Dosenku

Dosenku
Jack's Decision


__ADS_3

Audie dan teman-temannya sedang menyantap bakso di kantin yang saat ini tengah dipadati oleh keramaian para siswa. Keringat dingin berhasil membuat seragam sekolah Audie basah. Bibirnya pucat, di tambah lagi tangannya gemetar saat menyuapkan kuah bakso itu ke dalam mulutnya.


"Kenapa lo pucat gitu? Lo sakit?" tanya Arini saat melihat keadaan sahabatnya itu sangat mengkhawatirkan.


Indah yang bersebelahan dengan Audie segera meletakkan telapak tangannya di dahi gadis itu. "Badan lo panas banget, Audie. Kek setrikaan aja. Mending lo ke UKS aja deh," saran Indah dengan raut wajah cemas.


Audie menepiskan tangan yang memegangi dahinya dengan pelan, "gue nggak papa, kok. Gue cuma kelelahan aja."


"Emang lo baru aja selesai lari marathon? Kenapa bisa lelah gitu?"


"Bukan Arini, gue baru aja dapat hukuman menghormat bendera selama satu jam, selepas itu gue juga disuruh bersihin toilet yang penuh dengan kotoran manusia. Gara-gara dapat hukuman gue jadi ketinggalan tiga mata pelajaran deh," keluh Audie, kelopak matanya sayup-sayup terbuka. sangat sulit mengembalikan fit-nya yang hilang.


"Siapa yang hukum lo? Pasti karena lo nggak ngerjain PR-kan?" tebak Indah.


"Bukan, tapi karena gue nggak bisa ngerjain soal fisika di papan tulis," sengkal Audie.


"...dan guru yang hukum gue itu... Alea, tunangannya Pak Xavier."


Jus jeruk yang baru saja Arini minum menyembur dengan cepat, Audie merasakan hujan hangat memabasahi wajahnya.


"Aishhh ... Arini, jorok banget sih lo." Protes Audie, segera ia membersihkan wajahnya menggunakan tissu.


"Ishhh ... benar-benar tuh si Alea, keterlaluan banget dia hukum lo segitu berat hanya gara-gara nggak bisa ngerjain soal fisika." Arini meninggikan oktaf suaranya. Bahkan ia tidak peduli orang-orang di sekitarnya sedang menatapnya risih.


"Jahat banget tunangan Pak Xavier. Gue yakin, pasti dia sengaja lakuin itu ke elo karena dendam," timpal Indah seraya menggebrak meja.


"dendam?" tanya Audie dengan kerutan samar di dahinya.


"Iyalah, lo lupa gimana dia nampar pipi lo karena gak sengaja dengar lo ngungkapin cinta sama Pak Xavier? Apalagi, pas dia ngebanting handphone lo, udah kek orang kesurupan aja," lanjut Indah.


Sebenarnya Audie sudah tahu sedari awal penyebab Alea begitu sangat membencinya. Tapi dia berusaha untuk tidak berurusan dengan wanita itu, namun Alea tetap saja tidak ingin berhenti menyakitinya. Sudah cukup Alea mempermainkan Irfan saudaranya, dan sekarang Alea juga berniat untuk mengganggu kehidupan Audie?

__ADS_1


"Makanya Audie, belajar yang benar. Jangan mau direndahin mulu kek gitu. Harusnya kalo lo memang benar-benar menyukai Pak Xavier, lo harus berusaha memberbaiki diri. Setidaknya lo belajar, siapapun cowoknya nggak bakal suka sama cewek yang dungu." Entah itu sebuah pesan atau hinaan, tapi Audie cukup percaya apa yang dikatakan Arini.


"Benar apa yang Arini bilang, lo harusnya berusaha memperbaiki diri lo, Audie. Lo nggak pintar di mata pelajaran bahasa Inggris, nggak pintar di bidang kimia apalagi fisika. Setidaknya lo bisa kuasai salah satu bidangnya," timpal Indah menasehati.


Audie menunduk malu, apa yang dikatakan kedua sahabatnya itu ada benarnya juga. Tapi yang menjadi masalahnya adalah, memperbaiki diri itu sesuatu yang sangat sulit. Jujur saja, Audie sangat awam tentang segala hal. Tidak pintar dalam mata pelajaran, tidak pandai memasak, yang dia tahu hanyalah Xavier dan juga para lelaki berkulit bening dari Negeri Ginseng. Siapa yang akan mau menyukai cewek seperti Audie? Mungkin hanya Jack satu-satunya.


