
Hanya ada dua musim di Indonesia, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Di bulan ini sudah waktunya musim hujan, begitu juga malam ini, namun hanya gerimis yang datang menciptakan kegelapan seperti dihiasi kunang-kunang.
Di atas brankar anak perempuan itu sedang berbaring menikmati tidur dan berlayar di alam mimpi. Tidak ada yang menemaninya di rumah sakit untuk malam ini. Linda harus merawat adik iparnya yang baru saja melahirkan, Irfan tidak bisa meninggalkan tugas kampusnya dan harus begadang semalaman hanya untuk menyelesaikannya. Dimas, ia masih sibuk bekerja diluar kota dalam urusan bisnis.
Bahkan kabar kecelakaan Audie 'pun ia tidak datang menjenguk karena tidak ada yang memberitahu. Sebenarnya, Audie sendirilah yang memaksa agar tidak memberitahukan kepada Ayahnya itu bahwa ia mengalami kecelakaan. Audie hanya tidak ingin Ayahnya merasa cemas dan mengkhawatirkan tentang dirinya.
Sesekali petir menyambar, cahayanya masuk melalui jendela kaca yang tidak ditutup gorden. Suara petir terdengar bersamaan dengan gagang pintu yang berdecit saat seseorang memasuki ruangan Audie dengan gerak-gerik yang mencurigakan. Setelah memastikan semua aman, ia berdiri tepat disamping ranjang anak Audie. Wanita itu memandang wajah Audie cukup lama, tersirat kebencian dan dendam disana.
Ekspresinya datar, layaknya seorang pelaku tindak kejahatan yang sedang ingin melancarkan aksinya. Cukup lama ia memandang wajah Audie yang terlihat damai dalam tidurnya. Detik selanjutnya kedua tangan wanita itu terangkat, membuat ancang-ancang untuk mencekik leher jenjang anak prempuan itu. Keadaan di dalam ruangan tersebut sangat gelap, sengaja wanita itu mematikan saklar lampu.
"Malam ini kamu harus mati!" bisiknya tepat didaun telinga Audie, sebelum akhirnya ia melanjutkan ucapannya, "setidaknya, aku puas menyaksikan Irfan merasa kehilangan saat kepergianmu."
Perlahan, kedua tangannya bergerak meraba batang leher Audie. Semakin lama semakin kencang cekikan itu membuat Audie tersadar dari tidurnya. Oksigen seperti tersendat dan terhalang masuk ke dalam paru-paru, sepasang bola mata Audie membulat sempurna, ia terpekik dan tidak bisa berteriak. Sesekali Audie terbatuk-batuk saat merasakan ada yang menggerogoti lehernya. Kedua kakinya menerjang-nerjang memberikan perlawanan.
"MATI..." Bisik wanita itu.
Audie tidak bisa menyaksikan siapa pelakunya, yang ia tahu saat ini dia sangat butuh oksigen sebelum paru-paru dan jantungnya benar-benar berhenti bekerja.
Semakin lama tubuh Audie semakin melemah, panas dingin tubuhnya menciptakan keringat yang membanjiri seragam pasien itu. Bola mata Audie terbelalak, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain meronta-ronta dan menatap langit-langit ruangan tanpa harapan. Kedua tangan Audie mencoba menghentikan wanita yang sedang mencekiknya, namun tenaga Audie sungguh tidak sebanding dengan tenaga wanita itu.
Dunia perlahan menggelap, bahkan cahaya kilatan petir dari luar sana terlihat samar. Hingga derap langkah seseorang membuat wanita itu menggagalkan aksinya. Cepat-cepat ia bersembunyi di kolong bed ranjang Audie.
Dengan rakusnya Audie menghirup oksigen, ia terbatuk-batuk seraya memegangi lehernya dari bekas cekikan wanita itu.
"Kenapa lampunya dimatikan?" tanya seorang suster yang baru saja datang membawa beberapa obat vitamin lalu meletakkannya diatas nakas.
"Astaga, kamu kenapa?" tanya suster itu khawatir saat menemukan Audie seperti orang yang sedang mengalami gejala asma.
