
Motor melaju membelah jalanan, udara menerpa wajah Audie namun rasanya seakan ia tidak bisa merasakan oksigen di sekitarnya. Gadis itu kini sedang diantar oleh Jack setelah mengambil sepeda motornya yang ia titipkan di rumah temannya. Sedangkan Arini dan Indah diantar pulang oleh pacar Arini yang bernama Aldo, mantan ke-20nya.
Zayn dan Yuda? Jangan ditanya, mereka punya banyak teman untuk dimintai bantuan, menjemput mereka dan berkumpul di base camp.
Satu pukulan mendarat di punggung Jack, tatkala ia menghentikan motornya secara tiba-tiba saat lampu merah menyala. "Parah lo yah Jack, untung gue nggak terjungkal ke belakang." Untuk kedua kalinya, Jack kembali mendapatkan pukulan, kali ini tepat mengenai kepalanya.
"Sakit Audie, tega amat lo sama gue!" Mengelus kepalanya.
Setelah lampu merah digantikan oleh warna hijau, Jack kembali melajukan motornya. Namun Audie merasa aneh, karena jalan yang mereka lewati bukanlah jalan menuju rumahnya.
"Mau kemana?" teriak Audie, karena Jack mengemudikan sepeda motormya di atas rata-rata, jadilah Audie terpaksa berteriak agar terdengar oleh cowok itu.
"Kemana-mana hatiku senang," jawab Jack asalan sembari bernada menjengkelkan.
"Gue nanya serius, Jack." Kesal Audie.
"Udah, diam aja. Nanti lo juga tahu, pokoknya kita ke tempat yang spesial."
Audie mengedikkan bahunya, terserah kemana cowok menyebalkan itu akan membawanya pergi, yang penting bukan ke liang lahat.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka sampai ditujuan. Pandangan Audie menyapu bersih di sekitarnya, yang ada hanya pohon beringin, dua sejoli yang sedang pacaran dan tukang bakso Mas Ujang.
"Spesial-spesial, mata lo spesial. Masa tempat kayak gini dibilang spesial?" protes Audie, melemparkan helm yang ia pakai itu kearah Jack yang hendak memarkirkan motornya.
"Lo nggak bisa baca ya, Audie. Noh, bakso spesial Mas Ujang. Jadi, otomatis tempat ini juga disebut sebagai tempat spesial." Ujar Jack membela diri.
Audie hanya menghembuskan napasnya kasar, ia duduk di bangku yang telah Mas Ujang persiapkan untuk para pelanggan.
"Sorry banget, gue cuma mampu bawa lo makan di pinggir jalan."
Audie memutar bola matanya malas, "nggak usah sok dramatis lo biar di kasihani."
Jack hanya terkekeh, lantas ia melambaikan tangan kepada Mas Ujang yang tengah sibuk membuat pesanan untuk pelanggannya yang lain. "Mas Ujang, baksonya dua yah."
Lelaki berusia 42 tahun itu mengacungkan jempol ke udara, "ok, siap!"
Untuk beberapa menit tidak ada percakapan antara Audie dan juga Jack, seakan keduanya tidak saling mengenal satu sama lain. Entah mengapa, ada rasa canggung menyelimuti hati Audie, hingga akhirnya ia memutuskan untuk memainkan handphone-nya saja.
"Jadi, itu alasan kenapa Bu Alea gemar ngasih hukuman sama lo? Karena lo suka sama pacarnya?" Ucap Jack tiba-tiba, namun tidak disahuti oleh Audie.
"Pantes Bu Alea kelihatan nggak suka banget sama lo. Sedari awal gue juga curiga kenapa dia asik ngehukum lo doang."
__ADS_1
Audie meletakkan ponselnya di atas meja, "nggak usah ngebahas itu Jack, gue lagi nggak mood."
Hembusan napas panjang terdengar jelas di telinga Audie, "padahal ada gue, kenapa lo harus menyukai lelaki yang sudah jadi milik orang lain?"
"Milik orang lain?" tanya Audie sebelum akhirnya ia tertawa mengejek.
"Pak Xavier belum menikah Jack, dia belum menjadi milik siapa-siapa."
"Waduh pada berantem nih. Ini, bakso kalian sudah datang. Udah, jangan pada berantem lagi." Ujar Mas Ujang menengahi.
"Makasih, Mas Ujang." Ucap Audie dan Jack bersamaan.
"Iya, sama-sama." Setelah itu Mas Ujang segera pergi untuk membuat pesanan pelanggan lain.
Jack menatap Audie sekilas, "ada gue Audie, lupain Pak Xavier itu. Padahal, sejak kelas 10 gue udah susah payah buat dapetin lo, dan sekarang lo malah milih dia yang sama sekali nggak suka sama lo."
