
Perut Xavier menggeliat hebat, setelah turun dari wahana bianglala, ia segera berlari mencari tempat yang tepat untuk memuntahkan segela isi perutnya. Sesekali ia terbatuk, sepasang matanya berlinang tatkala isi perutnya belum sepenuhnya dimuntahkan.
"Aduh, gimana ini, Bel? Sepertinya Pak Xavier masuk angin deh!"
Raut wajah Bella santai, ia malah menikmati es krim yang baru saja ia beli. "Tenang aja Kak Audie, entar juga palingan sembuh. Paman Xavier kan cowok!"
Audie mendekat ragu, didatanginya Xavier yang masih membungkuk dengan kedua tangan menekan lutut. Tangan Audie terangkat pelan, ia memijat tengkuk Xavier untuk membantunya.
Setelah Xavier merasa lebih baik, ditepiskannya tangan Audie ketika ia menyadari apa yang sedang dilakukan gadis itu.
"M-Maafkan saya, Pak Xavier, saya tidak bermaksud-"
"Sudahlah! Kalian berdua, tolong belikan saya obat." Perintah Xavier dengan wajah pucatnya, napasnya masih terengah-engah, rambut coklatnya basah akibat keringat dingin.
"Tidak perlu, Pak Xavier. Saya punya obat roll-on!" Audie membongkar isi tasnya dan menemukan benda kecil berbagai manfaat itu.
"Ini, Pak!"
Xavier segera menyambarnya. Sepertinya, Pria berprofesi sebagai dosen itu lupa bahwa ia sedang berada ditempat umum karena perutnya yang masih terasa mual. Buktinya, tanpa berpikir panjang Xavier menarik ujung baju kemeja birunya sampai di atas pusar, sehingga pemandangan surga dunia yang tak seharusnya Audie lihat terumbar dengan jelas.
Bola mata Audie membulat sempurna kala perut six-pact itu terpampang, roti sobek yang membuat Audie meneguk salivanya dengan berat. Ingin meminta lebih dan berharap baju itu dinaikkan lebih tinggi lagi.
Astagfirullah! Sadar Audie, kenikmatan yang satu ini menimbulkan dosa.
Obat yang mengandung menthol 20 persen itu melumuri perut Xavier. Barulah ia menghembuskan napas lega saat panas dingin obatnya mulai bereaksi.
"Ih, Paman Xavier. 'Kan malu dilihat banyak orang." Bella menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Xavier memperhatikan orang-orang disekelilingnya, semua orang menatap aneh, ada pula gadis-gadis alay berteriak heboh tatkala melihat indahnya perut kotak-kotak itu. Rahang Audie merosot, lalu ia segera membalikkan tubuhnya memunggungi tutornya itu.
Cepat-cepat Xavier membungkus perutnya kembali, tidak terlalu peduli dengan orang-orang yang masih menyaksikannya.
***
Waktu masih menunjukkan jam Sembilan malam, belum terlalu larut untuk pulang. Xavier berinisiatif untuk mengajak Bella sekedar membeli aksesoris. Sangat disayangkan jika festival malam ini dilewatkan.
Dan disinalah mereka, di mana banyak aksesoris bergelantungan dan berjejeran. Mulai dari gelang, kalung, cincin dan aksesoris-aksesoris lainnya. Baik dengan harga yang murah atau bahkan dengan harga yang hanya sanggup dibeli oleh orang kaya.
Tangan Bella menunjuk aksesoris yang sangat disukainya, "disana Paman, disana, Bella mau pergi ke sana." Mata Xavier mengikuti arah telunjuk Bella, lalu ia mengangguk.
Sedangkan Audie asik mengekor dibelakang mereka. Hanya itulah yang bisa ia lakukan sampai nanti Jack menimbulkan batang hidungnya. Ia tidak bosan, dan ia tidak lelah meski Xavier tidak berniat mengajaknya bicara. Mengajaknya bicara? Memangnya Audie siapa? Dia hanyalah gadis biasa yang menyukai seorang lelaki dingin yang tidak akan sanggup diraih oleh jari-jemarinya. Berada di dekat Xavier saja sudah membuat hidupnya lebih berwarna. Karena momen seperti ini adalah momen yang sangat langka.
