Dosenku

Dosenku
Punishment


__ADS_3

Pagi yang menjengkelkan bagi Audie. Bagaimana bisa Irfan lebih memilih menjemput Alea ke rumahnya dan mengantarkannya ke sekolah Audie. Sedangkan adiknya itu ia biarkan naik bus sendirian.


Pandangan Audie menyusuri setiap kegiatan para makhluk di pagi hari ini. Ia menyandarkan kepalanya di jendela kaca bus, di kedua telinganya telah merekat earphone. Kiranya dengan mendengarkan lagu k-pop kesukannya bisa membuat Audie sedikit rileks.


Gadis berkulit putih pucat itu menghembuskan napasnya kasar, baik Xavier maupun Alea, keduanya berhasil menguasai separuh pikiran Audie, keduanya telah berhasil membuat Audie terluka. Apalagi ... Mengingat bagaimana Alea berniat untuk melukai perasaan Irfan saudara laki-lakinya.


Audie turun dari bus, sepasang kakinya melangkah lemah, kepalanya tertunduk meratapi sepatu hitam miliknya. Hari ini dan seterusnya, entah kapan warna pelangi itu akan ada.


"Audie ..." Teriak seseorang namun tidak disahuti oleh orang yang dipanggil namanya. Musik dari earphone itu berhasil menguasai gendang telinga Audie.


Jack berdecak, lantas ia berlari semangat seraya menyandang rancel hitam di pundaknya, sedang satu tangannya bertugas merapikan rambut gondrongnya yang semakin memanjang hampir sejajar dengan bahu.


"Audie!" ulang Jack, tangan bertato itu bertengger di bahu Audie. Aneh memang, ketika para guru-guru mendapati tato di tubuh Jack, namun tidak ada yang pernah berani menegur anak itu. Bahkan kepala sekolah saja tidak pernah menyalahkan atas kenakalan siswanya.


"Jack?" spontan Audie melepaskan earpohone-nya. Lalu memasukkan benda kecil itu ke dalam tas rancel merah muda yang ia sandang.


"Ada apa?" tanya Audie, keduanya berjalan melewati segerombolan siswa yang hendak menuju ke dalam kelas juga.


"Lo nggak diantar sama bang Irfan, kenapa naik bus?"


Jack memang sudah kenal dengan seluruh anggota keluarga Audie. Karena tidak jarang ia sering berkunjung ke rumah Audie setiap hari minggu. Meski kedatangannya sangat mengganggu bagi Audie, tapi gadis itu masih tahu bagaimana cara memperlakukan seorang tamu.


Langkah Audie semakin cepat, lantas Jack mencoba mengejarnya, mensejajarkan langkahnya dengan cewek mungil itu. "Nggak papa, bang Irfan ada urusan penting. Terpaksa gue harus naik bus."


"Ooh ..." kata Jack membulatkan bibirnya seperti telur ayam, kepalanya mengangguk paham.


"Harusnya lo bilang sama gue, pasti gue jemput. Mumpung jok belakang motor gue nganggur," ujarnya menawarkan bantuan.


Audie hanya tersenyum membalas kebaikan Jack. Bagi Audie, tidak ada seorang lelaki pun yang mencintainya kecuali Ayahnya, Irfan dan juga Jack. Meski Audie tahu bagaimana sifat asli Jack yang sebenarnya, meski Audie juga tahu bahwa Jack itu hanyalah seorang playboy, tapi ia selalu menghargai perasaan Jack meski ia tahu bahwa Jack hanya bermain-main dalam setiap kisah cintanya. Menurut Audie, tidak ada secara yang benar-benar Jack cintai secara tulus, dia hanyalah melampiaskan rasa kegabutannya. Tapi Audie fine-fine saja dengan hal itu.


Bel berbunyi masuk, seluruh penghuni sekolah yang berperan sebagai siswa memasuki kelasnya masing-masing. Pagi ini Audie tidak pernah melihat batang hidung kedua sahabatnya. Mungkin nanti setelah jam istirahat pasti keduanya akan menjemput Audie ke kelasnya untuk nongkrong di kantin.


Audie merapikan seragamnya, napasnya berat saat mengingat jam mata pelajaran pertama adalah Fisika. Pelajaran yang sangat membosankan serta pelajaran yang membuatnya hampir gila. Bagi Audie Fisika itu sama saja dengan rumah berhantu, terkesan horor dan menyeramkan karena memiliki rumus segudang.


