
"Jack ..." teriak dua cowok bersamaan, refleks si empunya nama segera menoleh ke belakang.
Dia Yuda, orang yang selalu mendukung Jack untuk mendapatkan hati Audie. Sedangkan cowok yang ada disebelahnya bernama Zayn, jejaka tampan paling pintar diantaran ratusan siswa kelas dua belas, siswa paling unggul kata guru. Begitulah mengapa Jack dan dua cowok itu jarang sekali bertemu di sekolah, karena Jack berada di kelas XII-3 sedangkan kedua temannya di kelas XII-1, kelas dimana siswa siswi memiliki IQ yang tinggi dan pantas mendapatkan apresiasi.
Yuda dan Zayn segera berjalan mendekati Jack yang sedang bersama seorang gadis dengan gaya rambut kepang, "wuah... Udah makin akrab aja nih. Gimana Audie, udah mau nerima Jack belum?" tutur Yuda dengan memainkan kedua alisnya naik turun. Senyum sumringainya menggoda.
"Apaan sih Yud, ada-ada aja deh lo." Audie menyayunkan kepalan tangannya ke udara, namun tidak sempat mengenai wajah cowok itu.
"Oh ya, btw kita-kita berdua mau ke base camp, ikut nggak Jack?" tawar Zayn kemudian. Diantara tiga Pria lajang itu, hanya dialah lelaki paling waras. Cool, kalem dan rendah hati.
"Sorry banget nih ye, gue sama Audie mau les hari ini."
Di detik yang bersamaan Zayn dan Yuda beradu pandang, sebelum akhirnya tawa mereka mengudara hingga menggema di sepanjang koridor yang mulai sepi, hanya ada mereka dan tiga siswi yang sedang tugas piket hari ini.
"Ngapain lo les? Udah tobat?" kekeh Yuda, Pria yang satu itu memang gemar sekali mengejek orang, termasuk bestie-nya sendiri.
"Karena ada Audie, kalo enggak mah, gue bakalan ogah!" Seru Jack, menatap sekilas ke arah cewek yang ia maksud.
"Kalau gitu, gue sama Jack pamit dulu yah dua makhluk yang tidak berguna," pamit Audie sebelum akhirnya ia mendapatkan kalimat keluhan. Cara berjalannya sombong, dengan melenggak-lenggokkan tubuhnya hanya sekedar memancing amarah dua lelaki yang sedang meratapi kepergian mereka.
Zayn dan Yuda saling beradu pandang untuk beberapa detik, lalu menyeringai dengan memainkan sebelah alis mereka masing-masing naik turun, "lo tahu kan apa maksud gue?" tanya Yuda.
"LETS GO ...." teriak keduanya menggema disepanjang koridor dengan tangan yang diacungkan ke udara seperti Spiderman, mereka berlalu mengejar langkah dua sejoli yang sudah jauh dari tempat mereka berada.
Refleks Audie menoleh ke belakang saat mendengar teriakan dua makhluk yang menjadi sahabat Jack semenjak duduk di bangku SMP. "Ngapain tuh kawanan lo?" tanya Audie, Jack hanya mengedikkan bahunya tidak tahu, berusaha menghindar dari dua cowok yang berlari menghampari mereka.
Napas Zayn dan Yuda memburu, keduanya menghirup napas dengan sangat rakus.
"Gue ikut!" Seru Yuda.
"Gue juga," timpal Zayn.
"Ngapain lo ikut, Zayn? tanpa les sekalipun lo udah jadi peringkat pertama di seantero sekolah ini," ujar Audie.
"Bodo amat, yang penting gue ikut."
Audie menghembuskan napasnya gusar, lelah sekali berteman dengan tiga makhluk di dekatnya itu. Jack saja belum teratasi, sudah muncul dua cowok menjengkelkan lagi.
🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️
Universitas Negeri Surabaya.
