Dosenku

Dosenku
Irfan's Past


__ADS_3

Hari ini hati Audie tengah risau. Ia terduduk di bangku jejeran barisan ketiga. Dirinya sedang berusaha berpikiran jernih personal Alea pacar saudaranya atau Alea tunangan Pemuda yang ia sukai?


Gadis itu menghembuskan napasnya dengan sangat kasar. Tidak bisa ia pungkiri jika nanti Irfan tahu wanita yang telah Pemuda itu pertahankan selama dua tahun ini ternyata telah memiliki tunangan.


Audie mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat, dadanya naik turun saat mengingat betapa besarnya cinta Irfan kepada Alea. Namun, inilah balasan yang diberikan wanita itu untuk saudaranya. Jika sempat Irfan tahu, Audie hanya takut kejadian beberapa tahun yang lalu terulang kembali.


Audie tidak ingin kehilangan saudara satu-satunya, dan ia tidak ingin melihat Irfan terluka. Tapi, jika Audie hanya diam saja tanpa memberitahu kepada Irfan tentang yang sebenarnya, sampai kapan lagi mereka harus mengikuti permainan Alea ini? Suatu hari nanti pasti akan terbongkar, dan hari itu juga Irfan harus bisa menerima kenyataan bahwa wanita yang selama ini yang ia bangga-banggakan berhati busuk dan licik.


Audie meletakkan tumpukan bukunya di atas bangku disebelahnya saat Jack hendak mengambil duduk di sana. Hari ini siswi teman satu bangku Audie tidak hadir dengan alasan sakit, jadilah Audie hanya sendiri di dalam satu meja.


"Singkiran nggak?" ancam Jack memperlihatkan wajah horornya. Audie hanya menggeleng, membuat Jack terpaksa mengambil tumpukan buku itu lalu meletakkannya kembali di atas meja.


Dengan santainya Jack mengangkat sebelah kakinya seakan sedang berada disebuah kedai. Kedua tangannya terselip di belakang kepalanya, ia mendongak ke atas dengan sepasang mata yang terkatup.


Audie hanya mendengus pasrah, selama enam jam ini ia harus menguatkan kesabaran menghadapi satu siswa di sebelahnya.


Dua menit berlalu, Audie memukul keras kaki Jack agar segera menyingkir dari atas meja saat gadis itu melihat kedatangan kepala sekolah. Wanita berusia 52 tahun yang disegani oleh seantero SMA swasta tersebut.


Jack menepiskan tangan Audie saat ia merasakan panasnya pukulan cewek itu, "apaan sih, Audie?"


Mata Audie mendelik tajam, "kaki lo Jack, turunin. Lihat tuh, kepala sekolah dateng."


Bukannya segera merapikan penampilannya dengan mengancing kemeja putih yang terbuka dua biji bagian atas dan menurunkan kaki, Jack malah semakin merajalela dengan menaikkan kedua kakinya di atas meja.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum!" Bahkan suara kepala sekolah saja terdengar sangat horor, langkahnya berwibawa dengan kaca mata minus yang bertengger di atas hidungnya.


Semua siswa siswi yang ada di kelas XII-3 memeriksa seragam mereka masing-masing. Mulai dari dasi yang miring, rambut yang terlalu licin akibat pomade atau bahkan rok yang terlalu pendek.


"Wa'alaikumussalam!"


Percayalah, lebarnya senyuman dibibir mereka hanyalah sebuah paksaan.


"Selamat pagi anak-anak!"


"Pagi, Bu!"


Sembari meletakkan beberapa buku paket diatas meja, kepala sekolah tidak mengalihkan pandangannya dari siswa siswi yang sudah terkenal atas kenakalannya. Tapi tidak untuk Jack, sekedar melirik Jack saja kepala sekolah tidak berniat.


"Kedatangan Saya kesini tidak lain untuk menginformasikan bahwa hari ini dan seterusnya Bu Nina tidak akan mengajar lagi," informasi itu membuat beberapa mulut siswa di kelas XII-3 mengeluh.


Salah satu siswi di jejeran bangku kelima mengangkat sebelah tangannya, Putri namanya. "Maaf, Bu. Jika boleh saya tahu, penyebab Bu Nina tidak ingin mengajar lagi karena apa ya, Bu? Apa jangan-jangan karena kejadian dua hari yang lalu? Dimana kami membuat Bu Nina merasa malu karena tidak bisa menjadi siswa siswi yang baik seperti kelas sebelah?" gadis itu mengucapkannya dengan raut wajah menyesal.