Derap langkah sepatu terdengar nyaring di sepanjang koridor, semua siswa kembali duduk ke bangku masing-masing. Kali ini Audie tidak berniat mengusir Jack yang memilih duduk di sebelahnya. Teman sebangku Audie telah pindah sekolah, hal yang tidak masuk akal memang. Padahal mereka sudah berada di semester akhir, sekitar beberapa bulan lagi akan diadakan Ujian Nasional, tapi ada juga siswa yang memilih pindah sekolah.


Alea selaku guru fisika memasuki kelas setelah mengucapkan salam. Para siswa siswi yang ada di dalam ruangan menjawab salam itu dengan semangat terutama para siswa. Bagaimana tidak, selain mendapat ilmu mereka juga bisa menjernihkan mata. Kecantikan Alea memang luar biasa, tidak jarang orang selalu memuji setiap ukiran wajahnya.


"Hari ini kita akan mengulang pelajaran sebelumnya. Saya akan memberikan latihan soal yang akan muncul di Ujian Nasional nanti," ucap Alea, ia berjalan memberikan lembaran soal mulai dari meja pertama hingga seterusnya.


Audie memperhatikan soal-soal itu, satu pun tidak ada yang bisa dicerna oleh otaknya. Sesekali Audie menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Saya kasih waktu 30 menit, kalau tidak selesai akan mendapat hukuman menghormat bendera. Jika dari sepuluh soal itu ada lima yang salah, maka akan mendapatkan hukuman membersihkan toilet."


Seketika ruangan riuh, para siswa siswi melontarkan kalimat mengeluh. "Percuma cantik kalo suka ngasih hukuman," komentar salah seorang siswa.


"Kalo ceritanya kek gini, lebih baik gue milih Bu Nina. Biar jelek asal baik," timpal siswa yang lain.


Sekali lagi Audie memfokuskan pikirannya ke dalam soal-soal yang ada di secarik kertas itu.


Jika massa benda A dan B adalah 4 kg dan 10 kg dan katrol licin, maka tentukan percepatan sistem pada gambar di atas! (g \= 10 m/s2, ยตk\= 0,2)


Nihil, otaknya tidak bisa bekerja padahal Audie baru membaca soal yang pertama, bagaimana dengan soal-soal berikutnya? Angka-angka itu terkesan horor baginya, perlahan-lahan melilit otak hingga membuat Audie hampir gila.


Pandangan Audie beralih kepada Jack, cowok itu sedang menyandarkan kepalanya di atas meja, menimpa kedua tangannya yang terlipat.


Audie menyenggol lengan Jack, refleks cowok bertato itu menatap pelakunya dengan kedua alis yang saling bertautan.


Audie menyodorkan selembar kertas itu, ia menunjuk salah satu soal yang tertera disana. "Lo ngerti nggak?" pertanyaan itu hampir membuat Jack memuncratkan air liurnya. Dengan terpaksa cowok itu menutup mulutnya yang hampir tertawa dengan kedua tangan.


"Lo, nanya gue?" tanya Jack, ia mengarahkan telunjuknya tepat dibagian dadanya.


Audie mengangguk polos, "iya! Emang kenapa?" lagi-lagi tawa Jack hampir pecah di kala itu, bahkan kedua sudut matanya sudah berair akibat menahan tawa.


"Orang dungu nanya sama orang dungu, mau jadi apa kita berdua? hadeuh ...." Ucap Jack, ia kembali menjatuhkan kepalanya diatas meja.


Jarum jam di dinding telah menunjukkan pukul 08:25, waktu yang tersisa tinggal 5 menit lagi. Namun, satu pun soal-soal yang ada dihadapan Audie belum ada yang terjawab.


Hingga waktunya telah selesai, Audie panik, ia mengedarkan pandangannya ke belakang berharap ada orang baik yang rela membagikan jawaban. Namun, baru saja Audie menoleh, cewek yang ada di belakangnya segera mendelik tajam. Audie kembali memutar kepalanya ke depan, ia menatap nanar kertas jawaban yang belum di isi sama sekali. Andai Audie satu kelas dengan Arini atau Indah, pasti mereka dengan berbaik hati membantunya.


"Jawab aja sesuka lo, inikan pilihan berganda. Mana tahu nanti pilihan lo bagus semua," saran Jack.


Cowok itu memutar bola matanya jengah saat mendapati Audie justru malah melamun, "sini!" Jack mengambil kertas jawaban Audie, ia membulati setiap huruf yang menurut feeling-nya benar.


