
Langkah seorang gadis menggema disepanjang koridor. Rambutnya dikuncir tidak seperti biasanya. Pagi ini cukup bersahabat, namun Audie tidak berniat untuk bersahabat dengan Jack yang saat ini ia sedang mengekor dibelakang Audie seraya mungucapkan kata maaf sebanyak-banyaknya, hingga gendang telinga Audie hampir tidak berfungsi lagi andai saja ia tidak memilih menggunakan headseat.
"...maafin gue yah, gue benar-benar minta maaf soal kejadian semalam! Lo denger gue nggak sih, Audie?" Tidak ada sahutan, kepala Audie bergoyang-goyang mengikuti irama lagu alunan music yang ia dengar.
"Asal lo tahu, semalam gue nyariin lo sampe para pengunjung udah pada bubar. Tapi, gue nggak juga nemuin dimana keberadaan lo. Jujur Audie, gue juga khawatir sama lo." Dan disinilah mereka, melewati ruang kelas XII-1.
Jack menghadang tubuh Audie, ia berdiri tepat dihadapan gadis itu. Audie menyunggingkan bibirnya, ia memutar bola mata malas. "Awas Jack, gue mau masuk kelas!" seru Audie dengan nada jengkel.
"Tapi lo harus maafin gue dulu,"
"Udah tahu lo salah, kenapa lo lakuin itu? Lo yang ajak gue jalan-jalan dan lo juga yang ninggali gue. Semalam gue diganggu sama preman, Jack."
Bola mata Jack membulat sempurna, "dihadang preman? Tapi lo nggak papakan? Lo baik-baik aja, 'kan?" khawatir cowok itu.
Audie segera menepiskan tangan Jack yang ingin meraba-raba tubuhnya, mencari apa ada luka disana. "Kenapa lo ninggalin gue? Dan kenapa handphone lo nggak aktif?"
"Kan udah gue bilang, gue harus bantuin Yuda, dia dihajar sama anak SMA sebelah. Dan soal nggak nerima panggilan dari lo, masa gue harus angkat telpon sambil berantem, sih? 'Kan nggak lucu."
Lagi, Audie tidak peduli dengan penjelasan Jack. Ia berjalan menabrak tubuh jangkung dihadapannya.
Langkah Audie tercekat, tatkala melihat seorang pemuda sedang meringis kesakitan. Jalannya pincang menggunakan tongkat beserta bantuan temannya. Ia tidak hentinya memegangi wajah yang tengah lebam itu.
"Astaga... Yuda? Lo kenapa, kok bisa babak belur gitu sih?" Audie mendekat, ditelitinya luka Yuda mulai dari kaki, tangan, kepala hingga wajah.
"Gue 'kan udah bilang Audie, semalam Yuda dihajar sama anak SMA sebelah, dan ini alasan kenapa gue nggak sengaja ninggalin lo di festival."
Audie mengabaikan Jack, hanya Yuda fokusnya saat ini. "Lo nggak papa, Yud?"
"Adawww..." Teriak Yuda tatkala Audie memijat kuat tangan kanannya yang dibaluti perban, "jahil amat lo Audie, udah tahu gue luka, malah dipencet segala lagi."
Audie menunduk salah, "sorry, gue 'kan cuma mau mastiin, lo luka beneran apa Cuma acting doang."
"Acting-acting, lo pikir gue lagi meranin sinetron indosiar apa?"
"Heleh," Zayn memukul bahu Yuda cukup keras, membuat cowok bertubuh jangkung itu meringis kesakitan, "...lebay amat sih lo, luka segini nggak berasa sama gue."
"Idung lo nggak berasa. Coba lo yang dihajar semalam, gue pastiin, lo langsung isdeat ditempat."
Jack mendekat, "sekarang lo udah percayakan, Audie? Lo udah maafin gue 'kan? Lo nggak marah lagi sama gue 'kan? Lo udah mau temenan sama gue 'kan? Jadi pacar atau suami juga nggak papa kok, yang penting lo nggak musuhin gue lagi. Malah gue makin seneng kalo gue bakal jadi pacar atau bahkan suami lo." Ujar Jack memburu Audie dengan kalimat-kalimat yang tidak berbobot.
Refleks Audie menjitak kepala Jack, "suami-suami, nyari nafkah aja belum tuntas lo." Setelah itu, tubuh Audie segera melenggang pergi untuk memasuki ruangan kelasnya.
***
__ADS_1
Lima jam mata pelajaran telah berlalu, dan sekarang para siswa-siswi telah berhamburan dari dalam kelas kecuali Audie. Saat ini gadis bersamurai panjang itu masih berada diruangan kelasnya bersama seorang guru fisika yaitu Alea. Saat bel les terakhir berbunyi, Alea membiarkan semua murid pulang ke rumahnya masing-masing dan meminta Audie untuk tetap di dalam kelas karena ada sesuatu yang ingin ia sampaikan tentang tugasnya sebagai guru.
