Dosenku

Dosenku
Accident


__ADS_3

Tidak ada kendaraan yang melintas atau bahkan makhluk bumi yang berlalu lalang. Sepanjang jalanan kosong, hujan turun dengan sangat derasnya. Hanya mobil Xavier yang melintas, tangan kirinya sedang menggenggam ponsel, menerima panggilan dari seseorang, sedangkan tangan kanannya sibuk memutar-mutar stir mobil sesuai belokan jalan.


"Kamu baik-baik saja kan, Lea?" raut wajah khawatir itu bisa menjelaskan bagaimana perasaannya saat ini.


Xavier memeriksa layar ponselnya, memastikan bahwa panggilan itu belum berakhir, lalu ia lekatkan kembali ke daun telinganya. "Halo, Lea! Jika kamu baik-baik saja, tolong jawab aku. Jangan dia saja." Tidak ada sahutan dari sana, hanya hembusan napas kasar yang terdengar seperti seseorang yang sedang mengalami gejala asma.


"Halo, Lea! Jawab aku, Lea!" suara sesak napas tadi kini berubah menjadi orang yang sedang muntah. Xavier semakin melajukan mobilnya di atas rata-rata, bahkan ia sempat gagal fokus dalam mengemudi. Hujan di depan sana enggan untuk memudar, jalanan mulai terlihat kabur kala embun memencar kemana-mana.


"Aishhh..." Xavier mendesis saat ponselnya malah terjatuh di bawah kursi mobil. Untuk beberapa detik Xavier memastikan jalanan di depan sana. Kosong! Tidak ada seorang pun atau bahkan kendaraan yang menghalangi. Setelah memastikan aman, mobil Xavier terus melaju, tubuhnya menunduk seraya memutar-mutar stir mobil, sedangkan tangan kirinya mencari-cari benda kecil persegi itu dibawah sana.


Napas Xavier lega setelah menemukan ponselnya, namun saat netranya kembali menatap lurus ke depan, samar-samar ia melihat dari kaca depan mobil seorang anak perempuan tiba-tiba berlari, tidak melihat ke kiri dan ke kanan sebelum menyebrang jalan.


Untuk sepersekian detik lamanya tubuh itu melayang di udara hingga berguling-guling diatas atap mobil, mendarat keras diatas aspal, benturan kepala seperti suara batu yang dihantamkan, tubuhnya bergesek hingga darah menggenang bercampur dengan air hujan. Detik itu juga, gadis itu tidak sadarkan diri.


Jantung Xavier melemah, tubuhnya bergetar hebat, napasnya sesak. Apa yang baru saja ia lihat terjadi dengan begitu cepat, hanya sekilas seperti petir yang saat ini sedang menyambar-nyambar.


Perlahan, Xavier memberanikan diri menatap kaca spion. Matanya samar-samar melihat jasad terkapar di atas aspal jauh di belakang sana. Tubuh itu terhempas hingga bermeter-meter jaraknya. Tangan Xavier gemetar dengan jemari yang masih bertengger di atas stir mobil, ia khawatir, khawatir gadis itu kenapa-napa. Hal yang paling dia takutkan adalah, jika gadis itu sudah tidak lagi bernyawa. Kejadian yang berlalu dalam beberapa detik saja berhasil membuat Xavier menegang, bahkan ia tidak memiliki nyali turun dari mobil.


Napas Xavier memburu, pandangannya menyapu bersih setiap sudut malam. Tidak ada orang, hanya dia sendiri. Sempat terlintas dipikirannya untuk melarikan diri sebelum ada orang yang melihatnya. Tapi, apakah mungkin Xavier setega itu, dan apakah mungkin dia tidak bertanggung jawab atas apa yang telah dia perbuat?


