Dosenku

Dosenku
About Taste


__ADS_3

Waktu terus berlalu, namun tidak ada seorang pun yang berniat untuk memecahkan keheningan sejak satu jam yang lalu. Mata Xavier menatap tidak suka kepada tiga lelaki yang sedang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Zayn sebagai murid cerdas tengah mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh Xavier, Yuda sibuk chatting-an dengan para mantannya sedangkan Jack memilih memainkan game online diponsel miliknya.


Sesekali Audie menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, ia menatap nanar soal-soal yang diberikan Xavier. Materi tentang narrative text saja belum mampu ia kuasai, dan sekarang harus mengerjakan soal baru lagi dengan materi yang baru pula.


"Indah ... Indah ..." Panggil Audie berbisik namun tidak disahuti.


"WOY INDAH. Lo tuli apa gimana?" sedikit Audie mengeraskan oktaf suaranya, namun radius antara Audie dengan sahabatnya itu cukup jauh, Indah terlalu menghayati soal-soal yang diberikan Xavier.


"Aishh ... Dasar tuli," kesal Audie prustasi.


Jack yang berada tepat disebelah Audie segera mengalihkan pandangannya kepada cewek itu, "lo kenapa?"


Audie menatap Jack sekilas, "mau minta jawaban. Soal-soalnya susah banget, sesusah mendapatkan hatinya Pak Xavier." Lantas ia mengalihkan pandangannya ke arah lelaki bujang yang sedang sibuk mengutak-atik layar Ipad.


"Hah?" bola mata Jack membulat sempurna, ia menyunggingkan bibirnya, "l-lo, lo suka sama Pria songong itu?" tanya Jack sehingga membuat Audie ingin segera menampol bibir yang terlalu lantang itu. Bagaimana nanti jika Xavier mendengarnya? hanya itulah yang di khawatirkan oleh Audie, gadis yang mengagumi Xavier sampai detik ini juga.


"Iya, emang kenapa?" tanya Audie judes.


Tentu saja Jack merasa cemburu, bagaimana mungkin ia kalah saing dengan lelaki setua Xavier, apa lagi yang kurang dari dirinya?


"Gila lo Audie, ngapain lo suka sama Pria brewokan kayak dia? mana wajahnya udah keriputan lagi!"


"Aishhh, jangan sampe gue tampol mulut lo, yah. Mata Lo buta ya? Emang Lo liat kalo Pak Xavier punya brewok? Enak aja bilang Pak Xavier keriputan, bahkan wajahnya lebih mulus dari muka lo. Lagi pula, udah tau gue gila ngapain lo masih suka? itu namanya lo yang gila," ujar Audie meluapkan kekesalannya seraya menekan ujung jari telunjuknya di tengah-tengah dahi Jack. Namun anehnya, bukannya marah Jack malah tertawa, gemas ketika melihat Audie sedang merasa jengkel padanya.


Bisik-bisik diantara mereka berdua membuat Xavier merasa terganggu, ia mengalihkan perhatiannya kepada dua makhluk itu. Apa yang ia lihat sungguh tidak sesuai dengan ekspektasi. Saat Audie tengah berbisik ditelinga Jack, dan saat tangan Jack sedang menimpa tangan Audie. Padahal sebenarnya mereka berdua juga tidak sadar atas hal itu. Namun yang ada dipikiran Xavier saat ini adalah, dua manusia itu terlihat sangat serasi. Bahkan Xavier sempat beranggapan bahwa mereka sedang menjalin hubungan. Pasangan yang sangat romantis pikirnya.


Xavier mengalihkan pandangannya kemana-mana, ia menggeleng beberapa kali sekedar menyadarkan dirinya jikalau hatinya sedang baik-baik saja. Tidak mungkin, sangat tidak mungkin jika ia sedang cemburu. Siapapun, tolong yakinkan hatinya bahwa ia tidak memiliki rasa sedikit pun kepada gadis remaja itu.


"Pak Xavier, tugas saya sudah selesai."


Suara Indah tidak berhasil membuyarkan lamunan Xavier. Cewek itu duduk bersebelahan dengan tutornya. Lalu, ia menyerahkan kertas jawabannya.


Indah memiringkan kepalanya ke kanan, kedua alisnya saling bertautan tatkala pria itu tidak menyahutinya. Wajah Xavier terlihat datar, pandangannya menerawang menatap sebuah buku di hadapannya dengan kedua tangan yang masih memegang Ipad. Namun, pikirannya saat ini sedang traveling entah kemana.


"Pak Xavier!" Seru Indah lebih mengeraskan oktaf suara, dia mengibaskan satu tangan untuk menyadarkan guru privatnya tersebut.