Mata Alea tajam menatap lekat Audie yang tengah berdiri dihadapannya, menunggu apa kiranya yang ingin Alea sampaikan padanya. Apakah tentang tugas Fisika yang tidak ia kerjakan atau hal lainnya.
Cukup lama mereka berdua bertahan dalam diam. Hingga tiba-tiba dada Alea naik turun, napasnya memburu kala melihat wajah Audie begitu tenang seakan tidak tahu kesalahan apa yang sudah dia perbuat. Hingga didetik selanjutnya,
Plakkkk....
Satu tamparan keras mendarat dipipi Audie. Refleks Audie terkejut seraya memegangi pipinya yang berkedut nyeri. Pasalnya Audie tidak tahu apa yang telah terjadi, mengapa tiba-tiba Alea melayangkan tamparan menyakitkan kepadanya. Apa salahnya, mengapa Alea tidak ada hentinya ingin mengganggu kehidupannya.
Audie mendongak, ia berusaha keras menatap mata wanita dihadapannya itu, "maksud Bu Alea apa?" sudah ada air menggenang dipelupuk matanya, namun ia berusaha untuk tidak menjatuhkan butiran air bening itu. Dia hanya tidak ingin terlihat lemah dihadapan musuhnya.
"Sudah puas kamu? Dasar wanita murahan!" kalimat itu lancang terdengar, menggema disetiap sudut ruangan dengan pintu yang tertutup rapat-rapat.
"Maksud Bu Alea apa?" tanya Audie untuk yang kedua kalinya. Sungguh, tangan Audie sudah terlalu gatal ingin menampar balik pipi wanita yang sudah menamparnya. Tapi ia sadar, ini disekolah dan bagaimanapun juga Alea tetaplah guru yang harus ia hormati.
Alea mendengus, ia bersidekap dada, "cih, nggak usah sok polos. Bagaimana festival semalam, menyenangkan? Enak ya bisa jalan sama tunangan orang?"
Sekarang Audie paham, ternyata bukan hanya dia yang melihat keberadaan Alea dan Irfan semalam, ternyata wanita itu juga melihatnya di festival. "Lantas, bagaimana denganmu, apa sudah puas mempermainkan hati Bang Irfan?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan wanita murahan!"
Audie melototkan matanya, "wanita murahan?" tanya Audie sambil menyunggingkan bibir.
"Bukannya kamu yang wanita murahan, buktinya kamu tidak merasa cukup jika hanya punya satu Pria saja. Kamu yang ******. Tentang aku dan Pak Xavier semalam, tidak ada urusannya denganmu. Kalian belum menikah, dan aku berhak mengejar siapa yang ingin kukejar. Memangnya kenapa jika aku dan Pak Xavier bersama semalam? Terserah apa yang ingin kami lakukan, berjalan beriringan, berpegangan tangan, berpelukan, atau bahkan berciu—"
Tamparan itu mendarat sebanyak tiga kali, membuat kedua pipi Audie semakin berkedut nyeri. Rambut Audie mengibas kesana kemari kala tamparan itu lolos mengenai pipinya. Air matanya lolos dengan lancang. Jika dihitung-hitung, selama hidupnya pipi itu sudah mendapatkan lima kali tamparan dengan pelaku yang sama.
"Jaga omonganmu. Dasar gadis murahan! Apa kamu ingin menjadi seorang pelacur? Seharusnya kamu perlu mengintropeksi diri. Dasar bodoh, dungu, memangnya apa yang kamu miliki? Bahkan kamu tidak memiliki satu pun untuk dipamerkan." Napas Alea tidak beraturan.
"Irfan! Apa kamu pikir aku benar-benar mencintai saudaramu itu? Cih... Asal kamu tahu, aku hanya ingin menyakiti saudaramu itu perlahan-lahan. Sampai nanti diwaktu yang tepat, aku akan meninggalkannya dan menikah dengan Xavier. Aku ingin melihat saudaramu itu jatuh, menderita, dan mengulang kembali masa lalunya sampai ia berniat untuk bunuh diri. Kamu," telunjuk Alea menekan kepala Audie yang masih menunduk memegangi pipi, "...dan saudaramu itu sama saja, tidak berguna dan pantas untuk dibuang."
