
Sepertinya, Xavier tahu siapa pemilik sosok tubuh mungil itu. Tapi, ada keraguan di dalam hatinya untuk mendekat dan sekedar bertanya apa yang telah terjadi. Ia tidak ingin ada masalah lagi, tidak ingin gadis itu semakin berharap padanya lagi, dan tidak ingin jika sampai nanti Alea terluka karena terlalu dekat dengan gadis itu.
"Paman Xavier kenapa?" suara Bella tidak berhasil membuyarkan lamunan Xavier, bahkan keramaian disekitarnya tidak mampu membuatnya terusik. Ia ragu mendekati Audie, tapi ia juga takut terjadi sesuatu. Anak perempuan tersebut terus mencari kesegala penjuru bagaikan sedang tersesat di dalam hutan.
Bella mengikuti kemana kiranya mata Pamannya tertuju, sampai ia mendapati seorang gadis yang begitu familiyar baginya dengan radius tidak jauh dari mereka. "Kak Audie?!" gumam Bella.
Sedangkan Audie, ia tidak menemukan kemana batang hidung Jack pergi. Cowok itu menghilang tiba-tiba, meninggalkannya sendirian. Audie sempat berpikir ini di sengaja, tapi, mungkinkah Jack sejahat itu?
Keramaian di festival tidak terhitung jumlahnya, namun Audie seakan sendirian, karena tidak ada seorang pun yang ia kenal. Kaki Audie melangkah mundur. Ia tidak suka dengan preman, anak punk dan sejenisnya. Namun sekarang, preman di sana berhasil membuat kedua kakinya gemetar. Ingatan masa lalu membuat ia ketakutan. Hari kedua paling mengerikan setelah hari di mana ia dan Irfan hampir menutup mata untuk selamanya.
Preman itu mendekat, namun seketika kaki Audie terasa seperti lumpuh. Bahkan lidahnya terasa kelu. Sulit sekali untuk bergerak tatkala keadaan membuat diri ketakutan. Bukan ini yang dia inginkan, tapi tubuh itu bereaksi begitu saja.
"Mau kemana, neng?"
Audie benci suara serak yang baru saja menyapu gendang telinganya.
"Sendirian ajah nih, pasti jomblo. Cantik-cantik kok jomblo, mending sama abang aja. Mau nggak?" Kelima Preman itu tersenyum jahil. Wajah kusam mereka di bingkai jenggot tipis nan hitam.
"Ayo neng, sama abang aja!"
Satu hal lain yang dibenci Audie ketika ia disentuh dengan tangan yang dipenuhi tato. Ini adalah mimpi buruk, mimpi buruk yang membuat Audie ingin segera terbangun. Ditambah lagi aroma bau alkohol menyeruak menembus hidung Audie.
Audie kembali melangkah mundur, kelima preman itu justru semakin mendekat. Bahkan tidak segan mereka mencolek tangang Audie, bahu Audie, dan juga ingin merangkul pinggul Audie. Gadis itu menangis dalam diam, telah menggenang air di pelupuk matanya, bahkan untuk berteriak saja ia tidak mampu. Langkah mereka semakin maju, dekat sekali dengan Audie, bahkan ia bisa merasakan napas mereka semua memburu dalam radius beberapa centimeter lagi.
Tawa para preman itu mengudara. Audie memejamkan sepasang matanya kuat-kuat hingga tidak ada celah untuk melihat. Kembali memori yang lalu bersemayam. Audie benci itu. Audie menarik napasnya dalam-dalam. Kali ini ia ingin balas dendam. Meski Audie tahu ia akan kalah karena ia sendiri, sedangkan preman dihadapannya berjumlahkan lima orang. Tapi, untuk apa salahnya mencoba. Audie tahu ia pasti bisa, ia ingin balas dendam. Dan Audie tahu, inti kelemahan lelaki.
Tindik di hidung, lidah dan telinga kelima preman itu ikut berayun-ayun tatkala mereka tertawa. Betapa lucunya saat mereka melihat mata Audie terbuka lebar seakan sedang mengancam agar mereka menjauh. Mereka tidak takut, justru terlihat seperti seonggok buruan. Audie benci ditertawakan. Melihat mulut mereka menganga lebar, ia ingin segera memberi pelajaran.
Di ayunkannya kaki kirinya, ditariknya napas dalam-dalam, kedua tangan Audie terkepal, ia berteriak kencang bersamaan dengan tendangan mengenai ************ salah satu preman tersebut.
