Dosenku

Dosenku
Audie Day


__ADS_3

Setelah satu jam dalam perjalanan, kini Audie telah sampai didepan rumahnya. Jack telah pergi menyusuri jalan raya yang tengah padat disiang hari ini setelah meninggalkan beberapa pesan kepada Audie. Yaitu, agar Audie segera mengobai lukanya dan istirahat yang cukup.


Langkah Audie seperti zombie yang kehilangan mangsa, ia menyeret tas rancelnya tanpa daya. Sesekali Audie meringis kesakitan kala menyentuh luka cakaran di pipi, dagu dan juga di dahi gadis itu. Audie mengucap salam sebelum akhirnya ia memasuki rumah. Tidak ada yang menyahut sehingga ia kembali harus mengulang.


"Assalamu'alaikum, Audie pulang!"


"Wa'alaikumussalam!" sahut seorang wanita, ia tengah berada didapur.


Tanpa berpikir panjang, Audie segera menuju ke kamarnya sembari menahan rasa sakit diwajah yang tengah lebam itu. Linda datang dari arah dapur sekedar mengingatkan anak gadisnya untuk makan siang.


"Adek makan siang dul..."


"Ya Allah, dek! Wajah kamu kenapa? Astaga, rambut kamu juga kenapa kusut begitu? Astagfirullah..." dengan khawatirnya Linda meraba setiap inci wajah Audie.


"Arghh... Sakit, Mah!" Audie meringis kala Linda menyentuh lukanya.


Wanita dengan dua anak itu segera membopong Audie menuju sofa, hatinya teriris melihat luka bertebaran disekujur tubuh putrinya. Linda mengambil kotak P3K sebelum akhirnya ia mengobati luka cewek itu.


"Kenapa bisa kayak gini sih, dek? Kamu berantem? Hah?" dada Linda naik turun, napasnya sesak hanya dengan melihat keadaan Audie yang begitu tragis.


Banyak bekas cakaran menguasai wajah Audie, darah dari kedua sudut bibir gadis itu telah mengering, rambutnya kusut bagai tidak disisir selama satu bulan, dibawah matanya lebam dan hitam seperti mata panda, tatapan Audie sendu seperti tidak diberi makan berhari-hari sehingga kehilangan tenaga. Jika dilihat-lihat, dia seakan baru saja bertengkar dan saling adu jambak dengan harimau.


Audie tidak menjawab pertanyaan Linda, rasa sakit dihatinya telah menetralisirkan rasa sakit bekas cakaran Alea. Kalimat yang keluar dari mulut Xavier masih saja terngiang-ngiang membuat hati yang tadinya terluka kini semakin menganga lebar.


"Assalamu'alaikum, Irfan pulang." Teriak seorang pemuda dari ambang pintu. Di tangannya terjinjing sebuah bingkisan yang cukup besar dengan lilitan pita warna merah muda.


Irfan tersenyum kala melihat adeknya yang sedang berulang tahun tengah duduk diatas sofa dengan Ibundanya, "selamat ulang tahun Adek Bang Irfan yang palβ€”" mulut Irfan terdiam, saat dia baru menyadari kondisi Audie saat ini.


"Astagfirullah, dek! Wajah kamu kenapa?" khawatir Irfan, ia mendekat khawatir.


Ditelitinya luka-luka Audie yang tampak begitu familiyar. Ia de javu sambil menggaruk tengkuknya menggunakan jari telunjuk. Detik berikutnya Irfan segera mengecek ponselnya untuk melihat foto yang baru saja dikirimkan oleh pacarnya melalui WhatsApp beberapa menit yang lalu.


Hembusan napas Linda terdengar jelas setelah selesai mengobati luka Audie, "Mama juga nggak tahu apa yang terjadi sama anak ini, ditanya malah diam. Pasti baru saja selesai bertengkar, 'kan? Sama siapa, sama cewek? Apa karena gara-gara cowok?" tebak Linda tidak asal-asalan.


Karena seringnya wanita itu menyaksikan berita-berita di televisi banyaknya terjadi pembully-an antara anak gadis dengan gadis lainnya hanya karena memperebutkan satu lelaki.