Mata Audie berkaca-kaca, kedua tangan gadis itu mengepal kuat, napasnya memburu, lantas ia mendongak dan menatap mata Alea tajam. Tangannya melayang, hingga satu tamparan tiga kali lipat lebih keras mendarat di pipi wanita itu. Audie belum merasa puas, lantas ia menjambak rambut Alea kuat-kuat layaknya seseorang yang sedang dirasuki roh jahat. Audie sungguh tidak terima diperlakukan hina seperti itu, apalagi sempat merendahkan saudaranya Irfan. Memangnya siapa Alea, apa yang dia punya hingga ia berkuasa memperlakukan Audie seenak jidatnya?
Suara teriakan Alea menggelegar tatkala ia merasakan panas dan perih dikulit kepalanya. Audie semakin menguatkan cengkraman tangannya, matanya merah menahan tangis dan amarah. Tidak ada seorang pun diluar kelas, jadi tidak ada yang mendengarnya untuk melerai pentengkaran diantara mereka berdua.
Alea yang tidak terima akhirnya menjambak balik rambut Audie. Bahkan rambut Audie yang tadinya dikuncir kini sudah terlihat acak-acakan seperti rambut singa. Keduanya saling mencakar satu sama lain, hingga berbekas di pipi, jidat dan hidung mereka. Sudut bibir Audie telah mengeluarkan cairan darah, di pipi Alea juga sudah memanjang bekas cakaran Audie. Darahnya mengalir halus hingga sampai ke dagu.
"DASAR WANITA ******..."
"DASAR GADIS MURAHAN..."
Tidak ada yang menghentikan pertengkaran tersebut, mereka sama-sama melontarkan kalimat-kalimat merendahkan hingga seseorang menendang pintu dengan keras. Tidak ada salah satu diantara mereka yang berniat untuk mengalah saat mendengar pintu di dobrak dengan lancang, justru pertengkaran itu semakin merajalela.
__ADS_1
"AUDIE?" panggil seseorang diambang pintu, ia tercengang dengan pemandangan yang dia lihat saat ini. Keadaan Audie sudah seperti gelandangan yang acak-acakan. Jack segera melerai pertengkaran, namun ia kesusahan untuk memisahkan dua wanita itu.
"HENTIKAN, SAYA BISA ADUKAN INI KEPADA KEPALA SEKOLAH..." Lagi-lagi tidak ada yang mendengarkan Jack yang meneriaki mereka. Baik Audie maupun Alea, keduanya sama saja.
Dengan sekuat tenaga Jack kembali memisahkan. Tangan Audie yang masih menjambak rambut pirang Alea berusaha Jack lepaskan. Sedangkan tangan Alea yang masih setia mencakar wajah Audie ditepiskan Jack juga. Hingga pada akhirnya mereka tidak lagi saling menyakiti. Audie dan Alea saling menatap tajam, dada mereka naik turun, napas mereka memburu.
"Apa yang kalian lakukan? Bu Alea," Jack menatap Alea tidak percaya. Bagaimana mungkin guru melakukan kekerasan kepada muridnya sendiri. Pasalnya Jack sudah melihat sedari awal siapa yang memulai pertengkaran. Saat Alea mengatakan ia ingin berbicara dengan Audie persoal tugasnya sebagai pengajar, Jack sudah curiga. Karena selama ini ia tahu, Alea bukanlah guru yang peduli kepada Audie, dia hanya ingin balas dendam kepada gadis itu. Sebab itulah, Jack menunggu diluar seraya mengintip dari balik jendela kaca bening, memperhatikan apa yang dilakukan dua wanita itu di dalam kelas ini.
"...apa maksud, Bu Alea? Bu Alea kira saya tidak melihat, Bu Alea yang pertama memulai pertengkaran ini. Saya melihat jelas Bu Alea menampar pipi Audie. Asal Bu Alea tahu, saya bisa melaporkan ini kepada pihak kepala sekolah karena ini merupakan tindak kekerasan guru terhadap muridnya." Mata Jack tajam, sedangkan yang ia ajak bicara terlihat santai seraya mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan karena baru saja selesai mengeluarkan seluruh tenaganya. Justru Alea sibuk memperbaiki rambutnya yang kusut dan menghapus jejak darah bekas cakaran Audie.
Alea mendesis, "apa kamu pikir saya takut?" dirinya melotot, lantas ia segera berlalu meninggalkan ruangan kelas setelah meludah kearah wajah Audie. Diambang pintu ia berkata lantang, "murahan!"
Jack mengambil tisu, ia membersihkan sisa saliva Alea yang menempel halus diwajah Audie. Untuk beberapa detik Audie terdiam, pandangannya kosong, ia membiarkan Jack melihat wajahnya yang penuh dengan bekas cakaran. Hingga di detik selanjutnya tangisan Audie pecah, ia terisak, dadanya sesak, ia tidak percaya telah melakukan itu, ia juga tidak percaya telah bertengkar dengan sesama wanita. Ia menangis sejadi-jadinya. Audie tahu apa yang dia lakukan itu salah. Bertengkar dan saling menyakiti dengan gurunya sendir? Tapi Audie tidak bisa diam saja, bagaimanapun juga Alea telah merendahkannya, merendahkan saudaranya juga.