Merasa belum cukup puas, ia melakukan hal yang sama kepada lima preman itu. Sehingga tawa yang tadinya menggelegar digantikan dengan ringis kesakitan. Tiga dari mereka terkapar di atas tanah, sisanya masih berdiri namun tidak seimbang. Memegangi benda berharga mereka yang terletak dibawah pusar.
Audie puas? Tidak, gadis itu belum puas. Ia berjalan gusar, tiga preman yang terkapar tadi di injaknya menggunakan sepatu heels yang cukup runcing. Audie melompat-lompat seakan ia sedang membunuh kecoa. Menginjaknya sampai hancur. Ditariknya rambut kepala preman itu kuat-kuat. Kedua sudut mata preman itu telah berair, kulit kepalanya terasa seperti terbakar.
"MATI KAU BAJ*NGAN, MATI ...." Audie berteriak heboh.
Pandangannya teralihkan tatkala satu mangsanya tidak lagi berdaya. DIliriknya mangsa selanjutnya, seketika wajah preman itu masam, ia mengibaskan kedua tangannya seakan ingin berkata "tidak". Ia memelas minta ampun, bahkan rasa sakit di benda berharganya belum juga menghilang, rasanya ingin seperti mati saja, namun Audie sudah terlanjur marah.
"KAU ... SIYATTT... MATI KAU, RASAKAN INI ... RASAKAN LELAKI ****** ...." Audie tidak merasa lelah, ia kembali menginjak mangsa selanjutnya seperti menginjak padi. Audie berteriak heboh, senang sekali rasanya balas dendam kepada orang yang hampir merenggut kesuciannya. Meski bukan mereka orangnya, tetap saja, mereka itu adalah kawanan para preman.
Keringat bercucuran, semua mangsanya telah tumbang, Audie berkacak pinggang sambil menghirup udara dengan rakus, ia bangga pada dirinya. Entah kekuatan apa yang datang menghampiri Audie sehingga ia mampu mengalahkan semua preman berotot besi itu. Audie senang menghajar mereka. Ia senang telah melukai manusia-manusia bertato itu. Namun tiba-tiba, sudut matanya berair tanpa ia minta. Kala ia tidak sanggup lagi, akhirnya ia tumpahkan tangisnya.
"Bukannya itu Kak Audie yah, Paman?" Bella menarik-narik ujung baju Xavier, hingga akhirnya Pria itu tersadar.
Bella berlari untuk menemui Audie, meninggalkan Xavier sendirian di sana.
"Bella ... Kemana kamu, tunggu paman. Awas jatuh, Bella!" Teriakan itu tidak berhasil menghentikan langkah gadis kecil tersebut.
Xavier mengejar, namun ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan. Audie mengalahkan kelima preman itu? Xavier pasti sedang salah lihat. Beberapa kali Xavier memejamkan matanya tatkala teringat dengan tendangan Audie mengenai harta berharga para preman itu. Rasanya pasti sangat sakit sekali. Xavier tidak bisa bayangkan, jikalau ialah yang mendapatkan tendangan mengerikan tersebut. Audie tidak lemah, dia hanya terusik dengan masa lalunya, masa lalu yang membuatnya ketakutan dengan sesuatu hal. Xavier juga tidak percaya, sosok gadis mungil itu ternyata tidak seperti yang ia duga. Kecil, lemah dan manja.
"KAK AUDIE...???" panggilan Bella tidak membuat Audie berhenti mengeluarkan air mata. Tangisnya pecah di kala keramaian itu, namun tidak ada orang yang peduli seakan mereka tuli, mereka sibuk menikmati festival yang hanya hadir satu kali dalam setahun.
Bella mendekati Audie, memeluknya, lalu mengelus punggung Audie. Bella bagaikan seorang ibu, padahal dia hanyalah anak kecil yang masih berusai empat tahun. "Kak Audie jangan nangis, Bella ada di sini kok!"
__ADS_1
Bella memperhatikan para preman itu. Perlahan mereka bangkit, dengan jalan yang tidak seimbang mereka kabur meninggalkan tempat itu sembari meringis kesakitan. Tentu saja, kedua tangan mereka masih setia memegangi harta berharga mereka.
Tangis Audie semakin menjadi, entah mengapa, ia ingin menangis begitu saja. Dada gadis itu naik turun tatkala ia sesenggukan. Ingus dan air mata telah bercampur menjadi satu, bahkan ia tidak sengaja memakan beberapa helai rambut panjangnya.
