Dosenku

Dosenku
Cinema


__ADS_3

Audie berputar-putar di depan kaca. Wajahnya sudah di polesi bedak tabur bayi. Bibirnya hanya perlu satu kali olesan lipstik. Ia mengambil hairdrayer saat mulai menyadari rambutnya belum sepenuhnya kering.


Di luar sana sudah ada Arini dan Indah yang sedang menunggunya di atas sopa. Kedua gadis itu menatap wajah mereka di depan cermin kecil yang selalu dibawa di dalam tas Arini. Indah mengambil ponselnya, keduanya pun mengambil foto bersama untuk di upload ke sosial media.


'Mari ke bioskop bersama!' begitulah caption yang Arini buat di akun instagramnya, tidak lupa emoji love di akhir kalimatnya.


Audie datang menuruni anak tangga, ia tampak sangat anggun dengan setelan midi t-shirt dress warna hitam dalam balutan tan utility jacket dengan white sneakers. Crossbady hobo bag warna pink ia gantungkan di bahunya.


Arini dan Indah pun beranjak saat Audie mengajak mereka pergi. Ketiga gadis SMA itu menuju ke dapur untuk menyalim tangan Linda.


"Ingat, jangan main sama cowok-cowok. Indah sama Arini jagain teman kalian yang rada centil ini, kalau pun mau pacaran cukup berpegangan tangan. Jangan berdua-duaan, jika perginya bertiga maka pulangnya juga harus bertiga. Ngerti?"


Arini meneguk salivanya dengan bersusah payah. Bukan pertama kalinya ia mendengar ceramah Linda, justru malah sangat sering. Tapi, entah mengapa ia selalu gemetar saat meminta ijin kepada Mama Audie---sahabatnya.


"Iya, Tante. Kami berangkat sekarang ya?!" Arini menyalim tangan Linda digantikan oleh Indah lalu kemudian Audie.


Kali ini mereka tidak akan naik bus lagi, melainkan dengan mengendarai mobil pribadi milik Ayah Arini. Bukan tanpa ijin dia membawanya. Sebenarnya, mobil itu dibeli sebagai hadiah ulang tahun Ayah Arini untuknya, namun karena usia Arini belum cukup matang untuk mengendarai mobil, maka mobil itu menjadi hak Arini setelah ia lulus SMA.


Ketiganya berlalu meninggalkan rumah Audie sembari berbincang-bincang selama dalam perjalanan. Menceritakan hal-hal yang lumrah dibicarakan oleh gadis-gadis remaja seusia mereka. Arini yang menyetir mobil, Audie berada di sampingnya sedangkan Indah duduk di jok belakang.


Di saat lampu merah menyala, Arini mengedarkan pandangannya ke mana-mana. Sedikit jenuh saat warna itu menyala, membuat waktu mereka terkuras meski hanya beberapa menit.


Tak sengaja mata Arini tertuju pada casing ponsel Audie yang sedang ia genggam. Arini merampas benda kecil itu tanpa meminta ijin dahulu kepada pemiliknya. Matanya terbuka lebar dengan raut wajah terkejut.


"Maksud lo apaan, Audie? Kenapa wajah tampan Pak Xavier ada di casing handphone lo?"

__ADS_1


Mendengar penuturan Arini, Indah langsung meloncat dari jok mobil belakang, ikut memperhatikan foto yang ada di casing handphone Audie.


Indah sama kagetnya dengan Arini, "jangan bilang kalau..." tebak gadis itu terpotong, menunggu Audie untuk menjelaskan.


"Tenang aja, gue nggak bakalan rebut Pak Xavier dari wanita yang bernama Alea itu. Gue Cuma mau muasin nafsu gue dengan tidak melupakan Pak Xavier. Lagi pula, kalian 'kan udah ngedukung gue, jangan bilang kalau kalian berubah pikiran? Gue nggak suka!"


"Iya, Audie. Gue tahu lo masih belum bisa move on dari Pak Xavier, tapi nggak gini juga caranya. Bisa-bisa lo dicekik sama tunangannya Pak Xavier kalo dia tahu lo suka sama tunangannya." Arini menghembuskan napasnya kasar.


Indah menjitak kening Audie sekali, ia tidak bisa menahan kekesalannya kepada sahabatnya itu. "Ngeyel banget sih lo, Audie. Pak Xavier udah punya tunangan, dan lo udah tau itu. Jangan menghancurkan hubungan orang lain. Nanti lo kena karmanya baru lo tahu rasa."


Orang yang diceramahi hanya memutar bola matanya malas. "Emangnya kenapa, sih? Gue cuma suka sama Pak Xavier doang. Lagi pula gue nggak pernah denger kalo mencintai seseorang itu hukumnya haram. Lagian gue nggak berharap kok kalo Pak Xavier balas cinta gue. Gue nggak bakalan hancurin hubungan Pak Xavier sama tunangannya. Lagi pula, cowok kek Pak Xavier nggak akan mungkin mau sama gadis dungu kayak gue."


