Dosenku

Dosenku
That Night


__ADS_3

Sejak kejadian malam itu, Irfan tidak pernah lagi berbicara kepada Audie, begitu pun sebaliknya. Keduanya terlihat seperti bukanlah saudara kandung yang sangat akur dulunya. Hubungan mereka renggang, kini mereka terlihat seperti saling menjauhi satu sama lain. Ketika makan malam tiba, Irfan akan menunggu Audie selesai makan barulah ia makan malam, begitu pula dengan Audie. Pasalnya Audie sudah minta maaf kepada Irfan, namun ketika ia berkata kepada saudaranya agar segera meninggalkan dan melupakan Alea lagi, jadilah tali persaudaraan itu kembali terputus.


Audie tidak bisa tenang, ia cemas dan was-was begitu juga untuk hari ini. Meski diluar begitu dingin, ia ingin pergi jalan-jalan hanya sekedar menghirup udara luar. Udara di dalam rumahnya terasa semakin panas saja kala mengingat Irfan selalu saja membela Alea, bahkan sering membentak Audie hanya karena wanita itu.


"Mau kemana malam-malam gini, dek?" saat ini Linda sedang duduk di sofa menikmati siaran telivisi. Sedangkan disebelahnya ada Irfan dengan game online-nya, ia sengaja pura-pura sibuk hanya untuk menghindari kontak mata dengan Audie.


"Mau ke indomaret, Mah. Cuma sebentar aja kok."


Linda mengangguk sebelum akhirnya ia kembali menghentikan langkah Audie. "Pakai jaket dek, atau bahan rajut lainnya. Sekarang musim hujan, udara diluar dingin." Pesan Linda.


"Nggak perlu Mah, Audie cuma seben—" bantah Audie namun segera dipotong oleh Bundanya.


"Nanti masuk angin!" Audie mengangguk terpaksa, ia mengalah lalu segera kembali ke dalam kamarnya.


Setelah mengenakan hoodie merah muda selutut itu Audie segera bergegas pergi. Benar sekali, baru saja Audie melangkahkan kakinya keluar dari rumah udara dingin langsung menusuk tulang-tulangnya, begitu tajamnya udara malam ini. Audie mengeratkan hoodie-nya, menyelipkan kedua tangan ke dalam saku didepan perut.


Kaki Audie segera melenggang meninggalkan rumah, meski dingin namun udara seperti ini sangat baik untuk di hirup. Sebagian sisa-sisa air hujan masih menggenang di sepanjang jalan, adapun tanaman bunga yang Audie lalui masih meneteskan bulir-bulir hujan. Setidaknya dengan keluar rumah Audie bisa merasakan ketenangan dan kedamaian. Kala segaris senyum itu terukir indah di bibir gadis itu, adalah pertanda bahwa ia sudah bahagia.


Langkah Audie berhenti di depan indomaret. Semenjak tidak akur dengan Irfan, Audie suka sekali menunda makan atau bahkan tidak makan seharian. Jadilah Audie yang dulunya sedikit berisi kini terlihat kurus seperti berpenyakitan. Jika Indah melihatnya, dipastikan gadis itu akan iri dan akan melakukan diet ketat seperti Audie, meski sebenarnya Audie melakukannya tanpa kesengajaan. Karena pada dasarnya Audie tidak pernah berniat untuk diet dan tidak pernah tertarik untuk menurunkan berat badan.


Tangan Audie mengambil satu mie seduh dalam bentuk cup dan segelas coffee di cuaca dingin ini. Audie kembali ke kasir, membayar barang belanjaannya lalu kemudian menyeduh mie cup dan coffee itu dengan air panas yang sudah disediakan di dalam indomaret.


Dan disinilah Audie, duduk di kursi taman tidak jauh dari jalan raya. Suara derup mesin motor dan kendaraan lainnya terdengar berlalu lalang, ada juga yang membunyikan klakson kala lampu merah menyala. Dengan lahapnya Audie menyantap mie cup itu, menghirupnya cepat hingga tampak jelas uap udara panas melayang diudara.


Pandangan Audie memperhatikan beberapa sosok-sosok manusia yang berlalu lalang seraya mengunyah mie di dalam mulutnya. Di taman itu tidak terlalu sunyi, meski malam ini bukan malam minggu, bukan berarti tidak ada dua sejoli yang berkencan.


