Dosenku

Dosenku
Still Love Him


__ADS_3

"Lo gimana sih, Audie? Buat malu aja."


Audie tidak menimpali kedua sahabatnya yang sedari tadi terus saja menyalahkannya. Gadis itu malah menikmati es krim yang baru saja ia beli saat melewati sebuah kedai.


"Besok-besok lo harus belajar lebih rajin. Lagian lo nggak lihat apa wajah Pak Xavier tadi? Dingin banget kek es balok, untung aja dia nggak sempat nerkam lo."


Mereka sampai di dua persimpangan, persimpangan yang akan membuat mereka berpisah di sana.


"Besok kalian sibuk nggak?" tanya Audie sebelum kedua sahabatnya membelok ke persimpangan sebelah kiri.


"Nggak," jawab Arini dan Indah di detik waktu yang sama.


Audie tersenyum senang. "Nonton bioskop, yuk?" ajaknya.


"Nggak!"


"Besok 'kan hari minggu, jadi kita libur sekolah sama les privat. Kalian berdua nggak mau gitu bersenang-senang?"


"Sebentar lagi kita UAS, Audie. Dipikiran lo itu jangan main-main mulu, kalo nanti---"


Kalimat Arini terpotong kala Audie mengatakan, "gue yang traktir semuanya!"


"Lets go, jam lima setelah ashar, di bioskop paling mahal dan jangan lupa traktir kita makan juga." Arini berlalu setelah mengatakannya dengan cepat seperti si rapper Agust D, Indah berlari mengekor di belakang.


"Wu ... Di bilang traktir langsung setuju aja lu."


Audie berkacak pinggang dengan menaikkan tinggi-tinggi dagunya. Setelah itu ia kembali berjalan, hanya beberapa langkah saja sebelum akhirnya ia terhenti saat seseorang dari belakang terus saja meng-klakson motornya. Audie menoleh, dia mendapati Irfan di sana.


"Naik," perintah Irfan.


"Nggak usah bang, udah deket kok. Cuma tiga langkah lagi."


"Banyak preman di sana,"


Mendengar kata preman Audie buru-buru menaiki motor Irfan. Kejadian dua tahun yang lalu membuatnya tidak ingin lagi berurusan dengan preman, anak punk dan sejenisnya.

__ADS_1


***


"Bagaimana lesnya, Dek?" tanya Linda saat melihat anak gadisnya datang menghampiri mereka setelah menuruni anak tangga. Audie mengambil duduk di samping Irfan yang sibuk menyantap makan malam.


Audie mengangkat kedua bahunya, "begitulah, Mah. Agak menjengkelkan."


Linda dan Irfan saling bertatapan lalu mengarahkan pandangan mereka kepada Audie dengan alis yang saling bertautan.


"Emang kenapa, Dek?" tanya Irfan.


Audie menghembuskan napasnya kasar. "Masa Audie selalu disalahin sama Pak Xavier. Dari pronounciation-nya lah, Bahasa Inggris inilah, itulah. Namanya juga sedang belajar, iya kali Audie lebih ahli dari pada guru privatnya sendiri," jawab Audie merasa jengkel.


Linda yang mendengarnya hanya tersenyum gemas melihat anak gadisnya cemberut. "Jangan marah gitu dong, Dek. Guru kamu bilang seperti itu pasti karena dia ingin kamu cepat belajar dan cepat untuk memahami."


Audie yang mendengarnya semakin mendengus sebal. "Beruntung guru privatnya itu pak Xavier, Jadi nggak ada niatan buat berhenti belajar," batin Audie.


Sedangkan Irfan yang sedari tadi diam kini raut wajahnya sedang dibuat penasaran. "Kamu tadi bilang nama guru privatnya siapa?"


Audie mengalihkan pandangannya kepada Irfan, tangannya masih sibuk mengaduk-aduk mie spaghetty yang ada dihadapannya. "Pak Xavier," jawab Audie singkat.


"Kenapa, Bang?" tanya Audie kemudian.


Jawaban tersebut membuat Audie tidak paham dengan tingkah saudaranya, ada kegugupan diraut wajah lelaki itu.


Audie kembali mengalihkan pandangannya kepada Linda, kemudian berujar, "oh iya, Mah, Papa belum pulang ya? Inikan sudah satu minggu. Audie sudah kangen banget sama Papa."


Linda mengelus lembut samurai panjang nan hitam putrinya. "Belum sayang. Papa masih banyak tugas diluar kota, mungkin minggu depan. Kamu bisa telpon Papa nanti atau video call, minta saja oleh-oleh apa yang kamu mau."


Mendengar hal itu Audie mengangguk semangat. Baginya, keluarga mereka adalah keluarga paling harmonis. Meski Ayahnya jarang di rumah dikarenakan urusan pekerjaan, tapi Audie sangat bersyukur terlahir di keluarga yang tidak broken home. Ada Ibunya yang selalu menyayanginya dan memberikan cinta. Ayahnya selalu membawakan oleh-oleh jika pulang dari luar kota. Sedangkan Irfan, dia merupakan saudara terbaik bagi Audie. Irfan adalah saudara lelaki yang selalu membela Audie, tidak membiarkannya berada dalam keadaan terpuruk. Menghajar siapa saja yang menyakiti saudari kecilnya.


