
Jarum pendek jam dinding telah berada di angka delapan, sedangkan jarum panjangnya tepat di angka tiga. Adzan Isya telah berlalu, berkumandang hingga menggema diseluruh kota Surabaya, namun sedikitpun Audie tidak mendapatkan ilmu untuk dibawa pulang. Gadis itu memperhatikan tangan kiri Xavier yang sedang menulis sesuatu, hingga di detik selanjutnya Pria itu berhenti lalu meletakkan kaca mata lensa yang bertengger di atas hidungnya sedari tadi di atas meja.
Pemuda berusia 28 tahun itu memperhatikan anak-anak didiknya, hingga akhirnya ia memalingkan muka ke arah lain saat mendapati Audie juga tengah sedang memperhatikannya.
"Saya sudah menjelaskan apa itu narrative text, kemungkinan materi ini akan muncul di soal-soal Ujian Nasional nanti. Untuk mengetahui pemahaman kalian sudah sejauh mana, saya akan memberikan kalian tugas berupa membuat beberapa contoh Narrative Text, besok akan saya periksa." Jelas Xavier yang di angguki ketiga gadis remaja dihadapannya.
Namun, sebelum mengangguk setuju, Audie harus menelan salivanya dengan sangat berat. Pasalnya, ia tidak mengerti sedikitpun, bahkan untuk defenisi narrative text saja ia tidak tahu meski Xavier sudah menjelaskan panjang lebar.
"Besok semua harus siap, jika kalian lupa, saya akan ingatkan melalui grup chat yang sudah saya buat," lanjutnya.
"Baik, Pak Xavier. Terima kasih banyak untuk pelajaran hari ini," ujar Arini.
"Sama-sama,"
"Oh iya," ucap Xavier saat baru saja mengingat sesuatu.
"...nanti, sekitar satu bulan lagi kita akan mengadakan pembelajaran dengan terjun langsung ke lapangan."
Baik Indah, Arini maupun Audie, ketiganya mengangkat alis tinggi-tinggi karena tidak paham apa yang dimaksud Xavier. Mereka saling pandang lalu mengedekkin bahu mereka masing-masing.
"Maksud saya, kita akan pergi ke tempat di mana kita akan menemukan ada banyak turis mancanegara di sana. Tapi saya perlu mempertimbangkan dulu di mana lokasi yang tepat, di sana kalian harus berkomunikasi dengan para turis untuk melatih speaking dan listening kalian agar kalian semakin terbiasa."
Sepasang mata ketiga gadis disana berbinar-binar, Indah memeluk tubuhnya sendiri sembari berdecak kagum. Xavier memperhatikan ekspresi anak didiknya yang tiba-tiba berubah. "Bukan untuk traveling, tapi untuk belajar. Tidak ada waktu bermain-main di sana," lanjut Pemuda itu, kedua tangannya sibuk membereskan buku, kamus, Ipad dan bolpoinnya yang berada di atas meja. Sesekali Xavier mengalihkan perhatiannya ke arah sofa, dimana disana Bella sudah tertidur pulas dengan memeluk boneka teddy bear.
Baru saja Indah ingin membereskan barang-barangnya, namun seketika ia terdiam saat suara-suara aneh berbunyi dari dalam perutnya. Refleks semua mata tertuju padanya, kemudian Arini mendekatkan telinganya di depan perut cewek itu.
"Perut lo Ndah yang bunyi barusan?" tanya gadis itu dengan kedua alis yang saling bertautan.
"He he... Iyah!" Jawab Indah cengengesan, seulas senyum malu terpancar dari bibirnya.
"Astaga ... kuat amat dah bunyi perut lo yang keroncongan. Ampe bunyi krucuk-krucuk gitu," kata Arini seraya memainkan sepuluh jari-jarinya seperti kaki gurita dengan bibir yang mengerucut.
"Saya akan antar kalian pulang, sangat tidak baik anak gadis berkeliaran malam-malam begini. Tapi, sebelum pulang kalian makan dulu. Nanti bisa sakit kalau ditahan sampe rumah," imbuh Xavier yang membuat Indah semakin tidak bisa menyembunyikan rasa malunya.
"Tidak perlu, Pak Xavier. Merepotkan saja, saya masih bisa nahan kok." Sebuah penolakan namun berharap masih ada penawaran.
"Tidak papa, tapi kalian perlu bantu saya memasak. Kak Lufy baru saja belanja, sekaligus saya meminta kedua tangan kalian untuk membantu saya di dapur."
"Saya jadi merasa merepotkan Pak Xavier, makan di rumah orang." Ungkap Indah, namun realitanya, hatinya di dalam sana sedang meoncat-loncat kegirangan saat mendengar ada jatah makanan.
"Lo sih, tiap hari udah dikasih cemilan, eh ... malah numpang makan di rumah orang." Senggol Arini mengenai lengan Indah.
