
Semua sudah tertata rapi di atas meja. Mereka mengelilingi meja makan untuk menyantap hidangan. Irfan juga sudah ada di sana, hidung Pria itu peka sekali mencium aroma masakan Linda, sehingga Ibu dengan dua anak itu tidak perlu capek-capek lagi berteriak hanya untuk menyuruh Irfan turun ke bawah.
"Ngapain lo datang ke rumah gue? bahkan matahari aja masih tidur," ketus Audie seraya menyantap nasi bubur. Gadis ini memang, seleranya sangat aneh-aneh. Ketika sakit maunya makan daging, sedangkan dalam keadaan sehat maunya makan makanan bayi yang tidak perlu dikunyah.
Jack tahu kepada siapa pertanyaan ketus itu dilontarkan, ia mendongak. Sudah ia duga, Audie sedang menatapnya sinis. "Galak amat, Neng. Masih pagi kali. Lagi pula gue datang secepat ini biar nggak keduluan sama orang lain. Gue pengen ajak lo jalan-jalan seharian, sekaligus ke festival nanti malam."
Tidak! Sungguh Audie tidak tertarik dengan hal itu. Festival, Audie baru menyadari ada festival malam ini di alun-alun kota Surabaya. Audie sangat takut, takut jika hatinya terluka saat melihat Xavier juga pergi ke sana malam ini bersama tunangannya Alea. Sebab itulah, ia tidak ingin pergi ke fetival. Semua orang pasti tahu, cemburu adalah perasaan yang sangat menyakitkan.
Audie menggeleng, senyuman lengkungan bibir Jack tiba-tiba menghilang.
"Gue nggak bisa, gue malas keluar rumah," ucap Audie beralasan.
Linda menatap curiga. Biasanya, Audie hobby sekali jalan-jalan, apalagi berhubungan dengan festival, pasti dia tidak mau ketinggalan.
"Kenapa, dek? Tumben amat. Baiknya kamu pergi saja, kasihan Jack, jauh-jauh datang ke sini, pagi-pagi lagi, cuma buat dapat izin dari Mama. Setelah mama ngizinin, eh... malah kamunya yang nggak mau."
Di ujung sana, Irfan tidak ingin ikut menimpali, ia hanya sibuk menyantap sarapannya. Namun, saat melihat raut wajah Audie yang berubah drastis, jadilah ia angkat suara, "udah, pergi aja. Abang juga nanti mau ke festival bareng Alea, sekaligus nanti abang jagain kamu, mana tahu si Jack ini macam-macam pula sama kamu."
Jika tadi kepala Audie menunduk seraya mengaduk-aduk buburnya yang sudah dingin, kini matanya berbinar-binar. Senang sekali rasanya saat mendengar Irfan akan pergi dengan Alea malam ini. Otomatis Xavier tidak akan berduaan dengan Alea. Sangat tidak mungkin bukan, jika Alea membelah diri seperti amoeba hanya untuk bisa berkencan dengan Xavier dan juga Irfan dalam satu malam yang sama?! Dan Audie tahu itu, Alea tidak punya kembaran untuk dimintai bantuan untuk berpura-pura menjadi dirinya.
Audie mengangguk semangat, tentu semua yang ikut berpartisipasi di sana menatapnya curiga. Apa yang terjadi dengan anak ini? Begitulah pikir mereka.
"Ok, Audie berubah pikiran. Audie setuju dengan usul Bang Irfan. Yeay... jalan-jalan!" Audie tampak seperti anak kecil yang baru saja mendapat hadiah ulang tahun dari Ayahnya. Kedua tangannya mengacung ke udara sambil berkata "Hore!"
Diam-diam, Jack tersenyum. Senang sekali rasanya saat melihat Audie sebahagia itu. Jarang-jarang dia bisa melihat senyum Audie. Begitu manis, menggemaskan, dua sumur di pipi montok-nya semakin dalam tatkala ia tersenyum. Bulu matanya begitu panjang dan lentik, giginya putih berjejer rapi, ada satu gigi gingsul yang timbul di bagian atas, nampak manis sekali, ditambah bibir merah natural tanpa olesan lipstik.
