Dosenku

Dosenku
Foto Profil


__ADS_3

Sulit sekali menatap iris mata indah itu meski hanya untuk sekilas. Jarak Audie dengan Xavier terlampau jauh, masih syukur Audie tidak memilih belajar didekat pintu.


Pandangan Audie hanya berani memperhatikan gerak-gerik jari-jemari Xavier yang menari di atas kertas. Wajah itu sangat tenang setenang aliran sungai. Padahal disini jantung Audie berdetak dua kali lebih cepat hingga menjalar ke seluruh tubuhnya. Audie masih tidak bisa melupakan kejadian beberapa hari yang lalu, ungkapan cinta itu seperti mimpi buruk, baik buat Xavier maupun Audie atau bahkan Alea.


Xavier menghela napasnya lega. Akhirnya tugas yang ia kerjakan selama dua jam lebih selesai juga. Bahkan ia sempat mengabaikan anak didiknya yang tengah duduk melingkar demi menuntaskan nilai mahasiswa mahasiswinya yang ada di kampus.


Pria yang berprofesi sebagai dosen itu merenggangkan otot tangan hingga otot jari jemarinya. Pandangannya memperhatikan tiga gadis yang sedang berkutik dengan buku-buku dan sebuah kamus.


"Arini," panggilan itu membuat Arini mengedarkan pandangannya ke arah sumber suara.


"Iya, Pak!"


"Berikan kontak WhatsApp mu, sebaiknya kita membuat grup mana tahu nanti ada sesuatu yang penting yang ingin saya sampaikan. Jadi, di saat saya nanti ada job lain, saya bisa memberitahukan kepada kalian lebih mudah. Agar kalian tidak capek-capek lagi datang ke rumah."


Arini mengangguk lalu memberikan nomor kontak WhatsApp nya kepada Xavier. Begitupun Indah, agar Xavier menambahkan kontak mereka ke dalam grup yang telah ia buat.


Sedangkan Audie, ia masih belum sadar dari dunianya sendiri. Gadis itu menatap lurus ke depan tepat kearah Xavier. Hanya pandangannya saja yang menatap kepada Pria itu, namun pikirannya masih melayang jauh persoal ucapan Alea tadi pagi. "Mereka berdua adalah milikku." Saat Alea membisikkan kalimat itu ditelinga Audie, ia mulai berpikir bahwa Alea sudah memgetahui kalau Irfan adalah saudaranya. Menyadari hal itu, Audie mulai cemas dan merasa takut sewaktu-waktu kejadian dua tahun yang lalu terulang kembali. Audie tidak ingin Irfan terluka lagi, dia tidak ingin saudara satu-satunya pergi meninggalkannya sendiri hanya karena persoalan cinta. Sungguh, hati Audie teramat tercabik-cabik mengingat kejadian dua tahun silam.


"Audie," panggil Xavier untuk yang ketiga kalinya. Keningnya berkerut samar saat melihat tingkah aneh gadis dihadapannya. Sepasang mata itu tidak berkedip meski hanya sekali. Hingga Audie terperanjat kaget saat Indah menghantamkan kamus lengkap 945 triliyun itu diatas meja.


"K-Kenapa, ada apa?" tanya Audie gelagapan. Seketika pandangannya terhenti saat menyadari Xavier sedang menatapnya intens.


"Lo kenapa sih, Audie? Dipanggil-panggil malah diam. Habis tuh suara Pak Xavier manggil nama lo mulu," ujar Arini judes sedikit meninggikan oktaf suaranya.


Audie hanya terdiam kikuk, ia menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. "M-Maaf, Pak!" Seru Audie.


"Cepat kasih," ucap Xavier dingin.

__ADS_1


Lagi-lagi Audie tidak paham, ia memasang raut wajah bertanya-tanya. "Apa yang mau saya kasih, Pak?" pertanyaan itu berhasil membuat Xavier berdecak. Susah sekali berbicara dengan anak muridnya yang satu itu.


Satu hantaman mendarat dikening Audie, Indah segera menepuk-nepuk kedua tangannya setelah merasa puas. Seketika Audie meringis kesakitan.


"Kontak WhatsApp mu, Audie, apalagi?" Indah benar-benar tidak tahu lagi untuk menghadapi sahabatnya yang sedang gagal loading.


Audie segera merogoh-rogoh tasnya, hingga ia menemukan benda pipih itu lalu menghidupkan layarnya. Membuka aplikasi berwarna hijau dengan logo telpon.


"Astaga... Nih anak, masa nomor kontak WhatsApp lo aja lo nggak ingat?!"


"Lo 'kan tahu gue pelupa, Ndah!" jawab Audie sesingkat mungkin.


