
Malam ini hujan menemani. Audie duduk di dekat jendela kaca, menatap bulir-bulir hujan yang menimpa bumi. Bagi Audie, kaca jendela itu adalah layar tancap, sedangkan daun-daun pohon yang diterbangkan angin itu adalah sebagian adegan dari film-nya.
Untuk besok, Audie akan menyampaikan cinta yang sudah ia pendam kepada Xavier. Sudah satu tahun lebih ia terjebak dalam mencintai seorang lelaki yang tidak tahu dan tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya mencintai secara sepihak.
Sebab itu Audie akan menyatakan isi hatinya yang sejujurnya untuk yang kedua kalinya, barangkali Xavier lupa bahwa Audie pernah hadir dalam hidup cowok itu sebelumnya, dan bahwa mereka pernah melukis kisah indah meski hanya sementara. Serta ... ungkapan cinta itu akan menjadi akhir dari cerita cinta mereka.
Sebenarnya, Audie sudah tahu jawaban Xavier nantinya. Akan tetapi di sisi lain Audie ingin membuktikan bahwa jika kita siap mencinta maka kita siap untuk berusaha, berkorban dan terluka.
Untuk cokelat itu, Audie akan mengembalikannya jika ia di tolak. Besok Audie akan membawa cokelat yang diberikan Xavier sebagai jaga-jaga, meski sebenarnya, jawaban 'tidak' yang akan lelaki itu ucapkan.
Ketukan pintu kamar berhasil membuyarkan lamunan Audie. Seorang wanita bertubuh langsing masuk begitu saja meski Audie belum memberi ijin. Kedua tangannya membawa nampan berisikan segelas susu cokelat hangat dan beberapa cookies.
Linda meletakkan nampan itu di atas nakas. Tangannya lembut menyentuh samurai hitam panjang putrinya. Satu kecupan mendarat di kening gadis itu. "Minum susunya, Dek."
Audie hanya mengangguk, menggenggam tangan Linda seolah ia ingin minta ditemani.
"Kenapa, apa Audie lagi punya masalah?" tanya Linda kemudian ia mengambil duduk di tepi kasur. Audie menghampiri ibu dua anak itu, memeluk pinggang tanpa lemak Mamanya.
"Kata Mama, Audie nggak boleh pacaran dulu sebelum lulus SMA. Tapi, kalau Audie menyukai seseorang boleh nggak, Mah?"
__ADS_1
Pertanyaan itu berhasil membuat Linda tertawa. Dari sini wanita itu sudah tahu bahwa anak gadisnya sedang jatuh cinta.
"Jatuh cinta itu tidak di larang, Dek. Apalagi menyukai seseorang. Itu adalah hakmu dan hak semua orang. Kamu boleh jatuh cinta kepada siapapun dan tentu boleh juga menyukainya. Tapi, Kamu harus menanggung akibatnya jika kenyataannya dia tidak memiliki rasa yang sama denganmu."
Sepertinya, kalimat itu sudah bisa menjawab sebagian pertanyaan Audie.
"Kalau usia kami berbeda gimana, Mah?" tanya Audie lagi kepada orang yang sudah berpengalaman.
Linda melepaskan pelukan Audie, lalu memegang kedua sisi pundak gadis itu. "Perbedaan usia tidak masalah, dek. Yang jadi masalah itu kalian berbeda keyakinan. Dalam agama kita, berbeda usia itu tidak di haramkan, karena itu adalah suatu kebolehan."
Audie beralih duduk menyilangkan kedua kakinya di atas kasur, ia semakin serius untuk mencurahkan masalahnya kepada Linda. "Jika usia kami terpaut jarak 10 tahun gimana?"
"10 tahun? M-Menurut Mama gak masalah, selagi tidak dilarang dalam agama. Tapi, apa adek yakin menyukai Pria yang terlalu tua? Jika kalian sempat menikah, bisa-bisa dia sudah beruban di saat wajahmu masih awet muda."
Dia tersenyum meyakinkan Linda, menciptakan lesung pipi di kiri kanan kedua pipinya. Audie yakin bahwa hatinya tidak pernah salah. Ada satu pertanyaan lagi yang membuat Audie kesulitan untuk menanyakannya kepada wanita yang dia sebut sebagai Mama. Untuk pertanyaan ini, kalimat restu sepertinya sangat sulit untuk di berikan orang tuanya.
