
"Mah, Audie mau les privat!" Seru seorang gadis yang membuat Linda yang berperan sebagai Ibunya segera menghentikan aktifitasnya yang sedang mencuci piring.
"Tumben anak gadis Mama mau les tambahan, biasanya anti banget sama yang bikin kepala pusing tujuh keliling."
Audie mengunyah sisa nasi goreng di dalam mulutnya, sebelum akhirnya ia angkat suara, "sebentar lagi Audie mau UAS. Jadi, Audie nggak mau kalo nanti nilai Audie rendah, bisa-bisa Audie nggak bisa masuk perguruan tinggi."
"Oh begitu ... Bagus dong," kata Linda sembari meletakkan beberapa piring yang baru saja ia cuci ke dalam rak.
Setelah menghabiskan susu yang disuguhkan Mamanya, Audie bergegas mengambil tasnya di atas sofa saat melihat saudara lelakinya yang bernama Irfan sedang menuruni anak tangga.
"Ayo, Dek! Abang nggak mau lagi telat ke kampus kek hari senin kemarin," kata Irfan, melipat dua ujung lengan baju kemeja putihnya.
"Iya..."
Kedua bersaudara itu 'pun segera berlalu, keluar dari ambang pintu setelah menyalim tangan Linda. Audie menerima helm yang di sodorkan Irfan, menaiki motor lalu bergegas pergi ke sekolah.
Sesampainya di depan pintu gerbang, Audie turun dari motor Irfan. Kemudian mahasiswa semester enam itu segera berlalu meninggalkan SMA Dharvaro menuju kampusnya.
Audie mengedarkan pandangan disetiap sudut sekolah. Setelah menemukan di mana kiranya kedua temannya, ia 'pun tersenyum lalu mendatangi Arini dan Indah.
"Gimana-gimana, tante Linda izinin lo buat les privat, 'kan?" tanya Arini semangat, Indah yang ada di sebelahnya berbinar-binar menunggu jawaban Audie.
Cewek itu mengangguk sembari tersenyum. "Tentu dong. Justru Mama senang banget anak gadisnya bakalan lebih giat lagi buat belajar."
Tentu mendengar jawaban Audie barusan menerbitkan senyuman di bibir Arini dan Indah. Mereka ikut senang mendengarnya. Kemudian ketiganya berlalu hendak menuju ke ruang kelas. Namun, seketika langkah mereka harus tercekat saat seorang siswa merentangkan kedua tangannya. Dua kancing kemeja putihnya dibiarkan terbuka begitu saja, rambutnya gondrong yang mana beberapa helainya ia ikat menggunakan gelang karet, kedua pergelangan tangannya dihiasi gelang berbagai corak. Kulitnya putih hingga urat disekitar lehernya tercetak jelas bak lautan jernih. Sayangnya, ada tato tersebar di tubuh cowok itu.
"Mau kemana, tuan putri?"
Namanya Jack Aleavaro, siswa paling bodoh, paling tampan dan paling disegani. Ia bersidekap dada tanpa sedikitpun memudarkan senyuman di bibirnya.
"Mau ke kelaslah, mau kemana lagi?" jawab Audie singkat dengan nada tidak suka.
"Nih!" Jack menyodorkan coklat yang dihiasi lilitan pita.
Kening Audie berkerut samar. "Buat apa?"
"Ya buat di makanlah, buat apa lagi coba?"
Audie memutar bola matanya malas, dia mendengus. "Gue nggak suka coklat," imbuh Audie lalu menarik pergelangan tangan kedua sahabatnya. Meninggalkan Jack yang sedang menatap nanar coklat di genggamannya.
"Di tolak lagi lo?" dua sahabat Jack mendekatinya sembari menepuk kedua bahunya.
Jack adalah siswa kelas XII IPS-3, most wanted yang diperebutkan hatinya oleh cewek-cewek seantero sekolah. Wajah Jack memang lumayan, tidak bosan untuk di pandang. Namun, Audie tidak pernah tertarik dengan cowok yang satu ini karena dia yang tercap playboy. Jack sudah memiliki stok pacar satu lusin. Kemana ia pergi, maka di sana pasti ada bekas pacarnya. Tidak terhitung sudah berapa gadis-gadis yang ia permainkan. Meski otak Jack tidak encer, tapi kesempurnaan wajahnya membuat orang tergila-gila.
...----...
Selepas pulang dari sekolah, Audie, Arini dan Indah 'pun menghentikan bus setelah menunggu beberapa menit di halte. Menuju di mana mereka akan bertemu dengan seorang guru yang kata Audie begitu mirip dengan Pangeran Constantine Alexios dari Yunani.
