
Hari itu cuaca sangat cerah, Audie berinisiatif untuk pergi ke minimarket terdekat sekadar untuk membeli cemilan dan plaster. Tangannya tidak sengaja tergores saat membantu Linda mengiris bawang untuk bumbu masakan mereka malam ini. Gadis itu tidak memberi tahu ibunya, bagi Audie luka sekecil itu tak apa. Sekali-kali untuk menguji nyalinya melihat darah.
Sesampainya di minimarket, niat hanya untuk membeli sebatang cokelat dan es krim satu rasa, pada akhirnya segala macam es krim dan segala yang berbentuk cokelat terpampang jelas di struk yang Audie terima dari si abang kasir.
Saat membalikkan tubuh, kening Audie kejedot benda yang cukup lunak. Bukannya mendongak untuk memastikan siapa yang ia tabrak, gadis itu malah menunduk memunguti belanjaannya yang berserak.
"Maaf! Apa kamu baik-baik saja?"
Audie terpaku. Bola matanya membulat seindah bola mata boneka. Dia tahu pemilik suara itu, namun ia masih memilih jongkok memunguti es krimnya yang berserakan. Lalu, perlahan ia mendongak, untuk membuktikan bahwa tebakannya tidak salah.
Segaris senyum tercipta di bibirnya ketika melihat lelaki tersebut adalah Xavier, si pemilik hati yang tebal hingga Audie tidak bisa menyentuhnya.
Bahagianya hanya sementara, ketika manik mata Audie turun dan menyaksikan tangan Xavier sedang digenggam erat oleh seorang wanita. Wanita yang memiliki kulit bersih dan lembut, serta ada benda melingkar di jari wanita itu, lebih tepatnya sebuah cincin tunangan.
"Audie?"
Audie kembali membereskan belanjaannya. Namun, Xavier justru ikut menunduk untuk membantu cewek itu.
Mata Audie mendelik tajam saat tumit dari heels wanita tunangan Xavier menginjak dengan kasar cokelat yang di pungut Audie hingga coklat tersebut tidak berbentuk lagi.
"Kenapa di injak, Alea?"
Wanita bernama Alea itu menarik paksa tangan Xavier agar dia segera berdiri.
"Sayang, ngapain sih bantuin dia? Harusnya dia yang minta maaf karena sudah nabrak kamu. Lihat tuh kemeja kamu, jadi ada bekas lipstiknya 'kan?!" tunjuk Alea pada dada Xavier di mana dua kancing bajunya terbuka, membiarkan angin menyapu dada berotot itu.
"Tapi cokelatnya jangan di injak juga, Lea," ujarXavier, nadanya terdengar lembut, tidak pantas disebut sedang membentak.
Kemudian Xavier membeli cokelat yang baru, lalu memberikannya kepada Audie.
"Tidak usah, Pak. Lagi pula, saya masih punya banyak stok." Audie memperlihatkan barang belanjaannya.
"Tidak apa, terima saja!"
Dengan ragu Audie menerima sebatang cokelat itu, lalu permisi untuk segera pergi.
"Ngapain sok baik sama bocil itu sih, Sayang?" Alea bersidekap dada. Dia kesal, terlihat dari raut wajahnya yang masam.
"Dia anak didik aku, sesekali harus dibaikin juga. Dia udah aku anggap sebagai adik kandung aku sendiri. Lebih baik kamu cari sekarang apa yang mau kamu beli."
Audie terdiam di ambang pintu alfamart, lalu kemudian ia segera pergi. Ada rasa ketidak adilan baginya saat Xavier mengatakan ia hanya di anggap sebagai adik Pria itu saja.
***
Audie terduduk di atas bangku belajar di depan laptop, sedari tadi ia hanya memerhatikan coklat yang di berikan Xavier sewaktu di minimarket. Audie tersenyum kecut mengingat ia hanya di anggap sebagai adik kandung Pria itu.
Audie mengambil sebuah kotak di atas meja belajarnya lalu meletakkan coklat itu di sana, berniat untuk menyimpannya. 2 Januari 2021 adalah tanggal expired coklat tersebut. Jika selama setahun ini ia tidak bisa mendapatkan Xavier, maka Audie akan membuang coklat itu ketika sudah kadaluarsa.