Mata Audie berkaca-kaca, pandangannya menyapu bersih seluruh kamar, namun Audie tidak tahu kemana perginya wanita itu. "A-Ada orang yang mencekik leher saya, suster. Dia ingin membunuh saya, dia ingin saya mati." Tangis Audie pecah, ia sesenggukan. Kejadian beberapa menit yang lalu seperti mimpi buruk baginya.
Wanita dalam balutan seragam suster itu mencari disetiap sudut kamar, di belakang pintu lalu dibalik tirai yang terbuka. Suster itu mendekati Audie, lalu mengelus lembut pundaknya. "Tidak ada siapa-siapa, mungkin kamu hanya salah lihat atau terbawa mimpi buruk."
Audie menggeleng cepat, jengkel sekali ketika kita mendapat musibah namun orang-orang selalu berpendapat bahwa kita hanya berhalusinasi. Oh, ayolah, ini bukan sinetron.
"Tidak suster! Saya melihatnya meski samar-samar karena ruangan ini tadi sangat gelap, dia seorang wanita tapi saya tidak tahu dia siapa. Tolong saya suster, saya benar-benar takut." Audie memeluk lengan suster itu dengan membenamkan wajahnya.
Suster itu tidak bisa menenangkan Audie, ia sudah mencari, namun tidak ada wanita yang Audie maksud. Suster itu yakin, Audie hanya terbawa mimpi, karena orang sakit sering sekali bermimpi buruk dan menganggap itu nyata.
"Yasudah, kalau begitu saya akan menghubungi keluargamu agar mereka datang untuk menemanimu. Tunggulah disini, cobalah tidur kembali, tapi jangan lupa berdo'a terlebih dahulu." Suster itu benar-benar pergi setelah mengatakannya.
Manik Audie memperhatikan disekitarnya dengan penuh was-was. Ia ketakutan, tubuhnya menggigil, keringat dingin tidak hentinya mengalir.
__ADS_1
Dia tidak menemukan siapapun. Namun Audie yakin, ia tidak salah lihat atau bahkan sedang berhalusinasi. Karena Audie merasakannya secara nyata, bahkan bekas cekikan itu masih membekas dilehernya, merah membiru.
Audie menarik napasnya dalam, lalu menghembuskannya dengan pelan. Ia mencoba mengikuti instruksi suster itu, lebih baik Audie kembali tidur dan membaca do'a terlebih dahulu.
***
Baru saja Irfan menyelesaikan tugas-tugas kampusnya dan ingin segera mengistirahatkan diri dengan melemparkan tubuhnya diatas tempat tidur, namun satu panggilan dari pihak rumah sakit membuatnya kembali membuka mata setelah hampir terlelap.
"Iya, dengan nama Irfan."
Irfan memijat pelipisnya, rasa khawatir bersemayam saat mendengar kabar Audie dari pihak rumah sakit. "Baik, terimakasih!" Ujar Irfan menyahuti orang yang berada di balik telpon sebelum panggilan itu berakhir.
Malam ini Irfan sangat lelah, mulai dari malam kemarin ia tidak bisa istirahat karna harus menyelesaikan urusan tesis-nya. Hanya ada satu orang yang bisa membantunya. Ditekannya beberapa nomor di atas keyboard, tidak berselang lama panggilan itu diterima oleh seorang Pria dari sebrang sana.
"Assalamu'alaikum, Xavier!" tidak ada yang bisa dimintai bantuan kecuali lelaki itu. Saat Xavier menerima fakta bahwa Audie adalah adik dari sahabatnya, Xavier segera meminta maaf dan berjanji akan bertanggung jawab atas kesembuhan Audie dan biaya rumah sakit. Karena bagaimanapun juga, dialah orang yang tidak sengaja menabrak Audie hingga gadis itu berakhir di rumah sakit.
"Wa'alaikumussalam!" Pukul satu dini hari, dan syukurnya ternyata Xavier masih terjaga.
Sebenarnya, Irfan merasa segan karena telah mengganggu Xavier di malam buta seperti ini. Namun tidak ada yang bisa Irfan lakukan, ia begitu lelah dan perlu mengistirahatkan tubuhnya karena pagi-pagi sekali ia harus kembali beraktifitas.
