EDEN; The Half Elf

EDEN; The Half Elf
Chapter 10_Arc Park


__ADS_3

"Siapa kau? mengapa menganggu kami bersenang-senang?"


"Pergilah! tidak ada yang mau bermain denganmu disini, apakah kau ingin mati?"


"Hushhh, hushhh......Dasar anjing penganggu!"


Mungkin karena terlalu bodoh, atau mungkin karena Eden jarang menampakkan dirinya di muka umum. Seorang elf biasa berani menghina dan mengusir pangeran?


Eden tersenyum sinis sambil menundukkan kepalanya, ancaman serta penghinaan seperti ini tidak akan mempan kepada dirinya. Ia kembali mengangkat kepalanya dan menatap orang-orang yang berada di sana satu-persatu, kemudian berbicara dengan sinis.


"Makhluk dari ras apa kalian ini? bahkan kalian tidak mengenali pangeran bangsa kalian sendiri? pergilah sebelum aku mulai marah!"


Semua orang yang berada di sana tentu saja tersentak kaget begitu mendengar perkataan Eden, mereka berbisik-bisik satu sama lain dan akhirnya membubarkan diri tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Eden memungut sebuah daun yang berada dibawah kakinya, lalu memotong tali yang sedang mengikat gadis itu. Eden tersentak kaget karena gadis itu tiba-tiba jatuh ke pelukannya begitu tali telah terpotong, meskipun gadis itu basah dan mengeluarkan bau yang tak sedap Eden tidak mendorong ataupun menyuruhnya menjauh. Ia menggunakan sihir penyembuhan untuk menyadarkan si gadis elf, kemudian barulah mengajaknya bicara.


"Apa kau sudah baik-baik saja sekarang? bagaimana keadaanmu?"Karena berada dalam posisi yang berpelukan, wajah Eden dan wajah gadis itu hanya berjarak beberapa inci saja. Begitu kesadaran si gadis telah kembali, ia langsung melepaskan dirinya dari pelukan Eden sambil menutupi wajahnya yang merah merona.


'Mengapa dia menutupi wajahnya!?'Batin Eden."Hei, apakah kau baik-baik saja?"


"A-aku baik-baik saja, baik-baik saja yang mulia!"Kali ini si gadis elf menjawab Eden secepat yang ia bisa sambil mengibas-ibaskan tangannya, Eden sebenarnya ingin bertanya mengapa gadis itu bisa tiba-tiba bertingkah aneh. Namun ia membatalkan niatan itu begitu si gadis tiba-tiba mendekat ke arahnya, bukan sedang memperhatikan wajah Eden melainkan pakaiannya.


"Bajumu telah basah, maafkan aku."Ucap si gadis sambil menundukkan kepalanya.


"Apa!?"

__ADS_1


"Yang mulia, namaku adalah Kristina Feralkry. Keluarga besarku adalah pengrajin alat sihir terbaik di kerajaan, maukah kau mencoba salah satu alat ini? alat ini bisa membersihkan pakaianmu!"Kristina menyodorkan sebuah bola perak yang memiliki beberapa tulisan kecil kepada Eden, Eden menolak pemberian Kristina dengan cara menggeleng-gelengkan kepalanya. Masih ada hal penting lainnya yang harus ia lakukan, hal yang benar-benar sangat penting dibandingkan mencoba sebuah alat sihir.


"Maafkan aku, tetapi aku sedang sibuk saat ini. Jika kita bisa berjumpa lagi kau harus memanggilku dengan nama Eden saja tidak perlu kata yang mulia, aku pasti akan mencoba alat sihirmu lain kali."Eden beranjak dari posisinya duduknya, ia membalikkan badannya dan mulai melangkah menjauhi Kristina. Namun tiba-tiba pergelangan tangan Eden ditarik, sehingga ia pun berhenti melangkah.


"Apakah kau benar-benar harus pergi sekarang? aku bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih karena kau telah menyelamatkanku."Kristina melepaskan genggamannya dari lengan Eden, ia tidak rela jika harus berpisah dengannya secepat ini.


"Sama-sama."Balas Eden sambil tersenyum hangat.


"Emm?"Mata Kristina kini telah terpaku hanya kepada Eden, senyuman yang telah ia lihat tadi sangatlah hangat. Hangat sampai-sampai ia telah melupakan seluruh kejadian yang telah menimpanya, terlalu hangat sampai kristal yang telah mengunci hatinya selama bertahun-tahun pecah dan ikut menghilang bersama dengan deru nafasnya.


