Dosenku

Dosenku
Express Love


__ADS_3

Hari ini Audie tampak sangat besemangat pergi ke sekolah. Setelah mendengarkan beberapa nasehat dari Linda kini ia merasa lebih tenang.


Dia mengayunkan kaki berjalan di sepanjang koridor. Arini dan Indah sudah memasuki ruangan kelas XII-1. Ruangan mereka memang pertama bertemu setelah menaiki anak tangga. Sedangkan kelas XII-3 agak jauh dari kelas XII-1, serasa kelas XII-3 selalu di asingkan dari kelas-kelas lainnya. Bahkan, tidak jarang mereka mendapatkan bully-an dari kelas-kelas tetangga seperti kelas XII-1 dan kelas XII-2 yang memiliki IQ lebih tinggi dan kemampuan luar biasa. Kecerdasan itu membuat mereka lebih mudah untuk menginjak orang yang memiliki otak seperti otak udang.


Audie duduk di bangku deretan baris ketiga. Tidak berselang lama Bu Nina selaku wali kelas mereka datang dengan wajah merah padam. Setelah mengucap salam wanita itu duduk di bangku guru dengan wajah menahan amarah. Dia menatap satu persatu anak muridnya, denyut-denyut di otaknya kembali kambuh. Bu Nina memijat diantara pelipis matanya.


Dengan napas berat, Bu Nina berusaha berkata dengan lembut, "bagaimana dengan kabar kalian?" tanya wanita itu.


"Baik, Bu!" jawab mereka dengan wajah polos serta semangat yang membara.


"Kalian tahu, apa yang baru saja saya alami di ruangan para staf guru?"


Semua siswa menggeleng dengan kedua tangan yang terlipat di atas meja.


Bu Nina menghembuskan napasnya berat, melihat tatapan para siswa-siswinya yang terlihat begitu polos, wanita itu jadi tidak sanggup untuk memarahi mereka.


"Tadi para guru sedang berbincang-bincang tentang kecerdasan dan prestasi anak didik mereka. Tentang kemenangan olimpiade yang diraih oleh kelas XII-1, juara satu karate yang diraih XII-2, atau bahkan lomba menari, basket dan prestasi-prestasi lainnya. Kalian tahu apa yang membuat saya malu?"


Lagi-lagi mereka hanya menggeleng dengan tatapan polos saat mendengarkan pertanyaan itu.


"Bu Nina, kenapa diam saja? Kami juga ingin tahu loh, prestasi apa saja yang sudah diraih oleh anak-anak didikmu?" kata Bu Nina mengulang kembali kalimat yang ia dengar dari mulut para staf pengajar saat berada di ruangan guru.


"Kalian tahu apa jawaban saya?" semua siswa menggeleng.


"Tidak ada, saya tidak berkata apapun. Karena saya menyadari bahwa tidak ada satupun diantara kalian yang berprestasi dan membuat saya bangga baik dibidang akademik maupun non akademik. Saya merasa malu. Bahkan guru yang lain tidak segan mengatakan bahwa saya juga berotak udang sama seperti kalian. Jadi guru hanya bermodalkan tampang doang."


Bu Nina bangkit dari tempat duduknya menatap lekat anak muridnya satu persatu. Membuat mereka yang di tatap seperti sedang berhadapan dengan malaikat kematian.


"Sekarang Saya tanya, apa saja yang kalian lakukan sewaktu di rumah. Apa kalian tidak menyisakan waktu kalian untuk belajar?" tanya Bu Nina lagi.


Penggaris panjang sudah bersiap-siap di genggamannya, sesekali ia pukulkan di atas meja salah satu siswa yang ada di barisan paling depan. Sontak membuat siswa tersebut mendelik kaget kemudian mengusap dada berkali-kali.


"Jack Aleavaro," tunjuk Bu Nina menggunakan penggaris yang telah menjadi alat tempur bagi para guru saat menghadapi siswa yang tidak terdidik.


Dengan santainya Jack bersidekap dada, mengangkat kaki kanannya menimpa kaki kiri di pinggir meja.


"Ada apa sih, bu? Kalau datang bulan lebih baik beli pembalut aja sana. Nanti tembus pula lagi. Bawaannya marah-marah mulu. Ingat umur, bu."


Ini dia siswa yang tidak memiliki akhlak dan adab sama sekali. Tapi di balik itu, siswa ini adalah idaman para betina-betina di SMA Dharvaro. Bahkan kelas XII 1 dan kelas XII 2 si tukang pembully, tidak berani dan tidak pernah membully siswa yang satu ini. Kata mereka, wajahnya yang rupawan tidak pantas untuk di sakiti. Sangat di sayangkan jika Pria cool seperti Jack harus mendapatkan bulian juga.


Satu pukulan mendarat di atas meja Jack, suaranya sudah seperti amukan gemuru yang hendak untuk menyambar.


