Dosenku

Dosenku
Tears


__ADS_3

"Kamu yakin Audie, ikut les hari ini? Lo nggak takut nanti dicakar sama Bu Alea lagi? Ini hari selasa loh, pasti wanita jahannam itu bertamu ke rumah Pak Xavier."


Audie menggeleng, sedangkan Indah yang berada di jok belakang sedang sibuk menyantap somay dalam bungkusan plastik. Hari ini Arini membawa mobilnya, jadilah ketiga gadis itu tidak perlu naik bus untuk sampai di rumah Xavier. Sedangkan Jack, Zayn dan Yuda sedang mengekor dibelakang mengendarai sepeda motor.


"Gue nggak peduli sama si Alea, kan niat gue mau belajar."


Satu semburan somay muncrat dari mulut Indah, lantas ia terbatuk-batuk seraya menatap Audie sinis, "lo? Niat mau belajar?" Indah dan Arini yang sedang menyetir bergelak tawa. Bahkan Arini sempat-sempatnya gagal fokus dalam mengendarai mobil akibat perutnya yang terasa geli, seakan ucapan yang keluar dari mulut Audie adalah suatu lelucon bagi mereka.


Audie mendesis melihat kelakuan dua sahabatnya, "kalian berdua kenapa, sih? Orang mau belajar malah diketawain."


"Sejak kapan lo niat buat belajar? Hampir enam tahun kita kenal lo, Audie. Dan selama enam tahun itu juga gue nggak pernah liat lo serius buat belajar. Yang lo tahukan cuma Pak Xavier doang."


Audie tidak menimpali, ia melilih diam. Apa yang Indah katakan itu memang benar, lantas untuk apa dia menyengkal? Sejak duduk dibangku SD Audie memang malas sekali untuk belajar. Entah bagaimana dengan masa depannya nanti, karena Audie tidak pernah berpikiran sejauh itu.


Hanya menempuh jarak beberapa menita saja, akhirnya tiga anak gadis dan tiga anak laki-laki itu sampai didepan rumah tutor mereka. Pintu rumah itu tertutup, tapi Audie bisa mendengar jelas bahwa ada suara wanita dan seorang lelaki di dalam sana sedang membicarakan sesuatu.


"Assalamu'alaikum!" salam mereka semua, refleks dua manusia yang sedang berada di dalam rumah menjawab salam. Arini membuka pintu setelah mendapatkan perintah. Audie mengelus dadanya lega kala melihat wanita yang tadi ia pikir adalah Alea ternyata adalah Lufy, kakak kandungnya Xavier.


Lufy bergegas pergi ke dapur, ia tidak ingin mengganggu mereka yang sedang ingin belajar.


Audie menegang kala melihat betapa dinginnya ekspresi wajah Xavier. Dalam keadaan sunyi mereka mulai belajar, terkadang Xavier berbicara, menjelaskan tentang materi hari ini. Tidak ada yang berubah dari lelaki itu, hanya saja hari ini ia semakin terlihat cuek dan acuh. Bahkan Xavier seperti menganggap Audie tidak ada. Pria itu tidak peduli, meski Audie tidak mengerjakan tugas yang telah diberikannya minggu lalu.


Audie memetik-metik kukunya kala ia gugup, pandangannya memperhatikan semua orang yang sibuk dengan tugas masing-masing.


"Pak Xavier..." panggil Audie kemudian sehingga atensi semua orang tertuju padanya kecuali nama yang ia panggil.


"P-Pak Xavier!" untuk kedua kalinya belum ada sahutan, hingga sampai pada yang ketiga kalinya...


"Hmmm..." hanya sahutan kecil yang Audie dengar samar-samar. Gadis itu menunduk, akan ada sesuatu hal yang perlu ia katakan. Mata Jack menatap Audie lamat-lamat, menunggu apa kiranya yang ingin disampaikan cewek itu.


"S-Saya sangat minta maaf soal kejadian kemarin. Maafkan saya karena sudah melukai wajah, Bu Alea!" Audie semakin menunduk dalam.


