
Pagi ini seperti biasanya, Audie terpaksa naik bus karena Irfan harus menjemput Alea. Sedangkan Dimas, lelaki paruh baya itu telah kembali ke luar kota untuk berkecimpung dengan urusan bisnis.
Gadis dengan rambut kepang bergaya rope braid itu tidak berniat untuk memakan sarapannya hari ini, hanya susu coklat itu saja yang ia minum sampai akhirnya habis tidak tersisa sedikitpun.
"Nasi gorengnya juga di makan dong, Dek. Kamu ini, nanti sakit gimana?" Linda yang sedari tadi memperhatikan anak gadisnya itu kini angkat suara, ia meletakkan piring-piring yang sudah ia cuci kembali ke tempatnya.
Tarikan napas Linda terdengar berat lalu ia hembuskan dengan sangat panjang, wanita Ibu rumah tangga itu mengambil duduk di sebelah Audie, ia membelai lembut samurai gadis itu. "Kenapa? Audie punya masalah?"
Audie kembali tersadar dari dunianya, netranya menatap lekat wajah Linda. Ingin sekali ia mengatakan hal yang sebenarnya kepada wanita tersebut bahwa Alea bukanlah wanita yang baik buat Irfan. Tapi keraguan yang bersemayam di dalam dirinya berhasil untuk mencegahnya melakukan hal tersebut.
"Audie udah kenyang, Mah. Kalau gitu Audie berangkat sekolah dulu yah, takut nanti ketinggalan bus." Dirinya mengambil tas rancel yang ada di atas meja.
"Tapi kan--"
"Assalamu'alaikum!" Cepat-cepat Audie menyalim tangan wanita yang belum selesai mengucapkan kalimatnya namun sudah di potong oleh Audie.
Tubuh mungil itu segera melesat meninggalkan rumah, Linda yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala. Ia tahu, pasti ada sesuatu yang telah terjadi dengan anak gadisnya, namun ia lebih memilih diam dan mendekati Audie secara perlahan-lahan hingga Audie mau mengutarakan hal apa saja yang telah mengganjal di dalam hatinya selama ini.
Baru saja Audie ingin melangkahkan kakinya dari ambang pintu rumah, seketika ia dikejutkan dengan suara klakson sepeda motor. Pengemudinya melepaskan helm hitam itu, senyum sumringai terpancar di bibirnya, barisan gigi-gigi itu hampir kembung saat diterpa angin.
"Ng-ngapin lo senyum selebar itu?" Audie memberikan tatapan sinis dengan bibir yang dinaikkan ke atas, ia memundurkan tubuhnya ke belakang sekitar dua langkah kaki.
"Naik..." Perintah Jack menepuk jok belakang motor matic-nya. Audie tahu itu, bahwa Jack hanyalah seseorang yang memiliki orang tua berpenghasilan pas-pasan, dia sederhana namun cukup nakal.
Sebelum menaiki sepeda motor Jack, Audie harus menghembuskan napasnya jengah. Langkahnya tidak bersemangat, namun Jack tidak peduli dengan hal itu. Dia hanya ingin mengantarkan wanita yang disukainya menuju sekolah tanpa harus bersusah payah menunggu bus.
"Ok... Lets go..." teriak Jack yang membuat Audie harus menutup telinganya dengan telapak tangan.
Di awal perjalanan semuanya masih baik-baik saja. Yang terdengar hanyalah suara-suara klakson kendaraan saat jalan raya tengah dilanda macet. Hingga ditengah perjalanan Audie mulai merasa tidak nyaman saat Jack terus saja mengoceh tidak jelas. Menceritakan bagaimana pertama kali ia menjali hubungan, yaitu semenjak duduk di bangku Taman Kanak-Kanak. Yang seharusnya di usia semuda itu masih belajar huruf abjad, namun ternyata cowok itu telah mengenal apa itu cinta diusia dini. Suatu hal yang sangat tidak mungkin memang, tapi begitulah faktanya.
Audie menghembuskan napasnya kasar, netranya ia palingkan ke plakat-plakat yang ada di tepi jalan. Pura-pura membaca setiap tulisan demi menghindari kalimat-kalimat Jack yang tidak berbobot. Apalagi ketika lelaki bertato itu menceritakan bagaimana ia memperlakukan 32 mantannya dengan sangat adil. Suatu hal yang sangat menjengkelkan bagi Audie, bukan karena cemburu, tapi tidak lain karena Jack sudah lima kali lebih menceritakan hal yang sama kepada dirinya.