Audie masih menunduk, sebenarnya ia belum puas mengeluarkan butiran air matanya. Namun karena ada Irfan dan juga Linda disebelahnya, terpaksa Audie harus menahan. "A-Audie nggak papa kok, Mah! Audie baik-baik aja, nggak usah khawatir." Suara itu terdengar serak dan bergetar.


Sedangkan Irfan, netranya masih fokus memperkatikan layar ponselnya. Dimana 15 menit yang lalu Alea baru saja mengirimkan foto dirinya dengan bekas luka cakaran yang sama seperti Audie.


"Kok bisa, yah?" tanya Irfan menggaruk tengkuknya untuk yang kedua kali.


"Kenapa, Bang?" Linda yang sedari tadi mendapati Irfan seperti kebingungan segera bertanya kepada Putranya itu.


Sekali lagi, Irfan perhatikan bekas luka Audie, "ini..." lalu ia perlihatkan foto wajah Alea yang memiliki bekas luka yang sama, "...kenapa luka kalian bisa sama, dek?" tanya Irfan curiga, atensinya teralihkan kepada Audie dengan kepala yang masih menunduk. Begitu juga dengan Linda, ia tidak ingin berpaling dari wajah putri semata wayangnya itu.


"Audie..." Panggil Linda lembut, tanpa paksaan.


"Jangan bilang kalauβ€”" tebak Irfan, namun ia tidak berani mengatakan sesuatu yang belum pasti dan belum terjamin kebenarannya. Biarlah Audie sendiri yang menjelaskan apa yang telah terjadi.


Dengan berani serta kelenjar mata yang masih memerah seperti darah, Audie bangkit dari duduknya. Ia berlalu meninggalkan Irfan dan juga Linda yang sedang menatapnya aneh. Hanya beberapa langkah Audie segera menghentikan kedua kakinya, "ya! Audie baru saja berantem sama Alea, pacarnya Abang." Selepas mengatakan itu dengan berat hati dan penuh keraguan, Audie segera bergegas pergi menuju kamarnya melalui tangga putar.


Sepasang bola mata Irfan membulat sempurna dengan kerutan jelas di dahinya, kedua alisnya saling bertautan begitu juga dengan Linda, tidak percaya dengan apa yang dikatakan Audie barusan.


"MAKSUD KAMU APA, DEK?" teriak Irfan, namun sosok tubuh mungil itu telah melenggang pergi hingga tak terlihat lagi.


Audie menutup pintu kayu merah muda itu dengan lantang. Ia menangis lalu melemparkan tubuhnya diatas tempat tidur sampai akhirnya tubuhnya terpental-pental. Audie menangis sejadi-jadinya, ia tidak salah telah mencintai seseorang, namun cara gadis itu yang kurang tepat.


Audie menangkup bantal disebelahnya lalu memeluk benda lunak itu erat-erat, sehingga ada bekas air mata menempel halus dipermukaan bantal putih tersebut.


Audie menghentikan isaknya kala mendengar suara ketukan dari luar.


"Adek, buka pintunya, Abang mau bicara sama kamu." Irfan mendekatkan daun telinganya ke dinding pintu, tapi ia tidak mendengar ada sahutan dari dalam sana.


Irfan kembali mengetuk, "Audie, tolong bukain pintunya." Pinta Irfan dengan oktaf suara yang semakin tinggi, lebih tepatnya membentak.


Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam sana, hanya sunyi, senyap seperti tak ada penghuni. Irfan menyerah, ia menjambak rambutnya dengan kasar kemudian berlalu memijat pelipisnya. "It's ok, Abang akan bicara setelah kamu merasa tenang. Istirahat aja kalo gitu! Abang bawa kado untuk kamu, ini hari ulang tahunmu, 'kan? Abang taro kadonya didepan pintu, yah?!" Seru Irfan lalu segera bergegas pergi.


Sedangkan penghuni kamar masih menangis sesenggukan. Hingga matahari yang tadinya bersinar terang telah berganti berwarna jingga lalu perlahan-lahan tenggelam kearah ufuk barat. Sang langit telah memakan cahaya itu, namun besok akan bersinar kembali.