Sedikitpun Xavier tidak ingin mengalihkan pandangannya dari buku yang ia baca, "seharusnya kamu minta maaf sama Alea, bukan sama saya. Kamu sadar tidak, apa yang kamu lakukan itu benar-benar diluar batas. Dan apa yang saya katakan kemarin itu, sedikitpun saya tidak menyesal telah mengatakannya."


Mata Audie memicing, sedikit ia mendongak, "maksud Pak Xavier?"


"Murahan!" lirih Xavier tanpa melihat bagaimana ekspresi wajah Audie saat ini.


Seharusnya, Audie lah yang marah ketika menenerima kata hinaan itu. Namun saat ini, Jack sedang naik pitam, wajahnya yang putih terlihat merah padam. Kedua tangan Jack mengepal, dadanya naik turun. Tatapannya tajam melihat Xavier, "maksud Pak Xavier apaan?"

__ADS_1


Xavier menghembuskan napasnya kasar, sedangkan Audie hanya terdiam, dan empat makhluk lainnya yang tidak lain adalah Arini, Indah, Zayn dan juga Yuda hanya menyaksikan.


"Jadi, apa kamu pikir perbuatan yang dia lakukan itu sudah benar? Dia menampar Alea, menjambak rambut Alea hanya karena Alea tidak ingin meninggalkan saya. Begitu mudahnya dia mengancam seseorang. Alea itu gurunya, dan apa mungkin pantas seorang siswa melakukan kekerasan seperti itu kepada gurunya sendiri? Selain dia keterlaluan, dia juga sangat murahan."


Jujur saja, Audie ingin menangis detik ini juga. Ia juga ingin marah, perasaannya di mix begitu saja. Mengapa dia selalu disalahkan sedangkan yang salah itu malah dibela mati-matian? Entah sudah berapa kali Audie mendengar kata "murahan" menyapu gendang telinganya. Seberapa murahannya dia di mata Xavier, apakah ia lebih murahan dari wanita-wanita ****** yang ada di pinggir jalan sana? Audie sudah bosan dan ingin menyengkal kata itu dilontarkan padanya. Begitu hinanya dia di mata Xavier, dan begitu rendahnya dia diperlakukan oleh cowok itu.


Semua orang tersentak kaget kecuali Xavier kala Jack menghantam meja kaca menggunakan tiga buku tebal. Beruntungnya kaca itu tidak pecah barang sedikitpun. "Apa Pak Xavier yakin kalau Audie yang menampar Bu Alea duluan?" mata Xavier menatap Jack lekat, ekspresi wajahnya sangat sulit untuk diartikan.


"Bukannya Bu Alea yang mengawali pertengkaran itu. Saya melihat jelas Pak Xavier, tangan Bu Alea menampar wajah Audie hinga berulang kali. Siapa yang akan tahan dan sabar saat diperlakukan seperti itu? Bu Alea lah yang salah, karena dia telah menampar Audie tanpa sebab. Seharusnya Pak Xavier jangan terlalu mudah mengambil kesimpulan dan membuat yang tidak bersalah semakin terluka. Satu hal yang menyebalkan dari manusia, selalu membela orang yang ia cintai meski ia tahu orang yang dia cintai itulah yang salah."


Tangan Audie menarik paksa tangan Jack, matanya tajam seakan sedang memberi ancaman dan menyuruh Jack untuk diam. "Gue yang salah, lo diam aja Jack. Lo nggak usah ikut campur, bagaimanapun juga gue harus minta maaf atas kesalahan gue."


Jack mendesis, "nggak usah sok jadi orang baik gitu Audie, gue udah lihat semua bagaimana Bu Alea nampar pipi lo sampai berulang kali. Seharusnya Bu Alea yang minta maaf, dia terlalu ngerendahin lo sebagai muridnya." Ujar Jack memberikan penekanan disetiap kata.


"Lihat, dia sendiri yang mengaku bersalah, mengapa kamu mati-matian membelanya? Satu hal yang menyebalkan dari manusia, selalu membela orang yang ia cintai meski ia tahu orang yang dia cintai itulah yang salah. Maksud dari kalimatmu itu dirimu sendiri bukan? Siapa kamu, pacarnya? Atau hanya sebatas teman?" Xavier membalikkan keadaan.


