
Seorang wanita baru saja keluar dari dalam taxi. Tangannya menenteng kotak makan tapperware yang berisikan makan siang untuk seseorang. Siapa lagi kalau bukan untuk Xavier. Alea memang sering membawakan Pria itu makanan ketika kakak Xavier yang bernama Lufy tidak ada di rumah. Sedangkan Ibu Xavier yang seharusnya bertugas untuk mengurus keluarganya sibuk berpindah dari kota ke kota lain atau bahkan sampai ke luar negeri untuk urusan bisnis. Begitu juga dengan Ayah Xavier, lelaki yang menjadi tulang punggung keluarga itu sangat mencintai bisnis sehingga tidak jarang mereka lupa untuk kembali ke rumah.
Setelah membayar ongkos taxi, Alea masuk ke dalam rumah. Ia menjinjing tempat makanan itu, mengangkatnya ke udara sampai di atas pinggang lalu tersenyum hangat. Ada banyak suara di dalam rumah, bisa Alea simpulkan bahwa Xavier sedang berprofesi sebagai tutor.
Baru beberapa langkah Alea berjalan, tiba-tiba ia terhenti saat medengar kalimat yang begitu lantang diucapkan oleh seseorang. Wajahnya merah padam, ia mengepal kedua tangannya kuat-kuat. Giginya menggertak, menggigit udara dengan kuat saat mendengar kalimat seorang gadis dari dalam sana.
"Aku Sangat Mencintaimu, Pak Xavier!"
Langkah gusar masuk dari ambang pintu, Alea melemparkan kotak makan yang ia bawa ke sembarang arah hingga isinya berhamburan dan berceceran di atas lantai.
Satu tamparan mendarat kasar di pipi Audie, gadis itu merasakan pipinya kini sedang berdenyut. Sakitnya di pipi Audie seakan merupakan sebuah jawaban.
Dada Alea naik turun, napasnya terdengar gusar hampir ingin menjambak rambut gadis di hadapannya. Sedangkan ketiga manusia di antara mereka yaitu Arini, Indah dan Xavier tampak syok saat melihat kejadian barusan.
Pupil Xavier terbuka lebar, "Alea, apa yang kamu lakukan?" tanya Xavier khawatir, ia masih terkejut dengan kedatangan tunangannya yang secara tiba-tiba.
"Dasar gadis sialan, apa selama ini kamu ingin belajar dengan Xavier hanya untuk mencari perhatian?" suara bentakan itu berhasil membuat tubuh Audie bergetar. Ia masih memegangi pipinya yang kepanasan, sebagian helai rambutnya menutupi wajahnya yang pucat. Sebenarnya Audie masih tidak bisa menstabilkan dirinya. Hukuman yang di berikan Bu Nina sewaktu di sekolah berhasil mengambil sebagian energi tubuhnya.
Xavier menghentikan tangan Alea yang hampir ingin menampar wajah gadis di hadapannya, seketika Alea memberontak meminta untuk dilepaskan.
"Tenang, Lea. Kenapa harus ngamuk gini, sih?" lerai Xavier.
"Lepasin aku, Xavier. Aku ingin menghajar cewek sialan ini."
Arini dan Indah yang melihatnya segera melindungi Audie dengan menyembunyikan tubuh gadis itu di belakang tubuh mereka.
"Sini kamu, urusan kita belum selesai. Kamu pikir, kamu bisa dengan mudahnya merebut Xavier dari saya? Dasar, wanita yang tidak punya harga dirinya sama sekali," teriakan menggelegar itu berhasil menyayat hati Audie, ia masih terdiam dengan kepala yang tertunduk seakan menyadari kesalahannya.
Tatapan Alea terfokus pada casing ponsel Audie yang ada di atas meja, hal itu membuat Alea semakin ingin menjambak rambut panjang Audie saat mendapati foto Xavier ada di sana.