***


Malam melemparkan anginnya begitu saja membuat rambut Audie yang terurai terayun-ayun kesana kemari. Setelah tidur setengah harian, Audie segera beranjak dan memilih berdiam diri di beranda rumah. Pandangannya fokus menatap kerlap-kerlip lampu kota, sedangkan pikirannya kini tengah kosong. Tidak ada kehidupan didalam dirinya, tubuhnya saja yang berdiri tegak sedangkan jiwanya telah terbang dibawa oleh malam melayang-layang diudara. Sampai akhirnya satu pesan masuk dari WhatsApp membuyarkan lamunan cewek itu.


Audie mengeratkan jaket dengan ritsleting yang terbuka kala angin membuatnya kedinginan, dia tidak berniat untuk membuka pesan dari aplikasi berlogo telpon itu. Hingga detik berikutnya Audie merasa terganggu saat banyak pesan yang berdatangan sehingga notifikasi handphone-nya tidak hentinya berbunyi.

__ADS_1


Audie berdecak malas lalu merogoh saku jaketnya, dibukanya aplikasi warna hijau itu dan mendapatkan banyak ucapan selamat ulang tahun untuknya bertebaran disana. Baik dari chat pribadi atau bahkan grup. Salah satunya adalah grup yang dibuat dengan nama grup, "anak didiknya Pak Xavier". Siapa lagi yang membuat nama itu kalau bukan Arini si cewek cetar, karena dia juga termasuk admin dalam grup yang dibuat Xavier.


Pesan yang pertama Audie buka adalah grup yang diberi nama "anak didiknya Pak Xavier". Ada banyak ucapan selamat ulang tahun disana dengan stiker-stiker yang lucu. Dari Indah, Arini, Zayn, Yuda atau bahkan Jack. Bukan hanya ucapan ulang tahun, tapi juga do'a panjang sepanjang jalanan. Yang tentunya orang yang semangat menulis kalimat-kalimat do'a itu adalah Jack sendiri dan dua sahabat Audie semenjak duduk dibangku SMP yaitu Indah dan juga Arini.


Jack


Besok kadonya nyusul yah Audie cantik! *kedipan mata menggoda @Audie


20.11


Zayn


Cie... yang usianya berkurang dan semakin menua, selamat yah! Oh iya, semoga tingginya bertambah ya Audie, walaupun cuma sejengkal. Kasian gue nengok lo lebih mungil dari kurcaci. Wekwekwek *ketawa_ngejek


20.11


Arini


Itu namanya ketawa bebek dodol


20.12


Yuda


Ditunggu besok makan daging di restoran bintang lima, awas lo kalo lupa. Colek @Audie


20.12


Audie tertawa geli melihat isi chat dari temannya-temannya. Akhirnya, gadis itu masih bisa tersenyum meski hanya untuk beberapa detik saja sebelum akhirnya ia kembali murung saat Xavier ikut menimpali di grup mereka.


Pak Xavier


Grup ini dibuat untuk belajar, bukan untuk yang lain-lain apa lagi untuk bermain-main.


20.12


Memang benar, bahagia itu terlalu singkat, sesingkat mengedipkan mata. Audie tersenyum miris, baru juga ia bisa tertawa dan Xavier malah membuat awan yang tadinya cerah kembali berkabut hitam.


Jack


20.13


Indah


Iya, Pak! Hanya ingin menyampaikan ucapan selamat aja kok. Jangan terlalu serius napa Pak? bawaannya marah-marah mulu.


20.13


Pak Xavier


Kalian bisa saja chattingan secara pribadi atau kalian buat grup sendiri. Sekali lagi saya tegaskan, grup ini hanya untuk membahas materi saja, tidak ada yang lain-lain apalagi hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun yang tidak penting.


20.15


Baru saja Yuda ingin ikut bergabung dalam obrolan, namun Xavier segera menghapus Arini jadi admin dan semua anggota tidak bisa mengirim pesan kecuali hanya Xavier sendiri. Sungguh, miris sekali tutor yang satu ini.


Ada penyesalan di dalam hati Audie karena telah membuka grup obrolan itu. Seandainya tadi ia tidak memeriksa notifikasinya, mungkin hatinya akan baik-baik saja dan tidak akan seterluka ini. Tangisan Audie pecah dikala malam dengan bintang itu. Ini pertama kalinya ia mencintai seseorang dengan sangat dalam dan ini pertama kalinya juga ia merasakan sakit yang paling dalam.