Selepas sarapan pagi, Jack tidak berniat untuk pulang ke rumahnya terlebih dahulu sekedar mengganti bajunya yang basah. Ia lebih memilih menunggu Audie yang kini tengah bersiap-siap di dalam kamar. Jack sangat betah di rumah Audie dan bertahan dalam alasan nyaman, adem dan menyenangkan.
Selang beberapa menit Audie kembali ke ruang tamu, d isana Jack sudah menunggunya. Tidak lagi cowok itu mengenakan pakaian yang basah, Irfan telah meminjamkan baju untuknya, meski jengkel, tapi Irfan masih punya rasa kasihan.
Sekarang sudah jam 10 pagi menjelang siang. Audie dan Jack berpamitan terlebih dahulu kepada Linda. Aneh sekali memang orang tua yang satu itu, katanya dia tidak mengijinkan jikalau anak gadisnya pergi dengan teman laki-laki. Dan sekarang, justru ia yang menyuruh gadis itu pergi. Mungkin saja karena Linda telah percaya sepenuhnya kepada Jack, lelaki yang selalu mengincar-incar Audie kemanapun gadis itu pergi selama tiga tahun ini.
Rambut panjang Audie terurai, berkibar-kibar seperti bendera tatkala angin menghembuskannya dengan lancang, sesekali tidak sengaja termakan oleh mulutnya. Dibonceng oleh Jack membuat Audie tersiksa, gemar sekali cowok itu rem mendadak karena beberapa sebab, lampu merahlah, anak itik lagi nyebranglah, tapi Audie mencoba untuk tetap sabar. Meski sebenarnya gadis itu tidak tahu kemana Jack akan membawanya. Namun yang Audie tahu, ke suatu tempat yang hanya disanggupi isi dompet Jack. Lagi pula Audie tidak peduli itu, ia juga tidak berminat untuk pergi ke tempat yang terkesan mahal.
Mata Audie menatap jalanan yang ramai, ada yang mengibarkan bendera merah putih, ada pula anak-anak geng motor sedang menguasai seperempat jalan raya. Bukannya Audie tidak suka tempat yang ramai, hanya saja telinganya sensitive sekali mendengar derup mesin motor yang saling bersahutan, berlomba mendahului temannya satu sama lain.
Audie dan Jack akhirnya tiba di sebuah restoran bintang lima. Restoran bintang lima? Apa Jack tidak salah membawa Audie ke tempat dengan harga makanan selangit itu?
"Ngapain kesini sih, Jack? mendingan ke tempat Mas Ujang aja, makan bakso. Lebih murah dan dijamin enak."
__ADS_1
Sorot mata Audie memperhatikan sebagian pengunjung restoran elit itu, semuanya sama saja, tidak ada kaum rendahan seperti mereka. Perhiasan menggelintir dibagian tubuh mereka serta pakaian layaknya orang kaya.
"Udah, lo tenang aja. Nggak usah takut tiba-tiba gue buat lo nyuci piring karena nggak sanggup buat bayar. Sekali-kali tuh, kita juga perlu ngerasain kehidupan orang kaya. Sekarang, ikut gue!" tangan Jack menarik pergelangan Audie, membuat anak perempuan itu tidak bisa menolak atau bahkan memberontak.
Jack mempersilahkan Audie duduk layaknya seorang tuan putri. Ada rasa canggung, malu dan tidak PD menyelimuti hati Audie kala Jack memperlakukannya berlebihan.