Para mahasiswa mahasiswi berlalu lalang, ada yang ingin segera meninggalkan kampus ada pula yang baru beraktifitas di dalam kampus. Seorang Pria tengah melangkahkan kakinya setapak demi setapak di atas tanah beralaskan rumput tanaman. Balutan jas hitam, kaca mata lensa yang bertengger di atas hidungnya, serta buku paket yang ia jinjing dapat memperjelas profesinya.
"Siang, Pak Xavier!" sapa dua mahasiswi berparas cantik. Rambut mereka panjang dan terurai, gadis yang satu berambut pirang sedang yang satunya lagi berwarna hitam.
Hanya senyum simpul yang terpancar di bibir orang yang disapa, " pagi!" balasnya, namun ia segera melangkah pergi tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang sedang ia genggam di tangan kiri.
Kedua mahasiswi itu melompat-lompat kegirangan. Bagaimana tidak, Pak Xavier yang di idolakan oleh para gadis-gadis baik yang masih muda ataupun yang sudah berumah tangga, yang selalu menyimpan senyuman dan tidak suka bertegur sapa, justru ia malah tersenyum kepada mereka.
Mahasiswi itu masih tidak bisa menyembunyikan betapa bahagianya hari mereka di siang ini hanya karena satu senyuman dari Xavier, berteriak histeris seakan baru saja memenangkan undian. Sepasang mata mereka terus saja memperhatikan Xavier, hati mereka semakin menjerit-jerit menginginkan Xavier tatkala Pria itu memasuki si Bugatti hitam dengan gaya yang mengesankan.
"Lo tahu nggak, profesi Pak Xavier selain jadi Dosen?" tanya gadis berusia 20 tahun itu seraya menyenggol lengan cewek yang berada si sebelahnya.
__ADS_1
"Apaan?"
"Jadi suami gue!" serunya tanpa berdosa lalu bergegas pergi sembari mengibaskan rambut panjang pirangnya.
"Dasar lo, sejak kapan suami jadi profesi?" teriak si gadis berambut hitam, mengejar langkah temannya yang semakin menjauh.
Baru saja Xavier ingin melajukan mobilnya meninggalkan kampus menuju rumahnya, namun harus ia undur saat seorang gadis dalam balutan blazer army dengan rok di atas lutut tiba-tiba menghentikan mobilnya. Dia Alea, wanita itu memang sangat gemar mengenakan pakaian yang terbuka memperlihatkan paha mulusnya, meski Profesinya sebagai dosen, namun ia tidak terlalu peduli dengan hal itu.
Alea melangkah mendekati Xavier yang saat ini sudah bersiap-siap untuk mengemudi, bahkan heels tinggi Alea membuatnya sedikit kesulitan untuk berjalan. Untuk detik selanjutnya ia menyandarkan tubuhnya di mobil Xavier.
"Udah siap ngajar?"
"Udah, baru aja pulang dari sekolahnya anak didik kamu itu. Tapi, aku masih ada urusan di kampus. Capek banget deh, udah ngajar di kampus, ngajar di SMA juga," keluhnya.
"...oh iya, Nanti sore bisa jemput aku kan, sayang?" tanya wanita itu kemudian, tangannya terlalu nakal merangkul bahu Xavier dengan manja.
"Kamu kan tahu sendiri, aku juga sibuk kalo sore. Ini hari kamis, dan tentunya aku juga harus berprofesi sebagai guru private."
Xavier mengalihkan pandangannya ke mana-mana, "kamu... Datang kesini diantar sama siapa?"
"I-Itu... Diantar..."
Kedua alis Xavier saling bertautan, "siapa?"
"Sama... itu, aku naik taxi,"
Mata Xavier menatap Alea curiga, "masa naik taxi jawabnya harus gelagapan gitu, aneh deh kamu!"
"Nggak bisa Lea, itu sudah tanggung jawab aku."
Alea mengerucutkan bibirnya, "yaudah deh kalo nggak bisa,"
Baru saja wanita itu ingin melangkahkan kakinya pergi, namun seketika terhenti saat Xavier meraih tangannya, "kamu nggak marah kan?"
Untuk memberikan senyum paksa saja Alea harus menarik napasnya dalam-dalam terlebih dahulu, "iya, nggak papa kok."
