
Satu minggu telah berlalu, namun belum ada perkembangan atas kesembuhan Audie. Hanya luka-luka kecilnya saja yang tampak mengering dan meninggalkan sedikit bekas di wajahnya. Audie belum mendapatkan izin pulang dari dokter.
Ada juga untungnya bagi Audie tetap bertahan di rumah sakit ini, karena selama ia sakit, Xavier selalu saja datang menjenguknya, meski pada akhirnya Jack datang mengacaukan.
Audie menghembuskan napasnya, lalu pandangannya beralih ke jendela. Tidak ada yang bisa ia lakukan di siang hari ini, sangat membosankan. Linda pun tidak bisa menemaninya karena ia ingin pulang ke rumah hanya sekedar membawa perlengkapan Audie, seperti ganti baju gadis itu. Sedangkan Irfan tidak bisa meninggalkan jam kuliahnya, Xavier harus melaksanakan kewajibannya sebagai dosen, dan teman-teman Audie pastinya sedang menuntut ilmu di sekolah.
Semua sangat membosankan bagi Audie, kehidupan di rumah sakit itu bagaikan seperti tahanan di dalam penjara. Tidak bebas melakukan apapun dan tersiksa sepanjang waktu.
Netra gadis dalam balutan seragam pasien itu kembali menatap jam dinding, memastikan bahwa tidak lama lagi teman-temannya pasti akan datang memecahkan kesunyian ini.
Disisi lain Xavier berteriak heboh saat ikan yang baru saja ia celupkan ke dalam wajan berisi minyak panas meletup-letup seperti bom. Perlahan, ia kembali melangkah setelah menghindar, berlari sangat jauh keluar dari rumah karena takut ikan yang ia goreng meledak.
Tangan kirinya perlahan-lahan membalik ikan yang sudah setengah gosong itu, wajahnya menghadap ke belakang dengan raut ketakutan. Bibirnya komat-kamit melafalkan do'a, berharap ikan itu tidak lagi meledak yang membuatnya terpaksa harus berlari terbirit-birit keluar dari rumah.
Entah apa yang terjadi dengan Xavier, ia sangat professional jikalau memasak sayuran. Namun saat giliran makanan laut, ia menyerah atau butuh waktu yang sangat lama hanya untuk menciptakan masakan yang bisa dimakan. Ya, menciptakan masakan yang bisa di makan, bukan masakan dengan kelezatan yang sempurna.
Xavier menghembuskan napasnya, ia meratapi ikan setengah gosong yang kini sudah berada di atas piring. Ia berdecak, mengerutuki dirinya sendiri. Tidak ada siapapun di dalam rumah yang bisa ia mintai bantuan. Lufy? Tentu saja wanita muda itu sedang berkutik dengan tugas-tugasnya di kantor.
Sudah ada sayur bayam merah di atas meja, daging ayam, ikan dan salad buah. Xavier hanya tinggal memasukkannya ke dalam kotak makan lalu segera bergegas pergi menuju rumah sakit. Mobil Xavier meluncur menyusuri jalan raya kota Surabaya yang tengah padat di siang hari ini. Sesampainya di rumah sakit ia memarkirkan si bugatti hitam itu lalu pergi menuju dimana ruangan Audie dirawat.
Langkah Xavier terhenti kala netranya bertemu dengan netra seorang lelaki yang memakai seragam sekolah. Detik berikutnya pandangannya beralih ke tangan cowok itu yang sedang menjinjing sesuatu.
Xavier mengangkat kotak makan ditangannya sejajar dengan dadanya, begitu juga dengan cowok yang bernama Jack, ia mengangkat kotak pizza yang ia jinjing ke udara lalu kembali menatap Xavier datar.
Tanpa berpikir panjang Xavier berlari menuju dimana ruangan Audie dirawat. Jack yang tidak mau kalah sesekali menendang kaki Xavier sehingga Pria itu tertinggal jauh dibelakang.
"Awas kamu, Jack. Saya ingin masuk duluan..." Teriak Xavier.
"Pak Xavier yang minggir, saya yang pertama sampai di rumah sakit ini, lebih baik Pak Xavier mengalah saja."