Semua mata tertuju pada Xavier. Baik Arini, Yuda, Zayn, Jack bahkan Audie. Mereka menatap Pria itu heran dengan kerutan samar di dahi. Dia tidak memberikan ekspresi seperti apapun, layaknya seseorang yang sedang kerasukan.


"PAK XAVIER!" Seru mereka semua secara bersamaan. Lantas orang yang dipanggil segera tersadar, ia menatap satu persatu sosok-sosok dihadapannya.


"M-Maaf," kata Xavier gugup, bahkan ia merasa aneh dengan dirinya hari ini, "...ada apa, Indah? Kamu baru saja memanggil saya?" telunjuknya mengarah pada dada bidangnya.


Indah mengangguk ragu, ia merasa aneh dengan sikap Xavier, tidak biasanya lelaki itu seperti ini. "Apa Pak Xavier baik-baik saja?" tanya Indah sekedar memastikan.

__ADS_1


Xavier memperhatikan semua orang yang ada disana satu persatu, seketika Xavier merasa tidak nyaman saat semua mata tertuju padanya. Seakan mereka semua ingin menerkamnya secara berjama'ah.


Pria itu berdehem dua kali sekedar untuk mencairkan suasana, " tentu, saya baik-baik saja. Apa yang ingin kamu katakan? tugas yang saya berikan sudah siap?"


"Ah, iya Pak! Ini, Pak Xavier perlu memeriksanya, saya belum terlalu yakin dengan jawaban saya," Keluh Indah kemudian. Lantas semua orang kembali ke dalam aktifitasnya masing-masing.


Xavier menatap fokus lembar jawaban Indah, detik selanjutnya ia mengangguk, "semuanya sudah benar," katanya seraya mengembalikan kertas itu kepada pemiliknya.


"Arini ..." Panggil Xavier, membuat gadis itu segera menyahut.


"Saya hampir lupa, tolong tambahkan ketiga temanmu ini ke dalam grup kita, karena saya sudah menjadikanmu sebagai admin. Oh iya, untuk kalian bertiga..." tunjuk Xavier pada Jack, Zayn dan juga Yuda.


"...jika kalian memang berniat untuk belajar, kalian perlu tahu, tidak ada sistem main-main dalam kamus saya ketika proses belajar mengajar sedang berlangsung. Waktu saya sangat padat, sebab itu saya hanya ingin mendidik orang yang bersungguh-sungguh untuk belajar. Mulai hari selasa nanti, tidak ada yang boleh memainkan handphone selama pelajaran sedang berlangsung. Sekarang hari Kamis, dan hari libur kita di hari Jum'at, Sabtu, Senin dan tentunya di hari Minggu juga." Jelas Xavier panjang lebar, ketiga lelaki pelajar itu hanya mengangguk patuh.


Wajah mereka terlihat begitu polos tidak seperti biasanya. Andai ada orang yang bisa membaca pikiran mereka, pasti sudah ditemukan berbagai umpatan serta kalimat sumpah serapah telah mereka simpan untuk Xavier, guru privat yang teramat menjengkelkan bagi mereka.


Di sisi lain, seorang wanita dengan rambut terurai baru saja turun dari motor. Ia menyerahkan helm yang membungkus kepalanya selama dalam perjalanan.


Irfan menatap rumah mewah di hadapannya, sangat indah bak istana. Meski rumah mereka juga tidak kalah besarnya, namun interior rumah tersebut mampu membuatnya terkagum-kagum.


"Ini rumah Paman kamu?" tanya Irfan seraya menerima helm yang diberikan Alea.


Sekilas Alea menoleh ke belakang, sekedar memastikan tidak ada orang disana, "iya, emang kenapa, sayang?"


Irfan kembali menyalakan mesin motornya, "kalau begitu, aku pamit. Kamu istirahat, jangan begadang nanti malam, minum vitamin juga."


Seulas senyum tercipta dari bibir Alea, "iya-iya. Kamu juga, jangan kebanyakan begadang."


Irfan hanya mengangguk turut, "assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumussalam," balas Alea, "...hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut." Teriak gadis itu disaat Irfan telah berlalu menyusuri jalan, namun Pria itu masih sempatnya mengacungkan jempol ke udara dalam keadaan mengemudi.


Setelah kepergian Irfan, Alea segera memasuki rumah Xavier yang ia sebut sebagai rumah pamannya kepada Irfan, wanita itu memang pandai sekali berbohong demi menutupi kebenarannya.


Tanpa basa basi Alea segera membuka pintu rumah tersebut, tanpa berucap salam ia tersenyum saat yang pertama ditangkap matanya adalah Xavier.