"Cup, cup, cup ... Kak Audie! Jangan nangis lagi, premannya udah pergi kok. Sini, Bella peluk." Tangan gadis kecil itu melingkar di pinggang Audie, Puncak kepalanya hanya sejajar dengan dada Audie.
Xavier mendekat, ia menautkan kedua alisnya, heran mengapa Audie malah menangis setelah ia mengalahkan para preman itu. Padahal, tidak ada sesuatu yang terjadi dengan Audie, dia tidak terluka, dan dia terlihat baik-baik saja.
"Ehem. ..." tidak ada sahutan, Xavier berdehem untuk beberapa kali namun Audie terus saja menikmati tangisnya. Suara isak itu terdengar memilukan, seperti tangisan anak kecil yang kehilangan Ibunya. Mata Xavier sendu, hatinya tergerak untuk semakin mendekati Audie yang masih berada dipelukan Bella. Ada rasa iba saat mendengar pilunya isak tangis itu.
"A-Audie ...." panggil Xavier ragu.
Bella mendongak, namun kedua tangannya masih melingkar dipinggang Audie. "Paman, Kakak Audie masih nangis. Bagaimana ini, Paman?" rengek Bella. Gadis kecil itu memang tidak sanggup bila menemukan seorang wanita menangis. Alasannya, karena ia sering sekali melihat Ibunya menangis karena Ayahnya. Sebab itulah, ia tidak ingin membiarkan seorang wanita menangis seperti Ibunya.
Xavier melangkah ragu. Radius antara dirinya dengan Audie hanya beberapa centimeter saja. Xavier mengangkat tangan kanannya perlahan. Untuk beberapa detik ia perhatikan disekelilingnya, memastikan tidak ada orang yang melihat apa yang ingin ia lakukan.
Perlahan, tangan itu mendarat di atas kepala Audie, membelainya lembut meski sedikit ragu, mengusapnya sampai gadis itu terdiam. Xavier suka! Xavier suka dengan rambut panjang Audie yang terurai. Ia ingin tetap seperti itu. Namun tidak, ia harus segera menghentikannya ketika menemukan wajah Audie mendengok, matanya yang lembab menatap Xavier bingung dengan kerutan samar di dahi. Wajahnya terlihat polos. Ingusnya menetes pelan bersamaan dengan air mata gadis itu. Xavier hampir meledakkan tawa kala melihat wajah Audie yang tidak ada bedanya dengan badut. Hidungnya merah, kedua pipi montok-nya juga ikut merah. Belum lagi ingusnya yang tidak berhenti keluar membentuk angka sebelas.
"Pak Xavier?" Audie segera menyeka air matanya, ia menarik leher baju depannya untuk membersihkan ingusnya.
"Bella?" gadis itu ternyata tidak sadar dengan kehadiran Xavier dan juga keponakannya. Ia terlalu menghayati tangisnya saat bertengkar dengan masa lalu. Masa lalu yang membuatnya takut dengan preman.
Xavier segera menarik kembali tangannya. Pandangannya beralih kemana-mana asal bukan kepada Audie. Rasa canggung mulai menyelimuti. Bahkan ia sedikit malu karena membelai rambut Audie tanpa permisi. Tapi jika ia tidak melakukannya, Audie tidak akan berhenti menangis dan terus bercengkrama dengan masa lalunya.
Bella melepaskan pelukannya, kini ia menggenggam tangan Audie, takut gadis itu kembali menangis lagi. "Kak Audie nggak papa? Kak Audie baik-baik aja, 'kan?"
Audie menunduk, ia tersenyum, namun masih ada jejak air mata di sana. "Nggak papa kok, Bel."
Atensi Audie kini beralih kepada Xavier. Belaian tadi ... masih membekas dan belum bisa ia lupakan. Baru kali ini ia merasakan betapa lembut dan hangatnya tangan Xavier. Ingin seperti itu, tapi ia sadar ia siapa. Audie yakin, Xavier melakukannya karena lelaki itu sudah menganggapnya seperti adik sendiri. Iya, hanya sebatas adik. Tidak lebih. Hanya saudara, bukan seseorang yang istimewa.
***
Jajanan-jajanan di festival ini memang teramat menggiurkan. Audie dan Bella ingin memborong semuanya, tapi mereka berdua sadar, perut kecil mereka tidak mungkin bisa menampung makanan sebanyak itu.
