
Susu coklat itu telah dingin, makanan di hadapan Audie tidak di sentuh sama sekali. Netranya menatap tajam ke arah Alea, bagaimana bisa gadis itu mengambil perannya di rumah ini? Linda, Irfan bahkan Dimas tidak bisa mengalihkan pandangan kagum mereka dari Alea, saat wanita itu menceritakan bagaimana ia bisa menjadi seorang dosen ditiga kampus terkenal diusianya yang masih muda. Usia Alea dengan Irfan terpaut jarak 7 bulan, Irfan yang kini tengah mengejar Strata duanya sedangkan Alea yang tengah sibuk menjalankan perannya sebagai dosen.
"Wuahhh... Mama salut banget sama pacar kamu Irfan, udah cantik, pintar, baik pula lagi. Beruntung banget anak Mama punya pacar seperti Alea." Linda sempat menghentikan sendok itu masuk ke dalam mulutnya demi mengungkapkan kalimat kagum kepada Alea. Alea yang mendengarnya hanya bisa tersenyum malu, namun dihatinya ia merasa puas saat mendapati raut wajah Audie terlihat sangat murung.
"Kapan-kapan kamu main ke rumah lagi, yah. Om sama Tante pasti menyambut baik kedatangan kamu." Kata Dimas ikut menimpali, kemudian dibalas anggukan oleh Alea.
"Iya Om, kalau saya ada waktu, saya bakalan sering berkunjung. Maklum Om, sebagai seorang dosen dan guru, jarang saya memiliki waktu luang." Jawab Alea dengan nada yang sangat lembut.
Audie hanya bisa menghembuskan napasnya jengah, ia bosan sedari tadi perbincangan keluarga itu hanya tentang Alea saja. Padahal disana, Audie sedang ingin membutuhkan kasih sayang keluarganya. Setelah menerima kata-kata menyakitkan dari Xavier tadi, namun kini ia juga harus menerima kenyataan bahwa gadis berambut pirang di hadapannya ini telah merebut cinta keluarganya.
"Oh iya, kata Irfan kamu mengajar di sekolahnya Audie juga, yah?" tanya Linda semangat.
Refleks Alea mengalihkan pandangannya kepada Pria disebelahnya, Irfan hanya melemparkan senyuman, lantas Alea kembali menatap Linda. "Iya, Tante. Baru satu minggu."
"Wuahhh..." lagi-lagi Linda berdecak kagum, sehingga membuat Audie ingin segera meninggalkan ruang makan saat ini juga. Namun ia sadar, perbuatan tersebut terkesan tidak sopan.
"Pas banget, jadi Alea bisa mendidik anak gadis tante yang nakal ini." Ujar Linda mencubit pipi Audie yang ada di tengah-tengah antara dia dan Dimas.
Refleks Audie menepiskan tangan itu dengan pelan. "Mama apa-apaan sih, Audie itu nggak nakal." Ungkap Audie membela dirinya, lantas ia mengerucutkan bibir pink itu.
Alea menatap Audie lekat, ia menyunggingkan bibirnya, senyum merekah itu membuat Audie mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.
"Tentu saja, Tante. Saya pasti menjaga adik dari calon suami saya, mendidiknya sampai bisa menjadi murid yang cerdas dan berilmu."
Sedangkan Irfan, ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat mendengar Alea baru saja mengatakan calon suami. Meski mereka menjalin hubungan sudah bertahun-tahun lamanya, namun hal itu adalah sesuatu yang sangat langka di dengar oleh telinganya.
"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan hubungan kalian berdua. Maksud Tante, kalian udah tentuin belum kapan menuju ke jenjang yang lebih serius?" Mata Alea dan Irfan bertemu, keduanya saling mengangkat bahu, otak mereka sedang mencerna ucapan wanita setengah baya itu.
"Maksud tante... Me-menikah?" tanya Alea gugup.
Sontak Linda tertawa riuh yang diikuti oleh Dimas, "kalian kenapa sok polos gitu? Apalagi maksud tante kalau bukan menikah."
