
Sepanjang perjalanan Linda tidak hentinya menangis. Begitu juga dengan Irfan, ia merasa bersalah. Irfan benar-benar tidak menyangka tiba-tiba pihak rumah sakit menginformasikan bahwa Audie tengah koma setelah mengalami kecelakaan.
Sesampainya di dalam gedung rumah sakit, cepat-cepat Linda menanyakan nomor ruangan Audie dan segera menuju kesana. Rasa cemas dan gelisah tidak bisa ia sembunyikan, kedua matanya tidak hentinya mengalirkan cairan bening itu.
Mata Irfan memicing saat mendapati seorang Pria yang begitu familiar baginya baru saja keluar dari ruangan Audie. Terus saja ia perhatikan hingga Pria itu memalingkan wajahnya tepat menghadap Irfan. Pandangan mereka bertemu, raut wajah tidak percaya mereka terpasang.
"X-XAVIER?" panggil Irfan untuk memastikan.
Xavier menautkan kedua alisnya, "maaf, siapa yah?" tanya Xavier balik, sedangkan Linda hanya terdiam, kemudian ia menyeka air matanya yang berhamburan.
"Aku Irfan... Masa kamu nggak kenal?!" segaris senyum lebar terpasang dibibirnya.
"Kamu... Irfan?" tunjuk Xavier ragu kepada dada bidang Irfan.
"Iya, aku Irfan, kamu Xavier, kan?" ucap Irfan setelah mengangguk semangat.
Xavier tersenyum seraya mengangguk, tanpa basa-basi keduanya berpelukan, tangan Irfan menepuk-nepuk punggung Xavier cukup keras hanya untuk menumpahkan rasa rindunya setelah belasan tahun tidak bersua.
"Apa kabar?" tanya Irfan heboh, kedua tangannya bertengger di kedua sudut bahu Xavier. Mata Irfan berkaca-kaca, ia hanya tidak percaya bisa bertemu dengan teman semasa kecilnya sejak mereka duduk di bangku Sekolah Dasar.
Irfan dan Xavier dulunya bersahabat dekat, hanya saja, mereka terpaksa berpisah di usia 12 tahun, karena Xavier harus ikut kedua orang tuanya keluar negeri dan melanjutkan sekolahnya di sana. Namun, ketika Xavier sudah lulus perguruan tinggi, ia kembali ke Indonesia dan tinggal bersama kakak kandungnya yang bernama Lufy, kemudian melanjutkan proffesinya sebagai dosen.
"Ternyata kamu masih bisa mengenaliku, Irfan. Lihatlah, aku tumbuh tinggi, tampan dan berkarisma. Tidak seperti dulu lagi, kecil, hitam, gendut dan selalu di bully."
Irfan tertawa mendengar penuturan Xavier.
"Tentu saja aku mengenalmu. Bahkan hanya dengan melihat kalungmu itu." Tunjuk Irfan ke
arah leher Xavier, di mana di sana sudah ada menggantung kalung titanium dengan pahatan beberapa huruf yang jika dibaca bermakna "Friend".
Xavier memperhatikan leher Irfan, tidak ia temukan di sana menggantung kalung yang sama dengannya. "Bagaimana denganmu, di mana kalung persahabatan kita?"
Irfan meraba lehernya, "oh, aku meninggalkannya di rumah. Aku tidak bisa memakai aksesoris ketika mandi, sebab itulah aku melepaskannya dan lupa memakainya kembali."
Xavier mengangguk paham, lalu diliriknya Linda, ada jejak air mata di sana dengan kantong mata yang membengkak hebat. "Tante," sapa Xavier sopan lalu menyalim tangan Linda.
"Bagaimana kabarmu, Xavier? Sudah lama sekali tidak bertemu."
"Alhamdulillah baik, Tante. Lantas... Perihal apa yang membuat tante menangis?" tanya Xavier hati-hati, tidak ingin menyinggung hati orang tua itu.
"Anak gadis tante, dia masuk rumah sakit karena kecelakaan." Tangisan itu pecah kembali.
"Innalillah..." Ucap Xavier ikut berduka, "dimana ruangannya tante, lantas bagaimana, apa lukanya parah?"
Raut wajah khawatir terpahat di wajahnya, meski tidak sekhawatir Linda dan juga Irfan. Pasalnya, Xavier belum tahu kalau Irfan mempunyai saudara perempuan, yang ia tahu Irfan itu adalah putra satu-satunya dan tidak memiliki seorang adik.
"Di sana," tunjuk Linda tepat dimana Xavier baru saja keluar dari ruangan itu," "...tante juga tidak tahu, ini tante baru ingin menjenguknya." Tangis Linda kembali pecah, lalu ia permisi kepada Xavier untuk segera memasuki salah satu bangsal yang ia tunjuk.
