Dosenku

Dosenku
Teman Baru


__ADS_3

Gadis dalam balutan mukenah itu sedang terlelap di dalam kamar tidurnya. Waktu telah menunjukkan hampir jam enam sore. Selepas shalat Ashar bukannya segera mandi Audie justru memilih berlayar di samudera mimpi.


Rasa lelah dan letih setelah mendapatkan hukuman dari guru fisikanya yang tidak lain adalah Alea sendiri, Audie ingin mengistirahatkan tubuhnya demi mengembalikan fit-nya sebelum belajar les tambahan di rumah Xavier. Meski Audie tahu tidur selepas Ashar itu sangatlah tidak baik, namun ia benar-benar tidak bisa menahan kantuk yang sudah bersemayam sedari tadi.


Di sisi lain Arini baru saja memarkirkan mobilnya di depan rumah Audie. Tubuhnya terlihat segar dengan polesan make-up seadanya. Gadis itu keluar bersama dengan Indah, keduanya menekan bel rumah Audie seraya mengucapkan salam. Linda yang tengah menyetrika seragam sekolah Audie untuk gadis itu pakai esok hari segera menghentikan aktifitasnya tatkala menyadari ada tamu yang datang.


"Wa'alaikumussalam!" Jawab Linda seraya membuka pintu lebar-lebar. Senyumnya mengembang saat mengetahui ternyata sahabat lama anak gadisnya yang datang.


"Eh, ada Arini sama Indah. Silahkan masuk," sapa wanita yang sedang memakai daster warna biru muda itu.


"Terimakasih, Tante!" Seru keduanya, lalu mereka memasuki rumah minimalis tersebut dan memilih duduk di atas sofa.


"Tunggu sebentar yah, tante buatkan minum dulu."


Baru beberapa langkah, Arini segera menghentikan langkah Linda. "Tidak perlu repot-repot, Tante. Kami kesini cuma mau jemput Audie doang kok, karena guru privat kami ada tugas di kampus jadi kami lesnya sore ini." Jelas gadis yang memakai celana jeans putih itu.


"Iya, tante," timpal Indah seraya manggut-manggut.


Indah mengedarkan pandangannya ke segala sudut rumah, "btw, anak gadis Tante yang genit itu dimana?"


Linda terkekeh pelan saat mendengar penuturan Indah yang menyebut Audie sebagai gadis genit. "Di dalam kamarnya lagi tidur. Coba bangunin deh, selepas shalat Ashar tadi anak itu belum bangun-bangun juga."


Indah menepuk jidatnya, "astaga Audie, bukannya siap-siap eh malah molor."


"Kalau begitu kita berdua permisi ke kamar Audie ya, Tante!" Pamit Arini sopan.


Linda mengangguk singkat, ia kembali menuju di mana ia meninggalkan baju-baju yang belum selesai ia setrika semuanya. Sedangkan Arini dan Indah telah berlalu menuju kamar Audie.


Sesampainya di depan pintu kayu bercat merah jambu dengan plakat kayu bertuliskan 'Salam dulu baru masuk' itu, dua gadis dalam balutan jaket jeans tertegak, Arini segera menekan gagang pintunya namun seketika dicekat oleh Indah.


"Lo nggak bisa baca?" tanya nya yang membuat Arini menggaruk rambut kepalanya yang berhiaskan jepitan rambut warna orange.


"...salam dulu sebelum masuk," lanjut Indah saat menyadari sahabatnya itu gagal loading.


Keduanya menarik napas dalam-dalam, "assalamu'alaikum, Audie!" teriak mereka secara bersamaan, namun sekeras apapun mereka berteriak tidak ada sahutan dari dalam sana.


Arini segera menekan gagang pintu lalu mendorong benda yang terbuat dari kayu jati itu, sepasang mata mereka terbelalak tidak percaya, bagaimana bisa gadis cantik seperti Audie tidur dengan membangun pulau sampai menggenang di atas kasur.

__ADS_1


"Astaga Audie ... Ishhh, jorok banget sih lo," begidik Indah ngeri.