Tangisan Audie tidak ingin terhenti meski diluar sana seorang wanita yang ia panggil Mama sedang mengetuk pintu beberapa kali sembari meneriaki namanya. Gadis yang tengah terluka itu tidak ingin menyahut, ia justru mengusap ingus dan juga air matanya menggunakan lengan jaket. Ia sesenggukan lalu kembali memecahkan sunyinya malam bersamaan dengan semilir angin.


"Audie! Buka pintunya, dek. Jangan buat Mama khawatir dengan keadaan kamu. Papa juga mau ngobrol, kenapa kamu tidak menerima panggilan telpon dari, Papa?"


"Buka, dek. Kamu belum makan dari tadi siang." Linda yang tidak hentinya mengetuk pintu semakin merasa cemas karena tidak ada sahutan dari dalam kamar.


Linda menunduk, ia menghembuskan napasnya panjang. Kali ini, ia gagal menjaga anak gadisnya itu. Ia juga gagal untuk membujuk Audie keluar dari kamar, yang berarti Audie saat ini juga tidak ingin bertemu dengannya.


"Mama udah siapin kue ulang tahun, lilinnya juga udah dinyalain sama Bang Irfan. Emang kamu nggak kasihan sama Mama, jauh hari Mama sudah mempersiapkan hari ulang tahunmu ini loh. Mama mohon, jangan mengecewakan Mama, dek."


Audie mendengar jelas teriakan Linda dari luar kamar. Sedikit demi sedikit hatinya mulai bergerak, ia merasa iba dengan Linda. Audie tahu, pasti Ibunya sudah sangat mencemaskan dirinya, dan seharusnya Audie tidak melakukan hal seperti itu.


Sebelum membuka pintu, dibersihkannya sisa ingus dan air mata yang menempel di wajahnya, barulah Audie membuka pintu dan mendapati Linda sedang tertegak didepan pintu kamar.


"M-Maafin Audie Mah, udah buat Mama khawatir!" ujar Audie seraya menunduk, ia tidak berani menatap wajah Linda, karena masih ada jejak air mata disana.


Linda tidak bergeming, dipeluknya gadis mungil itu seraya membelai lembut samurai panjang Audie. Di ciumnya kening Audie sampai ia merasa tenang.

__ADS_1


"Ayo, Audie harus tiup lilinnya, Bang Irfan dan yang lainnya udah nmugguin di bawah." Kata Linda, kedua telapak tangannya menekan kedua pipi Audie membuat gadis itu cukup kesulitan untuk bicara dan bernapas.


"Bang Irfan dan yang lainnya? yang lainnya siapa, Mah?" kening Audie berkerut samar.


"Udah, ikut aja. Nanti kamu juga bakalan tahu." Linda menggandeng tangan Audie seperti seorang teman, mengajaknya untuk turun ke bawah.


Sesampainya dilantai dasar rumah, Audie cukup tercengang saat melihat lima makhluk yang tidak asing lagi baginya. "Arini, Indah, Zayn, Yuda sama Jack kenapa ada disini?" tanya Audie, mengabsen sahabatnya satu persatu.


"Bah, kenapa nama gue yang disebut terakhir? Tercium bau-bau ketidak adilan disini!" gumam Jack.


"Bukannya..." Audie menjeda kalimatnya, "...apa jangan-jangan saat mengobrol di grup chat tadi kalian udah ada disini?" tebaknya kemudian.


Indah mengangguk heboh seraya memamerkan barisan gigi-giginya yang tersusun rapi, "iya, emang kenapa?"


"Lo dari mana aja sih, Audie? kita-kita udah nunggu lama disini." Ujar Yuda kesal.


"Lo... habis nangis?" tebak Zayn saat melihat kantong mata Audie yang membengkak sempurna.


Audie menggeleng cepat, "nggak kok, gue baru bangun tidur dari tadi siang, makanya mata gue bengkak gini."


"DARI TADI SIANG???" tanya mereka semua secara serempak. Mungkin besok-besok mereka akan menjadi paduan suara.


"Lo manusia apa mahkluk gaib, Audie? Molor dari siang sampe malam begini." Arini menepuk jidatnya.