Arini menekan bel beberapa kali sampai akhirnya sang empunya rumah menampakkan batang hidungnya.
"Siang, Kak!" Sapa ketiga pelajar kepada seorang wanita yang hendak akan pergi meninggalkan rumah. Terlihat dari seragam formalnya, kaca mata bertengger di atas hidungnya, serta tas hitam yang ia jinjing.
"Xavier... Anak didikmu sudah pada datang," teriaknya, mengarahkan suaranya di mana kiranya Pria yang ia panggil sekarang.
__ADS_1
"Kak Lufy mau kerja, ya?" tanya Arini berusaha akrab.
Lufy adalah Kakak kandung sedarah dan serahim Xavier, ia sudah berumah tangga sejak lima tahun yang lalu. Memiliki seorang anak perempuan berusia empat tahun dari hasil pernikahannya.
"Iya Arini, kalian masuk aja. Xavier keknya lagi mandi deh."
Ketiga pelajar itu hanya mengangguk sambil menyedekahkan segaris senyum, menampakkan barisan-barisan gigi mereka yang tertata rapi kecuali Audie, gadis itu punya gigi gingsul yang tumbuh tidak sejajar dari tempatnya.
"Eh, ini siapa?" tanya Lufy membuat langkah Audie tercekat.
"Dia Audie Kak, mau ikut les privat juga."
"Oh begitu, makin nambah aja nih anak didiknya Xavier,"
"...kalau begitu kakak pergi dulu yah, kalian masuk aja nggak usah pada sungkan."
Ketiganya remaja itu mengangguk meng-iyakan. Memasuki rumah bak istana itu, yang mana perlu 2 jam hanya untuk menjelajahi setiap ruangan.
Arini mendudukkan bokongnya di atas lantai. Sofa dibelakangnya seakan tidak berguna.
"Kenapa duduk disitu, Rin?"
"Biasanya kami belajar kek gini, biar lebih dekat jaraknya dengan meja. Lagi pula, gue nggak suka duduk di sofa, terlalu empuk."
Audie hanya geleng kepala, alasan yang tidak masuk logika. Audie pun ikut duduk di atas lantai. Ketiganya mengelilingi meja kaca berhiaskan bunga buatan di tengahnya plus pengharum ruangan.
Hidung Audie mengendus-endus saat merasakan kedatangan sosok makhluk berkaki dua. Audie mengedarkan pandangannya, hingga dari balik tembok keluarlah seorang Pemuda bertubuh jangkung dengan rambut coklat kaku. Kaca mata yang bertengger di atas hidungnya, rambut basah yang masih meneteskan air dari beberapa helai rambutnya. Audie hampir lupa bernapas.
Wajah itu adalah wajah yang selalu ia rindukan, wajah yang selalu ia mimpikan, dan wajah yang selalu menghantuinya setiap malam. Setelah satu tahun tidak bersua, akhirnya Audie kembali menemukan sosok pujaan hatinya.
"Arini, jika kalian lapar ambilkan di dapur makanan. Di sana ada sandwich dan juga beberapa minuman kotak." Ini yang membuat Arini betah menjadi anak didik Xavier. Selain mendapatkan banyak ilmu, perut juga selalu terisi.
"Iya, Pak!" Balas Arini semangat, bangkit dari duduknya lalu mengambil apa yang disuruh oleh Pemuda yang kini berprofesi sebagai tutornya.
Audie terpelongo, selain wajah Xavier, Audie juga sangat merindukan suaranya. Mendengar pemuda itu berbicara seakan Audie sedang mendengarkan Xavier bernyanyi. Setiap huruf yang keluar dari mulutnya terdengar begitu lembut seperti alunan musik, sedangkan Audie hanya tinggal menikmati setiap liriknya saja.
"Ini siapa?" tanya Xavier saat melihat wajah baru yang kini sedang tersenyum kaku.
"Pak Xavier nggak kenal?"
Lelaki itu menggeleng, membuat Audie tersadar dari dunianya. Seketika jantung Audie melemah. Bagaimana bisa Xavier melupakannya begitu saja? Sedangkan Audie hampir gila saat yang ada dipikirannya hanyalah lelaki itu saja. Xavier sedang pura-pura tidak ingat atau memang ia amnesia?
"Dia Audie, Pak. Mau ikut les privat juga." Arini sungguh sangat prihatin terhadap hati Audie, karena Arini yakin, hati gadis itu pasti sedang tidak baik-baik saja saat ini.
Xavier tidak menggubris, dia hanya mengangguk. Lelaki itu kembali memasuki kamarnya, membawa ipad, ponsel, dan beberapa buah buku. Dia kembali ke ruang tamu, mengambil tempat duduk di atas lantai tepat berada disebelah Audie.
