
Audie tengah sibuk berkutik melepaskan poster-poster yang menempel di dinding. Ada Eun Woo, Lee Min Ho, dan para aktor-aktor lainnya. Ia menggantikan poster-poster itu dengan foto-foto Xavier yang sudah ia cetak tadi siang. Beberapa foto kecil ia gantungkan di jendela kaca bersebelahan dengan gorden.
Setelah selesai dengan tugasnya, Audie berjalan untuk mematikan lampu. Gadis itu pun berbaring di tempat tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Namun seketika, ia teringat sesuatu. Audie kembali menyalakan lampu di kamarnya. Ia bergegas keluar dari kamar menuju kamar disebelahnya.
Audie terus mengetuk pintu kayu itu, bahkan ia tidak segan menendangnya seperti sedang bermain bola kaki. Sampai akhirnya si empunya kamar keluar dengan rambut yang berantakan. Irfan menguap lebar seraya melepaskan earphone yang melekat di kedua lubang telinganya.
"Ada apa sih, Dek? Gangguin tidur Abang aja kamu." Irfan kembali memasuki kamarnya sembari mengibas-ibaskan bajunya karena merasa gerah selepas bangun tidur.
Audie berkacak pinggang di ambang pintu, meski mereka bersaudara ia tidak berani untuk memasuki kamar Irfan. Ia masih memiliki sopan santun dan tata krama.
"Abang tadi dari mana?" tanya Audie mulai menginterogasi.
Irfan yang matanya masih melek menautkan kedua alisnya, heran mengapa adiknya tiba-tiba peduli kemana ia pergi.
"Belajar di rumah Bryan. Emang kenapa?"
Audie memutar bola matanya malas, "nggak usah bohong, Bang. Ngapain tadi di mall?"
Mata yang tadinya sayup-sayup ingin terlelap kini terbuka lebar. "Kok kamu tahu abang lagi di mall?" selidik Irfan.
"Tadi Audie lagi di mall juga mau nonton bioskop sama teman-teman Audie, terus Audie nggak sengaja lihat Abang lagi berduaan sama cewek," kata Audie menjelaskan.
"Kenapa sih, nggak jujur aja sama Mama kalau Abang mau kencan. Palingan nanti Mama ceramahnya nggak panjang lebar, seperti panjangnya ceramah Mama sama Audie. Karena Abang itu laki-laki, dan nggak banyak yang perlu untuk di jaga," lanjutnya kemudian.
"Sok tahu kamu, justru karena Abang laki-laki makanya Mama perlu ceramah panjang lebar. Jangan pacaran di gelap-gelap, anak orang harus dijaga, jangan mau jika cewek kamu minta duit setiap hari. Ingat, kamu bukan bank berjalan, kamu juga masih di biayai Papa kamu, Irfan," ujar cowok itu mencoba meniru ucapan yang selalu ia dengar dari mulut Mamanya setiap meminta ijin untuk keluar.
"Abang bosan dengar ceramah Mama yang itu-itu mulu, mending Abang bohong aja mau belajar, pasti Mama langsung ijinin dan Abang tinggal capcus deh."
Audie menghembuskan napasnya kasar, ia hendak pergi meninggalkan kamar Irfan. Namun, langkahnya tercekat saat mengingat tujuan utamanya tadi adalah menanyakan siapa kiranya pacar Irfan itu.
Audie menepuk jidatnya saat menyadari kelupaannya, "eh, bang Irfan."
"Apalagi sih, dek?"
"Sekali-kali ajak pacar kamu ke rumah bang. Namanya siapa, sih?"
"Alea! Sekarang tinggalin kamar Abang, Abang mau tidur." Irfan kembali memasang earphone-nya, menutup tubuhnya dengan selimut.
"Besok-besok ajak pacarmu ke rumah ya bang. Adek mau kenalan sama dia." Audie pergi dengan sedikit membanting pintu.
Audie merebahkan tubuhnya setelah memasuki kamar. Ia meraih ponselnya di atas nakas membuka kembali aplikasi instagram. Untuk apalagi kalau bukan men-stalking makhluk berkaki dua yang bernama Xavier.