"Sudah-sudah, kasihan Audie, ini hari ulang tahunnya jadi jangan dibuat semakin tertekan gitu." Saran Jack, pasalnya ia sudah tahu mengapa Audie nampak tidak bersemangat malam ini. Dan ia juga tahu mengapa kantong mata Audie begitu bengkak seperti sebuah seni, tentunya karena menangis seharian bukan karena tidur seharian.


"Ayo-ayo, waktunya tiup lilin," ajak Linda, semua pun mengelilingi cake yang dihiasi dua lilin. Nyanyian ulang tahun menggema disetiap sudut ruangan. Setelah selesai, barulah Audie menengadahkan kedua tangannya berdo'a, tidak terlalu panjang hanya beberapa detik saja sebelum akhirnya lilin yang tadinya menyala kini telah padam setelah Audie meniupnya.


"Yeay... Happy Birth Day, friend!" seru Indah lalu mencium pipi Audie sebelah kanan.


"Wuahhh... gue juga pengen dong," ucap Jack tiba-tiba, membuat atensi semua orang yang ada disana tertuju padanya, tidak terkecuali Ibunda Audie.


Kening Audie berkerut samar, "pengen apa? Kue?" tebaknya.


Jack menggeleng, "pengen cium Audie kayak yang Indah lakuin barusan," ungkap Jack sebelum akhirnya satu tamparan keras mendarat dikeningnya. Irfan menepuk-nepuk kedua tangannya puas, saat tamparannya tepat mengenai sasaran.


"Astaga Bang Irfan, kening gue bukan nyamuk kali, main tampar-tampar aja." Rengek Jack.


"Makanya, omongan itu dijaga. Noh, mending kamu cium dinding aja. Barangkali dindingnya mau pacaran sama kamu." Irfan memukul-mukul dinding yang tidak jauh dibelakangnya sehingga masih bisa ia jangkau.


Semua tertawa, bahkan Audie juga ikut tertawa. Untuk sesaat, ia melupakan luka itu, luka yang akan ia ingat kembali sebelum tidur. Hanya sementara saja ia bahagia, lantas selanjutnya akan kembali seperti semula.


***


"Calon mantumu ini pamit dulu yah, Tante." Ujar Jack, tangannya segera menangkis tangan Irfan yang hampir menampar jidatnya.


"Zayn pamit, Tante..." timpal Zayn.


"Yuda pamit juga, Tante!" Yuda mencium punggung tangan Linda seperti yang dilakukan oleh kedua temannya.


Linda mengangguk, bibirnya tersenyum, "iya-iya, terimakasih banyak yah sudah ikut merayakan hari ulang tahun Audie."


"Sama-sama, Tante cantik." Ucap Zayn dan Yuda bersamaan. Sedangkan Jack, pandangannya memperhatikan kamar seorang gadis yang ada dilantai dua.


"Kenapa, Jackey?" tanya Linda.


Napas Jack terdengar lesu, "nggak adil banget deh Tante, masa Indah sama Arini dibolehin tidur dikamar Audie, Jackey 'kan juga pengen."


"Nih anak satu, pulang nggak? Jangan sampe aku tendang pantatmu ya Jack." Ancam Irfan.


Jack menatap Irfan sinis, "galak amat. Yuk Zayn Yuda, kita pulang."


Zayn dan Yuda pun menurut, mereka bergegas menuju dimana sepeda motor mereka terparkir.


Sebelum Jack benar-benar melajukan sepeda motornya, dengan tidak berdosanya ia sempatkan berteriak, "DADAH CALON MERTUA, SALAM SAMA AUDIE, YAH!"


Plakkk ....


Sepasang sandal jepit mendarat di kening Jack yang sedang mengendari sepeda motor dengan satu kaki yang menyeret di atas tanah.


"Noh, rasain..." Teriak Irfan bangga, lalu ia berlari mengambil kembali sandal jepitnya, karena sandal itu merupakan sandal jepit kesayangannya. Sedangkan Linda, wanita itu hanya geleng-geleng kepala di teras rumah.


...πŸ§šπŸ»β€β™€οΈπŸ§šπŸ»β€β™€οΈπŸ§šπŸ»β€β™€οΈ...


..."Untuk hari ini, biarkan saja kita bercengkrama dengan luka, esoknya baru dengan suka."Β ...

__ADS_1


__ADS_2