Kedua pasangan itu tersenyum kikuk, semburat malu terpampang jelas di wajah mereka. Alea mencubit kecil lengan Pria di sampingnya, memberikan isyarat berharap Irfan mengerti.
"Kami belum berpikiran sejauh itu Mah. Toh Irfan sama Alea masih muda, belum ada rencana buat menikah."
__ADS_1
"Muda?" tanya Linda dan Dimas serentak, sebelum keduanya geleng kepala.
"Usia kalian berdua sudah matang buat menikah, jangan merasa sok muda Irfan, lebih cepat menikah maka akan lebih baik. Apalagi usia kamu susah mendekati 30 tahun." Saran Dimas. Lagi-lagi membuat sepasang kekasih itu merasa malu.
Perbincangan hangat diantara keluarga itu terus berlanjut hingga waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam. Tidak ada beban di hati mereka, ketika sebuah keluarga berkumpul disanalah kebahagiaan itu tercipta. Namun tidak untuk gadis bersamurai panjang bernama Audie, hatinya sangat sulit menerima bahwa Alea telah merebut cinta keluarganya. Xavier, Irfan, Dimas dan bahkan Ibunya juga sempat lupa untuk bertanya apakah hari-hari Audie bahagia selama ini. Mereka lupa dengan putri mereka sendiri.
Audie ingin teman yang setia untuk mendengarkan setiap keluh kesahnya. Ia ingin dicintai, ia ingin melepaskan bebannya selama ini. Ia sangat sulit menerima kenyataan bahwa orang yang ia cintai tidak memiliki rasa yang sama. Aneh memang ketika gadis sesusianya menyukai Pria yang terpaut jarak usia yang sangat jauh dengannya. Bukan keinginannya untuk memaksa mencintai seseorang. Lala juga tidak mengundang rasa itu, dia yang tiba-tiba hadir dan membuat Lala terjerat dalam waktu yang lama.
Setelah selesai makan malam, Audie dan Alea membereskan meja makan. Audie yang mencuci piring sedangkan Alea yang mengangkut piring-piring kotor. Irfan, Linda dan Dimas kini sedang bersantai diruang tamu.
Audie berdecak saat seseorang menyenggol bahunya. Lantas ia menatap pelakunya dan menemukan bahwa itu adalah Alea.
"Kamu pikir aku tidak tahu bahwa kamu pulang diantar Xavier?!" kata Alea sembari meletakkan piring-piring kotor itu diatas wastafel.
Mendengar hal itu Audie segera menghentikan aktifitasnya yang sedang mencuci piring, kedua tangannya telah habis dilumuri busa sabun.
"Payung itu, aku tahu payung yang baru saja kamu bawa milik Kak Lufy. Ternyata kamu sangat kurang ajar, setelah lancang menyatakan cinta pada Xavier, kamu juga ingin merebutnya dariku?"
Audie menghembuskan napasnya kasar, ia membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Alea, semburat tatapan tajam memancar. "Bukannya kamu yang kurang ajar? Apa maksudmu mendekati bang Irfan padahal kamu sudah punya Pak Xavier? Apa kamu ingin mejadi seorang wanita murahan? Apa Pak Xavier saja tidak cukup? Apa kamu ingin mempermainkan mereka berdua? Atau memang kamu yang ******?"
Kedua tangan Audie mengepal erat ketika Alea justru bergelak tawa. "Aku terlalu cantik, aku sempurna, aku pantas memilih siapa saja yang ingin kumiliki. Aku tidak takut jika kamu mengadukannya kepada Xavier ataupun Irfan. Karena Xavier tidak akan percaya dengan apa yang kamu katakan. Sedangkan Irfan... Pasti kamu tahu bukan, jika Irfan mengetahui kebenarannya maka... Kemungkinan besar dia akan mengalami seperti kejadian beberapa tahun yang lalu."
"Lea," panggilan itu membuat keduanya memalingkan wajah ke arah sumber suara. Alea terlihat gugup, takut-takut Irfan mendengarkan percakapan mereka barusan.