Setelah telinga Audie penuh dengan ocehan Jack, akhirnya mereka sampai di SMA Dharvaro. Para siswa siswi berlalu lalang. Ada yang pergi ke kantin sebelum bel masuk berbunyi, ada pula yang berkesempatan menjenguk kekasihnya hanya untuk sekedar pacaran.
Audie memilih segera masuk ke dalam kelas, percuma nanti ia mengajak Indah ataupun Arini untuk nongkrong dulu di kantin sebelum jam pelajaran dimulai, karena dua gadis itu merupakan kutu buku. Jika sudah sampai di sekolah, yang mereka tahu hanyalah belajar, belajar dan belajar. Tidak ada bermain-main dalam kamus mereka kecuali memang sudah pada waktunya.
"Eh, Audie. Udah belajar matematika belum?" tanya Jack tiba-tiba seraya mengeluarkan buku paket dari dalam tasnya yang ada di laci.
"Belum, kenapa emang?" ucap Audie bertanya balik. Heran saja, mengapa murid nakal seperti Jack tiba-tiba peduli tentang belajar atau tidaknya dia, padahal mereka berdua itu sama saja. Sama-sama malas untuk belajar.
"Les pertama gurunya Bu Alea, emang lo mau di hukum lagi?"
Seketika Audie membelalakkan mata, Alea adalah guru yang harus dia hindari saat ini. Selain benci karena wanita itu telah berhasil mendapatkan hati Xavier, dia juga benci karena Alea mempermainkan hati saudaranya namun pura-pura tetap mencintainya.
"Kok bisa Bu Alea sih, bukannya matematika gurunya Bu Aminah ya?" raut wajah Audie bisa menjelaskan seberapa khawatirnya ia saat ini. Khawatir jika dirinya mendapat hukuman lagi.
"Bu Aminah nggak dateng, anaknya lagi sakit." Jelas Jack dengan santainya sehingga membuat kening Audie berkerut samar.
Audie menatap Jack dengan tatapan penuh menginterogasi, "gue heran deh, kenapa lo tahu banget setiap guru masuk atau tidak. Bahkan nggak jarang lo juga tahu informasi-informasi yang akan disampaikan oleh sekolah yang tentunya belum di umumkan di majalah dinding."
Seketika Jack memalingkan wajahnya ke mana-mana sehingga membuat Audie semakin tidak paham dengan tingkah cowok itu.
"Insting gue selalu benar," jawaban yang menjengkelkan, karena Jack selalu memberi alasan yang sama seperti hari sebelumnya.
__ADS_1
Tidak berselang lama setelah bel berbunyi, guru matematika telah memasuki ruang kelas XII-3. Benar apa yang dikatakan oleh Jack, bukannya Bu Aminah yang datang melainkan Alea.
Untuk beberapa saat Audie memperhatikan penampilan wanita itu, lipstiknya merah menyala dengan blush-on yang menghiasi pipi tirusnya. Semua murid di dalam kelas menjawab salam ketika Alea mengucap salam di ambang pintu.
"Karena Bu Aminah berhalangan hari ini, jadi saya yang akan menggantikannya." Jelas Alea sebelum ada siswa yang bertanya mengapa bukan Bu Aminah yang memasuki kelas mereka.
Seketika terdengar keluhan dari mulut para siswa, tidak terima jika Bu Aminah yabg baiknya kebangetan digantikan oleh guru sekejam Alea.
"Kenapa? kalian tidak suka?" ucap Alea menantang. Seketika semua siswa tertunduk menatap ke lantai kecuali Jack dan juga Audie.
"Sekarang buka latihan 7, kerjakan soal nomor 1 sampai dengan nomor 5. Tidak ada pilihan berganda di sana, tentukan jawabannya menggunakan rumus."
Ingin sekali mulut mereka kembali mengeluh, namun adrenalin mereka tidak sekuat itu saat melihat betapa garangnya si wanita pemilik aura dingin serta tatapan membunuh itu.
"Kalo ada yang salah diantara kelima soal, apa masih mendapat hukuman, Bu?" tanya seorang siswi yang menjadi peringkat teratas di kelas XII-3.
"Tentu," jawab Alea santai, membuat siswi yang bertanya tadi semakin mengembangkan senyumnya. Begitulah, jika dia orang yang ahli dalam matematika, apa yang perlu dia takutkan. Justru dia malah bangga ketika teman-teman di kelasnya mendapat hukuman sedangkan ia tidak.
"Saya kasih waktu satu jam, jika tidak siap, kalian pasti sudah tahu apa hukumannya."