Setelah selesai makan malam, Audie kembali ke dalam kamarnya. Warna putih dengan perpaduan warna biru terang membuat kamar gadis itu terlihat sangat cerah. Di setiap dinding selalu saja ada poster-poster atau bahkan foto kecil yang menggantung di tirai jendela kacanya.


Audie berbaring di atas kasur, sudah menjadi kebiasaan buruknya selepas makan langsung tidur. Audie tidak peduli dengan berat badan yang menaik, meski kenaikan berat badan merupakan mimpi buruk bagi kebanyakan kalangan wanita. Tapi bagi Audie, perut kenyang adalah perihal paling utama.


Audie meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Casing ponsel bening itu memperlihatkan wajah seorang Pemuda kelahiran negeri ginseng bernama Cha Eun Woo. Audie melepaskan casing ponselnya, mengambil selembar foto card itu lalu meletakkannya di atas nakas. Hendak menggantikannya dengan foto yang baru dengan wajah yang baru pula.

__ADS_1


Setelah itu Audie membuka aplikasi instagram, apalagi yang hendak dia lakukan kalau bukan men-stalking instagram Xavier. Sudah lama sekali Audie menahan dirinya untuk berhenti mencari tahu kehidupan lelaki itu, namun sekarang ia tidak ingin lagi melakukan hal bodoh dengan berusaha melupakan lelaki yang ia cintai.


Jari telunjuk Audie terus men-scroll ke bawah hingga ia menemukan foto yang cocok untuk ia cetak besok. Audie berniat untuk menjadikan foto Xavier sebagai hiasan di casing ponselnya. Bagi Audie ia tidak peduli, jika besok-besok Xavier menemukan ada fotonya di casing ponsel Audie.


Audie berjalan menuju saklar lampu, menekannya sehingga seluruh isi kamar nampak gelap, hanya cahaya bulan yang mengintip dari jendela kaca dengan tirai yang terbuka setengah. Gadis itu tidak bisa tidur dengan cahaya yang terlalu terang. Kalau tidak, bisa-bisa ia melek sampai pagi. Audie berbaring sambil memeluk guling di sebelahnya. Gadis itu kini tengah terlelap, menunggu esok pagi tiba.


***


Cahaya yang mengintip dari gorden jendela membuat Audie terbangun dari tidurnya. Tangan gadis itu meraba-raba spray biru mencari di mana kiranya benda persegi panjang itu. Perkara biasa dilakukan manusia zaman sekarang, selepas bangun tidur hal yang paling utama dilakukan adalah mengecek notifikasi apa saja yang masuk di ponselnya.


Sayup-sayup mata Audie menatap layar ponselnya, ia tidak terkejut meski jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Karena ini adalah tanggalnya untuk datang bulan, jadi Audie tidak perlu bangun subuh untuk mengerjakan shalat wajib.


Audie menuruni anak tangga, langkahnya terlontai masih mengenakan baju piyama motif bunga.


"Pagi, sayang!" Satu kecupan mendarat di dahi cewek itu.


"Pagi, Mah!" Balas Audie sembari mengedarkan pandangannya kemana-mana.


"Bang Irfan dimana, Mah?" tanya Audie setelah ia lelah mencari namun ia tidak menemukan keberadaan Irfan saat ini.


"Katanya dia ada tugas kelompok di rumah Bryan, Mama nggak tahu anak itu sedang berbohong atau tidak," jelas Linda.


Irfan memang sering membohongi orang tuanya, katanya tugas kuliah tapi malah menikung dengan pacarnya. Selama ini, Audie tidak kenal dengan pacar Irfan, Pemuda itu memang tidak pernah membawa gadisnya untuk berkunjung ke rumah mereka. Bukan, bukan Irfan yang tidak mengijinkan gadis itu, tapi pacarnya sendirilah yang katanya belum siap.


Audie mengangguk paham, kedua tangannya menggenggam lengan Linda membuat wanita itu menghentikan aktifitasnya.


"Audie ijin nonton bioskop ya, Mah?"


Linda mendesis pelan. Sudah ia duga, jika Audie mengenggam lengannya seperti sebuah guling, pasti anak gadisnya sedang menginginkan sesuatu darinya.


"Sama siapa?" tanya Linda sembari menuangkan jus apel untuk Audie.


"Biasa Mah, Arini sama Indah."


Linda mengangguk, "pulangnya nanti jangan sampe kemaleman. Kalau adek perginya sama Arini dan Indah Mama masih percaya. Tapi bilang sama mereka, jangan sampai menghianati kepercayaan Mama. Mama takut terjadi apa-apa sama kamu, Dek. Karena Mama lihat di berita-berita televisi menyiarkan ada banyak anak gadis yang berbadan dua padahal belum menikah, apalagi kebanyakan mereka adalah para pelajar yang sebentar lagi akan mengadakan UAS."

__ADS_1


Begitulah, meski sudah mendapatkan ijin, orang tua pasti terlebih dahulu berceramah sepanjang ceramahnya UAS-Ustadz Abdul Somad.


Audie mengangguk meng-iyakan. Lagi pula Audie tidak memiliki pacar, tidak mungkin ia bisa menjadi gadis-gadis pelajar seperti yang disiarkan di berita televisi. Toh, dia juga tidak ingin mengecewakan Mama, Papa sama Abangnya. Meski Audie masuk ke dalam kategori pemalas, tapi ia mempunyai cita-cita yang sangat tinggi.


__ADS_2