Setelah mendengarkan keluh kesah Irfan, Xavier segera meraih kunci mobilnya yang ada diatas nakas. Dikenakannya jaket kulit itu untuk menghindari dinginnya malam. Xavier segera beranjak pergi meninggalkan rumah tanpa penghuni itu. Tidak ada seorang pun dirumah, Lufy dan putrinya malam ini menginap dirumah mertuanya. Jadilah rumah itu hanya terlihat besar nan megah saja namun tidak ada yang menempati.
Xavier menekan knop pintu yang terasa dingin di telapak tangan, ia mendorong pintu ruangan dimana Audie tengah dirawat. Ditemukannya gadis itu sedang tertidur pulas seakan kejadian yang menimpa audie yang diceritakan Irfan beberapa menit lalu hanyalah cerita fiksi.
Xavier mendekat, diamatinya setiap inci wajah Audie. Anak perempuan itu terlihat damai dalam mimpinya. Xavier duduk di kursi tepat disamping brankar Audie lalu mengistirahatkan tubuhnya setelah memastikan bahwa Audie baik-baik saja.
Hanya beberapa menit Xavier terlelap, namun suara lirih Audie segera menyadarkannya.
Kedua sudut mata Audie mengalirkan dua tetes air dengan lembut, Audie menangis dalam diam dengan keadaan mata tertutup. "Jangan pergi, Bang Irfan. Jangan tinggalkan Audie!" Habis sudah seragam pasiennya dibanjiri keringat dingin. Rambutnya yang panjang menutupi sebagian wajahnya, menempel halus bersamaan dengan keringat. Sebagian helai lainnya termakan oleh mulutnya yang terus saja bergumam.
"Audie, Audie..." Xavier berusaha menyadarkan gadis itu, namun sepertinya ia sulit sekali untuk meninggalkan mimpi buruknya.
Audie terus saja menangis, ia sesenggukan seperti orang yang sedang berduka. "BANG IRFAN..." Teriak Audie sebelum akhirnya ia terjaga. Mata Audie menerawang, disapunya kedua pipinya menggunakan tangan, sehingga Audie baru menyadari ada jejak air mata disana.
"K-Kamu baik-baik saja? Apa kamu baru saja bermimpi buruk, Audie?" tidak ada yang bisa Xavier lakukan, sangat tidak mungkin jika ia menenangkan Audie dengan memeluk atau bahkan membelai rambut gadis itu. Cukup sudah Xavier membuat Audie semakin berharap padanya, yang nyatanya sampai kapanpun ia tidak akan bisa membalas cinta gadis itu.
Audie menatap Xavier sekilas, ia tidak ingin mempertanyakan mengapa Xavier sudah ada dihadapannya. "Bang Irfan, dia... dia ingin bunuh diri, Pak Xavier. Aku mohon, tolong hentikan Bang Irfan." Audie sesenggukan, mimpi buruk itu seakan nyata, menggerogoti hatinya perlahan-lahan.
"Irfan?" tanya Xavier, kedua alisnya saling bertautan.
Audie mengangguk, masih jelas sekali jejak air matanya disana.
__ADS_1
"Kamu hanya bermimpi buruk Audie, tidak ada yang ingin bunuh diri. Irfan baik-baik saja."
"Tapi Pak Xavier, saya melihat Bang Irfan ingin meloncat dari gedung. Wanita itu, ini semua karena wanita itu. Dia menghianati Bang Irfan, dia meninggalkan Bang Irfan, saya tidak ingin Bang Irfan bunuh diri hanya karena wanita itu. Wanita itu yang seharusnya mati."
Xavier mendekat, lalu ia menepuk ragu pundak Audie dengan sangat pelan. Hanya itu yang bisa Xavier lakukan, selebihnya ia takut Audie semakin berharap padanya. "Tenanglah, Audie! Kamu hanya bermimpi buruk. Irfan baik-baik saja, dia tidak akan bunuh diri." Sebenarnya, terbersit pertanyaan dibenak Xavier, apakah mungkin Irfan pernah ingin bunuh diri sehingga Audie terbawa mimpi? Xavier tidak ingin mempertanyakannya dalam situasi seperti ini. Yang harus ia lakukan saat ini hanyalah menenangkan anak perempuan itu.