"Lo mau diam gak, atau gue sumpal nih cabe rawit ke mulut lo." Ancam Audie yang sedang menyendok cabe rawit ke dalam baksonya.
Akhirnya Jack menyerah, dia tidak lagi membuka suara. Kini cowok itu mulai menikmati bakso yang ada dihadapannya. Susah nanti jika Audie terlanjur marah padanya.
Untuk beberapa detik Audie memperhatikan raut wajah Jack yang berubah drastis, ia tahu, Jack tidak pernah terlihat sampai sekesal ini. "Sorry, Jack. Gue benar-benar suka sama Pak Xavier, gue nggak main-main seperti elo yang selalu mempermainkan hati cewek. Jujur, gue nggak suka cowok yang kayak gitu Jack, gue lebih suka cowok yang dewasa."
Jack meletakkan sendok baksonya, mulutnya masih mengunyah, ia menatap gadis dihadapannya lekat. "Main-main? Jadi, selama ini lo pikir gue main-main sama lo?"
Audie tertegun, memang benar, selama ini ia berpikir kalau Jack hanya ingin memermainkan hatinya seperti pada gadis-gadis sebelumnya. Audie tidak pernah menganggap Jack itu serius dengan perasaannya, karena cowok itu selalu menyamakan bagaimana cara memperlakukan wanita. Yaitu dengan mengencaninya untuk beberapa hari lalu meninggalkannya secara tiba-tiba.
"Tapi, lo--"
"Udah, habisin aja bakso lo itu Audie, udah mendung, bentar lagi hujan. Gue jelasin pun, sampai kapanpun lo nggak bakalan ngerti."
***
Udara sejuk berhembus dari arah jendela kaca yang terbuka. Dahan-dahan pohon mangga yang ada di depan rumah bergoyang-goyang, seketika berhenti lalu menari kembali saat angin menerpa pohon itu dengan sangat lancang. Diluar masih agak gelap, namun tidak terlalu pekat seperti malam.
Tidak ada sesuatu yang lebih nikmat selain membaca Al-Qu'an sesudah shalat subuh. Suara Audie menggema di setiap sudut kamar. Begitu nyaring dan sangat lembut. Baik tajwid atau pun makhraj, tidak ada yang patut untuk disalahkan. Dia layaknya anak pesantren yang begitu mahir dan sudah khatam Al-Qur'an sebanyak puluhan kali. Ah, sekarang kita tahu apa kelebihan gadis remaja ini. Tentu! Karena setiap makhluk pasti ada sisi istimewanya bukan?
Seorang wanita sedang berdiri di depan pintu kayu berpelakat dengan tulisan "Salam dulu baru masuk!" ia membawa segelas susu coklat dalam sebuah nampan. Linda ingin mengucap salam sesuai instruksi yang ia baca, namun saat mendengar suara lembut milik putrinya dari dalam sana, ia mengurungkan niat itu. Linda masuk secara diam-diam, ia tersenyum memperhatikan Audie yang sedang memunggunginya dalam balutan mukenah warna suci.
"Shodaqollohul'aziim!" ucapan kalimat terakhir Audie sebelum akhirnya ia selesai membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Audie cukup terkejut saat menyadari bahwa Linda tengah duduk santai di atas Kasurnya. Ia meletakkan kitab suci yang ia genggam disebuah tempat yang cukup tinggi dan bersih dari debu serta najis.
__ADS_1
"Minum dulu, Dek!"
Audie segera menyambar susu cokelat yang ada diatas nakas, bahkan ia tidak berniat untuk melepaskan mukenahnya.
Hari ini hari sabtu, tidak ada libur dihari sabtu kecuali tanggal merah untuk merayakan kemerdekaan Indonesia. Yaitu tanggal 17 di bulan Agustus. Iya! Kata para remaja sih gitu, mengibarkan bendera merah putih sambil dibonceng sama si doi.
"Mama nggak perlu capek-capek naik tangga cuma untuk anterin susu buat Audie, padahal Audie bisa kok turun ke bawah dan buat susu sendiri. Audie udah gede, Mah. Audie nggak mau Mama kelelahan hanya karena, Audie." Ucap Audie panjang lebar, bahkan sebelum ia tahu apa tujuan utama Linda menemuinya.
Linda tersenyum simpul, ia mengambil nampan, di atasnya gelas bening itu telah habis tidak tersisa, di minum oleh sang pemiliknya. "Tuh, di bawah ada teman kamu. Tadinya mama pikir kamu masih tidur, jadi mama berinisiatif buat bangunin, kasihan teman kamu udah lama nunggu. Sekalian deh, mama buatin susu cokelat."