Keadaan Audie saat ini sedang tidak baik-baik saja. Itu sudah hal yang lumrah di alaminya. Jujur saja, hati Audie masih sakit menerima kenyataan bahwa Xavier begitu mudah melupakannya. Tidak adakah kenangan mereka terlintas di ingatannya meski hanya sebutir debu? Atau memang lelaki itu tidak ingin lagi berurusan dengan Audie hingga ia terpaksa pura-pura lupa?
"Tangan kamu kenapa? Lagi sakit?" tanya Xavier saat mendapati tangan Audie sedang gemetar saat menulis.
"B-Bukan, Pak. I-Ini ... Saya lagi kedinginan," ujar Audie beralasan sembari mengibas-ibaskan kedua tangannya tepat sejajar dengan leher jenjangnya.
Xavier mengambil remot di sampingnya, mematikan AC yang sedari tadi menyala.
__ADS_1
Dalam hati Audie ia mengerutuki dirinya sendiri, kalau AC-nya di matikan bisa-bisa Audie akan mati kepanasan.
Arini datang membawa beberapa cemilan, sandwich dan juga minuman kotak. Keadaan ruang tamu kini seperti berada digurun pasir, semua makhluk di sana sudah seperti udang yang di panggang. Merah semua. Audie menghirup udara panas, menghembuskannya dengan kasar.
"Sudah menguasai Bahasa Inggris sampai di mana?" selidik Xavier tanpa mengalihkan pandangannya dari ipad yang sedang ia genggam.
Audie terbata-bata. Pasalnya, ia tidak pernah mempelajari Bahasa Inggris selain sewaktu pelajaran di sekolah. Itupun, ketika Miss Resty menerangkan Audie lebih memilih tidur di bangku pojok paling belakang. Kata Audie, mulutnya terlalu kaku untuk mengikuti ucapan para bule-bule diluar sana.
"Sampai ...." Audie menggaruk tengkuknya, ia kebablakan tidak bisa berkata.
"Untuk Bahasa Inggris dasar, sudah dikuasai?" tanya Xavier kemudian.
Arini dan Indah menatap sahabat mereka nanar. Mereka tahu, Audie sangat awam jika ditanya seputar Bahasa Inggris.
"B-Belum, Pak!" Jawab Audie ragu seraya menggelengkan kepalanya pelan.
"Putih?" tanya Xavier, netranya masih fokus pada layar ipad.
Audie mengingat-ingat. "White?" katanya, sedikit ragu dengan jawaban tersebut.
"Biru?"
Audie berusaha menggerakkan mulutnya agar tidak kaku, "belu?"
Xavier menatapnya dingin. "Perbaiki pronunciation-mu. Bukan belu, tapi blue!" Imbuhnya, membuat Audie cukup malu.
Gadis bertubuh sedikit berisi itu memainkan lidahnya, "blue ...."
"Merah?" tanya Xavier kemudian.
"Blood!" Jawab Audie bangga, ia sangat percaya bahwa kali ini jawabannya sangat tepat.
"Bagaimana bisa merah Bahasa Inggrisnya jadi blood?" Indah menautkan kedua alisnya.
"Blood artinya apa, Ndah?" ucap Audie balik bertanya.
"Darah,"
"Darah itu warnanya apa?"
"Merah," jawab Indah dengan begitu polosnya.
"Nah, itu merah," pungkas Audie tersenyum puas.
Arini menepuk jidatnya, menyadari kebodohan temannya sendiri. "Ingat, Audie. Biru juga bisa. Darah biru!" Ujar Arini memberikan penekanan dalam kata 'darah biru'.
Audie hanya cengar-cengir tidak merasa bersalah sama sekali. Sedang singa di sebelahnya hendak ingin menerkam. "Saya tidak ingin mendidik murid yang ingin bermain-main sepertimu. Jika tidak berniat untuk belajar, kamu bisa pergi sekarang."
Ungkapan itu membuat Audie tiba-tiba terdiam, ia meneguk salivanya dengan sangat berat. Perasaannya udara di ruang tamu itu terasa semakin panas saja.
Dari dulu, sejak pertama kali Audie mengenal Xavier hingga ia jatuh cinta dan sampai saat ini juga, lelaki itu ternyata belum berubah juga. Bahkan sikap ketidak pedulian cowok itu terhadap sekitarnya semakin bertambah. Jika dulu Audie menamainya kulkas berjalan, mungkin sekarang gelar Kutub Utara pantas ia sandang.
..."***Tau tidak, aku rela menggantikan setiap lukamu sebagai bukti bahwa aku sangat mencintaimu."...
__ADS_1
...~Audie O'Malia***...