Dosenku

Dosenku
Tamu Di Malam Hari


__ADS_3

Langit semakin deras menurunkan rintikan air hujan, membabi buta sebagian belahan dunia. Suasana di dalam mobil sangat sunyi, bahkan derasnya air hujan enggan untuk mengalahkan kesunyian. Karena Xavier menutup seluruh jendela kaca mobil, sehingga tidak ada sedikitpun yang terdengar dari suara-suara diluar sana.


Audie teramat gelisah, entah kemana ia palingkan wajahnya. Tidak hentinya ia mengerutuki kedua sahabatnya yang tengah bersantai di jok belakang mobil. Mengapa juga dua gadis itu memaksa Audie duduk di jok depan, tepat bersebelahan dengan Xavier. Beberapa kali Audie memainkan jari-jemari itu dengan kasar, hingga tanpa ia sadari sebagian ujung kulit jarinya telah terkelupas. Sudah menjadi kebiasaan gadis itu memainkan jari-jemarinya ketika hatinya sedang dilanda rasa cemas.


"Berhenti menyakiti jarimu. Lihatlah, kamu bahkan tidak menyadari kalau jari-jarimu sudah berdarah." Refleks Audie mengalihkan pandangannya kepada Xavier, sepasang mata Pria itu masih fokus menatap jalanan.


"Di hadapanmu ada plester, segera obati lukamu." Perintah Xavier. Beberapa kali Audie mengerjap-erjapkan kelopak matanya, otaknya berusaha berpikir bahwa dialah orang yang saat ini Xavier ajak bicara.


Dengan gemetarnya, Audie mengambil plester yang ada hadapannya. Ia masih tidak percaya bahwa saat ini Xavier sedang memperhatikannya. Jantungnya kini seakan ingin meloncat dari dalam sana, bahkan hujan diluar tidak mampu membasmi keringat Audie. Di malam yang dingin ini, Audie justru merasa gerah.


Setelah Audie selesai mengobati luka di jarinya, ia kembali mengalihkan pandangan menghadap Xavier. Pria itu masih fokus menatap jalanan yang sedang diguyur hujan deras. wajahnya begitu dingin dan datar. Namun entah mengapa Audie justru sangat menyukai wajah itu.


"Terimakasih, Pak!" Lirih gadis itu pelan, nyaris tidak terdengar.


"Sama-sama!" Balas Xavier.


Suasana kini hening kembali, hingga satu teriakan membuat Audie, Reno dan Indah terpelonjat kaget. Bisa-bisanya suara Arini mengalahkan derasnya air hujan bahkan petir yang sedang menggelegar di langit sana.


"Lo kenapa sih Arini, tiba-tiba nyuruh berhenti segala. Untung gue nggak punya riwayat penyakit jantung." Ketus Indah, hampir saja ia menjitak kening gadis disebelahnya.


"Ada apa, Arini?" tanya Xavier seraya memarkirkan mobilnya ditepi jalan.


"Saya turun di sini saja, Pak. Mobil pacar saya ada dibelakang mobil kita. Biar dia saja yang mengantarkan saya pulang." Jelas Arini, tangannya menunjuk kearah belakang. Benar sekali, ada mobil hitam terparkir disana.


Audie menoleh ke belakang, lantas ia memasang raut wajah menginterogasi. "Pacar? Bukannya lo nggak punya pacar?"


Kini Indah yang menatap Arini tajam, "lo balikan sama Aldo?" tanya gadis itu dengan meninggikan oktaf suaranya.


Arini mengangguk pelan, ia cengingisan seraya mengangkat jari tengah dan telunjuknya ke udara. Pasalnya, Aldo adalah mantannya yang ke 20, putus nyambung sebanyak 15 kali, hal itu sudah biasa bagi Arini. Sebab itulah Indah teramat lelah menghadapi kisah percintaan sahabatnya yang satu itu.


"Ini payungnya, hujannya masih deras nanti baju kamu bisa basah. Bawa saja payungnya karena saya masih punya stok satu lagi." Kata Xavier, ia menyodorkan payung warna biru itu kepada Arini yang ada di jok belakang.


Arini segera menyambar payung itu lalu mengucapkan terimakasih, setelah itu ia segera bergegas pergi.


Mobil kembali melaju, namun hujan enggan untuk memudar.


"Saya turun di kompleks depan yah, Pak." Ucap Indah, spontan Audie mengalihkan pandangannya ke belakang.