Arini dan Indah menghembuskan napas lega. "Untung lo sadar diri!" Ucap keduanya serentak.


Arini kembali melajukan mobilnya menuju bioskop paling terkenal di kotanya saat lampu merah sudah digantikan oleh warna hijau. Ketiga sahabat itu kembali ke dalam pembahasan mereka di awal perjalanan. Yaitu, Indah yang stress karena berat badannya bertambah dua kilogram. Arini yang muak karena mantannya minta balikan. Dan Audie, ia kembali larut memikirkan Xavier.


***


Ada banyak manusia-manusia yang sedang berkencan berlalu lalang. Sebelum masuk ke dalam bioskop, Audie, Arini dan Indah hendak membeli popcorn.


Seseorang menabrak tubuh Audie membuat ponselnya terpental jauh ke arah sana. Sepasang mata Audie terbuka lebar. Pandangannya bukan kepada seorang Pria yang baru saja menabraknya. Ia justru membiarkan pelakunya pergi tanpa meminta maaf terlebih dahulu.


Saat ini Audie tidak percaya dengan apa yang dia lihat, ingin sekali ia menjewer telinga Irfan, Abangnya yang tengah asik makan es krim bersama seorang wanita di pojok sana. Tentu saja Audie marah, Irfan selalu beralasan kalau dia sedang kerja kelompok, namun nyatanya ia malah pergi berkencan. Padahal, jika Pria itu meminta ijin tentu saja Mamanya membolehkan. Namun itulah Irfan, ia lebih tertarik dengan berbohong.


Saat Audie ingin menghampiri mereka, gadis itu telah pergi setelah berpamitan kepada Irfan. Arini pun mengambil ponsel Audie saat melihat sahabatnya malah bengong membiarkan ponselnya di injak-injak oleh para penghuni mall.

__ADS_1


Arini menepuk bahu Audie untuk menyadarkan gadis itu. "Lo lagi lihat apa?"


Audie yang menyadari Arini telah di sebelahnya hanya menggeleng pelan. "Nggak lagi lihat apa-apa kok!" Jawabnya singkat.


"Masuk yuk," ajak Audie kemudian setelah mereka sudah mendapatkan tiga popcorn.


***


Rasa jenuh menghampiri, tidak ada yang menarik dari film bioskop yang sedang mereka tonton. Audie tidak suka film horor bukan karena ia takut, tapi karena ia sangat bosan karena yang dilihat hanyalah hantu-hantu buatan saja.


Andai saja Arini dan Indah tidak bersikekeh untuk memilih film horor, pasti kini Audie sudah menikmati film romansa. Padahal, menonton bioskop adalah ide Audie dan dia juga yang harus mengeluarkan biaya. Namun kali ini gadis itu harus bersabar karena tidak bisa menikmati filmnya.


Audie mengedarkan pandangannya keman-mana, ia begitu bosan. Telinganya juga sudah terasa panas mendengar jeritan gadis-gadis yang memilih menonton film horor tapi berakhir di pelukan pacarnya. Dasar, betina.


Audie mengalihkan pandangannya ke belakang, memastikan seberapa banyak orang yang kini sedang menonton bioskop. Audie membuka matanya lebar-lebar, mencoba memperjelas penglihatannya karena saat ini ruangan bioskop sangat gelapang, hanya cahaya minim yang ada dari layar tancap.


Audie mengintip dari sebalik kursinya, kali ini ia yakin ia tidak salah lihat. Diantara dua barisan bangku di belakangnya ia melihat Xavier di sana dengan seorang wanita yang tidak hentinya menggenggam lengan Xavier. Sesekali ia berteriak ketakutan saat hantu buatan di layar menampakkan wajah hancurnya.


Yang membuat Audie semakin terkejut adalah, wanita yang sedang dikencani oleh Xavier itu sangat mirip dengan wanita yang tadi bersama dengan Irfan. Audie mencoba memastikan dari gaun wanita itu, namun sayangnya ia tidak bisa melihat jelas warna baju yang dikenakan wanita itu karena ruangan bioskop saat ini terlalu gelap.


Audie memutuskan untuk menonton bioskop lagi, tidak peduli siapa gadis itu karena ia yakin pasti ia hanya salah lihat. Dan soal Xavier, Audie mencoba menahan luka dihatinya yang semakin menganga.


Audie mengambil butiran popcorn lalu melahapnya. Kali ini ia mencoba untuk menikmati alur film meski ia tidak begitu tertarik.


..."Tentang kita, luka, air mata, derita, merupakan satu komposisi di mana suatu hari nanti akan menjadi bahagia"...

__ADS_1


__ADS_2