Dosenku

Dosenku
Shalat Berjamaah


__ADS_3

Pria dengan tubuh atletis itu baru saja keluar dari dalam kamar mandi setelah bertapa di dalam sana selama lima belas menit lamanya. Kedua tangannya sibuk mengeringkan rambut coklat yang sedang basah menggunakan handuk warna putih.


Ia berjalan menuju gorden berniat untuk menyatukan kedua ujungnya, menghindari semburat cahaya jingga di ufuk barat sana. Untuk beberapa menit kemudian, suara adzan yang di lapadzkan oleh sang muadzin menggema di seluruh area sekitar Masjid. Ponsel Xavier yang tergeletak di atas kasur itu bahkan ikut mengumandangkan adzan.


Xavier mengambil pakaian di dalam lemari, di sana baju-baju berbagai warna gelap terlipat dengan sangat rapi. Sedikit ia ragu untuk memilih, hingga akhirnya ia memutuskan untuk memakai sweatshirt dengan perpaduan celana jogger karena malam ini udara cukup dingin. Setelah selesai mengenakan pakaian, Xavier berniat untuk turun ke bawah, menyapa anak didiknya yang telah lama menunggunya sembari menjaga Bella, keponakannya itu.


Derap langkah kaki menuruni anak tangga putar terdengar menggema, sepasang kaki itu mengenakan sandal jepit hermes warna hitam. Sesekali Pria berperawakan tinggi itu memainkan rambutnya, mengibaskannya ke sana kemari akibat beberapa helai rambutnya belum kering sepenuhnya.


Xavier memperhatikan ketiga gadis remaja sedang bermain kejar-kejaran dengan keponakannya. Senyuman hangatnya memancar ketika ia mendapati Bella tertawa geli saat Audie menggelitiki perut gadis kecil itu.


"PAMAN XAVIER," Bella segera menepiskan tangan Audie, ia berlari hingga mendapatkan sambutan pelukan dari adik Ibunya itu.


Satu belaian mendarat di rambut hitam lebat dengan aroma shampoo. "Harumnya keponakan Paman. Udah mandi, yah?" tanya Xavier, kini sebuah kecupan yang Bella dapatkan tepat di pipi montoknya.


"Iya, dong. Tuh ..." tunjuk Bella pada Audie.


"...Kakak kecil itu tadi yang mandiin Bella sewaktu Paman masih di dalam kamar."


Di sisi lain, Audie mencoba mencerna kalimat yang baru saja ia dengar. Audie menggaris bawahi kata Kakak dan kecil. Lalu, tanpa ragu ia memperhatikan tubuhnya dari pantulan kaca full body yang ada di ruang tamu. "Apa aku memang sekecil itu?" pikirnya.


Xavier mengalihkan pandangannya kepada Audie yang saat ini sedang berdiri ditengah-tengah antara Arini dan Indah. Seperempat dari pakaian cewek itu telah basah akibat terkena cipratan air. Xavier berdehem dua kali, kemudian ia mengabaikannya.


"Arini, Indah,"


Refleks dua gadis itu menoleh saat nama mereka dipanggil.


"Iya, Pak!" Sahut kedua gadis itu sopan. Sedangkan Audie, ia hanya tersenyum kecut, bagaimana mungkin keberadaannya tidak dianggap sama sekali, layaknya dia hanyalah sebuah patung manekin yang tidak berguna.


"Sudah magrib, sebelum belajar sebaiknya kita shalat dulu." saran Xavier.

__ADS_1


"Baik, Pak!" Seru mereka patuh.


Xavier mengarahkan telunjuknya, "dibelakang ada kamar mandi, kalian bisa mengambil air wudhu di sana. Selepas itu kita shalat berjama'ah."


Pria pemilik bibir seksi itu lantas melepaskan Bella dari gendongannya, "titip Bella yah, ajak juga dia ikut berwudhu."


Arini mengangguk setuju, tangannya terulur berharap disambut baik oleh Bella. Namun, justru gadis kecil itu menarik tangan Audie, sehingga Audie terpaksa mengikuti langkahnya. "Ayo Kak Audie, kita ambil air wudhu. Bella udah pandai berwudhu loh, mulai dari berniat, mencuci tangan, berkumur-kumur sampai nanti membasuh kaki ..." Keduanya berlalu, meninggalkan tiga sosok yang sedang meratapi kepergian mereka.


Arini tersenyum kecil, lantas ia menarik tangan Indah menuju kamar mandi yang dimaksud Xavier.


Kalimat takbir pertanda shalat berjamaah telah dimulai. Untuk terakhir kalinya Audie merapikan mukenah polos warna abu yang membaluti tubuhnya, kemudian ia mulai memfokuskan niatnya hanya pada satu tujuan.


Arini berada dibarisan paling tepi, mukenah yang ia pakai adalah mukenah bercorak bunga sama seperti Indah, hanya saja yang membedakannya dibagian warna. Di dalam musala minimalis itu memang telah disediakan tujuh mukenah sebagai berjaga-jaga, barang kali nanti ada tamu yang ingin melaksanakan ibadah di rumah mereka.