"Tapi, kalau Pria yang Audie suka sudah punya tunangan, apa Mama masih bilang itu tidak masalah?"
Linda sedikit syok mendengarnya. Selama ini, ia tidak terlalu peduli soal kisah asmara Irfan atau bahkan Audie. Karena bagi Linda, ikut campur dalam persoalan cinta kedua anaknya akan membuat mereka risih ketika di lemparkan beberapa pertanyaan. Namun saat ini Linda tak bisa pungkiri, bahwa anak gadisnya hendak ingin merebut milik orang lain. Dan untuk kali ini, sepertinya ia harus turun tangan dan memberikan beberapa arahan kepada putrinya.
__ADS_1
Linda kembali menyentuh lembut samurai panjang Audie, memberi arahan ada baiknya bersikap lembut bukan dengan bentakan.
"Audie, sekarang Mama tanya. seandainya nih, kamu udah punya tunangan, kamu sayang banget sama lelaki itu, kamu nggak mau kehilangan dia. Terus ada wanita lain yang menyukai lelaki itu karena ketampanan atau bahkan karena kelebihan lainnya. Dia mencoba ngerebut lelaki itu dari kamu meski dia sudah tahu bahwa kalian sudah bertunangan. Saat situasi seperti itu, kira-kira kamu bakalan bertindak atau malah diam saja?"
Pertanyaan itu mampu membuat Audie terdiam, lalu dengan berat hati ia menjawab, "jika Audie sayang banget sama lelaki itu, tentu Audie nggak bakalan biarin dia direbut sama cewek lain. Kalau Audie diam saja, sepertinya Audie terlalu baik memberikan harta terbesarku kepada orang lain. Atau bahkan, Audie bakalan ngatain cewek itu murahan." Untuk kali ini, Audie sedang menyindir dirinya sendiri.
Linda hanya terkekeh pelan, "nah, kamu tahu itu. Begitulah perasaan wanita itu sekarang. Audie nggak boleh egois demi kepuasan hati kamu sendiri. Kamu boleh mencintainya tapi tidak untuk merebutnya. Mama tahu mencintai tanpa di cintai itu rasanya tidak nyaman dan menyakitkan. Mama nggak suruh kamu buat lupain Pria itu, biarkan saja hatimu terus mencintainya. Karena jikalau kamu berusaha melupakannya, maka akan terasa semakin berat. Jadi, biarkan saja, perlahan-lahan kamu akan bosan dan perlahan juga dia akan terlupakan."
Audie menatap sendu wajah Linda, lalu ia memeluk pinggang ramping itu. Sekarang, ia tahu apa yang harus dia lakukan. Audie sangat bersyukur di titipkan malaikat tanpa bersayap kepadanya.
Bagi Audie, Ibu itu bukan hanya wanita yang membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan baik, membangunkannya di awal pagi agar tidak terlambat ke sekolah, atau bahkan membuat segelas susu cokelat hangat. Akan tetapi, Ibu juga bisa menjadi teman, teman untuk curhat, teman untuk menumpahkan segala rasa yang dia pendam. Mama itu memang hebat, dia bisa menjadi segalanya. Mama itu kuat, Mama itu juga Ironman yang selalu berusaha menjaga dan melindung putra putrinya. Baik menjaga fisiknya atau bahkan mentalnya.
"Terima kasih, Mah. Terimakasih sudah selalu ada di dekat Audie, terima kasih sudah menguatkan Audie dan terima kasih sudah menjadi Mama yang baik buat Audie dan bang Irfan."
Kedua sudut bibir Linda terangkat, tangannya kembali mengelus lembut samurai Audie yang masih memeluk tubuhnya dengan erat. Linda mencium pucuk kepala anak gadisnya.
"Sama-sama, sayang. Ingat pesan Mama yah, mengambil milik orang lain itu sama halnya dengan mencuri. Meski lelaki yang kamu sukai masih berstatus tunangan, sama saja dia sudah menjadi milik orang lain. Mengertikan maksud Mama?"
Audie hanya mengangguk, ia masih butuh pelukan di derasnya hujan dan dinginnya cuaca malam ini. Sepertinya, tubuh sang Mama lebih hangat dari pada berdiam diri di dekat perapian.
__ADS_1
..."Aku tidak ada bedanya dengan rintik hujan, ketika aku turun kau malah menghindar."...