Dengan tubuh yang masih menegang, tangan yang gemetar bukan karena dinginnya malam, Xavier memberanikan diri turun dari mobil dan mendekati sosok yang jauh terkapar dibelakang mobilnya. Gigi-gigi Xavier menggertak karena menggigil, kala melihat darah itu telah menggenang membasahi jalanan bercampur dengan air hujan, tubuh gadis itu telungkup, rambut panjangnya berhasil menutupi wajahnya.


Perlahan, dengan langkah ragu ia mendekat. Hal pertama yang ia lakukan adalah memeriksa denyut nadi anak perempuan itu. Ada sedikit rasa lega saat denyut nadinya masih berdetak meski sangat lemah.


Dengan keaadan yang masih ketakutan setengah mati, hujan yang semakin lebat, Xavier membalikkan tubuh gadis itu hingga telentang. Jantung Xavier semakin berdetak tidak karuan, tubuhnya hampir tumbang kala kedua kakinya gemetar, pandangannya buram.


"AUDIE?" Teriak Xavier tidak kalah kerasnya dari sambaran petir di langit sana. Tanpa berpikir panjang ia menggondong sosok bertubuh mungil yang tidak berdaya itu, darah tidak hentinya mengalir dibagian tubuh yang terluka dan dibagian kepala Audie yang sudah retak. Bibir gadis itu pucat bagaikan jasad yang tidak lagi bernyawa. Tubuh Audie begitu lembek bagaikan seonggok daging tanpa tulang.


Xavier berlari menggunakan kaki jenjangnya menyusuri ribuan rintik hujan yang enggan untuk memudar. Audie tengah sekarat dalam gendongannya. Untuk kedua kalinya Audie terpaksa berhadapan dengan maut.


Cepat-cepat Xavier melajukan mobilnya menyusuri jalan raya dengan kecepatan diatas rata-rata. Audie kini berada di jok belakang. Rasa khawatir dan cemas sedang menyelimuti hati Xavier. Takut Audie kenapa-napa, takut Audie tidak terselamatkan, dan... takut kehilangan Audie meski Xavier tidak menyukai gadis itu.


Menempuh jarak 15 menit dari lokasi kecelakaan, kini Xavier telah sampai dirumah sakit. Xavier menggendong tubuh Audie memasuki rumah sakit, tidak berselang lama dua suster datang membawa brankar. Langkah Xavier tercekat kala pintu ruang gawat darurat ditutup, tidak memperbolehkannya untuk ikut masuk.


Tubuh dan rambut Xavier masih basah, bahkan tetesan airnya telah berceceran dilantai rumah sakit. Xavier terdiam untuk sesaat, mengingat kejadian tragis beberapa menit yang lalu. Hanya sekejap saja, dan itu membuat Xavier ketakutan setengah mati. Kini ia hanya perlu menunggu dan menyerahkan semuanya kepada dokter.


Hati Xavier kacau balau, belum lagi ia juga mengkhawatirkan Alea. Ingin sekali Xavier meninggalkan rumah sakit dan pergi menemui Alea untuk memastikan wanita yang di cintainya itu baik-baik saja. Tapi tidak mungkin juga Xavier meninggalkan Audie sendirian, yang mana gadis itu sedang mempertaruhkan nyawanya di dalam sana.

__ADS_1


Bahkan untuk menghubungi orang tua Audie pun, Xavier tidak memiliki nomor kontaknya. Entah apa yang harus ia lakukan, Xavier hanya pontang panting tidak jelas, berjalan ke arah timur lalu ke barat, begitu saja berulang-ulang namun tetap saja ia tidak bisa berpikir dalam keadaan genting seperti ini.


***


Sampai beberapa menit lamanya Xavier menunggu barulah dokter berjas putih yang menangani Audie keluar dari ruangan bernuansa putih itu.


"Bagaimana dengan keadaannya dokter, apa dia baik-baik saja? Dia nggak kenapa-napa 'kan dokter?" ucap Xavier memburu dokter itu dengan ribuan pertanyaan.


"Dia mengalami pendarahan hebat, retak dibagian kepala serta salah satu tangannya mengalami patah tulang. Tapi anda tidak perlu khawatir, kami sudah menyiapkan darah yang cocok untuk golongan darahnya."