Arini segera menghampiri Audie yang sedang tidur dalam posisi telungkup memeluk guling. Mukenah yang membaluti tubuhnya telah habis di banjiri oleh keringat. Bahkan semburat cahaya jingga yang mengintip dari balik jendela kaca menerpa wajah Audie tidak membuat gadis itu segera terbangun dari tidur panjangnya.


Arini segera menggoncang tubuh mungil Audie, bahkan ia tidak segan untuk menendang bokong cewek itu. "Audie, bangun! Kerjaan lo molor mulu, udah sore, nih."


Audie yang masih menikmati alam mimpinya melewati samudera bersama Xavier hanya menguap lebar, membuat Arini dan Indah segera menutup hidung mereka menggunakan ibu jari dan telunjuk.


"Ya ampun, Audie. Lo habis makan bangkai tikus apa jengkol?" teriak Indah, kini gilirannya yang menggoncang tubuh Audie dengan sekuat tenaga. Audie yang merasakan adanya getaran seperti gempa akhirnya mulai terjaga.


"Kalian siapa?" kesadaran Audie belum pulih sepenuhnya, suaranya serak khas suara orang baru bangun tidur. Sebelah matanya masih terpejam.


"Arwahnya Kurt Cobain! Masih nanya lagi, siapa lagi kalau bukan si Arini yang cetar membahana," Arini mengibaskan rambut pendeknya.


"...dan Indah si Rapunzel kedua," sambung gadis bersamurai panjang itu.


Audie mengerjap-erjapkan sepasang matanya untuk menyesuaikan cahaya jingga yang masuk ke dalam kamarnya.


"Oh..." Ucap Audie santai, lantas ia tidur kembali memeluk guling yang hampir sama tinggi dengannya.


"Iya-iya, gue bangun nih!" Seru gadis setengah berisi itu, segera Audie beranjak dari kasur tempat paling nyaman ketika lelah.


"Lagian kalian, masa jam lima udah pada dateng. Bukannya Pak Xavier bilang selepas maghrib?" Kesal Audie, ia membuka mukenah merah maroon yang membungkus tubuh mungilnya sedari tadi, lalu meletakkannya di tempat pakaian yang kotor karena aromanya yang sudah tidak sedap akibat keringatnya sendiri. Setelah itu Audie segera mengambil handuk sebelum memasuki kamar mandi.


"Maghrib disini jam lima lewat tiga lima, Audie. Perjalanan menuju rumah Pak Xavier aja memakan waktu setengah jam. Harusnya lo itu berusaha jadi orang yang disiplin, bukan cuma--"


"BERISIK!" Bantingan pintu kamar mandi membuat Arini dan Indah mengelus dada mereka masing-masing.


***


"Assalamu'alaikum!" salam tiga gadis yang tengah berdiri didepan pintu seraya memencet bel, berharap siempunya rumah segera menampakkan batang hidungnya.


Pintu terbuka lebar-lebar, namun tidak sesuai dengan harapan ketiga anak gadis itu. Jika bukan Xavier yang membukakan pintu, sudah pasti Pemuda yang berprofesi sebagai dosen itu belum ada di rumah.


"Wa'alaikumussalam! Eh ada tiga kurcaci, syukur banget kalian datang tepat waktu." Lufy yang tadinya merasa cemas kini merasa lega, ada tiga anak gadis yang bisa ia mintai bantuan.


Arini mendekatkan tubuhnya kepada Lufy, jauh ia lebih tinggi dari wanita itu, namun mengapa ia dikatakatan kurcaci? Bukankah kurcaci itu sangat kecil dan mungil? Tercium aroma ketidak adilan disini.

__ADS_1


"Kenapa Kak Lufy, kelihatannya senang banget dengan kedatangan kami, lagi rindu yah?" Indah menaik turunkan kedua alisnya, tatapannya nakal kepada Lufy.


"Bukan, Kakak nggak ada waktu buat rindu sama kalian. Gini, Ayah Bella belum pulang, sedangkan Kakak mendadak ada urusan penting di kantor. Kakak minta tolong jagain Bella bisa? Mana Xavier juga belum pulang lagi. tapi ... sepertinya anak lajang itu sebentar lagi bakalan nyampe rumah deh," keluh kesah Lufy. Sesekali ia melirik putri kecilnya yang bernaman Bella, gadis itu tengah sibuk makan coklat di atas sofa.