"Ngapain Lo turun disana?"

__ADS_1


Indah yang sedang sibuk memainkan ponselnya segera mengangkat dagu, "akhir-akhir ini nyokap gue selalu marah-marah, gue males dengerin ocehannya mulu. Mending gue nginap di rumah tante gue aja." Jelas gadis bersamurai panjang itu.


Tepat setelah mobil Xavier sampai di depan kompleks yang Indah maksud, Xavier segera menepikan mobil tersebut.


"Gue duluan ya, Audie."


"Nggak pake payung?"


"Nggak usah, tuh tante gue udah jemput." Indah menunjuk seorang wanita muda dengan baju piyama, di tangangannya sudah ada payung untuk mencegah tubuhnya basah oleh hujan.


"Terimakasih banyak ya Pak Xavier atas tumpangannya."


"Sama-sama!" Balas Xavier, memperhatikan Indah dari pantulan kaca.


Setelah Indah berlalu, Xavier kembali melajukan mobil menyisir jalanan yang basah, hanya sedikit kendaraan yang berlalu lalang akibat hujan masih belum juga reda.


Lagi, Audie kembali memainkan jari-jarinya yang sudah terluka. Perasaannya atmosfer disekitar mereka semakin berat saja. Entahlah, kecanggungan itu perlahan-lahan ingin membunuh Audie. Gadis itu mengedarkan pandangannya kemana-mana, sesekali ia berdehem kecil. Kesunyian seakan tidak bisa dipecahkan. Tidak ada percakapan diantara mereka, tidak ada sesuatu yang ingin dibahas.


"Pak Xavier!"


"Audie!" Ucap keduanya di waktu yang bersamaan. Untuk beberapa detik netra keduanya saling memandang satu sama lain.


"Saya.... Saya... Pak Xavier saja duluan, mau ngomong apa, Pak?" tanya Audie kikuk.


"Kamu saja," timpal Xavier.


"P-Pak Xavier saja."


Pria disebelah Audie hanya pasrah, raut wajahnya kembali terlihat dingin dan datar. "Saya tidak ingin melukai hati Alea, dan saya juga tidak ingin berurusan dengan kamu. Berhentilah menjadikan wajah saya di profilmu, karena itu sangat mengganggu. Saya harap kamu bisa mengerti apa maksudku. Saya hanyalah guru privatmu. Sebab itu jangan pernah berpikir terlalu jauh."


Tiba-tiba saja ada sesuatu yang mengoyak-oyak hati Audie. Benar apa yang dikatakan Xavier, tapi entah mengapa rasanya sangat menyakitkan saat mendengar kalimat barusan. Padahal Audie sendirilah orang yang pertama mencintainya, namun mengapa malah wanita itu yang mendapatkannya? Mungkin karena Audie terlambat mengakui perasaannya, karena sekarang sudah ada wanita yang mengisi kekosongan hati pria itu.


Audie hanya mengangguk kecil, ada air mata yang berusaha ia tampung hingga penglihatannya mulai kabur. Audie mengalihkan pandangannya kemana-mana, kelenjar matanya semakin terasa panas saja. Sudah bertahun ia berjuang mendapatkan Xavier, dan sudah setahun juga ia berusaha melupakan Pria itu, namun saat ia berjuang kembali justru ia semakin patah seperti ranting sehingga sulit untuk membuatnya utuh kembali.


"Kamu masih SMA, Audie. Ada banyak pria lain diluar sana menginginkanmu. Saya tahu kalau kamu masih main-main soal perasaan. Tapi saya, usia saya sudah matang untuk menikah, jadi berhentilah mengganggu hubungan saya dengan Alea. Saya hanya tidak ingin kehilangan dia, hanya dia wanita yang saya cintai, tidak ada seorangpun yang bisa menggantikannya. Jadi hentikan tingkah gilamu ini sebelum saya dibatas ambang kesabaran." Jelas Xavier panjang lebar dengan aura dingin, sedingin hujan malam ini. Sepasang matanya tidak berniat untuk melihat keadaan Audie, ia tetap fokus menatap jalanan.


Bermain-main? Dua kata itu terdengar menyebalkan. Andai Pria itu tahu, bahwa Audie tidaklah main-main dengan perasaannya. Andai Pria itu tahu dalamnya cinta Audie, dan andai Pria itu tahu bahwa tunangannya Alea, wanita yang telah ia puja-puja selama ini memiliki Pria lain selain dia.