Alea mengambil ponsel Audie lalu membantingnya begitu kuat, mendarat keras tepat mengenai tembok. Berakhirlah ponsel itu hancur tidak berbentuk. Bahkan dibawa ke tukang service sekali pun tidak akan bisa diperbaiki.
"ALEA..." Bentakan itu berhasil membuat Alea terdiam, matanya mendelik tajam ke arah wajah tunangannya. Alis wanita itu saling bertautan, ia tersenyum jengah seakan tidak percaya apa yang baru saja tungannya lakukan.
"Kamu membentakku?" tanya Alea menunjuk dirinya sendiri.
Xavier mencoba menenangkan wanita itu, perlahan ia menyentuh pundak Alea lalu mencoba bersikap lembut. "Bukan begitu, Lea. Tapi bisakah kamu bersikap tidak seperti ini? Kita bisa membicarakannya secara baik-baik."
Mata Alea semakin mendelik tidak bercaya, menepiskan tangan Xavier yang bertengger di atas pundaknya. Lantas ia tersenyum kecut, "sekarang kamu membela bocah ingusan ini? Oke, sekarang aku paham."
Tidak ingin berbasa-basi lagi, Alea segera enyah dari hadapan mereka, meninggalkan ruang tamu dengan langkah yang sangat gusar. Dadanya naik turun lalu membanting pintu dengan kasar.
Xavier yang tidak bisa membiarkannya segera mengejar, ia mengambil kunci mobil yang berada di atas nakas. Sebelum keluar dari ambang pintu Xavier menatap Audie sekilas, hingga Audie sadar bahwa tatapan itu adalah tatapan mematikan. Sepertinya, setelah ini Xavier tidak akan bisa memaafkannya.
"Kalian pulang saja, saya tidak bisa mengajar kalian dalam keadaan mood seperti ini." Setelah itu Xavier pergi, hendak mengejar langkah Alea yang sudah jauh pergi.
Ketiga gadis yang ada di ruangan tamu itu hanya terdiam membisu. Arini mengalihkan pandangannya kepada Audie yang masih menunduk sembari memegangi pipinya dengan telapak tangan.
__ADS_1
Arini mengelus pundak gadis itu, "lo nggak papa, kan?" saat ini Arini tidak ingin menyalahkan Audie. Ia tahu, pasti gadis itu masih syok mendapatkan tamparan kasar dari Alea. Tamparan untuk pertama kalinya.
***
Malam ini udara cukup dingin, namun tidak membuat Irfan berlalu dari balkon rumah. Jarinya tengah men-scroll layar ponselnya ke samping, melihat-lihat fotonya dengan pacarnya saat berkencan di hari pertama mereka jadian. Sudah 2 tahun berlalu, dan rasanya masih tetap sama. Sedikipun cintanya tidak pudar untuk wanita itu. Baginya, Alea tetaplah Alea. Cantik, baik, ramah dan selalu memikat hati.
Sesekali Irfan mengisap sebatang rokok yang tersisa setengah. Menjentikkan jarinya agar puntungnya jatuh di atas asbak. Asapnya menggumpal keluar dari mulut serta lubang hidung Irfan. Begitulah, jika Pria itu ingin merokok, terpaksa ia harus menghindari dua wanita yang ia cintai. Linda dan juga Audie. Irfan hanya tidak ingin orang yang di cintainya mengidap riwayat penyakit paru-paru hanya karena dirinya.
Pandangan Irfan tertuju ke arah pintu saat mendengar derap langkah seseorang, matanya memicing menunggu kedatangan sosok yang membuatnya penasaran.
Cepat-cepat Irfan menjatuhkan setengah batang rokok yang tadinya terjepit diantara jari tengah dan telunjuknya, Irfan menginjak ujungnya yang masih menyala terbakar. Lantas Irfan melambai-lambaikan tangannya di udara berharap gumpalan asap itu segera diserap oleh tumbuhan untuk digantikan dengan oksigen baru.