Ketiga sahabat itu pun berlalu menuju dapur yang berada dibelakang, sedangkan Xavier sedang menggendong tubuh Bella, mengantarkan keponakannya itu untuk tidur di dalam kamar.
__ADS_1
Kini Arini, Indah dan Audie sedang berkutik di dapur. Ada banyak bahan-bahan masakan di sana, hingga Arini merasa kebingungan apa yang akan dia masak.
"Eh, Ndah!" Senggol Arini pada lengan Indah, refleks gadis yang di senggol menoleh.
"Lo 'kan pandai masak udah kayak Chef Renata, dan gue kesulitan mau memilih masak apa? Coba lo rekomendasiin deh, baiknya kita masak apa?" tanya Arini. Sedangkan Audie? entahlah, anak perempuan itu memang tidak memiliki suatu bakat. Hanya ada satu bakatnya yang menonjol, yaitu tetap bertahan mencintai Xavier sampai sekarang.
Indah mendongakkan kepalanya menghadap langit-langit rumah, sedangkan ibu jari dan telunjuknya ia gosok-gosokkan di dagu runcing itu, "hmm... apa yah?" pikir gadis itu kemudian.
"Aha, gue tahu. Gimana kalo kita masak sup bayam, telur dadar kornet, cah kangkung, ayam goreng sama bihun goreng?" saran Indah.
"Oke deh," pungkas Arini lalu membongkar bahan-bahan masakan yang masih terbungkus dalam plastik besar.
"Lah, tugas gue apaan? Kalo nggak di kasih tahu, gue nggak bakalan paham."
Indah memutar bola matanya malas, "mending lo masak telur dadar aja deh, Audie. Tapi jangan sempat gosong yah kayak yang kemarin. Bisa-bisa nanti lo malu-maluin, masa anak gadis nggak bisa masak."
"Iya-iya, gue nggak bakalan buat telur dadarnya gosong. Lagi pula, kemarin gue udah diajarin nyokap gue buat masak."
"Belajar masak apa?" tanya Arini yang sedang mencuci sayuran.
"Belajar masak mie instan,"
Seketika gadis sedikit berisi itu mendapatkan satu tamparan di bahunya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Indah.
Saat ini Audie sedang sibuk membuat telur dadar, tidak berselang lama, telur dadar kornet telah masak tanpa ada gosong sedikitpun.
"sekarang apaan?" tanya Audie setelah tugasnya selesai.
Indah menunjuk wajan yang ada di atas kompor, "tuh, gue udah masukin bayamnya, lo tinggal oseng-oseng."
Audie mengacungkan jempolnya ke udara bersejajar dengan dadanya, "oke, deh!" Seru gadis itu, tangannya gesit mengaduk-aduk tumis bayam, aromanya tercium kemana-mana, membuat cacing-cacing Indah yang tadinya demo meminta jatah kini semakin marajalela di dalam sana.
"Ndah, Arini ..." Panggil Audie, kegabutan itu tiba-tiba saja melanda hatinya.
"Apaan?" sahut kedua sahabatnya.
"Sepertinya, gue perlu jadi sayur sisa semalam deh!" Kata gadis itu dengan suara yang lirih.
"Buat apaan?"
"Biar gue bisa dihangatkan sama Pak Xavier." Satu tamparan mendarat di kening gadis itu.
Xavier yang sudah ada di dapur sejak tadi tanpa sepengetahuan Audie dan teman-temannya seketika terbatuk-batuk saat air mineral yang ia minum masih berada di tenggorokan. Refleks ketiga anak didiknya mengalihkan pandangan mereka ke arahnya.
__ADS_1
"Astaga ... Sejak kapan Pak Xavier ada di sana?" batin Audie. Semburat malu itu kembali terpancar di kedua pipi montoknya.
Xavier mengambil es di dalam freezer, "sepertinya otakmu perlu dibekukan lalu dipanaskan," ucap Pemuda itu tiba-tiba, membuat Audie, Arini dan Indah tercengang karena sangat jarang Xavier ikut menimpali percakapan diantara mereka. Apalagi, berbicara tentang Audie itu adalah suatu hal yang sangat langka.
"...biar otakmu encer," sambung Xavier yang membuat Audie menunduk lesu. Mungkin Audie pikir lelaki itu akan menggombalnya persis seperti yang baru saja ia lakukan, namun ternyata semua tidak sesuai dengan ekspektasi.
Kemudian Xavier berjalan untuk memasak cah kangkung, tangan kirinya sibuk mengoseng-oseng sayuran sudah seperti seorang chef sungguhan. Pria yang berprofesi sebagai dosen itu memang seorang kidal, ia lebih banyak menggunakan tangan kirinya daripada tangan kanan untuk berbagai pekerjaan. Kebiasaan itu sudah ia lakukan sejak masih kecil, sehingga sangat sulit sekali untuk menghentikan kebiasaannya tersebut.