Setelah memilih-milih menu yang cocok untuk dicerna perut, dan juga sempat berdebat hanya Karena masalah harga, datanglah makanan yang telah mereka pesan. Audie memang seperti itu, ia tidak ingin menyusahkan seseorang hanya karena dirinya. Bagaimana nanti jikalau uang yang dikeluarkan Jack adalah hasil pinjaman? atau bahkan uang milik orang tuanya yang ia paksa agar diberikan? Audie tidak ingin hal itu terjadi, tapi Jack terus saja bersikekeh memilih menu paling mahal. Padahal, makan dipinggir jalan pun Audie nggak masalah, meski harus ditempat spesial yaitu bakso special Mas Ujang.
"Makan aja, dagingnya nggak bakalan masuk sendiri ke dalam mulut lo kalo cuma diliatin doang," geram Jack melihat tingkah Audie, cewek itu sulit sekali dibujuk hanya demi memakan sesuap saja.
Tangan Audie menjulur ragu, meski ia tidak memakannya, tidak mungkin harga menu akan turun bukan?
"Nah, gitu dong!" senyum Jack terbit layaknya matahari, ia senang saat akhirnya Audie mau menyentuh makanan dihadapannya.
Audie mengunyah pelan, bibir mungilnya belepotan. Tidak es krim, cokelat, bubur, daging, cara makan gadis itu tetap saja sama. Jack menggeleng seraya tertawa kecil saat melihat hal itu. Tidak! Tidak akan ada drama romantis disini. Jack membiarkannya, sampai Audie sadar sendiri.
"Gue ke toilet dulu yah!" Pamit Audie, tubuhnya baru beranjak saat Jack mengangguk pelan.
Belum juga ia meninggalkan meja makan mereka, Audie tidak sengaja menabrak tubuh jangkung dan ramping seorang wanita saat ingin berbalik menuju toilet. Ralat, bukan Audie yang menabraknya, melainkan pelayan itu yang berjalan terlalu dekat dengan meja makan mereka, padahal tempat itu amatlah luas dan punya jalan yang lebih aman.
Audie sempat terkejut saat menabrak seorang pelayan yang membawa nampan berisi hidangan untuk pelanggan. Jadilah baju yang dia pakai berwarna merah terkena jus naga. Namun ada sesuatu yang membuatnya lebih terkejut, di meja makan yang tidak jauh dari mereka, meja nomor 02, seorang wanita tengah tersenyum, seakan memberikan isyarat bahwa dialah yang merencanakan hal tersebut. Bukannya minta maaf, pelayan itu segera bergegas pergi, jelas sekali ini disengaja.
"Nggak papa, nggak usah khawatir, gue bisa bersihin baju gue di toilet." Setelah berpamitan tubuh Audie segera melenggang pergi.
Apa lagi yang salah dengannya, mengapa Alea tidak lelah untuk mengganggu kehidupan Audie? Sepertinya, wanita itu perlu diberi pelajaran. Enak sekali dia, sudah mempermainkan Irfan, dan kini dia malah menyiksa Audie dengan berbagai cara. Hal yang paling menyebalkannya lagi, mengapa lelaki hampir mendekati kata sempurna seperti Xavier tidak cukup baginya. Andai wanita itu mengikhlaskan Xavier untuk Audie, pasti Audie sudah menjaganya baik-baik. Tidak selingkuh, tidak bermain-main dan tidak akan menghianatinya.
Baju Audie sudah bersih selepas keluar dari toilet, namun masih ada sisa-sisa noda bandel yang sulit sekali untuk dihilangkan. Audie kembali duduk, Jack menatapnya khawatir. Sepeninggalan Audie tadi, Jack tidak ada hentinya mengumpati pelayan itu, enak saja dia, setelah melakukan kesalahan ia justru malah kabur, pergi tanpa meninggalkan ucapan maaf.
Atensi Audie tertuju pada Xavier, Alea sedang bergelut manja di lengan lelaki itu. Audie tahu, Alea pasti sengaja melakukannya agar Audie merasa cemburu. Yah, cemburu! Perasaan yang akan menyibak benda lunak yang dinamakan hati itu. Mengapa juga meja mereka harus berdekatan, sehingga Audie selalu saja mencuri pandang ke arah Xavier.