Dan disinilah mereka, tepat diambang pintu bangsal saling mendahului satu sama lain. Dengan tidak sopannya Jack menarik baju Xavier dari belakang, sedangkan Xavier menghalangi tubuh Jack untuk memasuki bangsal.
Audie yang tengah berbaring di brankar lengkap dengan seragam pasiennya menyaksikan dua makhluk itu dengan mulut yang menganga.
"Biarkan saya masuk, Pak Xavier!" Jack memberontak.
"Tidak bisa, lepaskan dulu baju saya!" tidak ada yang mengalah, baik Jack maupun Xavier keduanya sama saja, sama-sama keras kepala.
Audie mendengus, ia merotasikan bola matanya. Sejak seminggu yang lalu kedua lelaki itu yang setia merawatnya. Namun satu hal yang membuat Audie merasa jengkel, keduanya selalu saja bertengkar bahkan hanya karena masalah yang sepele.
__ADS_1
"PAK XAVIER, JACK..." Panggil Audie meninggikan oktaf suaranya, namun cukup lembut ketika menyebut nama Xavier.
Detik itu juga mereka terdiam, lalu masuk ke dalam bangsal dalam keadaan akur seakan tidak terjadi apa-apa.
Xavier mendekati Audie ragu, menghindari kontak mata dengan cewek itu, "ini, saya membawakanmu sarapan siang." Xavier menyodorkan kotak makan yang ia jinjing.
Dibelakang Xavier seorang cowok berdecak, lalu ia menyenggol bahu Xavier cukup keras. "Ini Audie, gue udah bawain pizza buat lo."
"Pizza lagi?"
Jack mengangguk, "lo suka pizza, 'kan?"
Audie membuang napasnya, "setiap hari selera gue beda-beda, Jack. Masa gue harus makan pizza mulu sih."
Audie menggelengkan kepalanya beberapa kali, lalu ia terima pizza pemberian Jack saat Audie mendapati betapa sedihnya raut wajah cowok itu.
Kemudian Audie beralih memperhatikan sarapan siang yang diberikan Xavier, anak perempuan itu tersenyum lebar, rasanya seperti dibawakan sarapan oleh pacarnya sendiri. "Terima kasih, Pak Xavier!"
Jack mendengus, "cuma makasih sama Pak Xavier doang, Audie? Sama gue nggak? Benar kata Yuda yah, cewek memang nggak adil."
Audie tersenyum simpul, "iya, Jack. Makasih juga!"
"I-Ini apaan, Pak Xavier?" tanya Audie dengan wajah polosnya.
Xavier menunduk malu, namun ia tidak berniat menghilangkan kewibawaannya. Sedangkan Jack tertawa cekikikan. Hingga pandangan Xavier tajam menatap Jack, barulah cowok itu mau diam sambil mengulum senyumnya.
"I-Itu..." Xavier menjeda, ia gugup. Seharusnya tadi ia tidak memasukkan ikan gosong yang tidak lagi berwujud sempurna itu ke dalam kotak makan, "...jika kamu tidak menyukainya buang saja. Ada daging ayam dan sayur bayam merah, saya pastikan masakan yang lainnya nikmat, kamu makan itu saja."
Audie terkekeh, namun Xavier tidak suka ditertawakan. Dengan senyuman yang masih terukir di bibir Audie, ia justru mengambil ikan gosong itu lalu mencicipinya. Rasanya sangat nikmat! Bukan, bukan ikan gosongnya yang nikmat, tapi karena ada campur tangan Xavier di dalam masakan tersebut.
Pandangan Jack menatap Xavier sinis, bisa-bisanya kehadirannya disana tidak dianggap. Audie hanya mementingkan Xavier, fokus pada Xavier, selalu Xavier tidak pernah dirinya.
Dengan lahapnya, Audie mencicipi semua hidangan disana. Baik pizza yang diberikan Jack maupun sarapan siang yang diberikan Xavier. Perut kecilnya hari ini bersahabat, buktinya perut Audie bisa menampung semua makanan itu. Jack dan Xavier hanya membisu tidak ingin berkomentar, bukan hal yang langka lagi ketika melihat sosok gadis semungil Audie bisa menghabiskan makanan sebanyak itu.