Untuk saat ini Audie tidak tertarik lagi dengan mie cup yang masih tertinggal setengah, atensi anak perempuan itu kini fokus menatap seorang wanita dengan langkah yang lontai. Sesekali ia terjatuh, kadang kala ia juga tertawa dan tersenyum kecil tanpa sebab. Rambut panjang pirangnya terlihat acak-acakan, sebelah tangannya menjinjing sepatu heels warna hitam, dress mini itu tidak sempurna menutup tubuhnya sehingga tampaklah paha mulus itu terumbar ke mana-mana.


Mata Audie memicing hingga berbentuk seperti bulan sabit, beberapa kali ia mengerjap-erjap untuk memastikan bahwa penglihatannya kali ini tidaklah salah, "Alea?!" Gumam Audie setelah yakin bahwa wanita itu adalah tunangannya Xavier.

__ADS_1


Audie segera beranjak dari kursi putih itu, meninggalkan coffee cup yang belum sempat ia cicipi. Audie mendekat, tangannya sigap menangkup tubuh jenjang Alea kala wanita itu ambruk. Bahkan Audie sempat kewalahan menopang tubuh Alea yang terlalu berat baginya.


Mata Alea sayup-sayup terbuka, lantas ia kembali berdiri meski tidak seimbang. Telunjuknya mengarah kepada Audie, sesekali ia tertawa lalu menangis. "K-KAMU... DASAR WANITA BRENGSEK... KAMU... DAN IRFAN ITU SAMA SAJA." Hanya itulah yang pertama kali keluar dari mulut Alea. Sedangkan Audie hanya terdiam, ia tahu bahwa wanita dihadapannya sedang dalam pengaruh alkohol, Audie bisa mencium aromanya yang begitu menyengat. Entah sudah berapa botol dihabiskan Alea dalam satu malam ini saja.


"IRFAN... AKU INGIN MEMBUNUHNYA... AKU INGIN DIA MATI... AKU INGIN DIA MERASAKAN PENDERITAAN YANG KURASAKAN SELAMA INI..." Tidak ada jawaban dari mulut Audie, apapun yang ia katakan nanti Audie yakin Alea akan terus saja mengoceh tidak jelas. Namun satu hal yang Audie tahu, seseorang yang sedang mabuk karena pengaruh alkohol, sedikitpun tidak akan ada kebohongan terdapat dari setiap ucapannya.


Alea menangis, ia tidak ingin menyeka air mata itu. Lantas, ia kembali tertawa, namun jelas sekali terlihat, apa yang wanita itu rasakan saat ini adalah sebuah duka, bukan kebahagiaan. "Maksud kamu apa?" tanya Audie penasaran, meski ia ragu bahwa Alea akan menjawab pertanyaannya dalam keadaan mabuk seperti ini.


"AKU INGIN IRFAN MATI... AKU HANYA INGIN DIA MENDERITA..." Untuk kali ini, Alea semakin meninggikan oktaf suaranya.


"Kamu tahu aku siapa?" tunjuk Alea pada dadanya sendiri.


Audie terdiam, tidak ingin menyahuti. "Aku, adalah kakak kandung Olivia. Ingat itu baik-baik." Ungkap Alea sebelum akhirnya tubuh ideal itu melenggang pergi meninggalkan Audie dengan langkah yang lontai. Sebelah tangannya menari-nari kala sebuah taxi melintas.


Rara terdiam di tempat, otaknya berusaha mencerna setiap kalimat yang diucapkan Alea hingga tubuh wanita itu telah lenyap masuk ke dalam taxi. Audie berjalan dengan pikiran yang melayang-layang entah kemana. Ia masih tidak tahu mengapa Alea sebenci itu kepada Irfan. Seperti ada dendam yang tersimpan.


Mata Alea, Audie melihat jelas mata itu telah menyiratkan dendam yang harus dibalaskan. Ketika gigi-giginya menggertak, ketika air mata itu mengalir dengan deras. Ada masa lalu yang tidak bisa diperbaiki, dan ada masa lalu yang menimbulkan penyesalan.


...***...


"Dari mana aja kamu?" langkah Audie tercekat kala mendengar suara bentakan itu. Ada Irfan disana, berdiri diambang pintu kamarnya seraya bersidekap dada, seakan sudah menunggu kedatangan Audie. Jujur saja, meski ia belum bisa memaafkan adiknya itu, tetap saja ia masih khawatir jika Audie berkeliaran di malam selarut ini.