Xavier melepaskan genggamannya, "kalau begitu aku pergi, assalamualaikum!" Si bugatti hitam pun berlalu meninggalkan Alea yang masih tertegak di depan gedung kampus. Setelah mobil Xavier tak bisa lagi ditangkap mata, barulah ia pergi untuk menemui seorang Pria yang telah mengantarkannya sampai di kampus itu.
"Sayang!" sapa Alea dengan langkah setengah berlari, Irfan hanya tersenyum di atas motor dengan kedua tangan yang memeluk helm.
"Udah kelar urusannya?"
Alea mengangguk, "udah."
Pandangan Irfan menjelajah di setiap tempat, lalu kembali menatap wajah Alea, "lagian, ngapain sih kamu ke sini, inikan bukan kampus kamu mengajar?"
"Kan udah aku bilang aku ada urusan. Oh iya, Nanti sore kamu bisa jemput aku kan?" tanya Alea seraya menerima helm yang disodorkan Irfan.
"Tentu dong!" seru Irfan sehingga membuat senyum Alea semakin mengembang.
"Sekarang naik gih," perintahnya kemudian. Alea segera menaki motor Irfan lalu kedua sejoli itu berlalu meninggalkan salah satu kampus terkenal di Surabaya.
Bus melaju menyisir jalanan, di bus itu hanya ada tiga laki-laki dan tiga perempuan. Dia Audie, Indah, Arini, Jack, Zayn dan juga Yuda. Meski penumpangnya hanya mereka saja, namun keadaan di dalam bus itu sudah seperti pasar pagi. Mulut yang satu tidak bisa diam, sedangkan mulut yang lain selalu saja menimpali. Berbagai gibahan telah mereka ucapkan dengan lantang, tidak memilih gender baik cowok maupun cewek.
__ADS_1
"Kalo gini nih, ujung-ujungnya Pak Xavier harus ngeluarin biaya buat beli cemilan dua karung. Apalagi nih si Yuda, mulutnya aja nggak bisa di rem buat makan, mana perutnya perut karet lagi, apa aja yang dimakan pasti bisa ditampung." Keluh Arini.
Yuda yang berada di dekat jendela lantas segera menyambar Arini dengan tatapan sinis, "enak aja lo mak lampir, gue nggak serakus itu kali. Dari pada lo, sekali makan habis tiga piring tapi kurusnya minta ampun, itu tulang masih punya daging nggak?"
"Sudah-sudah," lerai Zayn, dari suaranya saja sudah menggoda bagi siapa saja yang mendengarnya.
"...sesama orang kurus nggak oleh saling menghina." Lanjutnya dengan raut wajah puas. Untung ganteng, kalau tidak satu tamparan Arini sudah mendarat di wajah lelaki itu.
Indah yang sedari tadi diam akhirnya menghemuskan napasnya prustasi, untuk beberapa detik ia memperhatikan perutnya, "harusnya kalian bangga punya tubuh selangsing itu. Aku justru pengen banget punya body kayak kamu, Arini. Tapi sayang, masakan Bunda gue selalu aja menggoda." Gadis yang satu ini memang selalu saja prustasi soal berat badan. Padahal, jika dilihat-lihat, tubuh Audie bahkan lebih berisi dari pada tubuhnya.
Jack yang berada di depan kursi Indah segera beranjak lalu menjitak kening gadis itu pelan, "nih lagi anak satu, udah di kasih tubuh eh malah mengeluh. Lo harusnya bersyukur masih di kasih dua tangan, dua kaki, satu kepala dan dua hidung."
Plakkk...
Satu tamparan mendarat di pipi Jack, lantas orang yang ditamparpun mengadu kesakitan, "enak aja lo bilang gue punya dua hidung, lo buta yah? Noh, hidung gue ada satu," kata Indah seraya menunjuk hidung kecilnya.
"Maksud gue lubang hidung lo Indah, soudzon banget sih." Ucap Jack membela diri sembari memegangi pipinya yang terasa sakit berkedut nyeri. begitulah jika kulitnya terlalu putih hampir sama dengan warna kapur.