"Iya Kak Lufy, kami bisa jagain Bella kok." Ketiganya melemparkan senyuman kepada Lufy, mengisyaratkan bahwa wanita itu tidak perlu khawatir.


"Aduh, makasih banget yah. Anak-anak didik Xavier ini memang baik banget. Kalau gitu Kakak titip Bella yah, Kakak pergi dulu, Assalamu'alaikum!" Wanita dengan balutan seragam kantor itu segera melesat meninggalkan rumah. Ia segera melajukan mobil Nissan March berkelir merah itu menuju jalan raya.


Audie, Arini dan Indah menjawab salam Lufy sebelum akhirnya ketiga gadis itu memasuki rumah.


"Halo Kak Arini, halo Kak Indah," sapa Bella, gadis berusia empat tahun itu tersenyum manis.


"Hai, Bella. Lagi ngapain?" tanya Arini, ia mendekati gadis kecil itu lalu merangkul bahunya.


"Lagi makan coklat, Kak. Eh, Kakak ini siapa?" Bella menunjuk Audie menggunakan dagunya, sepasang bola matanya sangat indah seperti boneka.


"Dia Audie, ikut les juga. Emang Bella belum pernah liat?" Indah mengelus lembut rambut hitam lebat Bella, ia menggunakan bandana merah muda yang membuatnya semakin cantik jelita.


Anak gadis semata wayang Lufy itu menggeleng, sampai akhirnya Audie memperkenalkan diri. Rasanya agak canggung, padahal Bella hanyalah seorang anak kecil.


Uluran tangan itu dibalas oleh Bella dengan senyuman, "halo Kak Audie, aku Bella, putri Lufy dan Rian. Oh iya, kata Mama, Bella orang paling cantik di rumah ini loh. Tapi keknya sekarang nggak lagi deh, soalnya Kak Audie kelihatan lebih cantik dari Bella."


Refleks mereka tertawa dikala petang itu saat mendengar penuturan Bella. Bukan hanya tubuh Bella yang terlihat lucu, bahkan ucapan yang keluar dari mulutnya pun mampu membuat orang-orang disekitarnya terhibur.


Di sisi lain, seorang pemuda dalam balutan jas blazer warna navy tengah memarkirkan si Bugatti hitam di dalam garasi. Langkahnya terlihat berwibawa memasuki rumah, tangan kirinya terselip di saku sedangkan tangan kanan sedang menerima panggilan.


"Iya, sayang. Wa'alaikumussalam." Kalimat terakhir sebelum akhrinya Xavier mengakhiri panggilan.


Pandangan Xavier tidak sengaja bertemu dengan mata Audie, ia berdehem dua kali hingga akhirnya ia memeluk tubuh gadis kecil yang berlari kearahnya.


Audie menelan salivanya dengan sangat berat. Entah mengapa ada sesuatu yang menyibak benda lunak yang di sebut dengan hati tatkala Audie mendengar Xavier baru selesai mengakhiri panggilan dengan Alea.


Jujur saja, hatinya sakit saat Xavier hanya mengacuhkannya, Pria itu memang masih jengkel dengan sikap Audie. Bahkan saat mata mereka bertemu sekali pun, Xavier akan segera membuang muka. Entah sampai kapan hati itu akan mencair, entah sampai kapan Xavier sadar bahwa Alea itu bukanlah wanita yang baik, dan entah sampai kapan Xavier merasakan betapa tulusnya cinta Audie, gadis berusia 18 tahun itu. Orang yang mencintainya jauh hari sebelum kedatangan Alea.


...🧚🏻‍♀️🧚🏻‍♀️🧚🏻‍♀️...


..."Kamu perlu tahu, hari ini dan besok akan tetap sama saja. Entah itu sepuluh tahun telah berlalu atau bahkan ketika kamu menganggapku hanya sebutir debu. Disini aku akan selalu bersedia menjadi umbrella-mu. Meski hujan air atau bahkan hujan batu, aku akan tetap bertahan semampuku."...

__ADS_1


__ADS_2