Xavier mengangguk, ia perhatikan tubuh Linda dan Irfan yang melenggang pergi memasuki bangsal.
__ADS_1
Di dalam sana, jantungnya sedang berpacu dua kali lebih cepat dari yang biasanya. Ia terdiam untuk sesaat.
"Apa mungkin adik Irfan itu Audie? Anak perempuan yang tidak sengaja kutabrak?" monolog Xavier.
Dengan ragu, Xavier melangkah pergi meninggalkan rumah sakit. Semalaman ia tidak tidur hingga pagi menjelang. Lelaki itu harus terjaga untuk memastikan keadaan Audie tetap baik-baik saja. Bagaimanapun juga, ia harus bertanggung jawab, bukan karena peduli dan khawatir tentang keadaan cewek itu. Meski semalaman ia menjaga Audie, namun yang ia risaukan adalah tunangannya, Alea.
Di sisi lain, Linda memasuki ruangan yang berbau obat-obatan, tangisnya pecah saat melihat Audie sedang terbujur lemah di atas brankar.
"ADEK..." Teriak Linda, ia berlalu kemudian memeluk tubuh putrinya.
Linda menangis sesenggukan, ia tidak kuasa melihat keadaan putrinya saat ini. Di mana selang terpasang di mana-mana. Hatinya tercabik-cabik, keadaan Audie tampak mengenaskan.
Perlahan, Audie membuka matanya. Gadis itu bukan sedang tidak sadarkan diri, ia hanya sedang menikmati tidurnya. "Mama?"
Pandangan Audie kemudian beralih kepada Pria di sebelah Linda, "abang?" Irfan menunduk.
"Argghhh..." Audie meringis kala Linda memeluknya terlalu erat.
"Mama, Audie nggak bisa bernapas, nih!" ujarnya.
Wajah Linda khawatir, ia meraba setiap inci luka Audie, "kenapa, sayang? Dimana yang sakit? Kenapa kamu nggak bisa bernapas?"
Audie melepaskan pelukan Linda, lalu ia bernapas lega. "Mama meluknya terlalu kencang, kek Audie itu bantal guling aja," rengeknya.
"Oh, gitu ya?" Linda membelai rambut Audie dengan sayang.
Audie tersenyum, "Bang Irfan nggak usah minta maaf, ini bukan salah abang kok. Audie yang nggak hati-hati saat nyebrang jalan."
Mungkin, dengan cara seperti inilah Tuhan menyatukan kembali dua saudara yang berselisih ini.
"Audie udah makan?" tanya Linda.
"Udah, pagi ini Audie makan bubur lagi disuapin sama Pak Xavier."
Mata Irfan membulat sempurna, dagunya terangkat. "Xavier? Xavier siapa?" tanya Irfan penasaran.
"itu loh, guru privat, Audie!" jawabnya santai.
Kini Irfan mulai ingat, Xavier teman masa kecilnya itu baru saja keluar dari ruangan ini, namun ia tidak menanyakan hal itu karena sibuk menumpahkan kerinduan dan bercengkrama tentang masa lalu.
"M-Maksud kamu, Xavier yang baru saja keluar dari ruangan ini? Xavier yang tubuhnya tinggi, rambut coklat kaku, dan.... Seorang dosen itu?"
Audie mengangguk pelan, bahkan ia tidak kalah terkejutnya dengan Irfan. "Bang Irfan kenal sama Pak Xavier?"
"Jadi, selama ini guru privat yang kamu maksud itu Xavier? Teman masa kecil abang yang sudah belasan tahun tidak ketemu?" Irfan masih tidak percaya.
Audie membisu untuk beberapa detik, lalu meminta Irfan menjelaskan mengapa saudaranya itu begitu kenal dengan Xavier. Ada kecemasan dalam dirinya setelah mengetahui betapa dekatnya Irfan dengan guru privatnya itu. Bagaimana Audie bisa tenang, jika sewaktu-waktu persahabatan diantara keduanya merenggang kala menyadari ternyata wanita yang mereka perjuangkan selama ini adalah wanita yang sama.
Audie benar-benar tidak bisa berpikir, apa yang harus dia lakukan dan sampai kapan Alea akan melanjutkan permainannya ini? Baik Xavier ataupun Irfan, diantara keduanya pasti akan ada yang terluka.
__ADS_1
***
Ruangan bernuansa putih itu kini tengah ramai dikunjungi enam orang. Gadis yang masih terbaring itu menatap plafon dengan hati yang kacau. Suara isak tangis yang menggelegar tidak ada hentinya sejak 3 jam yang lalu. Air matanya berhamburan, cairan bening yang disebut ingus itu mengalir halus dari hidungnya.