Ada sebuah foto yang baru saja di upload dua jam yang lalu, foto di mana Xavier sedang memakan cornetto bersama wanitanya, saling merangkul memperlihatkan senyum ceria mereka dengan caption, 'Kamu adalah duniaku!'
Refleks Audie melemparkan ponselnya membuat benda tersebut terpental di atas ranjang. Audie menatap plafon tanpa memberikan ekspresi. Ini masih awal, dan ia tidak tahu kedepannya seberapa besar cemburu yang harus ia pikul. Audie sadar, ia hanyalah gadis ingusan yang tidak pantas untuk Xavier. Pria tampan pujaan para betina.
Perlahan Audie mulai terlelap, meski cemburu namun gadis itu harus sadar diri untuk kedepannya.
***
Hari ini Audie membawakan sandwich di dalam kotak makanan yang dibuatkan Linda tadi pagi sebelum anak gadisnya berangkat pergi ke sekolah. Sandwich itu bukan untuknya, melainkan untuk Xavier. Audie beralasan bahwa ia pasti akan kelaparan sewaktu jam istirahat. Untuk makan bakso dikantin, ia tidak selera. Sebab itu Linda tidak curiga meski ini pertama kalinya Xavier meminta dibuatkan bekal.
__ADS_1
Audie bersiap menghadang tas sekolahnya, menaiki motor Irfan lalu pergi ke sekolah. Sesampainya di sekolah, sebelum Irfan melanjutkan perjalanannya ke kampus, Audie segera menghentikan cowok itu.
"Bang Irfan bisa telat ke kampus, Dek. Hus... Hus... Bocil jangan halangi jalan," perintah Irfan seperti sedang mengusir seekor kucing yang hendak mencuri ikan.
Audie menatap Irfan dengan tatapan menginterogasi. "Jangan lupa, besok bawa pacarmu ke rumah, bang. Audie mau kenalan sama calon kakak ipar Audie."
"Dia sibuk, lain kali aja. Minggir." Irfan membunyikan klakson, membuat Audie segera menjauh dari hadapannya.
Audie menghembuskan napas pasrah, dua tahun Irfan pacaran namun sampai sekarang Audie tidak mengenali calon kakak iparnya. Jangankan untuk mengenali wajahnya, namanya saja baru semalam Audie mengetahuninya.
Audie menatap bekal yang ada di genggamannya, ia tersenyum hangat saat mengingat betapa ia sangat bucin kepada Xavier. Meski cintanya hanya bertepuk sebelah tangan, tapi Audie yakin, bahwa Pria seperti Xavier pantas untuk diperjuangkan. Karena tidak ada seorang wanita pun yang mudah untuk mendapatkannya. Audie pikir, wanita tunangan Xavier sekarang pasti tidaklah mudah baginya untuk mendapatkan Dosen yang satu itu.
Audie tidak ingin dicap sebagai pelakor, karena Audie juga yakin Xavier tidak mungkin bisa berpaling dari tunangannya sekarang. Sebab itu, tugas Audie sekarang hanyalah mencintai Pria tersebut tanpa berniat untuk merebutnya. Karena baginya Xavier itu sama saja dengan para oppa oppa yang wajahnya hampir mendekati kata sempurna, hanya bisa di lihat dan sangat mustahil untuk digapai.
Audie sampai di dalam kelas, duduk di sebelah gadis bernama Ika. Audie memang tidak satu kelas dengan Arini dan Indah, karena kedua gadis itu berada di kelas XII-IPA 1, kelas di mana murid-muridnya memiliki kecerdasan yang luar biasa. Sedangkan Audie, dia berada di kelas XII-IPS 3, satu kelas dengan siswa yang bernama Jack, siswa yang selalu membuat hari-hari Audie penuh dengan ungkapan cinta namun dengan orang yang sama.
Ika beranjak dari bangkunya saat mendapatkan perintah dari Jack, siswa nakal itu pun mencolek-colek samurai panjang Audie membuat gadis itu memukul kepala Jack sekuat tenaga menggunakan buku tebal yang ada di hadapannya.
Jack mengadu kesakitan, "gini amat suka sama singa betina!"