Sedangkan Bella yang berada disebelah Audie merasa kesulitan memakai mukenah dengan karakter hello kitty miliknya. Audie yang menyadarinya pun segera membantu, lalu kemudian netranya kembali fokus menatap sajadah turki di hadapannya.


"Allohu Akbar ..."


Imam kemudian rukuk setelah mengucapkan takbir, diikuti oleh para makmum yang berada dibelakang kecuali Audie. Tubuhnya masih berdiri, bahkan ia lupa sudah sampai dimana bacaan Al-Fatihahnya. Suara merdu itu masih terngiang-ngiang ditelinga, mengambil kesadaran Audie sepenuhnya. Tatapannya kosong menghadap sajadah, bahkan suara Bella yang memanggil-manggil namanya tidak bisa memulihkan kesadarannya kembali.


Dengan posisi rukuk Bella tidak hentinya memanggil-manggil nama Audie saat menyadari gadis remaja itu tidak mengikuti gerakan Imam. Dengan polosnya Bella ikut berdiri, lantas netranya menatap wajah Audie yang terlihat datar. "Kak Audie," panggil Bella polos.


"...Kak Audie kok nggak ikut rukuk?" Bella mendongakkan kepalanya ke atas dan terus memperhatikan wajah Audie yang tidak mau menyahutinya.


"Kak Audie,"


"Kak Audie ..." untuk kesekian kalinya Bella memanggil nama Audie sambil menarik kecil mukenah cewek itu.


"EHEEEEMMMMM ..." Refleks Audie tersentak kaget kala Arini yang berada di sebelahnya berdehem dengan sangat keras, entah shalat gadis itu masih sah atau tidak, karena deheman itu telah menciptakan suara beberapa huruf yang bukan termasuk dari bacaan shalat.

__ADS_1


Seketika Audie gelagapan, ia buru-buru mengucap takbir lalu kemudian rukuk. Detik selanjutnya Imam telah sampai pada gerakan sujud. Bella tertawa cekikikan, kepolosannya membuktikan bahwa ia hanyalah seorang anak-anak yang masih awam tentang hukum-hukum shalat, dengan santainya ia kembali mengikuti gerakan Audie, bukannya gerakan Imam.


Beberapa menit telah berlalu, sampailah pada salam ke kanan lalu ke kiri. Selepas shalat Xavier berdzikir sejenak, dilanjutkan dengan Do'a bersama hingga mereka semua yang ada di musala sama-sama mengaminkan Do'a baik itu.


Xavier menoleh ke belakang, matanya menatap Bella dingin. Ia perlu memberi sedikit arahan untuk gadis kecil itu, "Bella," seketika nyali Bella menciut saat hanya ada aura dingin yang menyelimuti Xavier. Sebab itu dia sangat paham, jika raut wajah pamannya sudah seperti itu, tentu ia telah melakukan kesalahan.


Bella mendekatkan tubuhnya lebih menempel dilengan Audie, namun Xavier tidak peduli meski keponakannya itu sudah ketakutan. "...kalau sedang shalat, jangan berbicara yang bukan termasuk bacaan shalat, apalagi mengganggu orang yang sedang shalat." Jelas Xavier, tidak ingin mengubah raut wajahnya.


Bella mengerucutkan bibir kecilnya, "Bella nggak salah kok, Paman. Tadi Kak Audie nggak mau rukuk, padahal Paman udah mau sujud tapi Kak Audie malah bengong. Kalo nggak Bella panggil-panggil, nanti Kak Audie ketinggalan gimana?"


Pandangan Xavier beralih kepada Audie, dan mendapati gadis itu sedang menunduk malu. Ia tidak berhenti menggigit bibir bawahnya seraya mengerutuki dirinya di dalam hati. Ingin sekali gadis itu berlari marathon mengelilingi tata surya untuk menyembunyikan rasa malunya. Jika begini, Xavier pasti akan berpikir, selain Audie itu dungu, ternyata dia juga sangat awam tentang gerakan shalat atau bahkan mungkin bacaannya juga.


Arini dan Indah hanya tepuk jidat, bagaimana bisa mereka memiliki sahabat seperti Audie?


"Lo nggak hapal gerakan shalat?" tanya Indah, bola matanya hampir keluar karena tidak percaya.


"G-Gue, gue ... hapal kok," timpal Audie gelagapan. Ada semburat warna merah merona dikedua pipinya, ingin timbul namun malu-malu kucing.


"Trus, kenapa lo nggak rukuk padahal sudah waktunya rukuk?" kini Arini yang bertanya.


"G-Gue, gue ...."


Xavier memutar bola matanya malas, "sudah, sekarang kita belajar. sebaiknya sebelum Isya kita sudah siap belajar," Saran Xavier, ia beranjak lalu melipat sajadahnya kemudian meletakkannya kembali ke tempatnya semula.


Audie masih menunduk malu, sedangkan Bella tetap setia merangkul lengannya.


...🧚🏻‍♀️🧚🏻‍♀️🧚🏻‍♀️...


...Sepasang mataku berseri-seri, layaknya bocah kecil yang sedang melihat indahnya petasan di langit sana saat sedang menyaksikanmu. Bahkan suaramu saja, mampu meluluhkan hatiku....

__ADS_1


__ADS_2