Audie kembali meletakkan kotak tersebut di dekat vas bunga di samping jendela kaca. setelah itu Audie bergegas ke kamar Irfan, mengingat nama tunangan Xavier itu ternyata sama dengan nama pacar saudaranya.
"Assalamualaikum, Bang!" Kali ini Audie tidak ingin menggedor-gedor pintu, ia ingin menjadi adik yang baik dan tahu tata krama.
"Wa'alaikumussalam! Buka aja dek, pintunya nggak di kunci kok," balas Irfan dari dalam sana.
Audie membuka pintu dan mendapati Irfan sedang berkutik di depan layar laptop. Seperti biasanya, Audie tidak berani memasuki kamar abangnya, ia hanya tertegak di ambang pintu sembari memberi kode kepada Irfan bahwa ia ingin menanyakan sesuatu.
"Ada apa? Abang lagi belajar."
"Adek boleh nanya sesuatu nggak?"
"Tanya aja." Irfan masih setia memfokuskan kedua matanya menatap layar laptop, tangannya lincah mengetik di atas keyboard.
"Kemarin malam abang bilang nama pacar abang itru Alea, yah?"
__ADS_1
Irfan segera menghentikan aktifitasnya, matanya kini mendelik menatap Audie. "Iya, emangnya kenapa? Kok kamu kepo banget ya sama pacar abang? Biasanya kamu nggak pernah peduli siapa pacar abang, cantik atau jelek, banci apa bencong, kaya atau miskin. Ngapain tiba-tiba kamu banyak nanya soal pacar abang?"
"Nggak papa, bang. Cuman, nama pacar abang sama dengan nama pacar guru privat adek."
Sorot mata Irfan menyalakan tatapan menginterogasi. "Lah, sekarang kamu peduli juga dengan pacar guru privat kamu. Dari mana kamu kenal pacarnya? Peduli apa kamu sama pacar guru privat kamu, dek?"
Audie mulai gugup, apa yang Irfan katakan itu ada benarnya juga. "Oh iya ya, ngapain juga Audie nanya sama abang. Bisa saja pacar kalian namanya aja yang sama namun orangnya berbeda." Audie pergi meninggalkan Irfan sembari menggaruk-garuk tengkuknya.
"ADEK... TUTUP PINTUNYA..." Teriak Irfan dari dalam sana namun tidak di sahuti oleh Audie. Gadis itu malah pergi memasuki kamarnya dengan sejuta pertanyaan.
***
Hari ini Audie terlihat tidak bersemangat. Saat makan di kantin bersama Arini dan Indah, sedikit pun lidah Audie tidak mencicipi bakso di hadapannya. Ia hanya mengaduk-aduknya, memasukkan cabai dan beberapa penyedap lainnya namun tidak berniat untuk memakannya.
Di dalam kelas, Audie hanya mencoret-coret buku pelajarannya dengan bolpoin, tidak jarang pula ia heran kenapa ia menulis nama Xavier di sana. Bahkan Miss Resty sudah menegor Audie beberapa kali, tapi Audie tetap saja tidak bisa keluar dari dunianya. Ia terjerat di sana, yang ada di pikirannya hanyalah Xavier. Ketika Miss Resty melontarkan pertanyaan Bahasa Inggris dari monyet, Audie justru menjawab Xavier. Seketika suasan kelas riuh dengan gelak tawa siswa-siswi lain, bahkan Xavier yang tidak memiliki salah apapun malah di samakan dengan nama hewan yang biasa memanjat di batang pohon.
"keknya, hari ini gue libur les dulu deh," ujar Audie, padahal saat ini mereka sudah sampai di depan gerbang rumah Xavier.
Indah meletakkan punggung tangannya di atas dahi Audie, "lo sakit?"
dengan lemahnya Audie menggeleng, "bukan, cuman gue malas aja belajar untuk hari ini."
Arini menarik tangan Audie paksa. "Nggak bisa, lo harus belajar hari ini. Malas itu bukan suatu alasan, Audie. Lo nggak kasihan apa sama nyokab lo, setiap lo menyerahkan nilai ujian akhir selalu tertera angka merah di sana. Sekali-kali lo harus banggain orang tua lo. Apalagi nilai semester ini menentukan kelulusan kita. Lo nggak mau apa masuk ke perguruan tinggi bareng kita-kita?"
