikitpun ilmunya nggak nambah. Eh malah buat masalah."


Audie berjalan menuju arah jendela yang terbuka sekedar merasakan angin malam untuk me-refresh pikirannya yang kalang kabut. "Gue tahu gue salah, dan gue juga tahu cara gue buat dapetin Pak Xavier itu juga salah. Tapi, asal kalian berdua tahu, gue berusaha buat dapetin Pak Xavier karena ada dua alasan."


Baik Arini maupun Indah, keduanya segera beranjak dari tempat tidur tanpa menanggalkan sprai putih yang membungkus tubuh mereka berdua, lalu tertegak di samping kiri kanan Audie. Kedua tangan Arini masih setia memeluk boneka Koya warna biru.

__ADS_1


"Apaan?" serentak Arini dan Indah bersamaan.


Untuk beberapa detik Audie menjeda ucapannya sekedar menenangkan diri sebelum akhirnya ia menjelaskan, "pertama, kalian berdua pasti tahu alasannya. Yaitu, karena gue benar-benar mencintai Pak Xavier. Seumur hidup gue, gue nggak pernah menyukai seseorang sampai segila ini. Sampai-sampai gue berusaha buat dapetin dia. Dan kalian berdua tahukan kalo gue nggak punya mantan, yang tentunya gue nggak pernah pacaran mulai dari cabang bayi sampai gue berusia 19 tahun." Audie menghela napasnya, Menghayati penderitaannya.


"Ini pertama kalinya gue jatuh cinta dan nggak berniat untuk menyerah meski hanya satu langkah. Lelaki kayak Pak Xavier itu lelaki idaman. Coba kalian perhatikan deh setiap inci wajahnya, mulai dari iris mata coklatnya, tatapannya, nada suaranya, alis indah itu, pipi tirus, bibir menggoda, tubuh atletis, tinggi badan, otak sexy, senyum menaw—" seketika Audie terdiam saat Indah menyumpal mulutnya menggunakan bantal.


"Banyak banget bacot lo, kek Pak Xavier itu udah sempurna aja. Sekarang cepat jelasin, alasan yang kedua apa?"


Audie menunduk lesu, tidak seperti semangatnya ia ketika menjelaskan indahnya makhluk ciptaan Allah yang bernama Xavier itu. tubuhnya layu, bagaikan seonggok daging tanpa tulang. "G-Gue nggak mau kejadian dua tahun yang lalu kembali menimpa bang Irfan."


Audie masih ingat jelas itu, memory yang hampir merenggut nyawanya dan juga saudaranya. Ketika Jenny, wanita yang Irfan pacari semenjak duduk dibangku SMP, tidak ada angin tidak ada petir tiba-tiba mengirimkan undangan pernikahan kepadanya. Wanita yang selalu menemani Irfan kala ia sedang berduka atau bahkan sangat bahagia. Gadis yang selalu Irfan ajak bercanda tawa hingga bertahun-tahun lamanya, merancang masa depan yang indah, membuat janji akan menikah diusia 26 tahun, saling merangkul satu sama lain, melewati apa saja yang menjadi penghalang diantara hubungan mereka berdua.


Namun semuanya runtuh seketika tanpa aba-aba. Bagi Irfan, Jenny itu sudah seperti oksigen. Jika gadis itu menghilang maka ia akan merasakan sesak dan perlahan-lahan merenggut nyawanya. Irfan prustasi kala itu, seakan tidak ada lagi sesuatu yang membuatnya harus melanjutkan hidup, karena masa depannya telah pergi. Berulang kali Irfan keluar masuk psikiater, jiwanya seakan-akan lenyap dan tertinggal raganya yang masih berdiri meski terlihat seperti zombie.


Tiap siang dan malam ia bagaikan orang gila, mengingat bagaimana dulu Jenny berjanji dan meyakinkannya bahwa gadis itu tidak akan pergi. Namun, tidaklah semanis yang Irfan bayangkan. Bahwa ternyata sudah kodratnya manusia, melupakan janji-janjinya kala tidak lagi berguna.


Hingga satu bulan telah berlalu, Irfan tidak sengaja membuka sosial media setelah perlahan-lahan mulai melupakan mantan pacarnya itu. Namun semuanya kembali teringat, kala Irfan melihat foto Jenny bersama suaminya, saling berpelukan diatas bukit di Negeri Sakura. Saat itu juga Irfan semakin prustasi. Ia berlari seperti orang kerasukan menuju sebuah bangunan yang terbengkalai, tidak jauh dari rumah mereka. Bangunan itu cukup tinggi, sangat tepat untuk tempat merenggang nyawa. Audie yang melihatnya tidak berdiam diri, ia mengejar saudaranya itu meski harus kewalahan.


Hingga Irfan hampir menjatuhkan tubuhnya dari bangunan tinggi itu, Audie datang tepat waktu. Tangannya menarik baju Irfan dari arah belakang. Namun, Irfan terus saja memberontak seakan-akan Audie sedang menghadapi monster mengerikan. Akibatnya, tubuh Audie ikut bergeser hingga jadilah Irfan dan Audie terjatuh.