Xavier memilih-milih aksesoris yang tepat untuk Bella. Namun sayangnya, tidak ada yang cocok sama sekali. Semua aksesoris yang ada ditempat itu lebih pantas untuk dipakai oleh orang dewasa.
Pandangan Xavier menyapu bersih segala tempat penjual aksesoris. Sampai di detik kemudian ia menemukan tempat aksesoris yang tepat.
"Disana ... Ayo, Bella!" Ajak Xavier, tentunya Bella munurut.
Audie mengikuti arah telunjuk Xavier, namun seketika matanya memicing. Audie memperhatikan siapa kiranya Pria dalam balutan jaket kulit warna coklat itu. Celana, sepatu, tinggi dan ... ketika Pria tersebut berbalik, Audie terpelonjat kaget saat mengetahui lelaki itu adalah saudaranya sendiri, Irfan. Jika ada Irfan tentu akan ada ...
Benar saja, sudah ada Alea disana dengan senyum sumringainya sambil bergelut manja dilengan Irfan. Tangan kanannya mencari-cari cincin yang tepat untuk jemarinya. Bola mata Audie membulat seperti boneka, ia gelagapan.
Kaki Audie berlari cepat tatkala langkah Xavier sudah jauh darinya dan hampir mendekati tempat aksesoris dimana saat ini Alea dan Irfan juga sedang ada disana.
__ADS_1
Kala Audie berhasil menghentikan langkah Xavier, ia berdiri dihadapan Pria itu sambil merentangkan kedua tangannya tanpa ragu. Xavier yang melihatnya hanya berkernyit heran. Pasalnya, Audie sudah pernah melakukan hal semacam itu padanya.
"Kak Audie kenapa?" Bella yang masih menggenggam tangan Xavier juga ikut bingung.
"Pak Xavier tidak boleh pergi ke sana. Lebih baik kita cari tempat yang lain saja. Ayo!" ajak Audie dengan napas yang tidak beraturan.
"Kenapa?" kali ini Xavier masih bertanya dengan oktaf suara yang rendah. Jika nanti alasan yang diberikan Audie tidak masuk akal, Xavier akan menendang gadis mungil itu sampai ke bulan.
"I-Itu, karena... Karena itu, Pak Xavier. Karena..." Kelopak mata Xavier tidak berkedip menunggu jawaban dari Audie.
"Karena tidak boleh," lanjut Audie ragu setelah bersusah payah mencari alasan namun ujung-ujungnya otaknya malah blank dan tidak menemukan jalan.
Xavier berdecak, ia memutar bola mata malas, "awas, jangan banyak tingkah. Saya tidak ingin berlama-lama di festival ini. Berhenti menghalangi jalan saya." Tubuh Xavier menerobos sosok mungil dihadapannya.
"PAK XAVIER...." Untuk kedua kalinya Audie berani meneriaki nama tutornya sendiri tepat didepan wajah Pria itu. Oh, jadi seperti ini rasanya diguyur hujan mendadak?! Dasar Audie, mengapa mulutnya harus muncrat segala? Yang lebih azabnya lagi, kepalan tangan Audie mendarat begitu saja dibatok kepala Xavier.
Tangan Xavier mengelus kepalanya yang terkena pukulan Audie, tangan satunya lagi mengelap wajahnya yang basah. Ia meringis lalu perlahan menatap wajah Audie dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak. Bola matanya membulat sempurna, ia menatap Audie intens. "K-Kamu... Memukul saya?"
Audie menunduk bersalah, tapi jika ia tidak melakukan hal tersebut, Xavier pasti bersikekeh untuk pergi ke tempat aksesoris yang mana disana sudah ada Alea dan Irfan. "M-Maaf!" Hanya satu kata, namun kelu sekali lidah itu untuk mengucapkannya.
"KAMU MEMUKUL KEPALA SAYA???" Xavier masih tidak percaya dengan apa yang cewek itu lakukan.
"S-Saya 'kan sudah meminta maaf, Pak!" Lagi, Audie menunduk. Namun Xavier acuh, ia masih mengelus kepalanya sendiri sebelum akhirnya ia menerobos sosok mungil dihadapannya. Cepat-cepat Audie berbalik. Ia cemas sekaligus khawatir.