"Lantas, bagaimana jika saya tidak main-main dengan perasaan saya, Pak? Saya bukanlah tipikal orang yang mudah jatuh cinta. Saya mencintai Pak Xavier adalah hasil perdebatan saya dengan hati saya. Saya sudah meyakinkan bahwa saya menyukai Pak Xavier bahkan sejak lama. Saya tidak tahu apakah pak Xavier benar-benar lupa dengan saya atau hanya sekedar pura-pura lupa. Usia kita memang terpaut jarak yang sangat jauh, saya memang masih SMA, namun saya tidak pernah bermain-main soal perasaan saya. Semua yang--"

__ADS_1


"Berhentilah, Audie. Jangan menjadi benalu diantara hubungan saya dengan Alea. Saya tutormu dan kamu hanyalah anak didik saya. Tidak akan ada diantara kita yang terlibat oleh perasaan itu." Potong Xavier.


Seketika Audie terdiam, sangat sulit untuk meyakinkan perasaannya. Air mata itu hampir berselancar ringan melewati kedua pipinya. "Bagaimana jika wanita itu memiliki Pria lain selain Pak Xavier?" tanya Audie kemudian. Sebenarnya ia tidak ingin melontarkan kalimat tanya itu, namun entah mengapa rasanya tidak lega jika tidak menyampaikan yang sebenarnya kepada Xavier.


"Apa sekarang kamu ingin mengadu domba saya dengan Alea?"


Audie menatap wajah datar itu, "bukan, tapi bagaimana jika itu benar?"


Xavier segera menepikan mobilnya, tepat setelah sampai di depan rumah Audie. "Turunlah, sudah sampai. Berhenti membuat hubungan saya dengan Alea semakin merenggang." Perintah Xavier.


Audie menghembuskan napasnya kasar, ia tengah berusaha menahan air mata yang sudah tertampung banyak di pelupuk matanya. "Terimakasih, sudah mengantarkan saya!"


"Ini, bawa payung ini. Hujannya masih lebat, tubuhmu bisa habis di guyur hujan sebelum sampai di teras rumah."


Audie menyambar payung merah muda itu, terasa aneh saat Xavier memiliki payung bermotif bunga. Audie menutup pintu mobil lelaki itu cukup kasar.


Langkah Audie menciptakan suara gemericik saat menginjak air hujan yang menggenang, ia masih tertegak diteras rumah sampai akhirnya mobil Xavier melesat menyusuri jalanan kota Surabaya.


Sekali hembusan panjang sekiranya bisa mengembalikan kesadaran Audie, di dalam sana hatinya masih merasakan sakit setelah menerima kalimat-kalimat tajam dari mulut Xavier.


Kemudian Audie menekan bel rumahnya, ia mengucap salam dengan sangat lesu. Hingga pintu terbuka lebar, tampaklah wajah khawatir dari seorang wanita setengah baya.


"Astaga, dek. Kamu kemana aja, udah maghrib baru sampe rumah?! Kenapa nggak jawab telpon Mama, sih?"


"Maafkan Audie, Mah. Audie nggak papa kok, Mama nggak usah khawatir. Audie barusan pulang les privat." Jelas Audie. Wanita yang berperan sebagai ibu Audie itu hanya menggeleng kecil, lalu membopong tubuh Audie masuk ke dalam rumah.


"Audie tunggu di meja makan, Mama buatkan susu cokelat panas dulu. Ada tamu juga di sana, pasti kamu senang atas kedatangannya."


"Tamu? Siapa, Mah?" kedua alis Audie menyatu, jarang sekali mereka kedatangan tamu.


"Audie liat aja sendiri," setelah mengatakan itu Linda segera berlalu untuk membuatkan susu hangat buat putrinya.


Audie segera menuju ruang meja makan, bahkan payung di tangannya belum sempat ia letakkan.


"Eh, kamu udah pulang?" tanya Irfan saat melihat kedatangan Audie.


Refleks wanita disebelah Pemuda itu segera mengangkat dagunya, maniknya dan manik Audie bertemu, ia menyunggingkan bibir sambil bersidekap dada.


Sepasang bola mata Audie terbelalak, ia tertegak tidak bergeming saat menyadari siapa tamu yang Linda maksud.

__ADS_1


'Alea!'


__ADS_2