"A-Apa saya bisa melihatnya sekarang, dok?" raut khawatir di wajah Xavier tidak berkurang barang sedikitpun.


Dokter itu mengangguk, lalu ia segera bergegas pergi untuk menangani pasien lainnya. Tanpa berpikir panjang Xavier segera memasuki bangsal dimana Audie dirawat. Di lihatnya sosok gadis mungil yang selama ini mengganggu hidupnya tengah terbujur lemah, ada banyak selang terpasang di mana-mana.


Langkah Xavier perlahan mendekat, ia menatap lamat-lamat wajah Audie yang belum siuman. Hembusan napas anak perempuan itu terdengar jelas menyapu gendang telinganya, ada perasaan lega saat mengetahui bahwa Audie masih bisa diselamatkan.


Kepala Xavier menunduk dalam, ia merasa bersalah. Saat melihat keadaan Audie yang mengenaskan, Xavier tidak bisa memaafkan dirinya. Dia telah melukai hati Audie, dan dia juga yang melukai fisiknya. Sempurna sudah luka yang Xavier berikan kepada gadis itu. Xavier duduk di atas kursi yang telah disediakan tepat disamping brankar. Matanya tidak beralih menatap lekat wajah Audie yang terlihat begitu damai dalam komanya.


Waktu berlalu begitu cepat, jam telah menunjukkan pukul dua dini hari. Jari-jemari lentik Audie memberikan sedikit gerakan, menandakan bahwa ia telah siuman. Pandangan Audie kabur, matanya mengerjap-erjap untuk menyesuaikan cahaya bola lampu ruangan. Tidak perlu Audie bertanya dimana ia sekarang, bau obat-obatan serta ruangan yang bernuansa warna putih itu sudah berhasil membuat Audie mengetahui bahwa ia sedang berada di rumah sakit. Audie merasakan ngilu dikepalanya, sedangkan dijidatnya sudah ada perban yang melekat.


Pandangan Audie menatap kearah jarum jam yang ada di dinding. Audie merasakan perutnya begitu berat, seakan ada sesuatu yang menekannya. Audie memperhatikan sosok pemuda yang terduduk disampingnya. Kepala Pria itu bersandar di brankar sedangkan tangan kanannya menimpa perut Audie.


Xavier mengucap syukur kala melihat Audie telah siuman, "kamu... kamu tidak apa-apakan?"


Mendengar pertanyaan itu Audie hanya menggeleng.


Xavier menunduk, menatap sepatu hitamnya yang basah, "maafkan saya, seharusnya saya lebih berhati-hati ketika mengemudi. Saya benar-benar minta maaf, tapi saya berjanji akan bertanggung jawab dan merawatmu sampai sembuh." Baru kali ini Audie mendengar Xavier berkata lembut padanya. Apa mungkin Audie harus dalam keadaan terluka seperti ini supaya Pria itu peduli dengannya?


"Tidak apa-apa, Pak Xavier! Justru saya berterimakasih atas luka ditubuh saya ini."


Mata Xavier memicing, tidak mengerti apa maksud Audie. "Setidaknya, dengan luka ditubuh saya ini bisa meminimalisirkan luka dihati saya." Sambung Audie kemudian.


Xavier membisu, hanya hening yang ada. Mata Xavier kembali memperhatikan wajah Audie yang terlihat begitu pucat pasih. "Boleh saya mendapatkan nomor kontak orang tuamu? Saya perlu memberitahu mereka agar mereka segera datang menjengukmu."


Lagi-lagi Audie hanya menggeleng pelan, "tidak perlu, Pak Xavier! Bagaimana mungkin saya menyuruh mereka datang kemari sedangkan saya sedang berusaha menghindar."