Jack menyadari hal itu, saat netranya mengikuti kemana mata Audie tertuju, Jack tahu Audie sedang cemburu ketika melihat ada tutor mereka di sana dengan wanita tunangannya.
Jack mendekatkan tubuhnya, ia ambil potongan steak menggunakan garpu lalu menyodorkannya kepada Audie. Sontak Audie terkejut, ia ingin menolak, namun saat melihat wajah memelas Jack, Audie tidak sanggup melakukannya. Mulut Audie terbuka, satu suapan mendarat begitu saja. Xavier yang tadinya tidak menyadari bahwa Audie juga ada di sana, tanpa sadar ia telah melihat pemandangan yang tidak mengenakkan itu.
Xavier mengerjap-erjapkan sepasang matanya, barang kali ia salah lihat bahwa itu adalah Audie. Namun di detik selanjutnya, ia kini percaya anak perempuan itu benar-benar Audie. Terlihat dari wajahnya yang bulat dan bebas dari bayang-bayang noda jerawat, rambut terurai dengan poni yang menyamping, siapa lagi pemilik ciri-ciri seperti itu kalau bukan Audie orangnya. Ya, gadis itu memang imut dan menggemaskan, tubuhnya mungil, namun Xavier lebih tertarik dengan wanita yang dewasa, tinggi, cerdas dan tentunya seusia dengan dirinya.
Xavier menyentuh dadanya perlahan, tiba-tiba saja ada sesuatu yang mengganjal, seolah ia tidak terima dengan pemandangan memuakkan yang saat ini ia lihat. Ingin sekali ia membanting meja, supaya dua sejoli itu menghentikan aktifitas mereka yang sedang main suap-suapan. Ada apa dengan Pria itu? Tidak biasanya ia seperti ini.
Xavier menggeleng, ia menampar pipinya beberapa kali, ia menarik napasnya dalam, ia ingin menyadarkan dirinya bahwa hatinya baik-baik saja. Ada Alea di sebelahnya, seharusnya ia harus merasa bahagia saat berada di dekat wanita itu.
__ADS_1
***
Siang cepat sekali berlalu, matahari yang tadinya nampak cerah kini sudah kembali tenggelam untuk beristirahat setelah bersinar seharian. Bulan pun mengambang di langit malam, ikut berperan bersama jutaan para bintang.
Festival! Audie tidak sabar ingin ke festival, namun tubuhnya teramat sangat pegal. Bagaimana tidak, seharian penuh ini, setelah makan di restorn, Jack hanya mengajaknya jalan-jalan disekitar kota Surabaya. Akhirnya kembung juga perut Audie setelah Jack membuatnya menderita dengan makan angin. Apes sekali hidup Audie gara-gara cowok yang bernama Jack itu.
Sesampainya di lokasi festival, Audie segera turun dari motor, segala jenis makanan yang ia telan hari ini akhirnya dimuntahkan juga di atas rumput kering. Jack datang dari arah belakang, ia segera membantu Audie memijat tengkuknya.
"Ahhh ..." Akhirnya Audie bisa bernapas lega, mualnya kini telah menghilang. Ia menyeka sisa-sisa air disekitar mulutnya menggunakan punggung tangan.
Audie sempat berniat pulang ke rumah ketika perutnya menggeliat hebat. Tapi sekarang tidak setelah semuanya ia muntahkan. Apalagi, ia tidak sanggup melihat betapa indahnya kerlap-kerlip lampu berbagai warna diacara festival malam ini. Audie jatuh cinta! Sangat menawan! Seperti Pak Xavier!
Audie berlari layaknya anak kecil. Ia tidak boleh melewatkan keindahan malam ini. Ada banyak orang berlalu lalang. Mulai dari yang pacaran, orang yang sudah berkeluarga, bahkan jomblo ngenes pun datang berkunjung meski harus jalan sendirian.