"PAK XAVIER, PAK XAVIER.... JANGAN PERGI KESANA, PAK!" Xavier tidak memperdulikan panggilan yang menyapu gendang telinganya. Ia menarik tangan Bella untuk menjauh dari Audie yang terlihat sangat aneh malam ini.
Sesampainya ditempat aksesoris itu, Xavier tidak menemukan apa-apa. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Lantas, mengapa Audie seperti orang gila baru yang bersusah payah untuk menghalangi jalannya? Xavier hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aku mau gelang yang ini, Paman!" teriak Bella heboh, ia suka gelang, apalagi memiliki pernak-pernik sebagai hiasan.
Xavier mengangguk, diambilnya gelang itu, lalu memakaikannya di pergelangan tangan Bella setelah selesai membayar.
Pandangan Bella Beralih menatap Audie, cewek itu masih sibuk menemukan sosok dua makhluk yang ia cari-cari. "Kak Audie!" tangan Bella menarik ujung baju Audie. Refleks Audie menoleh dan mendapati Bella sedang menunjuk aksesoris.
"Kak Audie nggak mau beli?" Audie mendekat, ditelitinya satu-persatu. Hingga netra Audie menangkap sebuah kalung dengan inisial A. Cocok sekali dengan huruf awal namanya.
"Kakak suka itu..." Audie menunjuk. Xavier mengikuti arah telunjuk Audie. Diambilnya kalung itu lalu segera membayarnya.
"Wuah... Paman Xavier membeli kalung itu buat, Kak Audie?" kagum Bella.
Disisi lain, Audie tersenyum diam-diam. Romantis sekali Xavier malam ini, pikirnya. Sampai hatinya harus patah ketika lelaki jangkung itu berkata...
"Bukan, ini bukan untuknya. Enak saja!" nada bicara Xavier terdengar sangat menjengkelkan.
"Lalu untuk siapa, Paman? Bukannya itu huruf A, dan awal huruf nama Kak Audie 'kan A?" Bella menatap Xavier bingung.
"A! Kalung inisial A ini untuk Alea. Dan Paman akan memberikannya untuk tunangan Paman, bukan untuk orang lain."
Detik ini juga, hati itu kembali patah, remuk dan hancur berkeping-keping. Entah masih bisa diperbaiki atau tidak, namun cinta Audie kepada sosok lelaki indah itu tidak akan berubah apalagi berkurang meski hanya sebutir debu.
Audie menunduk, ia kuat, gadis itu kuat. Ia tahu dan ia sadar diri. Yang perlu ia ingat saat ini, jangan terlalu berharap kepada sesuatu yang tidak akan bisa digapai apalagi dirangkul ke dalam pelukan.
"Ihhh... Paman! Mana bisa kayak gitu, 'kan Kak Audie yang duluan mau beli kalung itu, kok malah Paman yang ambil?" bahkan Bella saja tidak terima atas perlakuan Xavier.
__ADS_1
Xavier menunjuk kalung-kalung yang bergantungan, "ada banyak kalung inisial A disana, dia bisa membeli yang lain. Kenapa harus kalung yang sudah Paman beli?!"
Mata Bella menatap Xavier tidak suka, "tapikan Paman nggak ***-"
"Tidak apa Bella, lagi pula Kakak tidak terlalu suka memakai kalung." Hanya sebatas alasan, meski sebenarnya hati Audie merasa tidak terima dengan perlakuan Xavier.
Audie merogoh tasnya dan mengambil handphone. Audie kembali menelpon Jack, namun lagi-lagi tidak diangkat. Audie mulai bertanya-tanya, apa sebenarnya yang terjadi dengan cowok itu? Tiba-tiba saja datang dan tiba-tiba juga menghilang. Audie ingin menyebutnya jailangkung untuk kali ini saja.
"Ayo kita pulang, Bella. Paman masih punya banyak pekerjaan." Ajak Xavier, menarik tangan Bella.
"Ayo, Kak Audie!" Lantas Bella juga menarik tangan Audie.
Mata Xavier melirik tajam, "Paman tidak mengajaknya!" pandangan Xavier beralih ke Audie yang sedang mununduk, "kamu datang kesini dengan siapa?"