Perlahan, Audie mulai tersadar. Ia menyeka air matanya dengan kasar. Di hatinya ia berkata, "Alea yang harus mati!"
***
Pandangan Audie menerawang jauh didepan sana. Saat ini ia tengah menyaksikan bulir-bulir hujan tepat di depan jendela kaca yang tidak ditutupi gorden. Ada Xavier disebelahnya, mereka terdiam membisu. Perlu udara segar untuk menenangkan pikiran Audie, namun diluar hujan, terpaksa hanya bisa menyaksikan malam dari balik jendela kaca.
"Pak Xavier!" Panggil Audie lirih, namun pandangannya tetap fokus ke depan. Jarak antara dirinya dan Xavier sekitar dua hasta, Xavier sendiri yang tidak ingin terlalu dekat dengan Audie.
Xavier hanya menyahut dengan berdehem kecil.
"Bukannya modus. Tapi... bolehkah saya meminjam pundak Pak Xavier sebentar saja?!"
"Tidak," jawab Xavier tanpa ragu. Sulit sekali menaklukkan Pria yang satu ini. Bahkan ia tidak memikirkan bagaimana perasaan Audie saat ia tidak pernah berkata lembut kepada sosok gadis remaja itu.
Audie menatap Xavier sekilas, ada sesuatu yang menggerogoti hatinya kala mendengar kata tolakan itu diucapkan dengan lancang. Lelaki itu memancarkan aura dingin, sedingin hujan malam ini. "Hanya sebentar saja Pak Xavier. Anggap saja saya itu adik kandungmu, saya mohon." Pinta Audie penuh harap. Dia tidak memperdulikan harga dirinya lagi, yang paling penting cinta itu adalah segalanya bagi Audie.
Ditelusurinya manik anak perempuan itu, sehingga Xavier menemukan betapa Audie sangat membutuhkannya, menginginkannya dan mengharapkannya. Dihembuskannya napas itu panjang sebelum akhirnya ia berkata, "baiklah, hanya sebagai adik, ingat itu." Xavier mendekatkan tubuhnya, Audie tersenyum, namun senyumannya terlihat miris. Karena bagaimanapun juga, dia hanya dianggap sebagai seorang adik. Ingat, hanya seorang adik.
Audie menempelkan kepalanya tepat dibahu Xavier, lalu pandangannya menyusuri malam dari balik jendela kaca. Andai saat ini Xavier benar-benar miliknya, andai saat ini Xavier adalah kekasihnya, pasti Audie tidak perlu meminta izin hanya untuk bersandar dibahu Pria itu.
Hanya sunyi yang mendominasi saat ini, Xavier berdehem beberapa kali, ia sangat tidak menyukai kecanggungan ini. Hingga didetik selanjutnya, Xavier bertanya-tanya, saat ia mendengar sesuatu. "Suara apa ini? Kenapa ada suara seperti gendang yang ditabu?" tanya Xavier sembari menautkan kedua alisnya.
Kepala Audie yang masih bertengger dibahu Xavier terlihat tetap santai sambil menikmati imajinasinya, "tidak perlu khawatir Pak Xavier, itu hanya suara detak jantung saya." Jawab Audie enteng, entah dimana ia menyembunyikan malunya hingga dengan percaya dirinya ia berkata seperti itu.
Mulut Xavier ternganga, terbuka kaku. Ingin sekali ia menjitak kening gadis yang bernama Audie itu.
Setelah beberapa menit, akhirnya Audie memilih kembali tidur saja. Audie tahu, pasti Xavier juga merasa lelah dan perlu istirahat. Teringat Xavier memiliki job yang sangat padat.
Audie berbaring diatas brankar, ia menarik selimut itu untuk membungkus tubuhnya yang kedinginan. Sedangkan Xavier, ia memilih tidur di atas sofa yang telah disediakan di dalam ruangan tersebut.
"Berdamailah dengan mimpimu, Audie!" Gumam Xavier, saat Audie mulai terlelap sehingga mustahil anak perempuan itu mendengar bisikannya.
...🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️...
...Aku tidak ingin menjadi bintang laut lagi, aku ingin menjadi langit saja. Agar Pak Xavier yang seperti bintang langit tidak bisa meninggalkanku....
__ADS_1