Tawa Jack mengudara, Audie sangat menggemaskan, tubuh mengilnya menjelajah disetiap tempat. Ada banyak jajanan Indonesia atau bahkan jajanan luar negri yang berlabel halal. Hidung Audie mengendus, ia ingin memakan semua itu. Setelah muntah tadi, perutnya kembali kempis, ia lapar dan ingin segera mengisinya kembali. Jack mengekor dibelakang, terserah kemana Audie akan pergi, ia hanya ingin membahagiakan gadis itu malam ini.
Dua pasang tangan sedang melambai-lambai kearah Jack, ia tahu pemilik wajah itu. Ekspresi mereka terlihat gelisah dan cemas. Jack lupa bahwa ia sedang bersama dengan Audie, ia tinggalkan anak perempuan itu tanpa sepengatahuannya.
"Mati ... Mati ..." Teriak Zayn. Iya, dia Zayn dan juga Athaya, Athaya satu gengnya.
"Kalian kenapa, sih? ngomong tuh yang jelas, jangan buat gue mikir karena gue gak punya otak."
Napas Zayn memburu, bahkan lidahnya sangat kelu, sulit sekali hanya untuk mengatakan apa yang ingin dia utarakan. "Yuda, dia hampir mati, dia hampir mati dihajar."
"Sama siapβ" belum juga Jack menyelesaikan ucapannya, Zayn dan Athaya sudah menarik tangannya paksa, membawa tubuhnya meninggalkan Audie.
Audie terus berjalan melewati jajanan-jajanan yang membuat air liurnya hampir menetes membasahi bibir mungilnya. Namun, saat ia menoleh ke belakang, ia tidak mendapati dimana keberadaan Jack. Audie mencari, namun tidak ia temukan. Audie menelpon, namun tidak diangkat. Audie khawatir, lantas ia terus mencari ke segala tempat.
Sedangkan disisi lain seorang bocah sedang merengek, "Paman, Bella mau naik itu ..." Sedari tadi keponakan Xavier tidak hentinya ingin naik bianglala. Di festival itu memang disediakan bianglala, agar pengunjung yang datang bisa melihat dari atas betapa indahnya festival malam ini.
Xavier menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Entah bagaimana cara untuk menjelaskannya kepada Bella. Pasalnya, ia phobia ketinggian, darahnya tidak sanggup, dunianya terbalik jika sempat menaiki wahana mengerikan itu.
Xavier berjongkok agar sejajar dengan kepala Bella. "Bella, Paman nggak bisa. Lain kali aja, yah? Besok-besok Paman bawa Alea, biar Alea yang akan temani Bella buat naik bianglala."
Bella mendengus kesal. Padahal, ia ingin sekali naik bianglala, karena itulah tujuan utama Bella datang ke festival. Xavier kembali berdiri, ia mengacak pelan samurai Bella. Ia merasa bersalah karena tidak bisa membahagiakan keponakannya itu hanya karena ia takut ketinggian.
Pandangan Xavier mencari-cari jajanan untuk mengembalikan mood Bella. Disana, Xavier menemukannya, jajanan yang disukai oleh Bella. Namun seketika mata Xavier memicing. Ia perhatikan sosok gadis mungil sedang membelakanginya. Berlari-lari kesana kemari. Langkah anak perempuan itu tergesa-gesa. Matanya mencari-cari sesuatu, raut wajahnya berkerut cemas. Ia bernapas tak teratur terlihat dari dadanya yang naik turun dengan cepat tak terkendali.
...π§π»ββοΈπ§π»ββοΈπ§π»ββοΈ...
__ADS_1
...Hari kemarin, aku menyesal karena menyerah untuk memilikimu. Namun perlu kau sadari, meski aku selalu di sana, di tepi-tepi, bahkan bayanganmu akan selalu ku ikuti....