Audie menghentikan gerakan tangannya untuk menekan knop pintu kamar yang terasa dingin di telapak tangan, "dari indomaret, bang!" Jawab Audie santai.


Irfan mendesis, hidungnya ia dekatkan ke tubuh Audie, lalu mengendus, "kenapa kamu bau alkohol?" Audie terdiam dalam waktu yang singkat, tidak ada jawaban, hanya hening.


"Abang tanya, kamu dari mana, Audie? Kamu budeg, yah? Kenapa kamu bisa bau alkohol? Apa yang sudah kamu lakuin?" kali ini Irfan meninggikan oktaf suaranya yang membuat Audie tersentak kaget.


"Percuma, bang. Apapun yang Audie bilang Bang Irfan nggak akan percaya." Jawab Audie sedikit meninggikan dagunya menatap Irfan lekat.

__ADS_1


"CEPAT KATAKAN DARI MANA KAMU... KENAPA KAMU BISA BAU ALKOHOL?"


Untuk kali ini Audie tidak tahan lagi, "Alea! Bau alkohol ini berasal dari Alea."


"Maksud kamu apaan sih, nggak mengada-ngada!"


"Audie nggak bohong!" Audie berusaha membuat Irfan percaya.


"Sewaktu tadi Audie duduk di taman pinggir jalan kota, Audie nggak sengaja lihat Alea dalam keadaan mabuk. Audie dekatin dia, dan tidak sengaja tubuhnya ambruk lalu Audie tangkep. Ini bau alkohol Alea bang, seriusan Audie nggak bohong."


Irfan menghembuskan napasnya kasar, "stop ngejelekin nama Alea mulu. Alea bukan wanita yang seperti itu, dia nggak pernah menyentuh minuman haram itu. Seberapa bencinya sih kamu sama Alea, apa salah Alea sehingga kamu selalu menyalahkannya dan memfitnahnya? Apa karena kamu selalu dihukum Alea disekolah? Makanya belajar yang rajin Audie, kamu memang pantas menerima hukuman. Alea sudah benar memberikan hukuman kepada siswa nakal seperti kamu."


Mata Audie berkaca-kaca, "bukan karena itu bang, tapi karena alasan lain."


"Karena alasan apa lagi? Nggak usah ngelak kamu!"


Audie terdiam, ia tidak mungkin mengatakan alasan sebenarnya. Jika sempat ia mengatakannya, mereka harus menerima resikonya. Bagaimana jikalau nanti Irfan kembali mengulang kejadian beberapa tahun yang lalu? Yang mana nyawa Audie dan nyawa Irfan sudah ada di penghujung andai saja Dimas dan Linda tidak datang tepat waktu.


"Kenapa kamu diam, nggak punya ide buat alasan lagi? Jadi benarkan kamu membenci Alea segitunya hanya karena dia selalu memberikan hukuman kepada kamu disekolah. Keterlaluan kamu, Audie. Abang nggak percaya kamu sejahat ini kepada Alea. Kamu memang selalu menjadi benalu di dalam keluarga ini. Kamu mempermalukan keluarga ini dan kamu bahkan tidak pernah membanggakan keluarga ini."


Lagi-lagi air mata itu berseluncur dengan derasnya, kali ini kalimat Irfan telah mencabik-cabik hati Audie. "Andai abang tahu, Audie lakuin ini semua agar memory mengerikan yang hampir merenggut nyawa Audie dan Bang Irfan nggak terulang kembali." Kalimat terakhir Audie sebelum akhirnya ia bergegas pergi. Pergi dari rumah itu. Karena bagi Audie tempat paling nyaman untuk menenangkan diri adalah menjauh dari rumah.


Air mata Audie berhamburan, ia tidak berniat untuk menyeka. Kakinya lincah berlari menuruni anak tangga.


"Audie, kamu kenapa? Kenapa nangis?" Audie tidak menyahut, ia terus berlari keluar dari rumah.


"Audie, mau kemana? Mau kemana malam-malam begini, Dek?" teriak Linda, khawatir terjadi sesuatu kepada putri semata wayangnya.


Audie tidak peduli itu, ia berlari menuju ambang pintu, melewati ribuan gerimis yang perlahan-lahan semakin lebat seakan hujan yang ia lalui itu adalah hujan kerikil.

__ADS_1


...***...


__ADS_2