Jack yang menyaksikannya merasa iba. Ia tahu bahwa sedari tadi Audie sedang berusaha menahan tangisnya, sebentar lagi pasti bakalan pecah. Dan Jack sudah tahu terlihat dari wajah Audie yang sendu. Jack semakin mendekat, direngkuhnya sosok tubuh mungil dihadapannya.
"Sudah gue bilanga Audie, jangan mencintai orang yang sudah milik orang, apalagi Pria itu sama sekali nggak menyukai elo."
Audie tidak menggubris, ia menikmati alunan tangisnya, perasaan gadis itu kini telah bercampur aduk, namun yang paling menonjol adalah amarahnya.
"Sudah, ayo kita pulang. Gue bakalan anterin lo, nanti lo harus segera obati luka lo." Jack mengambil tas Audie yang sudah jatuh diatas lantai. Jack membawanya seraya membopong Audie yang masih menangis keluar dari ruangan kelas.
Dan disinilah Audie, didepan pintu gerbang sekolah menunggu Jack mengambil kendaraannya. Audie menunduk, masih ada jejak air mata dipipinya. Hingga sepatu hitam didepan kakinya menyadarkan dirinya. Ia mendongak, dan menemukan wajah yang selalu ia rindukan. Wajah itu selalu membuat Audie merasa tenang, wajah yang selalu ia bayangkan sebelum terlelap dalam tidurnya setiap malam.
"Pak Xavier?" Audie segera mengusap wajahnya, khawatir nanti masih ada jejak air mata disana.
"Apa yang kamu lakukan?" nada suara itu tidak lagi dingin, tapi murka. Membuat Audie mengalihkan pandangannya, hingga ia menemukan sosok Alea sedang duduk menangis di jok depan mobil Xavier yang terparkir di tepi jalan. Oh, Audie tahu sekarang, apa wanita itu mengadu? Yang pastinya, tentu Alea telah memutar balikkan fakta seakan Alea lah yang salah dimata Xavier.
"Saya tidak melaku—"
"Keterlaluan!" Potong Xavier membuat Audie terdiam.
"Kamu tidak ada bedanya dengan iblis. Berapa kali saya katakan, saya tidak menyukai gadis rendahan dan murahan sepertimu. Dan sekarang, beraninya kamu menyakiti Alea hanya karena dia tidak ingin meninggalkan saya. Gadis ingusan seperti kamu dengan beraninya mengancam Alea? Dasar, murahan!" Lantang sekali kalimat itu menyapu gendang telinga Audie. Ia hanya menunduk, air mata itu kembali lolos. Sakit sekali rasanya ketika dikatai murahan oleh sosok Pria yang sangat dicintainya.
"Dia yang pertama menampar saya, Pak Xavier. Saya yang tersakiti disini, lantas mengapa saya yang disalahkan?" Audie sesenggukan, kali ini hatinya benar-benar sangat hancur, hancur sehancur hancurnya mendengar kalimat Xavier barusan.
"Berhentilah membalikkan fakta. Kamu tidak ada bedanya dengan pelacur. Perbuatanmu itu sudah diluar batas. Kamu sangat keterlaluan. Jangan mendekati saya lagi, bahkan saya merasa jijik dan muak didekati gadis sepertimu." Lagi, rasanya Audie ingin segera menjatuhkan tubuhnya yang semakin melemah.
"Pak Xavier?" Jack datang dengan menunggangi sepeda motornya. Dilihatnya Audie sedang menunduk terisak. Jack mendekat, lantas ia merengkuh tubuh Audie. Selepas itu Xavier segera pergi setelah berhasil meninggalkan luka yang menyayat hati Audie.
"Lo nggak papa?" kini Jack semakin khawatir. Meski Audie hanya terisak kecil, namun ia tahu, pasti Xavier baru saja melontarkan kalimat-kalimat kasar sehingga membuat hati Audie semakin terluka.
"G-Gue nggak kenapa-napa. Sekarang, antar gue pulang Jack, gue mau pulang." Jack mengangguk. Diboncengnya Audie dalam keadaan hati yang tercabik-cabik. Jujur, Jack tidak pernah melihat Audie menangis selama hampir tiga tahun ia mengenal gadis itu. Apalagi, saat mendengar begitu pilunya tangisan Audie membuat Jack semakin merasa iba.
__ADS_1