Tidak berselang lama, Linda dan Dimas datang tepat waktu, mereka berteriak heboh kala melihat dua anak mereka sedang mempertaruhkan nyawa. Audie dan Irfan menggantung ditepi bangunan. Hanya tangan mereka yang kuat mencengkram untuk berpegangan ditepi dinding. Audie menangis, ia takut saat matanya melihat jauh sekali kakinya menapak tanah dibawah sana. Dengan khawatirnya Dimas menarik tangan Audie terlebih dahulu. Namun Irfan, ia hampir menyerah dan ingin segera menjatuhkan tubuhnya ke bawah sana. Namun saat melihat begitu pilunya tangisan Audie, Irfan mengurungkan niat gilanya.


"Bang Irfan jangan pergi. Audie sayang sama Bang Irfan, siapa nanti yang bakal jagain Audie dari preman-preman yang sudah nyakitiin Audie kalau Abang pergi?" hanya kalimat itu yang terdengar jelas menyapu gendang telinga Irfan. Tangisan gadis berusia 11 tahun itu berhasil meluluhkan hati saudaranya.


Dimas menjulurkan tangannya lalu disambut baik oleh Irfan tanpa ragu. Hinggak sepasang kaki Irfan telah menapak, barulah ia peluk sosok gadis kecil dihadapannya. Tangisannya pecah, bukan karena masih teringat dengan Jenny. Tapi tidak lain adalah, karena ia sudah menjadi beban keluarga dan membuat mereka cemas hanya karena dirinya.


Audie menepuk-nepuk kedua pipinya berulang kali, sekedar untuk menyadarkan dirinya dari masa lalu yang kelam itu.

__ADS_1


"Kejadian... yang pernah lo ceritain sewaktu lo berusia 11 tahun itu?" tebak Arini benar.


Indah mendekat, "apa hubungannya Pak Xavier sama Bang Irfan yang hampir bunuh diri gara-gara si Jenny sialan itu?" dirinya semakin bingung.


Audie menghembuskan napasnya panjang-panjang sebelum akhirnya ia berkata, "Audie itu..." sepasang bola mata Indah dan Arini semakin membulat lebar menunggu kalimat apa selanjutnya yang ingin Audie ucapkan.


"Pacarnya Bang Irfan!"


"HAH...???" tentu Arini dan Indah syok mendengarnya. Yang mereka tahu hanyalah, Alea itu tuangannya Xavier, guru privat mereka.


"Bagaimana lo bisa tahu, Audie? Lo jangan ngada-ngada deh."


"Siapa yang ngada-ngada, sebab itu gue nggak suka banget sama Alea. Bukan karena dia tunangannya cowok yang gue suka, tapi karena dia udah nyakitin hatinya Bang Irfan."


"Trus lo nggak kasih tahu sama Bang Irfan gitu?"


Audie berdecak, lantas ia merebut boneka Koya dari tangan Arini, "gue kan udah bilang Arini, gue nggak mau kejadian beberapa tahun yang lalu kembali terulang. Gue nggak mau kehilangan Bang Irfan hanya karena wanita tidak berperasaan itu."


Indah manggut-manggut, "lo benar juga, sih. Bu Alea jahat juga yah, kurang bersyukur amat tuh cewek. Kurang apa lagi coba Pak Xavier? Ngapain dia harus mendua segala?"


Untuk beberapa saat Audie terdiam, dia tidak ingin memikirkan semuanya lagi. Lebih baik ia tidur karena malam hampir berakhir dan digantikan udara subuh. Di tutupnya jendela kaca itu, menyatukan kedua sisi gorden lalu berbaring di tempat tidur. Arini pun berbaring disisi kanan Audie sedangkan Indah disisi kirinya. Kedua anak perempuan itu memeluk tubuh Audie erat.


"Tidur aja, Audie. Nggak usah dipikirin lagi." Ujar Indah lalu perlahan kedua matanya mengatup.


Audie mengangguk meng-iyakan, sebelum akhirnya ketiga anak gadis itu terlelap dalam tidur mereka masing-masing. Menghadapi mimpi apa saja yang datang. Baik itu mimpi indah atau bahkan sebaliknya.


Di sisi lain, kamar yang berada tepat di depan kamar Audie, seorang lelaki tengah menatap layar laptop-nya. Namun hanya netranya saja yang fokus menatap layar, sedangkan pikirannya telah melayang terbang diawang-awang. Ia tidak bisa melupakan bekas cakaran di wajah Alea dan juga Audie. Irfan masih bertanya-tanya, bagaimana bisa Pacar dan adiknya bertengkar seserius itu? Apa yang mereka pemasalahkan, apa penyebab dari pertengkaran itu? Dan apa selisih diantara mereka yang Irfan tidak tahu?

__ADS_1


Irfan mengacak rambutnya prustasi, karena pertengkaran antara Audie dan Alea itu bukanlah pertengkaran biasa. Seperti ada dendam yang tersirat diantara mereka berdua.


__ADS_2