Audie menatap Indah sekilas, lalu ia memutar bola matanya malas. "Indah, lo bisa diam nggak? Gue tuh nggak kenapa-napa. Lo udah nangis sejak tiga jam yang lalu loh."
"G-Gue, nggak s-sanggup lihat l-luka lo s-separah ini, Audie. G-Gue nggak bisa b-bayangin kejadian sewaktu P-Pak Xavier nabrak lo." Indah mendekatkan hidungnya dibahu Arini yang ada disebelahnya, lalu membersihkan ingusnya menggunakan baju cewek itu.
"Astaga... nih anak satu, jorok amat dah," protes Arini, namun ia hanya pasrah dan ikhlas saat mendapati sudah ada cairan bening menempel halus di seragam sekolahnya.
Yuda melirik sekilas, "ishhh..." ucap pelajar itu begidik ngeri dengan raut wajah yang masam saat melihat betapa joroknya Indah.
"Cup, cup, cup... Udah, jangan nangis lagi, yah. Gue nggak papa kok." Audie merangkul tubuh Indah dengan sebelah tangan, karena tangan kanannya sedang diperban akibat mengalami patah tulang.
Jack mendekat, sedari tadi ia tidak berkutik dan hanya bisa menangis dalam diam saat melihat keadaan Audie. Rasa benci dan dendamnya kepada Xavier semakin berkobar-kobar, ia tidak bisa memaafkan tutornya itu atas setiap luka yang telah Xavier hadiahkan kepada Audie, gadis yang Jack cintai selama ini.
"Lo makan dulu, Audie. Ini, gue bawain bubur." Jack meletakkan bubur itu di atas nakas.
Audie mendesis, "bubur lagi, bubur lagi. Gue pengen makan pizza, masa sejak semalam yang masuk ke dalam perut gue makanan bayi mulu sih."
"Nih anak, orang sakit kan emang makanannya bubur. Lo harus cepat sembuh Audie, sebentar lagi kita akan melaksanakan Ujian Nasional. Emang lo mau, nggak ikut ujian?"
"Udah, jangan marahin Audie. Kalau gitu gue pesan pizza ya. Yang penting lo mau makan."
"Dasar bucin!"
Jack pun segera membuka aplikasi gofood, dipesannya pizza tiga kotak untuk Audie dan juga teman-temannya. Karena Jack yakin Yuda, Zayn, Arini dan Indah pasti juga sedang kelaparan. Teringat selepas pulang sekolah tadi mereka bukannya langsung pulang ke rumah masing-masing namun segera pergi ke rumah sakit saat mendengar kabar Audie mengalami kecelakaan.
Zayn memperhatikan detail setiap luka Audie, mulai dari tangan gadis itu yang dibaluti perban, imfus yang masih terpasang, perban yang melilit di kepalanya sampai luka-luka lecet di wajah serta tangan Audie.
"Ternyata lo kuat juga yah, Audie. Nggak kayak Yuda, luka sedikit aja udah nangis." Lirik Zayn kepada Yuda.
"Dasar lo, Zayn. Gue nggak secengeng itu kali," Timpal Yuda tidak terima atas ucapan sahabatnya itu.
"Heleh, yang kemarin saat dihajar SMA sebelah, buktinya lo nangis saat kaki lo patah." Yuda menatap Zayn sinis, ia tidak bisa membela dirinya lagi, karena hal itu benar adanya.
Tidak berselang lama, pizza yang dipesan Jack akhirnya datang. Sepasang mata Audie berbinar-binar, sudah lama sekali ia tidak makan pizza. Dengan lahapnya Audie menyantap setiap potongan pizza dengan toping keju mozarella.
Semua orang menatap Audie heran, bahkan potongan pizza yang hampir masuk ke dalam mulut mereka enggan untuk segera menyantapnya. Fokus mereka saat ini hanyalah Audie.
"Lo niat sakit nggak sih, Audie? Gue baru tahu ada orang sakit tapi nafsu makannya tinggi."
"Minggu-minggu ini gue jarang makan akibat nggak akur sama Bang Irfan. Lagian, apa salahnya sih gue nafsu makan? Emang berdosa? Enggak, 'kan?" kata Audie dengan mulut yang masih mengunyah hingga kedua pipinya terlihat menggembul seperti bola.
Semua orang hanya menghembuskan napas pasrah. Mereka yang sangat khawatir saat mendengar kabar Audie kecelakaan, ternyata Audie terlihat baik-baik saja. Tidak peduli dengan lukanya, seakan ia tidak merasakan rasa sakitnya sama sekali.
...🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️...
...Sahabat itu seperti embun di pagi hari, selalu menyejukkan. Bahkan ketika aku dalam keadaan seperti apapun, mereka selalu ada....
__ADS_1