Irfan melemparkan senyuman melihat kedatangan adiknya. Audie mendekati Irfan, mengambil duduk di bangku kayu yang cukup panjang dan lebar. Kedua tangannya terselip di saku hoodie-nya berukuran over size, mengenakan tudungnya seakan sedang memakai jilbab.
"Abang ngapain disini?"
Irfan sedikit menjauhkan asbak, memberikan Audie tempat duduk lebih luas. "Nggak papa, cuma mau cari angin aja."
Audie mengambil ponsel Irfan di atas bangku dengan layar yang masih menyala. Matanya mendelik kaget saat mendapati dua sejoli sedang berpose ala-ala Korean Couple. Beberapa kali ia mengerjap-erjapkan matanya, barang kali ia salah lihat.
"I-Ini siapa, bang?" tanya Audie mengalihkan pandangannya kepada Irfan.
"Oh, gadis itu? Dia pacar abang! Maaf abang nggak pernah bawa dia ke rumah. Soalnya Alea selalu menolak."
Mulut Audie terbuka lebar, rahangnya terjatuh cukup lama, ia tidak menyangka dengan kenyataan yang baru saja ia dengar. Audie yakin, kali ini ia tidak salah lihat. Sudah jelas-jelas foto wanita yang bersama Irfan adalah tunangannya Xavier. Apalagi, saat Irfan mengatakan nama wanita itu adalah Alea. Nama yang sama dengan tunangan guru privatnya.
"K-Kalian... Sudah berapa lama pacaran?"
"Dua tahun. Kenapa, dek?"
Audie menarik napasnya dalam-dalam, sepertinya ia perlu memberi tahu Irfan kalau wanita yang sedang ia kencani saat ini memiliki Pria lain selain dirinya.
"Apa abang tahu, kalau gadis ini-"
"Susu cokelat datang," kalimat Audie terpotong saat Linda datang membawakan nampan berisikan segelas susu cokelat dan segelas teh hangat.
Wanita ibu rumah tangga itu menghampiri putra putrinya, mengambil duduk di antara mereka berdua.
"Makasih banyak, Mah!" Ucap Irfan, ia segera menyeruput teh hangat buatan Linda.
Audie juga mengambil miliknya, susu cokelat kesukaannya. "Makasih, Mama!" Seru Audie dengan senyuman bibir yang mengembang.
"Sama-sama, sayang." Satu kecupan mendarat di dahi Audie yang mulus dan bersih, terbebas dari bayang-bayang noda jerawat meski hanya satu biji.
"Ini siapa?" tanya Linda saat mendapati foto di ponsel Irfan dengan layar yang masih menyala.
"Pacar Irfan, Mah."
__ADS_1
Linda menyambar benda persegi itu dari tangan Audie, "lah, kok nggak pernah dibawa ke rumah, sih? Mama Kira Irfan selama ini menjomblo loh. Punya wanita secantik ini kenapa nggak di akui kalo dia pacar kamu?" Linda menempeleng pelan bahu Irfan. Pemuda itu hanya terkekeh pelan.
"Bukannya nggak di akui, Ma, dan bukannya Irfan nggak mau bawa dia ke rumah. Alea sendiri yang nggak mau, dia bilang dia belum siap bertemu dengan calon mertuanya."
Linda mengangguk paham, "jadi pacar kamu namanya Alea?" tanya Linda kemudian, Irfan hanya mengangguk.
"Wah ... Bisa berteman baik nih sama Audie," lanjut Linda sehingga mengundang tawa Irfan. Keduanya tertawa di dinginnya malam itu.
Sedangkan Audie, dia hanya terdiam sedari tadi tidak ingin ikut menimpali. Lagi pula, bagaimana dia bisa berteman baik dengan Alea, sedangkan wanita itu sudah membencinya karena sebuah kesalah pahaman.