Jack menyodorkan dodol dengan kotak yang dihiasi lilitan pita warna biru. "Ini, buat lo."
Audie memutar bola matanya malas, "gue kan udah bilang, Jack, gue nggak suka dodol."
"Bukannya kemarin lo bilang nggak suka coklat, yah?"
Audie mengingat-ingat lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Gue nggak suka keduanya."
"Gue nggak suka semuanya selama itu pemberian dari lo."
Jack menatap nanar dodol di genggamannya dengan wajah cemberut. "Salah gue sama lo apa sih, Audie? Apa wajah gue masih kurang sempurna buat lo?"
"Lo nggak salah apa-apa Jack, justru ketampanan lo itu udah hampir mendekati kata sempurna. Tapi yang gue nggak suka dari lo itu sifat playboy lo itu. Lo sadar nggak sih, sudah berapa cewek yang sudah lo cicipi terus lo campakkan seenak jidat lo. Dan gue nggak mau menjadi salah satu dari mereka. Menjadi korban buaya lo."
Audie mendorong tubuh Jack kasar sampai-sampai Pria itu hampir terjungkal. Melihat kedatangan Miss Resty membuat Audie merapikan seragamnya lalu menyuruh Ika agar kembali duduk di bangkunya.
***
Ketiga sahabat itu tengah terduduk rapi di dalam bus. Hanya ada sekitar 7 penumpang di sana. Audie menggenggam erat kotak sandwich di tangannya sembari memandangi jalanan.
"Ngapain lo bawa bekal, tumben amat?" tanya Arini, Indah pun segera mengalihkan pandangannya ke kotak makan yang Audie genggam dengan erat.
"Ah ini..." Audie mengangkat kotak makan itu ke udara. "Ini bukan buat gue, tapi buat Pak Xavier."
Spontan dua makhluk di sebelah Audie membulatkan mata mereka lebar-lebar. "Hah? Buat Pak Xavier? Lo jangan cari mati deh, Audie!"
"Duh Arini, siapa yang mau cari mati, sih? Masa Pak Xavier bunuh gue hanya gara-gara gue ngasih makanan sama dia. Lo ada-ada aja deh. Justru Pak Xavier malah ngucapin terimakasih nanti sama gue karena gue bawain makanan."
Indah menjitak dahi Audie cukup keras, hal yang biasa gadis itu lakukan jika sahabatnya mulai bertingkah konyol. "Kalau lo kasih bekal sama Pak Xavier, bisa-bisa tunangannya nanti curiga sama lo. Jangan menjadi benalu antara hubungan Pak Xavier dengan tunangannya, nanti lo terkena masalah besar jika berurusan dengan tunangnya itu. Bukannya gue nggak dukung lo, Audie, sebagai sahabat gue cuma ngingetin. Kalo gue tahu ceritanya jadi begini, mendingan gue sama Arini nggak usah ngajak lo les private sama dosen yang satu itu."
Audie hanya mengalihkan pandangannya kembali ke jalanan, tidak ingin berurusan dengan dua sahabatnya itu. Keputusannya sudah bulat, ia akan memberikan makanan itu nanti kepada Xavier.
__ADS_1
Setelah berdebat di dalam bus, akhirnya Audie, Arini dan Indah sampai di depan rumah yang besarnya seperti istana. Pintu utama tidak terkunci, terbuka begitu saja memperlihatkan dua sejoli yang sedang main suap-suapan. Audie berdiri di ambang pintu, tidak ingin masuk terlebih dahulu.
"Makan dulu, sayang. Nanti sakit perut." Kalimat itu terdengar jelas di telinga Audie.
Rasa nyeri di dalam dada Audie saat melihat wanita tunangan Xavier menyuapi Xavier seperti seorang anak kecil. Pasangan yang romantis, begitulah pikir Audie. Kotak makan yang Audie bawa tadi ia sembunyikan dibalik punggungnya.
Arini berdehem untuk menyadarkan dua pasangan serasi itu.
"Assalamualaikum!" Salam Indah dan Arini sembari mengetuk permukaan pintu yang terbuka.
"Wa'alaikumussalam!" Jawab dua orang di dalam rumah.