Xavier tidak bisa berkata apa, dia tidak ingin bertanya mengapa Audie menghindari keluarganya sendiri, karena perkara itu merupakan privasi. "Apa kamu lapar? Saya akan membuatkanmu bubur!" tawar Xavier mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Tidak perlu menunggu jawaban dari Audie, Xavier segera bergegas pergi. Tidak berselang lama ia datang kembali dengan membawa semangkok bubur.


Xavier berdehem beberapa kali, mencoba berinteraksi dengan Audie lewat telepati. Mata Audie memicing, ia tidak mengerti apa maksud lelaki dihadapannya. "B-Buka mulutmu," perintah Xavier ragu, ia berbicara kepada Audie namun pandangannya beralih ke mana-mana.


Audie mengulum senyumnya, lalu ia membuka mulutnya sesuai interupsi Xavier. Ada sesuatu yang menggelitik di dalam perut Audie, bahkan rasa sakit atas luka-lukanya tiba-tiba menghilang hanya dengan melihat indahnya pahatan wajah Xavier dalam jarak yang begitu dekat.


"Pak Xavier!" Panggil Audie setelah satu suapan sudah ia telan dan siap dicerna di dalam perutnya. Xavier hanya berdehem tidak ingin mengeluarkan suara.


"Mengapa Pak Xavier membenci saya?" tanya Audie tiba-tiba yang membuat kedua alis indah Xavier saling bertautan.


"Siapa yang mengatakan bahwa saya membencimu?"


Audie menghembuskan napasnya panjang, "buktinya Pak Xavier tidak menyukai saya, Pak Xavier juga selalu menghindar dari saya. Dan... Pak Xavier juga pura-pura tidak mengenali saya." Kala ia mengatakan kalimat terakhir, dirinya menunduk dalam.


"Tidak menyukai bukan berarti saya membencimu, 'kan? Saya menghindar hanya karena ingin menjaga hati seseorang." Ujar Xavier. "Dan, perkara saya pura-pura tidak mengenalmu itu salah, karena saya memang tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya."


Audie hanya mendesis pelan, namun Xavier tidak sempat mendengarnya. Audie tahu, hati yang Xavier maksudkan adalah Alea. Siapa lagi kalau bukan wanita itu?


"Lantas, bagaimana caranya agar Pak Xavier menyukai saya, mencintai saya dan menginginkan saya sebagaimana saya sangat menginginkan Pak Xavier?"


Xavier berdecak, "tidak ada. Kamu hanya perlu diam dan jangan mengejar. Jangan membuat ulah lagi yang membuat saya menjadi tidak nyaman. Usiamu dan saya terpaut jarak yang sangat jauh. Lebih baik fokuslah untuk belajar Audie, sekarang kamu sudah mendekati Ujian Nasional. Saya heran, mengapa kamu tidak memikirkan masa depanmu."


"Saya memikirkannya Pak Xavier, sebab itulah saya mengejar Pak Xavier." Kata Audie.


Dahi Xavier berkerut samar.


"Maksud saya... Karena Pak Xavier adalah masa depan saya." Perjelas Audie.


"Arggghhh..." Audie mengerang kesakitan kala Xavier dengan beraninya menjitak dahinya, untung saja tidak tepat dibagian luka gadis itu.


"Diamlah, bahkan dalam keadaan sekarat seperti inipun masih sempat-sempatnya kamu berulah."


Audie hanya menunduk lesu, tidak ingin menimpali.


...🧚🏻‍♀️🧚🏻‍♀️🧚🏻‍♀️...


...Kau menghindar di saat aku mendekat, aku mengejar bahkan ketika kau sedang tidak berlari. Tidak ada kata saling diantara kita, saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengasihi. Karena pada dasarnya aku sendirilah yang berjuang, aku berjalan sendirian dan aku sendiri yang berusaha untuk mendapatkan. Sedangkan kau, kau hanya perlu menunggu sampai aku lelah. ...

__ADS_1


...***...


Jangan lupa vote dan follow yah bestie, biar semangat lagi nulisnya. Thank you:)


__ADS_2