Saat ini mereka sedang berjalan-jalan menjelajahi festival. Meski awalnya Xavier menolak Audie untuk ikut dengan mereka sebelum Audie menemukan di mana keberadaan Jack, namun pada akhirnya ia harus terpaksa meng-iyakan karena Bella tidak berhenti memberontak agar Audie ikut dengan mereka.
"Kak Audie, Kak Audie tadi kenapa menangis? 'Kan premannya udah pergi, emang Kak Audie tadi diapain sama mereka?" tanya Bella kepo. Saat ini mereka sedang duduk santai di bawah pohon rindang menikmati jajanan yang telah mereka beli.
Audie menunduk, ia ragu untuk menceritakan, ia juga malu, malu jika Xavier mendengar alasannya. "Itu, karena ... karena ..."
"Karena apa, Kak?" Bella tidak sabaran sekali menunggu jawaban Audie.
"Karena... masa lalu," Audie masih menunduk dalam.
"...sewaktu kakak sekecil Bella, kakak pernah dihadang di jalan ketika kakak hendak pulang ke rumah. Waktu itu kakak baru saja pulang bermain dengan teman-teman kakak. Orang yang menghadang kakak itu adalah preman, kakak nggak suka saat mereka tertawa dengan botol minuman di tangan mereka. Kakak juga nggak suka aroma mereka, kakak benci saat mereka menyentuh kakak." Audie tersenyum kecut kala mengingatnya.
"Saat itu ... kakak masih kecil, kakak nggak bisa memberontak saat mereka membawa kakak ke suatu gudang yang begitu kotor dan dipenuhi serangga-serangga menjijikkan. Kakak benci hari itu, kakak menangis, tapi mereka semua malah tertawa. Seandainya saudara kakak terlambat pada hari itu untuk menyelamatkan kakak, kakak sudah tidak tahu apa yang terjadi. Mungkin kakak bukanlah gadis yang suci lagi." Air mata itu kembali lolos. Meski Audie sudah menahannya, menengadahkan pandangannya ke atas menatap langit, tetap saja tidak bisa.
Xavier mendengarkan baik-baik. Ia memang terlihat pura-pura acuh, menatap layar ponselnya seraya menyantap jajanan yang telah mereka beli. Padahal sebenarnya, telinganya sedang terbuka lebar mendengarkan setiap kalimat curhatan Audie. Ia tahu sekarang, alasan mengapa Audie selemah itu. Tangisnya bukan karena cengeng, tapi karena hatinya memang sedang terluka.
Kedua tangan Bella kembali melingkar di pinggang Audie. Bella memeluk gadis itu, ia menyanyanginya seperti seorang Kakak. Kemudian tangan kecilnya menyeka kedua pipi Audie dengan hati-hati.
"Kak Audie jangan sedih lagi yah. Gimana kalo kita naik bianglala aja? Bella pengen banget naik bianglala, tapi Paman Xavier malah nggak mau."
__ADS_1
Pandangan Audie kini beralih kepada Xavier, Pria itu menatap keponakannya dengan raut wajah mengancam. "Kenapa?" tanya Audie.
Xavier semakin mendekati Bella, ia tidak segan mencubit kecil lengan keponakannya, seakan mengisyaratkan agar ia diam. Tapi, sepertinya Xavier lupa, keponakannya masihlah sangat kecil, ia masih polos, dan Bella tidak akan paham.
"Kata Paman Xavier, dia nggak mau naik bianglala karena takut ketinggian. Malu-maluin banget kan Kak Audie, masa orang segede Paman takut sama ketinggian. Bella aja berani," ucap gadis itu bangga sambil menepuk dadanya pelan.
"Bella! Siapa bilang paman takut?" ancam Xavier, ternyata seperti ini rasanya dipermalukan keponakan sendiri.
"Tadikan Paman yang bilang sama Bel-" Xavier segera membungkam mulut kecil Bella sebelum gadis itu menyelesaikan ucapannya. Membuat Bella memberontak dan meminta segera dilepaskan.
"Paman nggak takut ketinggian. Sekarang ayo, Paman ikut naik bianglala, paman akan buktikan kalau Paman tidak sepenakut itu. Cih ... mana mungkin Pria seperti Paman takut ketinggian." Xavier mendesis.