Sebelum beranjak pergi, Jack menatap Audie kecewa, kecewa mengapa gadis itu tidak ingin membela dirinya padahal ia tidaklah salah. Sedangkan Audie, lagi-lagi yang ia tahu hanyalah menunduk. Tidak ada yang ingin berkomentar, bahkan Zayn dan juga Yuda memilih menyudahi pelajaran hari ini dan mengikuti langkah gusar Jack menuju pintu keluar.


***


Sebelum shalat Isya berkumadang di seluruh penjuru kota, Audie sudah sampai di depan rumahnya diantar oleh kedua sahabatnya.


Dua gadis di dalam mobil dengan jendela kaca yang terbuka hanya menggeleng, "nanti Mama gue nyariin, ini aja gue udah kemaleman." Ujar Arini, sedangkan Indah tidak ingin memberi alasan.


"Ok deh, hati-hati di jalan yah!" Audie melambai sebelum akhirnya mobil yang dikemudikan Arini melaju meninggalkan pekarangan rumah Audie menyusuri jalan kota.


Audie menghembuskan napasnya kasar, hari ini ia sangat lelah. Bukan hari ini saja, hari kemarin juga. Dengan langkah tanpa semangat Audie memasuki rumah sederhana itu seraya mengucapkan salam, namun anehnya tidak ada seorangpun yang menyahut baik itu Linda maupun Irfan. Sampai tiga kali Audie mengulang ucapan salamnya tetap saja rumah terlihat begitu sunyi.


Hingga di detik selanjutnya suara gelak tawa berhasil menghentikan langkah Audie yang ingin menaiki anak tangga putar menuju kamarnya. Suara itu berasal dari arah ruang makan, sempat Audie berpikir jika Dimas sudah pulang. Tapi... apa mungkin ayahnya pulang ke rumah tanpa memberi tahukan padanya terlebih dulu?


Tanpa berpikir panjang Audie segera menuju dimana suara gelak tawa itu berasal, agar ia tidak dibuat semakin penasaran. Hingga wajah yang tadinya segar karena berpikir Dimas pulang seketika berubah drastis jadi masam.


"Eh, Audie? Udah pulang?" mata Audie menatap seorang wanita disana dengan tatapan tidak suka. Ia duduk tepat diantara Irfan dan juga Linda. Audie tidak suka ketika ada orang menempati tempat duduknya.


Irfan melambaikan tangannya sambil menepuk-nepuk kursi makan disebelahnya, "sini dek, makan dulu." Ajak Irfan.


Audie hanya membalasnya dengan gelengan kepala sambil tersenyum simpul, lebih tepatnya senyum yang ia paksakan. "Nggak perlu bang, Audie udah kenyang." Tolak Audie sebelum akhirnya ia membalikkan tubuhnya, berniat untuk segera kembali ke kamarnya saja.


"Kamu pasti laparkan? Kenapa nggak ikut makan, mau menghindar dari Alea?" seketika langkah Audie tercekat, mencoba mencerna ucapan Irfan barusan.

__ADS_1


"Maafin aku yah Audie, aku benar-benar minta maaf. Saat itu aku terbawa emosi karena kamu nampar aku duluan. Seharusnya aku mencari tahu kenapa kamu lakuin itu bukannya malah menampar kamu balik." Alea menunduk untuk menunjukkan kepada Irfan dan Linda bahwa dia adalah wanita yang sangat rendah hati.


Tangan Irfan mengelus lembut punggung tangan Alea yang bertengger di atas meja, "nggak perlu minta maaf segala Lea, bukan kamu yang salah."


Audie meneguk salivanya kasar, matanya sudah berkaca-kaca. Perlahan, Audie kembali memutar tubuhnya menghadap ke belakang. Ia mencoba kuat dan menatap intens mata Alea. "Maksudnya apa yah? Bukannya kamu yang menampar aku duluan, bukannya kamu yang udah nampar pipi aku sampai beberapa kali. Bahkan kamu juga rendahin Bang Irfan dan berkata ingin menyakiti Bang Irfan."


"Aku tidak pernah mengatakan hal seperti itu, Audie. Aku sangat sayang sama Irfan dan aku juga cinta sama Irfan, mana mungkin aku ingin menyakitinya. Kenapa kamu sangat membenci aku? Bukannya kamu yang saat itu mengatakan aku wanita murahan, kamu yang ngerendahin aku."