Sebagian siswa cepat-cepat ingin menyelesaikan tugas yang diberikan Alea agar tidak mendapat hukuman Ada juga yang sudah menyerah padahal ia belum berjuang, bahkan ada yang lebih memilih tidur dari pada bergelut dengan soal-soal yang tidak sanggup dicerna oleh otaknya.
Audie mengambil buku tulis serta bolpoin di dalam tasnya. Sedangkan Jack sedang tersenyum secara diam-diam melihat Audie begitu semangat untuk mengerjakan soal-soal. Namun seketika senyum Jack memudar saat mendapati Audie malah menyandarkan tubuhnya di atas buku yang ia tumpuk di atas meja, sedangkan bolpoin itu ia main-mainkan diantara kelima jemarinya.
Satu jitakan mendarat di kening audie, dirinya meringis lalu menatap tajam sang pelaku. "Ishhh... Apaan sih Jack, sakit tahu." Rengek gadis itu.
Jack menghembuskan napasnya kasar, "disuruh ngerjain soal ngapain lo malah tidur?"
"Lo kenapa sih? 'kan lo tahu gue nggak suka belajar."
"Trus lo mau jadi apa di masa depan? Mau, tiap hari direndahin sama orang pintar mulu?"
Audie memutar bola matanya malas, "bukannya lo sama aja ya sama gue, bahkan lo lebih bodoh dari gue, Jack."
Jack yang tidak peduli dengan perkataan Audie segera menyambar buku tulis milik cewek itu, membuka lembaran yang kosong dan memaksa tangan Audie menulis di atasnya.
"Sekarang lo kerjain, stop jadi anak yang bandel. Gue udah muak tiap hari liat lo direndahin mulu."
Audie yang terlanjur jengkel dengan sikap Jack akhirnya menyerah. Namun sekarang ia tidak tahu, apa yang harus dia tulis di kertas tersebut.
"Kenapa masih diam?" tanya Jack yang sedang berusaha memecahkan soal-soal matematika ketika mendapati Audie hanya menekan ujung bolpoinnya tapi tidak menulis apa-apa.
"Gue nggak tahu jawabannya Jack, gue nggak tahu apa yang harus gue lakuin."
Jack mendekatkan kursinya kepada Audie, "sini..." ucap Jack, lantas ia menjelaskan rumus apa yang harus digunakan dan bagaimana cara memecahkan soal-soal tersebut.
Audie terus memperhatikan bagaimana Jack terlihat seperti seorang ahli matematika saat mengajarinya. Tapi ia masih ingat bagaimana mereka berdua sangat bodoh dalam hal hitung-menghitung. Yang ada di pikiran Audie saat ini hanyalah, apakah Jack sedang menciptakan rumus asal-asalan? Rumus yang tercipta dari dirinya sendiri.
"Ngerti nggak?" tanya Jack setelah bersusah payah menjelaskan.
"Lo yakin, apa yang lo ajarkan ini benar? bukannya lo itu bodoh yah dalam setiap mata pelajaran?"
"Udah, lo dengerin aja apa kata gue, Audie. Stop bilang gue itu orang bodoh. Sekarang gue jelasin lagi dan lo harus dengerin baik-baik. Jadi, jika lo nanti disuruh maju lagi ke depan sama Bu Alea, lo harus bisa menyelesaikan soal-soalnya."
__ADS_1
Audie hanya pasrah, ia menurut begitu saja apa yang dikatakan Jack. Cewek itu terus saja berusaha memahami setiap penjelasan dari lelaki di sebelahnya. Setelah bersusah payah, akhirnya Audie paham juga, meski sebagian soal ia masih bingung mengapa ada rumus serumit itu.
"Waktu habis, semua jawaban kumpul ke depan." Perintah Alea dari meja guru yang bersebelahan dengan papan tulis.
Audie melangkahkan kakinya ragu, ia tidak tahu apakah ia harus mempercayai si Jack yang sama dungu dengannya.
"Udah, antar aja." Ujar Jack dengan santainya.
Audie pun meletakkan buku tulis miliknya di atas meja Alea, wanita itu tidak berniat menatap Audie, ia hanya acuh. Sedangkan Audie telah kembali duduk di atas bangkunya.
Alea memperhatikan jawaban Audie, tentu ia tidak kaget saat jawaban gadis itu benar semua. Karena ia yakin pasti Audie mencontek lagi seperti hari sebelumnya.
"Audie..." panggilnya kemudian, membuat cewek si empunya nama mendengus kesal. Bagaimana tidak, diantara 42 siswa mengapa namanya saja yang selalu dipanggil. Perkara yang sangat menyebalkan.