Audie mengulum senyumnya, lucu sekali saat melihat wajah Xavier seserius itu.
"Oke!" Jawab Bella menantang Xavier.
Bella berdiri, ia mengulurkan tangan kecilnya lalu disambut baik oleh Audie. Ketiganya pun berlalu menuju wahana bianglala. Tangan Bella sungguh tidak bisa melepaskan tangan Audie, ia terus saja menggenggamnya, Audie itu sudah seperti Kakak baginya.
Dan disinilah mereka, sedang memesan tiket wahana. Bahkan sebelum Xavier menaikinya, kaki jenjang itu sudah gemetar ketakutan. Dia tidak lebay, bukankah setiap manusia ada kekurangan dan kelemahannya? Dan inilah kelemahan Pria yang hampir mendekati kata sempurna itu.
Kepala Xavier mendongak ke atas, putaran wahana bianglala itu membuatnya merasa ngeri dan mual. Ia memandang jauh ke atas sana, betapa tingginya bianglala itu. Xavier gemetar, matanya terpejam kuat-kuat seraya memeluk tubuhnya sendiri. Dan Audie ... melihat kejadian lucu itu.
Setelah mendapatkan tiket karcis, waktunya naik bianglala. Xavier duduk sendirian tepat berhadapan dengan Bella, sedangkan Bella duduk bersebelahan dengan Audie. Mata Xavier terpejam kuat-kuat bahkan sebelum bianglalanya berputar. Hanya mendengar suara mesinnya saja jantung Xavier hampir meloncat dari raganya.
Xavier tidak hentinya melapazkan do'a, sedangkan Audie dan Bella berteriak heboh. Seru sekali bagi mereka. Mata Audie berbinar-binar tatkala bianglala semakin menaik membawa tubuh mereka lebih tinggi. Pemandangan lampu kerlap-kerlip festival terlihat sangat indah, lampu kota Surabaya juga tidak kalah menakjubkan.
"Wuahhh ..." Ucap Audie dan Bella dengan mulut yang menganga sempurna, tanpa mereka sadari makhluk bernama Xavier sudah menggigil ketakutan.
Audie mengalihkan pandangannya ke depan, ia ingin tertawa namun ia tahan. Lucu sekali melihat wajah Xavier dengan ekspresi seperti itu, mulutnya juga komat-kamit membacakan sesuatu.
Diam-diam Audie mengambil ponselnya, dibukanya aplikasi kamera dan bersiap mengambil foto. Sewaktu mata Xavier terpejam, satu jepretan akhirnya didapatkan. Bella yang menyadarinya tertawa cekikikan, kedua gadis itu melihat hasilnya dan bertos gembira.
"Sana Kak Audie, didekat Paman Xavier, biar Bella yang foto!"
"Hah?!" Audie bengong.
"Sana Kak ..." Paksa Bella, akhirnya Audie menurut. Dibuatnya pose alay, ia menjulurkan lidah menghadap wajah Xavier dengan membelalakkan mata seakan-akan ia sedang mengejek. Bella pun mengambil foto. Puas sekali setelah mengerjai pamannya itu.
Setelah Audie kembali duduk manis disebelah Bella, kedua gadis itu tidak hentinya tertawa membuat Xavier perlahan membuka matanya seraya memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangan.
Mata Xavier memicing tatkala melihat anak didik dan keponakannya bangkit dari duduk mereka. Mencurigakan! Audie dan Bella menghentak-hentakkan kaki mereka membuat gondalanya bergoyang-goyang.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?" bentak Xavier dengan raut ketakutan yang tidak ingin pudar dari wajahnya.
Audie dan Bella seketika terdiam, mata mereka bertemu, lalu tersenyum licik. Kembali mereka bergerak ke sana-kemari, Xavier berteriak histeris, namun kedua gadis itu tidak ingin berhenti. Seru sekali membuat Pria sedingin Xavier merasa ketakutan.
"ALLAHU AKBAR ...."
"ALLOHU AKBAR ...."
"AUDIE ... BELLA ... KITA BISA MATI TERJUN KE BAWAH ...." Wajah Xavier ... Audie suka melihat raut wajah itu.
...🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️...
__ADS_1
...Mencintaimu itu tidak perlu menunggu waktu. Meski perasaanmu tak sama denganku, aku yakin, suatu hari nanti kau pasti akan luluh. Meski disampingmu sudah ada dia, namun harus ada aku dihatimu. ...