EDEN; The Half Elf

EDEN; The Half Elf
Chapter 6_About Eden And Aurora


__ADS_3

"Apa!?"


"Kau sangatlah bodoh, kau benar-benar bodoh! Eden, kau........."Seketika, putri Leony mengenang masa-masanya saat sedang bersama dengan Eden. Tak terasa, air matanya kini telah mengalir turun.


Eden tidak bisa menyimak perkataan putri Leony karena dirinya terlalu sibuk berurusan dengan anak-anak panah di sekelilingnya, baru kali ini Eden melihat sihir yang begitu ganas dan memiliki akal. Melawannya, akan benar-benar sulit.


'Cihh, aku tidak bisa menggunakan Eligish sama sekali! bagaimana sekarang?!'


Putri Leony menundukkan kepalanya kemudian mengarahkan telapak tangannya agar anak-anak panah yang sedang menyerang Eden berhenti, Eden tersentak kaget ketika melihat panah-panah yang menyerangnya kini telah berhenti. Ia melirik ke arah putri Leony dan tersenyum.


"Kakak, mengapa kau tiba-tiba menghentikan seranganmu? apakah kau berpikir aku tidak akan mampu untuk menangani semua ini?"


"Sudahlah, aku tidak bisa menyerangmu lagi Eden. Maafkan kakakmu ini ya, haha?"Putri Leony menghapus air yang hampir saja keluar dari matanya, ia berharap agar Eden tidak bisa melihat saat-saat ketika dirinya sedang menangis namun sepertinya hal seperti itu tidak akan terjadi.


"Kakak, apa yang terjadi!? apa kau baik-baik saja?"Eden menghilangkan Eligish dan melangkah mendekati putri Leony, masa bodoh dengan pertarungannya. Eden hanya mengkhawatirkan keadaan kakaknya saat ini.


"Hahaha, aku baik-baik saja. Baik-baik saja~ Aku hanya sedikit merasa marah melihatmu diperlakukan semena-mena oleh orang lain, kemarilah. Aku akan mengobati lukamu."


"Bohong! jika kakak marah kepadaku lalu mengapa kakak menangis? apakah ini gara-gara Aurora?"Eden menghentikan langkahnya dan kini menatap putri Leony dengan tatapan yang sendu, putri Leony tidak menjawab pertanyaan dari Eden. Ia hanya memalingkan wajahnya sambil menghilangkan busur serta anak panah miliknya.


"Aurora, dia........."Eden mengeratkan kepalan tangannya dan menundukkan kepalanya, putri Leony mendekat kemudian memeluk Eden dengan erat sambil berkata.


"Jika kau tidak ingin memberitahuku maka jangan lakukan, aku tidak akan mengorek masa lalu adikku yang dipenuhi dengan kesedihan."Semua es yang berada di tempat itu perlahan-lahan mulai mencair, Eden membalas pelukan sang kakak yang terasa begitu hangat dan ia ingin mencurahkan segala isi hatinya.

__ADS_1


"Aurora menjadi temanku begitu ayah memberiku ijin untuk keluar dari istana, dia adalah seseorang yang sangat baik dan aku menyukainya."Putri Leony tersentak ketika Eden mengatakan kalimat yang terakhir tadi, ia memeluk Eden semakin erat lalu berbicara dengan pelan.


"Lalu?"


"Hari itu, kami berdua bertemu dengan Card yang sedang bertarung melawan sekelompok Orc dan tentu saja kami ikut membantunya. Setelah pertarungan selesai kami bertiga kemudian berteman dan selalu menghabiskan waktu kami bersama-sama, aku mendapati bahwa Card ternyata menyukai Aurora. Dan Aurora juga menyukai dirinya."Kali ini giliran Eden lah yang mengeratkan pelukannya, Tubuh Eden mulai bergemetar dan putri Leony hanya bisa menahan tawa menanggapi reaksi itu.


'Anak ini, seperti seekor naga yang baru saja kehilangan induknya. Lucu sekali' Batin putri Leony.


"Aku membiarkan Card memiliki Aurora dengan syarat ia tidak boleh meninggalkannya dikala senang maupun sedih, Card menyetujui syaratku dan akhirnya mereka berdua menjadi sepasang kekasih. Beberapa tahun yang lalu hubunganku dengan mereka berdua mulai merenggang, karena aku secara tidak sengaja melukai Card."


"Hmm, apa yang telah terjadi saat itu!?" Putri Leony melepaskan pelukannya dan melihat wajah Eden yang dipenuhi dengan keraguan, ia telah sepenuhnya tenggelam kedalam cerita dan sudah terlampau penasaran.


"Aku secara tidak sengaja melihat Card berkomunikasi dengan bangsa iblis, dia sepertinya juga menerima sesuatu dari iblis itu."


Eden mengangguk-angguk kepalanya."Ya, aku yakin itu! Tanduknya benar-benar terlihat seperti yang ada didalam buku milik ayah."


"Lalu tunggu apa lagi!? mari kita segera melaporkannya ke ayahanda."Putri Leony menarik tangan Eden namun Eden juga menarik tangan putri Leony, padahal masih ada hal penting yang ingin Eden katakan. Untung saja ia tidak lupa.


"Tunggu, kakak! kita tidak memiliki bukti sama sekali, selain itu kejadiannya juga telah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Kita tidak bisa-"


"Apakah kau takut Aurora akan semakin membencimu jika melaporkan hal itu?" Sela putri Leony.


"Ehh?"

__ADS_1


_______\•°|°•/_______


[Kilas balik kejadian yang telah terjadi 23 tahun yang lalu]


PLAAAKKK!!!


sebuah tamparan mendarat di pipi Eden dan darah mengalir keluar dari sudut bibirnya, Eden tidak marah setelah diperlakukan seperti itu ia hanya diam menatap gadis yang berada di hadapannya sedang menangis tersedu-sedu.


"Eden, mengapa? mengapa kau melukai Card sampai separah ini?!"Aurora berteriak kepada Eden."Bukankah kita adalah seorang sahabat?! mengapa kau melakukannya?!"Teriak Aurora lagi.


"Aurora, percayalah kepadaku! aku melihat Card bersama dengan seorang iblis kemarin, kau harus percaya kepadaku. Aku hanya mencoba untuk mengambil bukti darinya, lalu......." Bujuk Eden sambil menarik pergelangan tangan Aurora.


"Uhukk, uhukk, uhukk......."Card yang sedang terbaring di belakang Aurora baru saja memuntahkan darah segar dan berhasil menarik perhatian, Eden mendekat kearah Card dan hendak memeriksa isi pakaiannya namun Aurora tidak mengijinkan hal itu dan malah kembali memarahi Eden.


"Eden, cukup!! apapun yang kau katakan, apapun yang telah kau lihat, dan apapun yang telah kau lakukan........Aku tidak akan memaafkanmu. Mulai dari saat ini, kita sudah tidak lagi berteman!"


"Aurora, apakah kau tidak mempercayaiku!? kau lebih mempercayai dirinya, daripada aku?"Mata Eden mulai berkaca-kaca ketika melihat Aurora mencoba untuk memapah tubuh Card, Aurora kemudian membalikkan badannya dan pergi begitu saja meninggalkan Eden.


Eden menundukkan kepalanya dan mengeratkan kepalan tangannya hingga mengeluarkan darah, air mata Eden terjatuh ketanah lalu tak lama kemudian ia jatuh berlutut sambil memandangi sebuah batu kecil yang mengeluarkan sinar berwarna kebiruan.


"Mengapa dia tidak mempercayaiku?"


_______\•°|°•/______

__ADS_1


To be continued_»


__ADS_2