Indah membuka pintu pagar yang tidak di kunci, mereka memaksa Audie si pemalas untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Xavier sudah tertegak di ambang pintu, sepertinya ia sedang menunggu kedatangan seseorang. Tentunya, dengan pakaian yang sudah rapi.
"Assalamualaikum, Pak!" Sapa ketiganya namun tidak diperdulikan oleh orang yang mereka sapa. Ia justru malah sibuk pontang-panting sesekali melihat jarum jam pada arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Pak ...." Panggil Arini untuk menyadarkan Pria itu.
"Ah, kalian. Wa'alaikumussalam!" Jawab Xavier setelah menyadari dia tidak menjawab salam anak-anak gadis yang berdiri keheranan menatapnya.
"Kenapa, Pak. Kenapa risau begitu?" tanya Indah.
"Maaf, saya tidak bisa mengajar untuk hari ini. saya lagi sibuk, kalian bisa datang besok."
Arini tiba-tiba memegangi perutnya, raut wajahnya masam, "Pak, s-saya... Apa boleh saya menumpang ke toilet. sepertinya saya tidak bisa lagi menahan sampai pulang ke rumah," kata Arini sedikit memelankan oktaf suaranya.
"masuk saja, kamu tahukan di mana kamar mandi?"
Arini mengangguk, "iya, Pak. kemarin kak Lufy menunjukkannya."
Arini segera berlari sembari memegangi perutnya. Bau angin yang keluar karena terlepas tidak terkendali tersebar ke mana-mana. Membuat ketiga manusia di sana segera menutup indra penciuman mereka menghindari bau busuk itu.
"Gue juga pengen buang air kecil, lo mau ikut nggak, Audie?" tawar Indah.
Audie hanya menggeleng, "gue tunggu di sini aja."
Mendengar jawaban dari Audie, Indah segera berlalu mengejar langkah Arini, tidak peduli dengan bau-bau yang tidak sedap menyebar di ruang tamu.
Atmosfer kini terasa sangat berat, angin tidak datang memecahkan kesunyian. Tertinggal Xavier dan Audie tertegak di ambang pintu. Audie menunggu kedua temannya selesai dari kamar mandi, sedangkan Xavier menunggu kedatangan seseorang yang sangat istimewa baginya.
Xavier teringat sesuatu, ia pun masuk ke dalam rumah. Sedangkan Audie menghembuskan napas lega akhirnya ia terbebas dari ketegangan barusan.
Tidak berselang lama, Xavier muncul setelah mengambil sesuatu dari dalam kamarnya, "ini punyamu bukan?" tanya Xavier sambil menyodorkan kotak makan milik Audie.
Mata Audie terbuka lebar, tidak habis pikir kalau Xavier bisa menemukan kotak makan miliknya yang telah ia buang semalam ke dalam tong sampah.
"T-Terimakasih, Pak!" Gugup Audie.
"Ini ... semalam saya membawa bekal karena takut saya kelaparan, tapi saya membuangnya ke dalam tong sampah setelah menyadari saya masih merasa kenyang," alasan yang tidak masuk akal sebenarnya bagi Audie, tapi gadis itu hanya berusaha mencari cara agar ia tidak merasa malu.
"Bukannya sandwich-nya untuk saya, ya?"
__ADS_1
Mata Audie mendelik kaget.
"Saya mendapatkan selembar kertas di dalamnya," lanjut Xavier.
Rasanya atmosfer semakin berat, cuaca semakin panas saat Audie baru menyadari ia sempat menuliskan kalimat di selembar kertas itu, "Dari Audie untuk Pak Xavier tampan, makan sandwich-nya, yah:)"
Audie membuka kotak makan miliknya, tidak ada apapun di sana, kosong dan bersih.
"Saya sudah memakan sandwich-nya, dan saya sudah mencuci kotak makannya."
Entah bagaimana Audie ingin mengekspresikan dirinya. Tersenyum? ia merasa malu. Tertawa? tidak ada yang lucu. Menangis? bukan waktunya untuk berduka. Cemberut? tapi Audie sedang bahagia.
"T-Terimakasih, Pak. Seharusnya bapak tidak perlu melakukannya, saya bisa mencucinya di rumah. Dan... Bukannya saya sudah membuangnya ke dalam tong sampah, ya?"