"Iya, Bu!" Jawab Audie tanpa bersemangat.
"Kerjakan soal nomor satu tanpa melihat buku." Sudah Audie duga, Alea selalu saja mempermainkannya.
Audie melangkah lesu, ia mengambil spidol hitam, sebelum mengerjakan jawaban ia perlu menuliskan soalnya terlebih dahulu.
'Jika x dan y adalah solusi dari sistem persamaan 4x + y \= 9 dan x + 4y \= 6, maka nilai 2x + 3y adalah?'
Audie kemudian menuliskan rumus dari soal nomor satu. Seketika semua murid yang ada di dalam kelas XII-3 tercengang, tidak terkecuali siswi si peringkat satu dan juga Alea. Bagaimana bisa gadis sebodoh Audie tiba-tiba bisa memecahkan soal matematika? Hal yang sangat langka.
"Sudah, Bu." Ucap Audie setelah selesai menjawab soal di papan tulis.
Alea memperhatikan hasil kerja keras Audie, sepasang matanya menatap gadis itu curiga. Detik selanjutnya ia berkata, "hormat bendera setelah itu bersihkan seluruh toilet yang ada di sekolah ini." Dengan santainya Alea berjalan menuju ambang pintu setelah bel untuk les kedua telah berbunyi.
"Maksudnya apaan, Bu?" siapa lagi yang berani menantang seorang guru kalau bukan Jack orangnya.
Alea memutar bola matanya malas saat mendapati orang yang berbicara lantang itu adalah siswa yang kemarin, "kenapa? kamu ingin di hukum juga?"
Jack tersenyum kecut, seakan sedang meremehkan guru dihadapannya. "Ibu jadi guru matematika tapi nggak bisa memecahkan rumus matematika, yah? Bagaimana bisa Ibu menghukum Audie padahal jawabannya sudah benar. Ibu pikir saya orang bodoh, saya tahu jawaban yang Audie buat nggak ada salahnya sedikitpun."
"Apa kamu merasa lebih pintar dari saya? rumus yang dia buat itu terlalu rumit, seharusnya dia membuat rumus yang lebih ringkas dan mudah. Bagaimana bisa dia nanti mengerjakan soal Ujian Nasional dengan rumus sepanjang itu, sedangkan proses mengerjakan Ujian Nasional memiliki batas waktu." Alasan yang sangat tidak masuk akal, bahkan siswi yang bernama Tika sebagai peringkat pertama di kelas XII-3 juga merasa aneh, karena selama ini ia belum pernah menemukan guru yang menghukum muridnya hanya karena rumus yang terlalu panjang.
"Tapi--"
"Apa perlu saya menambah hukumannya?" Alea tersenyum simpul setelah tidak mendapatkan jawaban dari Jack.
"Untuk yang lain yang belum siap, jangan lupa menghormat bendera lalu bersihkan kamar mandi. Sedangkan jawaban yang belum saya nilai akan saya periksa dulu. Berhubung waktunya telah habis, saya akan mengembalikan tugas kalian besok." Setelah selesai mengatakannya Alea segera berlalu, tanpa memperdulikan disana Audie sedang mengepalkan tangannya kuat-kuat demi menahan emosinya yang hampir memuncak.
Setelah kepergian Alea, Jack menjambak rambutnya kasar. Sedangkan Audie, ia masih menatap kepergian wanita itu. Sudut matanya telah berair, ingin sekali ia menjambak rambut Alea, ingin sekali ia tadi berdebat untuk membela dirinya yang tidak salah. Namun entah mengapa ia tidak berani melakukan hal itu. Sampai kapan lagi Alea terus menghukumnya seperti itu, dan sampai kapan lagi Alea terus mempermainkannya?
"Lo nggak perlu menghormat bendera segala, apalagi membersihkan toilet, kalo lo diancam sama guru g*la itu, gue bakal laporin sama kepala sekolah."
Audie memalingkan wajahnya menghadap Jack yang sedang berdiri desebelahnya, "nggak papa, gue udah biasa hormat bendera sama membersihkan toilet kok." Jack tahu, senyum yang dipasang oleh Audie saat ini hanyalah senyuman terpaksa.
"Bukanl soal itu Audie, saat ini lo hanya butuh keadilan, sampai kapan lo direndahin mulu kayak gini?" Ucap Jack, namun Audie hanya terdiam tidak ingin menimpali.
...🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️...
...Ada orang yang tulus mencintaiku, namun aku malah mengabaikannya. Dan ada orang yang tulus kucintai, namun ia mengabaikanku....
__ADS_1