"Bukan, bukan karena itu. Kalian pasti tahu kan kalo Bu Nina itu sudah menjanda selama lima tahun? Dan sekarang Bu Nina akan menikah dengan seorang lelaki dari Jakarta. Jadi, Bu Nina berhenti mengajar bukan karena kalian, tapi ia akan tinggal bersama suaminya di Jakarta." Jelas kepala sekolah, membuat siswi yang bernama Putri itu mengelus dadanya lega.


Tidak terkecuali Audie, gadis itu sangat takut jika Bu Nina masih marah kepada mereka tentang kejadian dua hari yang lalu. Namun, ada juga rasa penyesalan dihatinya karena tidak bisa menjadi siswi yang baik. Dia selalu mengecewakan guru-gurunya, termasuk juga orang tua Audie dengan nilai-nilai raport yang sebagian angkanya dikotori dengan tinta warna merah.


"Sekarang kalian kedatangan guru baru untuk menggantikan Bu Nina. Saya harap dia bisa mendidik kalian dengan baik!"

__ADS_1


Semua mata tertuju pada ambang pintu kelas. Menunggu kedatangan guru baru yang kepala sekolah maksud. Beberapa mulut siswa komat-kamit melangitkan do'a berharap guru pengganti Bu Nina tidak termasuk dalam daftar guru-guru yang killer.


Derap langkah sepatu seorang wanita menggema disepanjang koridor mendekati pintu kelas XII-3. Hingga ia berdiri diambang pintu semua mata terbelalak lebar, tidak terkecuali Audie, berulang kali ia mengerjap-erjapkan sepasang matanya, namun tetap saja wajah wanita yang tengah tertegak di sana tidak berubah. Cantik, gumam para laki-laki yang ada di kelas XII-3.


"Assalamu'alaikum!" Salam itu di iringi senyum yang mengembang.


"Wa'alaikumussalam, Bu!"


"Nah, ini dia guru baru kalian. Namanya Alea, dia juga seorang dosen. Saya harap, kalian bisa menjadi murid-murid yang baik." Kepala sekolah melemparkan senyum ramah kepada wanita disebelahnya, Alea hanya menyambut senyuman itu dengan hangat.


Sedangkan disisi lain, di jejeran bangku ketiga, Audie sangat tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Bahkan cewek dengan pipi montok itu belum tersadar dari dunianya meski saat ini Jack tengah melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajah Audie.


"Woiii... Sadar..." Teriak Jack berhasil membuyarkan lamunan Audie.


"Lo kenapa? Takut kalah saing sama guru cantik itu?" Jack mengedipkan sebelah matanya nakal.


Satu tinju melayang tepat di rahang tirus Jack, ia mengadu kesakitan tapi tidak berani untuk membalas. Audie yang merasa puas tinjunya tepat mengenai sasaran segera meniup tangannya yang masih mengepal.


"Nah, sekarang saya pamit dulu. Ingat, kalian jangan menjadi siswa yang nakal, sebentar lagi kalian akan Ujian Akhir Semester, dan nilai kalian itu yang akan menentukan kelulusan." Kepala sekolah pun pergi keluar dari ambang pintu, namun seketika ia kembali karena lupa mengucapkan salam.


sepasang mata Audie tidak ingin berpaling dari wajah Alea. Ada banyak pertanyaan terbersit di dalam hatinya. Mengapa Alea harus mengajar di sekolah ini dan mengapa juga harus di kelasnya? Tidak cukupkah Profesinya sebagai dosen saja?


Seketika Audie memalingkan wajahnya saat menyadari Alea menyorotinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Audie mengalihkan pandangannya kemana-mana, dia hanya tidak ingin berurusan dengan wanita yang satu itu lagi.

__ADS_1


Di saat jam pelajaran berganti, Alea menghampiri Audie. Ia membisikkan sesuatu ditelinga gadis itu, membuat Audie menggeram marah sambil mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.


..."Entahlah, aku selalu merasa kehilangan ketika aku tidak bisa memilikimu. Kau menghilang cukup lama, kemudian hadir dengan orang baru"...


__ADS_2