"Yang kotor hanya kotak makannya, tidak untuk isinya. Lagi pula, tidak boleh membuang-buang makanan. Mubatjir! Banyak orang yang membutuhkan di luar sana."
Audie hanya tersipu malu, bukan karena ceramah Xavier, tapi tidak lain adalah karena Xavier masih bersedia memakan sandwich pemberiannya.
Tidak sengaja sepasang mata Xavier melihat casing ponsel yang Audie genggam. Alis cowok itu saling bertautan, heran mengapa ada fotonya di sana.
"Mengapa fota saya ada di sana?" tunjuk Xavier pada casing ponsel Audie.
Dengan cepat-cepat Audie menyembunyikan ponselnya di belakang punggungnya. Tapi percuma saja, Xavier sudah melihatnya dengan jelas. Jantung Audie kini sedang tidak baik-baik saja.
"Mengapa foto saya ada di casing ponselmu?" ulang Xavier.
Audie tidak bisa berkata. Sebelumnya, ia belum menyusun kalimat jika Xavier tiba-tiba berhasil menemukan fotanya di casing ponsel Audie.
"Bagaimana ini Audie, mengapa lo sangat ceroboh sih?" batin Audie.
"Apa ini waktunya gue ungkapin semuanya kalo gue suka sama Pak Xavier? sepertinya ini waktu yang tepat setelah gue udah menyimpan rasa selama satu tahun. setelah mendengar jawaban pak Xavier, gue akan menanggung semua lukanya. Oke, waktunya Audie, lo pasti bisa." Gumam Audie.
"Sebenarnya..." ucap Audie, ia berusaha mengumpulkan keberaniannya.
"saya..." Kali ini, Audie pasti bisa menyelesaikan kalimatnya.
"Suka sama,"
"SAYANG..." Teriak seseorang dari arah pintu pagar.
Melihat kedatangan kekasihnya, Xavier pun berlari memeluk pinggang wanita itu, menggendongnya lalu berputar-putar.
Rasa sesakpun tiba-tiba melanda hati Audie. Baru juga ia ingin menyampaikan isi hatinya kepada Pria itu, namun Audie harus bersedia menerima luka.
"Jangan nangis Audie, gue mohon jangan nangis. Alea itu tunangannya, dan lo harus sadar diri." Batin Audie, menguatkan dirinya meski sebenarnya ia sudah sangat kecewa.
"Dari mana saja? Aku sudah sangat menghawatirkanmu." Kata Xavier.
"Aku tidak apa-apa, sayang. Sekarang kita bisa pergi 'kan? Maafkan aku yang tidak mengijinkanmu datang ke rumah."
Xavier hanya mengangguk paham, "sekarang kita bisa pergi kan, sayang. Sudah lama kita nggak kencan." Tangan gadis itu terlalu nakal merangkul Xavier menuju mobil yang terparkir.
"AUDIE..." Panggil Xavier menurunkan kaca mobilnya, membuat Audie tersadar dari dunianya.
"Iya, Pak."
"Jangan lupa tutup pintunya setelah kedua temanmu itu sudah keluar dari kamar mandi, tidak perlu di kunci karena sebentar lagi Kak Lufy bakalan pulang."
Audie hanya mengangguk. Tidak berselang lama mobil yang di kendarai Xavier melaju meninggalkan Audie yang sedang bermonolog di ambang pintu.
"Menunda mengajar karena urusan penting? Dan ternyata hal yang penting itu adalah berkencan?" Audie tersenyum kecut lalu tertawa, mengejek alasan Xavier menunda untuk mengajar mereka.
Arini muncul sembari mengelus-elus perutnya. Ia menghembuskan napas lega setelah menyelesaikan hajat-nya. Indah mengekor di belakang, menutup hidungnya menghindari bau-bau yang tidak sedap.
__ADS_1
"Lo kenapa, kenapa manyun gitu? Pak Xaviernya mana?" tanya Arini setelah tidak menemukan keberadaan guru privatnya itu dimana-mana.
Audie hanya menatap lesu kedua sahabatnya, lalu memeluk kedua gadis di hadapannya sembari merengek, hampir saja merusak gendang telinga Arini dan Indah.