"SAYANG ..." teriak wanita itu, ia segera menyambar lengan Xavier---memeluknya. Bahkan Indah yang berada tepat didekat Xavier hampir terjungkal ketika Alea mengambil posisi duduknya.


Semua mata tertuju pada Alea, bahkan mulut Zayn dan mulut Yuda telah menganga lebar saat menyadari apa yang mereka lihat. Guru yang biasanya selalu memasang wajah datar, mengerikan dan suka menghukum, namun saat ini mereka justru melihat sisi lain dari wanita itu. Begitu manja dan memuakkan.


"Lea, kalau masuk rumah itu ucap salam dulu, bukannya manggil sayang," ujar Xavier, bahkan ia merasa jengkel dengan sikap tunangannya itu.


"Hehe, maaf!" Cengir Alea sambil mengangkat jari tengah dan telunjuk.

__ADS_1


"Astaga," Alea menyentuh dada. Refleks ia terkejut saat melihat tiga makhluk yang tidak asing baginya, menatapnya lekat seakan sedang berusaha menginterogasi.


"Y-Yuda? Zayn dan kamu ... Jack bukan?" tunjuk Alea satu persatu demi memastikan. Ketiganya pun mengangguk, bahkan mereka tidak kalah kagetnya dengan Alea.


"Ngapain kalian ada di sini?" pertanyaan yang lebih tepatnya mengusir.


Yuda yang masih menganga hingga rahangnya turun akhirnya mencoba memperbaiki ekspresi wajahnya, karena ekspresi seperti itu terlihat cukup jelek jika ia yang melakukan. "Buat belajarlah Bu, buat apa lagi?"


"I-Ini, ini Bu Alea?" tanya Jack memastikan.


"Bukan, ini Bu Nina, guru janda yang udah nikah lagi itu," canda Yuda seraya menepuk bahu Jack, bahkan ia mengabaikan Alea yang menatapnya tidak suka.


Jack mengulum bibir, hampir saja ia memuncratkan air liurnya mengenai wajah Arini yang ada dihadapannya akibat tidak sanggup menahan tawa.


"Dasar, kalian berdua selalu saja tidak punya sopan santun." Mata Alea mendelik tajam, bahkan sisi manjanya perlahan-lahan menghilang.


"Kalian berdua? Zayn nggak ikut, Bu?" tanya Yuda protes.


"Tentu saja tidak, Zayn itu anak yang baik-baik, bukan seperti kalian, selalu menyusahkan dan membuat keributan di dalam kelas."


Zayn yang di puji ternyata tidak merasa tinggi, atensinya kini beralih pada jam emas berbentuk bulu merak yang menggantung di dinding rumah Xavier.


"Pak Xavier, sudah jam lima sore." Zayn memberi kode.


Mata Xavier tertuju pada arloji hitam yang melingkar di pergelangan tangan kekarnya, ia langsung mengerti apa maksud cowok itu. "Oh iya, kalau begitu pelajaran kita sampai disini saja. Sampai jumpa di hari selasa, jangan lupa untuk belajar. Dan bagi kalian yang belum selesai dengan tugas yang saya berikan, hari selasa harus dikumpul. Saya akan mengingatkannya melalui WhatsApp grup jika kalian lupa."


Semua mengangguk dan segera membereskan buku mereka masing-masing. Audie tengah memasukkan bolpoin itu ke dalam tasnya, namun seketika di cekat oleh Alea.


"Kenapa?" tanya Audie.


Wanita yang ditanya hanya mendelik tajam sebelum akhirnya ia menjawab, "ini bolpoin Xavier, kenapa bisa ada sama kamu?"


"Sini..." satu goresan melukai telapak tangan Audie kala Alea merampas bolpoin itu dengan kasar, "...kamu tidak boleh memiliki bolpoin ini."


"Lea, berikan saja. Aku yang memberikan bolpoin itu karena dia lupa membawa bolpoin. Lagi pula, aku punya banyak, kamu seharusnya tidak seperti itu."


Kalimat barusan berhasil mengundang amarah Alea.


"Kamu bela dia lagi? aku tahu dia cuma beralasan, masa anak pelajar nggak punya bolpoin, sih?!"


Xavier menghembuskan napasnya pelan, "yasudah, ambil saja," ucapnya kemudian dengan nada pelan, sulit sekali nanti jika harus membujuk tungannya itu seperti kejadian beberapa minggu yang lalu. Ia tidak ingin memperumit keadaan. Sedangkan Audie, tidak ada yang bisa dia lakukan selain diam.


...🧚🏻‍♀️🧚🏻‍♀️🧚🏻‍♀️...

__ADS_1


...Pak Xavier itu seperti izazah! Untuk mendapatkannya perlu usaha yang keras dengan proses bertahap, serta lulus ujian....


__ADS_2