***
Selepas perut Audie kenyang, ia kini sedang berjalan-jalan di area sekitar rumah sakit menggunakan bantuan kursi roda dan tentunya juga dengan bantuan tenaga Xavier dan juga Jack.
"Menyingkirlah Pak Xavier, biar saya saja yang mendorong kursi roda Audie."
__ADS_1
Sedari tadi mereka berdualah yang mendorong kursi roda anak perempuan itu. Sebelah menggunakan tangan Jack dan sebelah lagi menggunakan tangan Xavier.
"Seharusnya kamu yang menyingkir, Audie tidak memerlukan bantuan kamu disini. Audie kecelakaan akibat saya, dan saya hanya ingin bertanggung jawab merawatnya sampai sembuh."
Telinga Audie yang sedari tadi merasa panas mendengar pertengkaran diantara mereka berdua hanya bisa pasrah, Audie terdiam diatas kursi roda, rasanya ia seperti benda mati saja.
Dan disinilah mereka, dibawah pohon rindang ditaman belakang rumah sakit. Tanahnya sedikit membukit, hingga beberapa rumah dan jalan raya tampak begitu jelas. Udaranya segar saat menerpa wajah Audie, sudah lama sekali ia terkurung diruangan penuh obat-obatan itu.
Disekitar mereka banyak macam-macam bunga bermekaran berwarna-warni seperti pelangi. Audie menghirup udara dengan rakus, untuk sekedar menenangkan pikirannya.
Xavier duduk diatas rumput hias tepat disamping kiri Audie, sedangkan Jack telentang disamping kanan Audie. Pandangan Audie menerawang, ia jauh menatap di langit biru sana yang disapu bersih tanpa adanya awan. Saat ini, ia memiliki dua lelaki yang istimewa. Namun bedanya, satu lelaki yang ia cintai namun tidak mencintainya, dan satu lagi lelaki yang mencintainya namun tidak ia cintai.
"Audie..." Panggil Jack lirih, wajahnya menghadap langit dengan kedua tangan yang terselip di bawah kepalanya.
"Kenapa?"
"Lo punya mimpi nggak?" tanya Jack tiba-tiba yang membuat Audie refleks menatapnya.
Kedua alis indah Audie berkerut, "kenapa lo tiba-tiba nanya gitu?"
"Jawab aja!" pandangan Jack masih fokus menatap langit biru.
Untuk beberapa detik Audie membisu, lalu ia mengangguk pelan. "Gue pengen bebas, gue pengen terbang bersama orang yang gue cintai, gue pengen jalan-jalan di pantai sambil bergandengan tangan, menikmati matahari tenggelam di ufuk barat sana tanpa ada beban."
"Hanya itu?" tanya Jack, sedangkan Xavier hanya diam tidak berkutik, mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut Audie.
Audie mengangguk, "Ya, hanya itu," lirihnya.
"Mimpi lo terlalu sederhana."
"Siapa bilang sederhana? Tidak ada yang bisa gue ajak berjalan bersama, lantas, mimpi itu tidak akan nyata sampai kapanpun, Jack."
Jack menghembuskan napas, ia melirik xavier untuk beberapa detik. Cowok itu tahu, lelaki yang dimaksud Audie adalah Xavier sendiri. Namun sayangnya, Xavier tidak pernah peka dengan hal itu.
Wajah Xavier itu datar, ia sulit memberikan ekspresi seperti apapun. Tidak ada yang bisa membaca pikirannya. Dia itu terlalu sulit untuk digapai, namun Audie suka dengan bintang meski tidak bisa diraih dengan tangan. Karena bintang itu selalu bersinar dan memberikan keindahan, sebab itulah, Audie tidak ingin melepasnya. Mungkin benar kata Arini, bahwa bintang langit dan bintang laut tidak ditakdirkan untuk bersatu.
...🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️...
..."Tidak ada fortal waktu yang bisa membawaku mengunjungi masa lalu. Andai itu ada, aku akan hadir terlebih dahulu dari pada wanita itu di hatimu!"...
__ADS_1