Audie mengernyitkan dahinya, siapa pula yang datang mengunjungi rumahnya sepagi buta ini. Bahkan bulan saja masih bersinar di atas langit sana. Sangat kurang kerjaan sekali orang itu. Atau jika tidak, pasti seseorang yang ingin meminta bantuan atau hanya sekedar memelas.
"Siapa, Mah? Sepagi ini?" Audie melebarkan matanya.
Linda hanya mengangguk, lalu segera bergegas pergi membawa nampan itu di genggamannya. Ia tidak ingin menyahuti Audie, biar anak gadisnya saja yang turun ke bawah dan memastikan siapa orang yang telah mencarinya.
Sebelum menemui orang tersebut, Audie perlu luluran dulu, setelah itu ia mandi, keramas, berendam air hangat untuk beberapa menit, skin care-an, maskeran dan istirahat sebentar hingga mentari mulai melambai-lambai dari arah timur sana.
Mata Audie menyipit, memastikan siapa lelaki yang sedang molor diatas sofa mereka. Ia mendekat dengan rambut basah yang masih dibaluti handuk putih. Sangat menyebalkan, saat cowok itu datang menemuinya lantas ia malah numpang tidur, menyusahkan sekali orang seperti ini.
Audie mengambil segelas air di dapur, sekedar jahil, hanya untuk menghibur dirinya. Audie tahu siapa pemilik pergelangan tangan yang di penuhi gelang, rambut gondrong, kulit putih dengan tatto di beberapa bagian tubuhnya, bahkan dibagian lehernya terutama.
Satu cipratan air ternyata tidak membuat cowok itu tersadar, untuk kedua kalinya tidak berhasil, bahkan ketiga kali pun masih gagal. Sudahlah! Audie lebih baik menyerah dan menyiramkan segelas air penuh itu ke wajah cowok yang tengah berdamai dengan mimpinya.
"ALLAHU AKBAR! Astaga, tsunami dari mana ini, Tuhan?" Audie terkikik geli, ekspresi Jack ketika kaget sangat lucu sekali. Belum lagi hidungnya seperti ingusan karena kemasukan air.
Mata Jack mengerjap-erjap mencari sosok yang sedang menertawainya. Hingga kesadarannya mulai pulih dan menyadari bahwa ia kini sedang berada di rumah Audie, saat mata Jack tertuju pada sebuah bingka foto keluarga yang menempel di dinding.
Audie terbungkuk-bungkuk, ia tengah asik memegangi perutnya. Rasanya ususnya seperti terlilit saat ia tidak bisa menahan tawa. Wajah Jack terlihat menggemaskan, sangat polos, tidak seperti biasanya, begitu garang dan nakal layaknya seorang anak Punk. Anak Punk yang gantengnya nggak ketulungan.
"Wuah... Keterlaluan lo, Audie!" Jack mengusap wajahnya menggunakan telapak tangan, air dari hasil kejahilan Audie itu belum sepenuhnya kering, bahkan baju Jack pun ikut basah seperti baru saja berenang dikali.
"Astaga, Audie! Mana boleh kayak gitu sama teman sendiri. Kan kasihan jadi basah-basah gitu." Tegur Linda yang tiba-tiba muncul dari arah dapur. Saat melihat Audie terburu-buru mengambil segelas air, ia sudah curiga, pasti anak gadisnya akan melakukan sesuatu. Sebab itulah, ia ingin memastikan apa yang akan dilakukan Audie.
Audie menunduk malu, namun bibir itu masih saja ingin tertawa, flashback dimana wajah Jack terlihat begitu menggemaskan, ingin rasanya ia kembali cekikikan. "Maafin Audie, Mah!"
Wanita itu hanya geleng kepala, didapatinya Jack dengan raut wajah polos. Matanya bengkak padahal ia tidur hanya beberapa menit saja. "Jackey..." Panggil Linda. Tentu saja ia tahu nama asli Jack sebenarnya, karena selama ini Jack sering sekali bermain ke rumah Audie walau hanya sekedar menuntaskan kegabutannya. Namun begitulah Linda, ia lebih suka memanggil Jackey dari pada nama asli cowok itu.
"Iya, Tante!"
"Lebih baik kita sarapan dulu, pasti kamu belum makan, 'kan?"
__ADS_1
Jack mengangguk setuju, senang sekali diajak gabung sarapan pagi oleh calon mertuanya itu. Meski Audie tidak menginginkannya, setidaknya ia bisa mendapatkan hati orang tuanya. Lebih baik seperti itu bukan? Karena untuk mencuri hati Audie bisa urusan belakangan. Yang paling penting bagi Jack adalah restu keluarganya.
...🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️...