"Dasar anak tidak terdidik kamu yah, berani-beraninya kamu ngomong seperti itu di depan gurumu sendiri. Sekarang keluar kamu Jack. Hormat di tengah-tengah lapangan menghadap bendera. CEPAT!" Teriak Bu Nina. Selalu saja darah tingginya kambuh setiap berhadapan dengan siswa yang satu itu.


Dengan santainya Jack pun berjalan menghindari air liur Bu Nina yang terus saja muncrat membasahi wajahnya.

__ADS_1


Dada Bu Nina naik turun, lantas ia menatap tajam ke arah Auide. Gadis itu hanya meneguk salivanya dengan berat, ia merapikan seragamnya, melipat kedua tangannya di atas meja. Tidak sanggup jika harus berhadapan dengan Bu Nina yang sudah menjelma sebagai monster. Takut-takut nanti Audie mendapat hukuman juga seperti Jack Aleavaro.


Bu Nina berkacak pinggang di depan Audie, lantas memukulkan penggaris panjang itu di atas meja Audie. Siapapun orang yang ada di dalam kelas itu seketika terkena tekanan stroke kecuali si pelaku pemukulnya.


"Kamu Audie, apa yang kamu lakukan di rumahmu? Apa kamu tidak pernah berniat untuk belajar supaya otakmu itu berfungsi sedikit?!"


Audie hanya menunduk takut, "s-saya belajar kok, bu."


Bu Nina bersidekap dada dengan sedikit menaikkan dagunya, padahal siswi di hadapannya sudah menghapit kedua pahanya agar tidak terkencing-kencing di dalam celana.


"Berapa jam waktu belajarmu?" tanya Bu Nina kemudian, mulai menginterogasi perlahan-lahan hingga terasa mematikan.


Kini Audie berusaha menatap kedua manik wanita dihadapannya, wajah Bu Nina kali ini terlihat semakin menyeramkan saja. "Dua, bu!" jawab Audie mengangkat dua jarinya, jari tengah kanan dan jari tengah kiri.


melihat dua jari tengah Audie yang teracung, Bu Nina mendelik kaget.


"Eh, astaga! Maaf Bu, sorry. Maksud saya dua seperti ini. Hehe!" Audie mengganti jari dengan jari telunjuk sambil nyengir kuda, sedangkan Bu Nina hanya geleng kepala.


"Dua jam? Lantas mengapa otakmu sebodoh itu?" tanya Bu Nina dengan kedua alis yang saling bertautan.


Audie mendongak, memberanikan diri mengatakan yang sebenarnya, "maksud saya... Dua menit, bu!"


Bu Nina menepuk jidatnya, tidak mengerti lagi dengan anak-anak muridnya. Lalu ia menunjuk ke arah ambang pintu seraya berkata, "keluar, ikuti apa yang sedang Jack lakukan di bawah bendera."


Sudah Audie duga, ia juga pasti mendapatkan hukuman. Dengan pasrahnya, Audie menuruti perintah Bu Nina. Keluar dari dalam kelas sembari mengatakan 'good by' dengan tangan yang melambai-lambai. Menuruni anak tangga dan ikut bergabung dengan aktifitas Jack saat ini.


"Selamat bergabung dengan pangeran, Tuan Putri!" Ucap Jack menyambut kedatangan Audie.


Audie yang masih merasa jengkel menendang satu kerikil tepat mengenai jidat Jack. "Ups... Sorry, nggak sengaja." Audie menutup mulutnya yang membulat menggunakan telapak tangan kanan. Lalu ia tersenyum puas.


Jack hanya meringis kesakitan sembari memegangi jidatnya yang membengkak seperti baru saja di sengat lebah. "Gini amat gue suka sama lo, bisanya cuma nyakitin gue mulu."


Audie hanya terkekeh, lalu mendongak ke atas langit menatap sang bendera merah putih yang berkibar-kibar. Tangannya terangkat menempelkan ujung jarinya di atas alis.


"Jam berapa?" tanya Audie tanpa mengalihkan pandangannya dari sang bendera yang berkibar di langit sana.


"Tengah sembilan," balas Jack yang masih sibuk mengelus-elus jidatnya yang benjol.


"Tenang aja, muka lo nggak bakalan gosong. Pagi-pagi gini cahaya matahari sehat buat badan." Jelas Jack.


Detik kemudian keduanya pun terdiam, Jack mengurungkan niatnya untuk mengeluarkan seribu satu jurus gombalannya. Kali ini ia tidak ingin berurusan lagi dengan Audie setelah jidatnya membengkak hebat, ia tidak tahu nanti musibah apa lagi yang akan menimpanya.