"I-Iya... Kenapa, sayang?" tanya Alea gelagapan.
Audie kembali ke dalam aktifitasnya mencuci piring, ia menengadahkan pandangannya menghadap langit-langit rumah tatkala kelenjar matanya terasa panas ingin menangis.
"Sebaiknya aku segera mengantar kamu pulang, nanti kemaleman. Biar Audie saja yang membereskan dapur." Perintah Irfan yang diangguki oleh Alea. Setelah mengatakan hal itu Irfan segera meleset pergi menuju kamar untuk mengambil jaket kulit beserta kunci mobil.
Alea kembali mendekati gadis yang tengah sibuk mencuci piring, ia mendekatkan mulutnya ke daun telinga Audie. "Xavier dan Irfan, mereka berdua itu milikku. Sedangkan kamu hanyalah seorang gadis ingusan yang tidak punya apa-apa. Bahkan aku bisa saja merebut cinta Irfan sepenuhnya darimu." Bisikan itu terdengar seperti bisikan iblis yang mengganggu gendang telinga Audie.
Setelah puas mengatakannya, Alea segera berlalu dengan senyum yang mengembang. Bangga karena telah berhasil membuat Audie terdiam dan tidak melawan.
***
__ADS_1
Audie melempar tubuhnya di atas kasur, pandangannya kabur karena ada air mata yang ia tahan agar tidak berseluncur. Ada rasa kebencian di hatinya kepada wanita yang bernama Alea itu. Audie terus saja menatap langit-langit kamarnya, kedua tangannya terkepal kuat-kuat saat mengingat bagaimana Alea menjadikan saudara lelakinya sebagai mainan dalam kisah cintanya.
Audie beranjak menuju sebuah kotak yang ada di atas nakas, lantas ia membukanya dan menemukan sebatang coklat yang pernah diberikan oleh Xavier. Hatinya kembali sakit, sulit sekali mendapatkan cinta Pria itu meski sudah berjuang cukup lama. Ada hati yang tulus mencintainya, namun Xavier malah salah memilih dengan mempertahankan hubungan dengan seorang wanita yang telah mendua.
Satu pesan masuk membuat Audie mengalihkan pandangannya kearah benda pipih yang tergeletak di atas kasur. Audie hanya mengabaikan, hingga beberapa pesan masuk barulah Audie meraih ponsel itu, mana tahu ada sesuatu yang sangat penting.
Telunjuk Audie menekan ikon WhatsApp, ada 3 pesan baru yang belum ia baca dari grup yang telah dibuat oleh Xavier.
Pak Xavier
(Besok saya ada urusan di kampus, jadi akan pulang sore. Bagaimana jika kita belajarnya di waktu malam saja selepas shalat maghrib?)
21:35
Arini Cetar
(Kalau saya sih bisa aja, Pak. Tapi ... Nggak tahu dengan Audie sama Indah.)
21:37
Indah
(Saya juga fine-fine aja, Pak. Tinggal nunggu pendapat Audie.)
21:38
Audie berpikir sejenak, hingga akhirnya ia juga ikut bergabung dalam obrolan group chat tersebut.
^^^Anda^^^
^^^(Saya juga nggak masalah, Pak.)^^^
^^^21:40^^^
Di read dengan centang dua warna biru, namun tidak ada balasan baik dari Arini, Indah maupun Xavier.
__ADS_1
Audie menghembuskan napasnya panjang, ia kembali melempar ponsel itu ke atas kasur hingga terpental. Sebelum mematikan lampu kamarnya ia menyimpan coklat yang pernah diberikan oleh Xavier. Barulah Audie menuju ranjangnya untuk tidur. Hari kemarin dan hari ini rasanya sangat lelah, tidak tahu untuk besok dan seterusnya, mungkin akan sama saja.
..."Kata langit, aku harus bisa mengalahkan tingginya agar aku bisa meraih bintang. Jadi, kesimpulannya aku tidak akan bisa memilikimu yang terletak jauh sama seperti bintang"...