Bola mata Audie membulat lebar, ia menatap takjub kepada Xavier. Bagaimana bisa Pria itu lebih ahli di dapur dari pada dirinya sendiri.
Setelah semuanya masak, ketiga gadis remaja itu menghidangkan semua menu malam ini di atas meja makan. Mereka semua menyantap makanan dengan khidmat setelah Xavier selesai memanjatkan do'a.
Indah yang sudah hampir mati kelaparan tidak bisa berkomentar lagi, entah masakannya kemanisan atau keasinan ia tidak peduli, yang penting baginya saat ini perutnya kenyang dan cacing-cacing di perutnya berhenti untuk demo di dalam sana.
Tidak ada yang ingin berbicara selama menyantap makanan, apalagi berbicara saat makan itu tidaklah baik, jadilah hanya ada keheningan. Sesekali suasana dipecahkan oleh dentingan sendok dan garpu yang saling beradu di atas piring. meski telor dadar buatan Audie memiliki rasa yang sedikit aneh, tidak ada yang ingin menyalahkan gadis itu, mereka hanya ingin mencoba menghargai kerja keras seseorang.
Selepas makan malam Xavier mengantarkan anak-anak didiknya ke rumah mereka masing-masing. Tepat di depan kompleks Arini dan Indah, kedua gadis itu pun turun. Selanjutnya Xavier mengantarkan Audie, karena kompleks rumah gadis itu bertepatan setelah perumahan kompleks kedua sahabatnya itu.
"Seharusnya saya turun di sini saja, Pak Xavier." Ujar Audie saat Xavier terus melajukan bugatti itu memasuki perumahan.
"Saya sudah kenal dengan orang tua kedua teman kamu. Sekarang saya ingin berkenalan dengan orang tuamu juga untuk silaturahmi. saya perlu bertanya, mengapa kamu sangat sulit untuk menerima setiap materi yang saya sampaikan. Kamu perlu tahu, setiap pendidik itu perlu menjadi guru bimbingan konseling juga, bukan hanya fokus pada bidangnya saja," Jelas Xavier, Audie hanya menghembuskan napasnya panjang, seakan Xavier menganggapnya murid yang paling bodoh.
Sesampainya di depan rumah Audie, Xavier memarkirkan mobilnya. Saat Audie hendak turun dari mobil, untuk beberapa detik ia mencoba mengenali wanita yang sedang berada di teras rumahnya sambil mempertajam penglihatannya.
Tidak berselang lama saudara laki-laki Audie yang bernama Irfan keluar dari rumah lalu tangannya menggenggam tangan gadis dalam balutan dress biru muda itu.
"Alea?" gumam Audie bertanya.
Xavier yang baru saja keluar dari mobil membuat Audie semakin merasa panik, jangan sempat Pria itu menemukan tunangannya sedang berduaan dengan Pria lain. Cepat-cepat Audie membuka seat belt yang melilit tubuhnya lalu segera keluar dari dalam mobil. Cewek itu merentangkan kedua tangannya dihadapan Xavier berniat untuk mencekat langkah guru privatnya tersebut.
Alis Xavier terangkat, Alis coklat yang sangat rapi, saat menyaksikan ketidak warasan anak didiknya. "Kenapa?"
"B-Begini, Pak. Seharusnya Pak Xavier datang kapan-kapan saja, saya baru ingat kalau tidak ada siapa-siapa di dalam rumah. Orang tua saya belum kembali dari luar kota." Alasan Audie membuat Xavier merasa aneh dengan tingkahnya, karena Audie mengatakannya dalam keadaan gugup.
Gadis dengan tinggi badan 148 itu menjinjit untuk menghalangi pandangan Xavier yang mencuri-curi ke ambang pintu rumahnya, kedua tangan Audie masih merentang.
"PAK XAVIER!" Teriak Audie tepat di depan wajah Xavier saat netra Pemuda di hadapannya hampir melihat Alea dan Irfan akan memasuki mobil. Kendaraan Irfan memang agak jauh terparkir dari mobil Xavier, sehingga mereka tidak melihat Audie dan Xavier juga sedang ada di sana.
Cepat-cepat Audie membalikkan dada bidang Xavier, memaksa guru privatnya itu segera memasuki mobil hitamnya. Xavier yang masih curiga dengan gelagat Audie akhirnya ia hanya bisa pasrah, ia menyalakan mesin mobilnya lalu meluncur meninggalkan pekarangan rumah Audie.
Setelah kepergian Xavier, Audie segera mengelus dadanya lega. Meski ia merasa bodoh telah menyelamatkan Alea, namun ia hanya ingin melindungi hati Irfan dari sakit hati yang akan membuatnya melakukan kejadian dua tahun yang lalu.
...🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️...
__ADS_1
...Apapun yang kulakukan tetap saja salah dimatanya. Bahkan saat aku jungkir balik sekalipun, atau bahkan melewati labirin kematian, ia tetap saja tidak peduli....