Audie berusaha menguatkan hatinya, untuk hari ini dan kedepannya ia harus sadar diri.
Saat melewati tong sampah yang ada di dekat pintu, secara diam-diam Audie membuang kotak makan miliknya yang berisikan sandwich. Meski tadi keputusannya sudah bulat untuk memberikan sandwich itu kepada Xavier, tapi melihat keadaannya seperti ini ia harus menggagalkan rencana tersebut.
Audie mencintai Pria itu, tapi ia juga tidak ingin merebut milik orang lain. Audie hanya perlu menunggu kapan hubungan mereka berakhir, jika pun langgeng sampai akad pernikahan, maka di saat hari itu jugalah Audie harus berusaha untuk melupakan.
Audie membuka lembaran-lembaran kamus di hadapannya, ia ingin fokus ke dalam setiap kata yang tertera di sana, meski telinganya sudah merasa risih sedari tadi ia harus mendengarkan kalimat-kalimat manja keluar dari mulut wanita tunangan Xavier.
Lagi-lagi Audie harus melihat saat tangan Alea mengusap pelan bibir Xavier saat ada criem tertinggal di sana. Audie meremas udara kuat-kuat. "Tahan Audie, tahan. Lo pasti bisa!'" Gumamnya dalam hati.
Namun, di detik berikutnya...
Audie mendobrak meja kaca dengan kedua tangan yang mengepal, refleks semua mata tertuju padanya termasuk Xavier dan juga Alea.
"Lo kenapa, Audie?" tanya Indah yang tadinya tengah sibuk mencari kata di dalam kamus.
Xavier dan tungannya menatap Audie heran dengan kedua alis yang saling bertautan.
Bersusah payah ia menciptakan guratan senyum di bibirnya. "M-Maaf, s-saya ingin ketoilet, Pak. Sudah tidak tahan jadi saya mendobrak meja. Maaf sudah mengagetkan," ujarnya beralasan, padahal nyatanya ia hanya merasa risih saat ia dan teman-temannya belajar, terpaksa harus melihat adegan romantis yang tidak enak dipandang amat.
Xavier menunjuk ke belakang, "kamar mandi ada di sana, kenapa kamu tidak bertanya dari tadi?"
Audie tersenyum paksa lagi, lalu meminta ijin untuk pergi ke kamar mandi. Di dalam sana Audie hanya membasuh wajahnya, meratapi tubuhnya yang tidak seindah tunangan Xavier. Audie tersenyum kecut lalu berkata pada dirinya sendiri, "kapan lo sadar dirinya, Audie? Jangan merebut tunangan orang. Dan sekarang lo harus menanggung akibatnya. Cemburu itu akan menyiksa lo dan memgambil kebahagiaan lo secara perlahan-lahan!"
***
Audie, Arini dan Indah berpamitan setelah selesai belajar. Tunangan Xavier sudah pulang saat mendengar kabar bahwa ia harus segera ke kampus di mana ia mengajar. Wanita itu memang seorang dosen di salah satu Universitas di kota Surabaya.
Audie menjadi orang yang terakhir menyalim tangan Xavier, "nggak usah berharap, Audie, kalau suatu hari nanti lo bisa menyalim tangan Xavier sebagai makmumnya saat melaksanakan shalat," batinnya.
"Kami pulang dulu ya, Pak. Assalamulaikum!"
"Wa'alaikumussalam, jangan lupa belajar yang rajin di rumah."
Mereka melenggang pergi. Arini dan Indah dengan langkah yang semangat karena hari ini mereka mendapatkan banyak kosa kata baru. Sedangkan Audie dengan langkah lemahnya seperti zombie karena merasakan cemburu.
Di sisi lain Xavier hendak membuang sampah-sampah plastik yang berada di atas meja. Namun, Pria itu sangat penasaran mengapa ada kotak makan warna biru di dalam tong sampah.
ia mengambilnya, lalu membuka isinya. Setelahnya, ia menatap punggung Audie yang berjalan semakin menjauh keluar dari pintu pagar.
__ADS_1
..."Sampai bertemu di titik terbaik, di mana aku dan kamu dipersatukan oleh Tuhan"...