Di sisi lain, Audie hanya membisu, tidak ingin ikut bergabung dengan percakapan teman-temannya yang begitu membosankan. Ia sibuk dengan dunianya seraya menatap aktifitas orang-orang di siang hari ini dari balik kaca. Pikirannya melayang, bahkan pendengarannya sudah tuli saat berada di dunia hayalan. Siapa lagi yang gadis itu pikirkan kalau bukan Xavier, lelaki yang berhasil membuat dirinya mencintai orang yang terpaut jarak usia 10 tahun dengannya.
Sesampainya di rumah Xavier, tiga anak lelaki dan tiga anak perempuan itu mengucap salam, namun yang muncul adalah seorang anak kecil yang bernama Bella.
"Eh ada Kakak-Kakak," senyumnya mengembang dengan kedua tangan yang memeluk boneka teddy bear.
Bella memiringkan kepalanya ke kanan, netranya menatap Jack, Zayn dan juga Yuda dengan alis yang saling bertautan, "abang-abang ini siapa?"
"Mereka teman Kakak," jawab Arini.
"...oh iya, Paman kamu udah di rumah belum?"
"Belum, Kak. Paman Xavier masih kerja. Kakak-kakak sama abang-abang masuk aja dulu."
Mereka semua memasuki rumah bercat warna putih itu setelah membuka sepatu masing-masing, lalu duduk melingkar di depan sofa.
"Siapa, Bel?" tanya seorang wanita dari arah dapur.
"Kakak Arini sama teman-temannya, Mah." Jawab Bella membalas teriakan Ibunya.
"Oh iya, suruh Arini ambil cemilan di atas meja, mereka pasti bosan nunggu Paman kamu pulang."
Sepasang mata Arini langsung berbinar-binar, tawaran inilah yang dia tunggu-tunggu. "Oke deh, Kakak ambil ya, Bel." Langkah gadis itu semangat seakan ingin menerima sebuah hadiah.
Setelah mengambil banyak cemilan sesuai dengan selera Arini, semua orang yang ada diruang tamu itu mulai berincang-bincang seraya memakan cemilan, menikmati siang hari mereka seakan sedang merayakan pesta. Bella juga ikut bergabung dengan anak-anak pelajar itu, ia merasa senang karena memiliki teman meski bukan anak-anak yang sebaya dengannya. Setidaknya, gadis kecil itu bisa tertawa.
di sisi lain Xavier baru saja memarkirkan mobilnya di dalam garasi, ia berjalan memasuki rumah dengan memainkan kunci mobil di tangannya, mengayun-ayunkannya ke udara. Keningnya berkerut samar saat mendengar suara-suara yang begitu ribut dari ruang tengah. Biasanya, rumahnya tidak pernah seramai ini, karena jikalaupun Audie, Arini dan Indah sedang bercanda pasti tidak pernah seheboh itu.
Tangan Xavier memegang gagang pintu, lalu membuka benda kayu itu lebar-lebar. Matanya langsung disuguhkan sesuatu yang sangat ia tidak suka. Ia tidak percaya apa yang dia lihat, beberapa cemilan berhamburan di mana-mana, minuman kaleng menggenang di lantai, sampah-sampah cemilan bertebaran, sedangkan tujuh makhluk disana masih tidak hentinya tertawa sebelum akhirnya mereka terdiam kecuali Bella ketika melihat xavier sudah berdiri diambang pintu dengan raut wajah yang sangat sulit untuk diartikan.
Xavier tidak tahu ia harus marah atau tidak saat mendapati keadaan ruang tamu yang begitu hancur berantakan sudah seperti kapal pecah. Bagaimana tidak, Pria itu sangatlah menomor satukan kebersihan. Bahkan sebutir debu saja yang menempel di rumahnya harus ia musnahkan.
...🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️...
...Aku suka dengan raut wajahnya yang datar! Bahkan ekspresi seperti apapun yang ia berikan, tetap saja terlihat begitu mengesankan....
__ADS_1