Eden kini kembali melangkahkan kakinya dan meninggalkan Kristina, gadis itu tidak lagi mengejar ataupun berniat untuk menghentikan Eden. Kristina kembali menuju ke pohon besar tempat ia diikat sebelumnya lalu memungut sesuatu dan memasukkannya ke dalam sebuah alat sihir kemudian melangkah pergi.


BRAAAKKK!!!


"Aduhh! apa-apaan ini?"Mata Eden mulai berair-air karena kepalanya baru saja menghantam tubuh seseorang hingga terjatuh, ia menggerutu dan melampiaskan kekesalannya didalam hati karena selalu mengalami kejadian naas ini.


"Eden! arghh, ternyata itu kau? kemana saja kau daritadi? aku sudah lelah mencarimu."


"Kakak!?"


"Ikuti aku, kita harus segera mengambil nomor peserta."Putri Leony menarik pergelangan tangan Eden hingga mereka berdua memasuki taman Arc, Eden dan putri Leony ikut berbaris seperti orang-orang lainnya demi mengambil nomor peserta pengujian di hadapan pohon suci Digrasirs. Begitu memasuki taman Arc, Eden langsung disuguhi dengan pemandangan yang begitu luar biasa.


Terdapat banyak sekali tumbuhan-tumbuhan dan binatang-binatang kecil di taman ini, dan yang paling membuat Eden takjub adalah taman Arc terlihat sangat gelap seperti malam hari padahal ia baru saja merasakan teriknya matahari diluar taman.


__ADS_1


Sebuah pohon yang mengeluarkan cahaya berwarna ungu muda diujung taman Arc adalah pohon suci Digrasirs, karena terlalu sibuk mengamati dan terpukau. Eden tidak menyadari bahwa seorang pembimbing telah memanggil namanya berkali-kali.


"Eden, yang mulia pangeran Eden? pangeran? Eden? pangeran Eden!"


"Ahh, apa!?"


"Silahkan maju kedepan agar saya bisa memberikan anda nomor peserta, jangan membuat orang-orang yang berada di belakang menunggu."


"Ahh, baiklah."


Eden melangkah mendekati salah satu pembimbing yang bernama Hakxel, begitu Hakxel menyentuh pundak Eden sebuah angka bernomor 29 tiba-tiba muncul di pakaiannya.


"Pergilah ke depan pangeran Eden, anda ternyata lumayan beruntung juga. Test itu, saya berharap anda dapat melaluinya."Karena ditarik paksa oleh dua orang pembimbing lainnya, Eden tidak sempat menanyakan maksud dari perkataan Hakxel. Ia ditarik, dan ditarik-tarik sampai melewati seluruh orang yang telah mendapatkan nomor peserta termasuk putri Leony.


"Tunggu, Eden!"Teriak Putri Leony sambil mengulurkan tangannya ke arah Eden, Eden ingin sekali menerima uluran tangan putri Leony namun sepertinya hal itu tidak bisa ia lakukan. Para pembimbing mulai menghentikan langkahnya tepat berada tidak jauh dari hadapan pohon suci Digrasirs, kedua lengan Eden akhirnya dilepaskan dan muncullah satu orang pembimbing lagi dari arah kanannya.


"Pangeran Eden, perlu diketahui jika 28 orang sebelum anda telah gagal melewati


test yang diberikan oleh pohon suci Digrasirs. Saya menaruh harapan yang besar kepada anda, jika anda saja tidak mampu melewati test ini maka semua orang sudah dipastikan tidak akan bisa juga!"


Mendengar kata-kata sang pembimbing agung membuat Eden hanya bisa menghela nafas panjang, dengan kata lain Eden menanggung beban lebih dari 200 elf remaja dipundaknya. Ingin menolak, memangnya ia bisa? Eden melirik ke arah putri Leony dan melihat setetes air mata mengalir turun dari wajahnya, untuk menenangkan hati sang kakak, Eden hanya bisa berpura-pura tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.


'Kakek tua itu! beruntung apanya coba? jika aku gagal maka aku akan mati dan semua orang setelahku juga akan bernasib sama, dan kakak......'Mengingat saat-saat ketika putri Leony selalu membahas mengenai akademi, membuat Eden semakin bertekad untuk melewati test dari pohon suci Digrasirs. Ia lalu kembali mengedarkan pandangannya dan melihat orang-orang sedang berusaha keras untuk menyemangati dirinya, sekilas Eden juga melihat Aurora sedang mencoba untuk menerobos barisan. Tidak tahu dengan jelas mengapa ia melakukan hal itu, Eden hanya bisa tersenyum.


To be continued_»

__ADS_1


__ADS_2