Audie mendongak perlahan, "sama... sama Jack, Pak!"
"Kenapa kamu tidak pulang saja dengannya. Di mana dia?"
"Saya juga tidak tahu, Pak Xavier. Sewaktu saya sedang sibuk memilih-milih jajanan festival, dan saya baru saja menyadari kalau Jack sudah tidak ada lagi dibelakang. Saya juga tidak tahu dia pergi kemana, dia tiba-tiba saja menghilang." Audie menunduk lagi. Kali ini ia tidak berani menatap wajah datar Xavier yang memancarkan aura dingin. Jelas sekali Pria itu tidak menyukainya.
Xavier melenggang pergi, ditariknya lengan Bella agar mengikuti langkahnya. Audie semakin menunduk, hatinya terluka untuk kesekian kalinya, Xavier benar-benar tidak menyukainya, Xavier membencinya, entah sampai kapan perasaan tidak suka itu digantikan oleh nyaman.
Langkah Xavier terhenti sebelum jauh dari tempat dimana Audie sedang berdiri, ia tidak berbalik, namun ia meninggalkan kalimat yang membuat Audie mengangkat dagunya sedikit. "Ikut kami, saya akan mengantarkanmu pulang!"
Tidak ada senyum dibibir Audie, karna ia tahu, Xavier melakukannya karena peduli kepada semua orang, bukan karena ada rasa. Ok Audie! Untuk kedepannya sadar diri lebih baik.
***
Audie menatap jalanan dengan hampa. Untuk besok Audie akan memberi pelajaran kepada Jack karena telah meninggalkannya sendirian. Tapi, jika dipikir-pikir, ada untungnya juga buat Audie, ia bisa menikmati festival dengan Xavier meski tidak berjalan sesuai dengan keinginannya, setidaknya Audie merasa nyaman berada didekat Xavier.
Bokong Audie tidak bisa diam di jok belakang, entah apa yang membuat dia tidak nyaman. Sedangkan Xavier dan Bella tengah duduk manis di jok depan. Audie bosan, ia ingin mengajak seseorang untuk mengobrol. Tapi jika orangnya adalah Xavier, lebih baik jangan. Lalu....
"Pak Xavier! Kenapa tidak pergi ke festival dengan tunangan, Pak Xavier?" pada akhirnya Audie tidak bisa menahan mulutnya agar tetap diam. Audie cukup penasaran, alasan apa yang diberikan wanita bernama Alea kepada tunangnnya ini, sedangkan nyatanya ia telah berkencan dengan Pria lain. Yang tentu Pria itu adalah saudara Audie sendiri.
Hening, tidak ada jawaban. Audie sedang berbicara dengan batu kah?
Audie mendesis, ia menghembuskan napasnya panjang. Sudah ia duga, pasti ia dikacangin. Audie menyerah, ia menyandarkan kepalanya, lalu mulai memejamkan mata.
"Dia ada urusan keluarga!"
Dengan cepat Audie kembali membuka matanya. Untuk beberap detik ia loading dulu, barang kali ia salah dengar.
"Pak Xavier percaya begitu saja?"
Mata Xavier menatap Audie tajam dari balik kaca spion, "berhenti membuat kekacauan lagi. Urus saja dirimu, saya sudah dewasa, saya tahu mana wanita yang baik-baik dan pantas untuk diperjuangkan. saya dan Alea sudah bersama selama bertahun-tahun. Jadi jangan berniat untuk menghancurkan. Bahkan usiamu belum matang untuk mengenal apa itu arti sebuah hubungan."
Audie mendesis, "tahu mana wanita yang baik-baik katanya? Buktinya sekarang Alea telah mendua," gumam Audie. Ia memilih tidak ingin membuka mulut lagi, ia hanya menatap punggung Xavier yang sedang menyetir. Bahkan dari belakang saja Pria itu nampak sangat menawan.
Indah sekali makhluk ciptaan Tuhan ini. Audie terbuai, hanya dengan menyaksikan Xavier saja, matanya sayup-sayup tertutup.
...🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️...
...Bahkan dengan melihat wajahnya saja bisa menjadi obat pengantar tidur!...
__ADS_1