Arini dan Indah pun memutar bola mata mereka jengah. Lelah berurusan dengan makhluk seperti Audie.


"0813," ucap Audie, lantas Xavier menekan setiap angka di keyboard iphone-nya.


"...5223,"


Xavier masih fokus menekan setiap angka, hingga ia mulai menyadari kalau ada sesuatu yang janggal.


"Saya baru tahu kalau telkomsel terdiri dari 13 digit angka." Raut wajah Xavier sedikit menginterogasi.


Audie kembali fokus pada setiap angka di layar ponselnya, "oh iya, yah! Astaga, sepertinya saya keliru, Pak."


Arini berdecak, lantas ia merampas benda pipih ditangan Audie dan memberikannya kepada Xavier.


"Ribet banget lo, loading lo lama amat. Mana udah sore lagi."

__ADS_1


Audie terperanjat kaget. Pasalnya Audie belum mengganti foto profil WhatsApp nya, yang mana disana telah terpampang jelas foto seorang Pria berpipi tirus dengan kulit sawo matang.


"Lo apa-apaan sih, Arini?" protes Audie, jantungnya sudah senam ria di dalam sana. Manakala nanti Xavier marah setelah mendapati foto profil Audie adalah wajahnya sendiri.


"Apa?" ancam Arini dengan bola mata yang mendelik tajam sambil berkacak pinggang.


"...emang lo mau kita kemaleman disini?"


Seketika gadis bertubuh sedikit berisi itu terdiam, ia tidak berani menatap wajah Xavier. Takut sewaktu-waktu Pria itu mengamuk, tidak ikhlas wajahnya dijadikan sebagai foto profil orang lain.


Mulut Audie komat-kamit, kepalanya semakin tertunduk hampir tenggelam di bawah meja. Gadis itu tidak hentinya memainkan jari-jemarinya dengan kasar.


"Ini, saya sudah menambahkan kamu di grup. Jika ada sesuatu yang penting yang ingin kalian tanyakan, jangan sungkan-sungkan untuk menanyakannya kepada saya melalui grup yang sudah saya buat." Xavier mengembalikan ponsel Audie, seketika sepasang bola mata Audie membulat sempurna tidak tahu apa yang terjadi.


"Apa Pak Xavier tidak marah melihat foto profil gue barusan?" hanya pertanyaan itulah yang berhasil menguasai pikiran Audie saat ini.


"Kalau begitu kami pamit pulang ya, Pak Xavier!" Ucap Arini mencium punggung tangan Xavier, kemudian diikuti oleh Indah dan juga Audie.


Baru saja ketiga gadis itu hendak melangkahkan kaki keluar dari rumah dengan interior mewah tersebut, langit telah menurunkan rintik hujannya.


"Yah, kok hujan sih, mana deras pula lagi," keluh Indah dengan sedikit memajukan bibirnya.


Audie menepuk bahu cewek di sebelahnya dengan pelan, "nggak boleh gitu, hujan itu rahmat."


Pria yang menyadari bahwa ketiga anak muridnya terhalangi oleh hujan, lantas ia pergi ke dalam kamarnya sekedar mengambil jaket kulit miliknya dan juga kunci mobil yang berada di atas nakas. Segera Xavier pergi menuju gudang mencari dimana kiranya letak payung yang biasa digunakan oleh Lufy. Setelah menemukan benda tersebut, Xavier buru-buru pergi ke garasi untuk mengambil mobilnya.


"Ayo, biar saya antar kalian," tawar Xavier, ia keluar dari mobil memberikan satu payung kepada Arini dan satunya lagi untuk dirinya.

__ADS_1


"Terimakasih, Pak. Maaf sudah merepotkan! Ucap Arini, lantas ia menengadahkan payung itu tepat diatas kepalanya lalu menyuruh Audie dan Indah untuk segera ikut bernaung di bawah payung. Karena jarak mobil Xavier dengan tempat mereka berdiri cukup jauh, bisa-bisa tubuh mereka basah sebelum memasuki mobil Pria itu.


Perhatian Audie tidak luput dari Xavier, kaki jenjang Xavier melangkah ringan menginjak air yang mulai menggenang. Indahnya suara hujan, sejuknya udara dikala sore itu. Kenyamanan paling nyaman bagi Audie adalah berada di dekat Xavier. Menikmati setiap pahatan indah wajahnya yang dikaruniakan oleh Tuhan. Bibir tebal merah muda, tubuh atletis dan menawan, Xavier adalah sosok yang tak mungkin untuk digapai. Hanya sebatas angan bahkan sampai esok nanti.


__ADS_2