Gadis kelahiran Surabaya itu menghembuskan napasnya panjang. "Kalian berdua benar," ungkapnya lemah.


Di sisi lain, Jack datang menghampiri Audie dan dua sahabatnya. Ditangan kanannya terdapat minuman isotonic. Ia mengayunkan langkah dengan riang. Sepanjang ia berjalan, dengan ramah ia membalas sapaan para ciwi-ciwi yang mengagumi keindahan visualnya. Mulutnya terus bersiul, menggulung lengan baju sekolah kiri dan kanan.


"Nih," cowok itu menyodorkan minuman yang ia bawa kepada Audie. Refleks Audie mengalihkan pandangan.


"Apa?" tanya Audie, ia tidak segera menerima minuman itu.


"Minuman istonic buat gantiin cairan lo yang hilang," jelas Jack sembari mengambil duduk disebelah Audie, mengangkat satu kakinya dengan sombong.


"Sorry banget ya, tadi gue nggak bisa bantuin lo bersihin toilet. Tiba-tiba aja gue dipanggil sama kepala sekolah," ujar cowok berambut pirang itu, raut wajah penyesalannya terlihat jelas.


"Terimakasih ya, Jack." Audie segera meneguk minuman isotonic tersebut.


"Oh iya," kata Audie saat teringat sesuatu.


"...kok bisa-bisanya yah semua jawaban lo itu benar? Padahal, lo cuma ngejawab asal-asalan!"


Pandangan Arini dan Indah bertemu, keduanya tersenyum sambil memainkan kedua alis mereka naik turun, entah apa maksud dari senyuman tersebut.


"G-Gue ... Gue kan udah bilang sama lo, insting gue itu selalu benar. Jadi lo nggak usah ragu kalo nanti pas Ujian Nasional minta jawaban sama gue."


Audie mengangguk paham, percaya begitu saja dengan ucapan cowok disebelahnya.


"Eh btw, kita lesnya nanti malam 'kan? Gimana kalo kita nggak usah pulang aja? Kita ke rumah tante gue aja!" Tawar Indah kembali membuka pembicaraan.

__ADS_1


Jack yang mendengarnya memasang wajah menginterogasi, "les? Kalian bertiga les?"


Arini dan Indah mengangguk membenarkan, "kenapa emang?" tanya Indah kemudian lalu menyeruput jus jeruk dihadapannya.


"Kalian kok nggak ngasih tahu gue, kan gue juga mau ikut."


Audie menatap Jack dengan menyunggingkan bibir, "sejak kapan lo suka belajar tambahan? Bukannya lo sama gue nggak ada bedanya ya? Sama-sama malas buat belajar," ungkap Audie jujur. Ia begitu sadar diri jika dirinya tidak pintar-pintar amat.


"Trus, kalo lo malas buat belajar tambahan, kenapa lo ikut les sama dua makhluk ghaib ini?"


Hampir saja satu pukulan melayang mengenai kepala Jack andai saja cowok itu tidak menangkisnya. Siapa juga yang rela di sebut sebagai makhluk ghaib?


"Itu semua karena gue dipaksa sama Arini dan Indah. Dua cewek ini memang suka banget maksa gue ngelakuin sesuatu yang gue nggak suka."


"Demi kebaikan lo, Audie!" Seru Arini dan Indah secara bersamaan.


"Kalian les hari apa aja?" tanya Jack kemudian.


"Selasa, Rabu sama kamis."


"Ok, mulai besok gue bakalan ikut les tambahan sama kalian." Selepas mengatakan itu Jack berlalu yang mendapatkan teriakan dari Audie namun tidak ia sahuti.


"Emang kenapa sih, baiknya memang dia ikut les tambahan, biar otaknya lebih encer dikit. " Ujar Arini saat mendengar teriakan Audie memanggil-manggil nama Jack, protes dengan keputusan cowok itu.


Akhirnya audie mengalah, ia hanya bisa menghembuskan napasnya pasrah.


"Gimana, nanti kita pulangnya ke rumah tante gue aja, yah?" tanya Indah, sedari tadi jawaban dari pertanyaan itu yang ia tunggu-tunggu.


"ENGGAK!" kata Arini dan juga Audie secara bersamaan dengan oktaf suara yang tinggi, membuat Indah mengerucutkan bibirnya.


"Punya sahabat gini amat,"

__ADS_1


__ADS_2