Sungguh, Audie tidak berniat untuk merebut Xavier darinya, tapi Alea telah berhasil membuat Audie patah saat ditampar oleh wanita itu. Namun, yang menjadi pertanyaan Audie saat ini adalah, apakah Alea sedang mendua? Apakah dia ingin mempermainkan hati Irfan, saudaranya? Audie tidak tahu, saat ini ia bimbang, antara mengatakan sebenarnya pada Irfan atau dia tunggu saja kapan waktu yang tepat untuk mengatakannya.
Tawa Linda dan Irfan tiba-tiba berhenti saat mendengar bel rumah berbunyi.
"Siapa tamu malam-malam begini?" tanya Linda pada kedua anaknya.
Detik kemudian panggilan video call membuyarkan lamunan Audie. Seketika gadis itu tersentak kaget lalu melirik siapa yang menelpon di ponsel Irfan. Audie segera menggeser panel warna hijau saat mendapati nama 'Ayah' tertera di sana.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalam, Pah!" Balas Audie, Linda dan Irfan secara bersamaan. Kepala mereka saling beradu demi melihat wajah Pria yang ada di layar ponsel.
"Papa kapan pulang?" itulah pertanyaan pertama yang Audie lontarkan.
"Iya, nih. Anak gadismu ini sudah merindukanmu, Pah. Jangan sibuk sama tugas kantormu dulu," saran Linda.
Irfan mengangguk semangat, sedikit ia menjauhkan kepala Audie agar wajahnya tampak oleh Ayahnya di layar Ponsel Pria itu.
Dimas menggeleng pelan sambil tersenyum mengejek. "Bel rumah bunyi kenapa nggak di buka?" tanya Dimas, memperlihatkan tiga paper bag besar yang tentunya isinya adalah oleh-oleh.
Linda, Audie dan Irfan saling memandang satu sama lain, detik itu juga mereka berlari untuk membuka pintu. Teh hangat yang sudah dingin dan segelas susu panas yang sudah menghangat mereka abaikan begitu saja. Ketiganya berlari terbirit-birit berusaha memenangkan siapa orang pertama yang akan berhasil membukakan pintu.
"YEY, PAPA PULANG!" Teriak Audie, padahal ia masih menuruni anak tangga.
Audie berhasil pertama membukakan pintu, dan mendapati seorang Pria tengah tersenyum lebar memamerkan barisan gigi-giginya hingga bulu-bulu kumisnya pun ikut terangkat. Sontak Audie langsung menyambar tubuh itu, memeluknya. Yang di pelukpun membalas, ia membelai lembut samurai panjang Audie. Linda datang dengan Irfan, keduanya hanya tersenyum. Betapa rindunya Audie dengan Pria yang satu itu.
"Akhirnya kamu pulang juga, Mas. Di kira udah lupa sama keluarga sendiri," ujar Linda sambil bersidekap dada seperti nyonya.
Dimas hanya terkekeh, keluarga itu masuk ke dalam rumah. Mereka berkumpul di sofa, disanalah banyak kenangan manis terpahat. Dimas memberikan paper bag yang ia bawa. Satu untuk Linda, satu untuk Irfan dan satu lagi untuk Audie.
"Handphone?" tanya Irfan dengan alis yang saling bertautan saat Audie membongkar bingkisan yang di berikan oleh Dimas, heran mengapa adiknya meminta dibelikan ponsel.
"Bukannya HP kamu masih baru, dek? Kok mintanya sama Papa HP lagi, sih?"
Audie memfokuskan pandangannya ke depan, mencari alasan yang tepat untuk pertanyaan Irfan. "I-Ini bang, kemarin handphone Audie nggak sengaja jatuh di kamar mandi, jadi layarnya pecah kemasukan pula sama air." Audie berbohong, tentu saja dia berbohong. Padahal yang sebenarnya adalah, Alea yang telah menghancurkan ponselnya. Melemparkannya begitu keras ke dinding.
Irfan manggut-manggut, percaya begitu saja dengan kebohongan adiknya.
__ADS_1
...TBC...