Hingga setengah jam telah berlalu, keringat telah membasahi seluruh seragam putih Audie. Wajahnya seakan baru saja di guyur hujan, bibirnya pucat pasih seperti warna kapur. Sayup-sayup sepasang mata Audie masih setia menghadap sang bendera merah putih meski wajahnya mulai diterpa oleh cahaya sang mentari. Tubuh Audie hampir tumbang, namun ia masih bisa bertahan. Kakinya sudah layu seperti sayur kangkung yang di petik tiga hari yang lalu.


Hingga dari atas gedung di lantai tiga, Bu Nina memanggil mereka dan berkata hukumannya sampai disitu saja. Barulah Audie merasa lega. Jack yang melihat keadaan Audie langsung menyodorkan sapu tangan untuk melap keringat gadis itu.

__ADS_1


Audie menerimanya, dan ini adalah moment pertama kalinya ia menerima pemberian Jack selama hampir tiga tahun.


"Mendingan lo ke UKS deh, wajah lo pucat banget," saran Jack saat mendapati Audie sudah seperti mayat berjalan.


Audie menggeleng, "gue masih kuat," bantahnya, lantas ia berlalu berniat kembali memasuki kelas.


***


Audie, Arini dan Indah tengah sibuk mengerjakan beberapa tugas yang di berikan oleh Xavier. Arini yang tengah membuka lembaran kamus, Indah yang lebih percaya translate mbah google bisa membantu, sedangkan Audie dengan dunianya yang berbeda, yaitu memikirkan apa kiranya kalimat yang tepat untuk menyatakan perasaan kepada seseorang.


Sekitar lima detik Audie menatap wajah dingin Xavier lalu kemudian ia berpaling. Hanya sekedar memastikan apakah mood lelaki itu sedang baik-baik saja hari ini.


Arini menatap Audie curiga, lantas memperhatikan buku tulis yang ada di hadapan gadis itu masih bersih tanpa di hiasi sebercak tinta.


"Ngapain lo gelisah gitu?" tanya Arini membuka suara saat Xavier baru saja pergi hendak ke kamar mandi.


"Nggak papa," jawab Audie, berpura-pura menulis di atas buku saat Arini mendapati dirinya tadi tengah mengedarkan pandangan ke mana-mana.


Menit selanjutnya Xavier datang lalu duduk di atas lantai. Ini memang sudah tradisi mereka saat belajar, mengelilingi meja kaca, bahkan sofa merasa di kacangi serasa tidak berguna ia di sana.


"Pak," panggil Audie tiba-tiba, membuat kedua temannya refleks mengalihkan pandangan mereka kepada dirinya.


Xavier yang masih sibuk dengan ipad-nya pun hanya menjawab acuh tanpa menoleh ke arah sumber suara.


"Pak," panggil Audie lagi dengan perasaan yang semakin gugup.


"Hm?" balas Xavier singkat. Perasaan Audie atmosfer disekitarnya semakin berat saja, jantungnya berpacu dua kali lebih cepat. Audie meneguk salivanya pelan lalu berusaha mengatur napasnya.


Arini dan Indah hanya berkernyit heran, menunggu Audie untuk mengatakan apa gerangan yang ingin ia sampaikan.


"Kenapa?" tanya Xavier, kali ini ia menatap sepasang mata gadis itu.


Audie memejamkan sepasang matanya, mengepal kedua tangannya, keadaan seperti ini seakan memacu adrenalinnya, "SAYA MENYUKAI PAK XAVIER!" Akhirnya kalimat ungkapan itu lolos begitu saja, membuat kedua sahabat Audie terkejut batin dan ingin segera menampol bibir yang terlalu lantang itu.


"Lo gila ya, Audie?" bisik Arini namun terdengar seperti sebuah ancaman.


Satu pukulan mendarat di batok kepala Audie, membuat gadis itu meringis kesakitan.


"Benar-benar nggak tahu malu lo ya!" Timpal Indah. Tangannya memang sangat gatal untuk menampol atau bahkan memukul Rara jika ada kesalahan yang sahabatnya perbuat.


Xavier menatap Audie tidak percaya, kelopak matanya tidak berkedip untuk beberapa detik, otaknya masih berusaha mencerna kalimat yang baru saja Audie ucapkan. "Kamu... Kamu bilang apa?" tanya Xavier mengarahkan telinganya lebih dekat dengan Audie, barang kali ia salah dengar.


Audie memejamkan matanya kembali, "saya sangat menyukai, Pak Xavier!"


Indah menggesekkan kedua telapak tangannya seolah ia sedang membersihkan debu. Kali ini, pipi Audie yang menjadi korban, membuat gadis itu merasakan panas dan denyutan di bagian yang di tempeleng oleh si pelaku.

__ADS_1


..."Bukan siapa yang suka terlebih dulu, tapi ini tentang siapa yang berani jujur terlebih dahulu!"...


*Jangan lupa like and follow, see you next chapter***💕**


__ADS_2