Audie mendesis, ia tersenyum kecut menganggap kalimat Alea barusan adalah sebuah lelucon. "Kamu pandai sekali yah memutar balikkan fakta?! Kamu terlalu licik dan hanya mengambil keuntungan dari hubunganmu sama Bang Irfan. Seharusnya Bang Irfan ninggalin kamu sedari awal, kamu itu jahat, kamu tidak ada bedanya dengan wanita ****** yang ada diluar sana."


"CUKUP, AUDIE... NGGAK ADA SOPAN BANGET KAMU JADI ORANG." Bentak Irfan yang membuat Audie seketika terdiam. Nyalinya menciut kala Irfan sudah meninggikan oktaf suaranya. Gigi-gigi Irfan menggertak, napasnya tersengal.


"Bang Irfan bentak Audie demi membela wanita ini?" tanya Audie tidak percaya.


"Dia punya nama, Audie. Seharusnya kamu punya sopan sedikit. Apa salah Alea sama kamu? Hah? Kenapa kamu begitu membencinya? Beruntung Alea nggak menuntut kamu karena sudah melukai fisik gurumu sendiri."


Hampir saja air mata itu lolos andai saja Audie tidak segera menyekanya, "kenapa Bang Irfan malah nyalahin Audie, kenapa semua orang nyalahin aku padahal bukan aku yang memulai?"


"Karena memang kamu yang salah," teriak Irfan tidak kalah keras dari yang sebelumnya. Baru kali ini Irfan semarah itu kepada Audie, bahkan Audie sendiri tidak menyangka Irfan bisa seperti itu hanya karena ingin membela wanita seperti Alea.


Linda menatap Audie sayu, "Irfan ..." tegurnya.


"Cukup Mah, jangan bela Audie lagi. Sudah cupuk kita memanjakannya. Ini akibatnya kalau kita terlalu memanjakan Audie, dia tidak punya sopan santun sama sekali. Lihatlah Mah, apa pernah Audie membanggakan keluarga ini? Dia selalu berbuat semaunya, berucap semaunya dan bertingkah semaunya. Bahkan nilai setiap semesternya saja tidak pernah memuaskan, dia tidak bisa menjadi orang yang berprestasi, selalu malas belajar karena Mama dan Papa selalu memanjakannya. Seharusnya Audie diberi pelajaran sekali-kali, agar dia merubah sifat buruknya."


"Bang Irfan kenap—"


"Apa?" tatapan Irfan tajam memotong kalimat Audie.


"Memang benarkan kamu tidak pernah membanggakan keluarga ini, kamu terlalu dimanjakan, bahkan kamu bertengkar dengan gurumu sendiri. Apa masalahmu Audie, kenapa kamu tega menampar Alea?"


Pandangan Audie semakin mengabur kala air mata itu telah menggenang dipelupuk matanya. Dadanya sesak mendengar Irfan mengucapkan kalimat-kalimat itu dengan lantang bahkan yang sebelumnya Audie tidak pernah dengar.


Pandangan Audie beralih kepada Alea, terlihat segaris senyum melengkung di bibir wanita itu. Sebelum akhirnya Audie meninggalkan mereka dengan langkah kaki yang gusar. Air mata itu telah menyabur, menetes tepat diatas lantai. Audie berlari menaiki anak tangga, entah berapa kali ia tersandung lalu terjatuh, namun ia bangkit kembali seraya menyeka air matanya yang turun semakin deras.


"Irfan! Kenapa kamu berkata seperti itu kepada, Audie?"


Irfan memutar bola matanya malas, "sudahlah Mah, kalau memang Audie salah seharusnya kita tegur, dia terlalu dimanjakan, Mah."


"Iya, Mama tahu. Tapi seharusnya kamu tidak berlebihan dengan mengatakan dia tidak pernah membanggakan keluarga ini."

__ADS_1


Tidak ada jawaban dari Irfan, dia tidak ingin memperpanjang lagi masalah ini. Sedangkan wanita disebelahnya, tengah tersenyum secara diam-diam.


__ADS_2