"Waktu sudah habis, silahkan di kumpul. Jika tidak selesai atau jawabannya tidak benar, siap-siap menerima hukuman." Perintah Alea dari depan sana dengan meninggikan oktaf suaranya.


"Antar, Audie. Kok malah bengong?"


Audie menatap Jack sendu, "percuma, Jack. Ujung-ujungnya gue bakalan dapat hukuman."


"Eh, Audie. Gue memang ngejawab soal-soal ini asal-asalan, tapi asal lo tahu kalau insting gue nggak pernah salah."


Audie bangkit dari kursinya, ia melangkah malas, lalu meletakkan selembar kertas itu di atas meja guru. Alea menatapnya lekat, ia menyunggingkan senyum sinis, ada sesuatu yang wanita itu rencanakan.

__ADS_1


Audie kembali duduk di kursinya, tidak ada harapan bahwa jawaban dari soal yang diberikan Alea itu akan benar semua.


"Tenang aja, lo sama gue nggak bakal dapat hukuman."


"Lo dungu, gue dungu, dari mana jalannya jawaban kita benar?"


"Gue kan udah bilang sama lo, feeling gue nggak pernah salah. Tinggal cap cip cup jawabannya bakalan benar semua."


Audie menghembuskan napasnya jengah mendengar Jack yang terlalu percaya diri.


Sedangkan di meja guru sana, Alea tengah mengoreksi lembar jawaban Audie. Bola matanya membulat sempurna, tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Satupun jawaban Audie tidak ada yang salah. Alea beralih melihat lembar jawaban Jack, dan mendapati jawaban mereka sama.


"Audie," panggil Alea, membuat nama orang yang dipanggil segera mengalihkan pandangan ke arah sumber suara.


"Iya, Bu!" Sahut Audie, sangat sulit baginya menganggap Alea sebagai guru.


"Maju ke depan, kerjakan soal nomor satu sampai tiga," perintah Alea.


Wanita itu masih ingat bahwa Linda pernah mengatakan otak Audie jauh dari kata pintar. Sebab itulah mengapa ia menyuruh Audie mengerjakan soal dan menuliskan rumusnya di papan tulis, karena ia yakin Audie pasti tidak akan bisa mengerjakannya sebab dia hanya meminta jawaban kepada temannya.


Audie melangkah ragu, pasalnya ia tidak hapal dengan rumus. Sedikitpun ia tidak mengerti tentang fisika. Audie berdiri di depan whiteboard, di tangannya sudah ada spidol. Bahkan Audie merasa kesulitan meneguk salivanya, tubuh itu telah melemah, entah apa yang harus dia tulis di sana.


"Cepat, waktu kita hampir habis." Kalimat itu terdengar seperti bentakan.


Sedangkam di meja barisan ketiga Jack menatap Audie iba. Ia yakin, cewek itu tidak akan bisa menyelesaikan soal-soal rumit seperti itu.


"Waktunya habis, sudah lima menit berlalu tapi kamu hanya diam saja. Hormat di lapangan setelah itu bersihkan seluruh toilet di sekolah ini.," perintah Alea, ia membereskan buku-buku di atas meja sebelum akhirnya ia hendak meninggalkan ruangan.


"Tidak bisa seperti itu, Bu. Kenapa hukumannya sebanyak itu?" protes Jack tiba-tiba, siswa siswi yang ada di kelas XII-3 menatap cowok itu aneh. Bagaimana tidak, Audie yang mendapat hukuman namun dia yang tidak terima.


"Maksud kamu apa?" ancam Alea.


"Audie mengantar lembar jawabannya sebelum waktunya habis. Terus mengapa Audie dikasih hukuman sebanyak itu?"


"Seharusnya dia bersyukur karena saya tidak menambah hukumannya. Bagaimana bisa soal-soal yang dia jawab benar semua tapi disuruh mengerjakannya menggunakan rumus dia tidak bisa? Apalagi namanya kalau bukan mencontek?" jelas Alea.


"Tapi-"


"Jack," panggil Audie, ia menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum simpul, memberikan isyarat agar Jack tidak perlu membelanya.


Melihat Jack tidak melanjutkan ucapannya, Alea segera melenggang pergi meninggalkan ruangan. Ada senyum licik terukir di bibir wanita itu.

__ADS_1


๐Ÿงš๐Ÿปโ€โ™€๏ธ๐Ÿงš๐Ÿปโ€โ™€๏ธ๐Ÿงš๐Ÿปโ€โ™€๏ธ


Jangan lupa kasih semangat yoo buat Author :)


__ADS_2