
'Aku heran, sebenarnya apa yang sedang gadis itu lakukan? haruskah aku bangun dan memarahinya, atau membiarkannya saja?'Puas melihat Cicilia hanya berkeliling dan tak melakukan apa-apa, Eden memutuskan untuk membiarkannya saja. Ia kembali memejamkan matanya dan mencoba untuk tertidur daripada mengurusi kakak kelas yang jahil itu, beberapa detik kemudian Eden sudah hampir memasuki alam bawah sadarnya. Namun tiba-tiba Cicilia berteriak.
"Kyaaaaaaa!"
Mata Eden tersentak dan dia segera menoleh kesana-kemari.
"Adik kelas yang satu ini tampan sekali, aku menyukainya! jika aku suka, kakak Celine pasti juga akan suka kan?"Cicilia berjongkok dan menyentil dahi seorang elf pria yang sedang terbaring dihadapannya, Eden menaikan sebelah alisnya pertanda bahwa ia sedang bertanya kepada dirinya sendiri.
'Itu....Bukankah itu adalah Card?! apa yang sedang dia lakukan kepadanya?'Eden kembali memejamkan matanya sambil tersenyum sumringah.'Hmm, dapat kau! kemarilah dan aku akan segera menangkapmu!'Batin Eden.
****
"Jadi bagaimana? apakah semuanya setuju?"
"Aku setuju, ujian kali ini pasti akan sukses besar."
"Aku tidak punya hak untuk menentang." Ucapnya sambil mengangkat kedua tangan.
"Baiklah, aku setuju."
Ujian untuk anak-anak kelas satu sedang dibahas di ruang rapat saat ini, lima orang guru-guru yang tampaknya bertugas untuk mengadakan ujian ini sedang berkumpul bersama.
"Baiklah, kalau begitu bes-"
"Aku ingin menambahkan beberapa hal pada ujian kali ini, Ezekiel."
"Hoffen, apa maksudmu?"
Semua orang yang berada di tempat itu segera menoleh ke arah Hoffen yang seenaknya menaruh pergelangan kakinya diatas meja sambil merokok, Hoffen meniupkan asap rokoknya keatas meja dan membuat keempat orang lainnya yang berada di sana bingung.
"Meminta bantuan lima peri suci memang tidaklah buruk, hanya saja.....Mari kita ubah konsepnya."
"Hah!? apa maksudmu? menurutku konsep yang telah kita bahas daritadi sudah sangat bagus, kenapa harus diubah lagi?"
"Aku tidak mau tahu apa-apa, menurutku apa saja boleh asalkan tidak melibatkan diriku."Ucap Angrence sambil mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya.
__ADS_1
"Jadi, apa saranmu?"
Hoffen kembali menghisap rokoknya dan mengacuhkan pertanyaan dari Zamard, ia lalu beranjak dari tempat duduknya dan melangkah keluar ruangan.
"Aku tidak akan menghabiskan waktuku hanya untuk berbicara, aku akan langsung beraksi saja jika Ezekiel telah memberikan ijin. Kalian semua perlu tahu mengenai satu hal, Kepala sekolah tidak pernah
meragukanku!"Ucap Hoffen sinis.
Ezekiel, Zamard, Angrence, dan Huknalurk memandangi kepergian Hoffen dengan raut wajah yang bimbang. Ezekiel mulai panik dan dia mengigit-gigit kuku jarinya.
"Hoffen, elf tua itu. Selalu saja begitu sombong!"Umpat Zamard.
"Ezekiel, aku menyarankan agar kita mengikuti rencana Hoffen saja. Jika kepala sekolah percaya kepadanya, maka aku juga."Ucap Huknalurk sambil melangkah keluar ruangan.
"Cihh, sebenarnya ada apa dengan mereka? bukankah rencana ini saja sudah sangat bagus!? Ezekiel, apa yang akan kau lakukan?"Tanya Zamard.
Ezekiel berhenti mengigiti kuku jarinya, ia menoleh dan menatap tajam ke arah Zamard, sehingga pria besar berotot itu merinding.
"Mari kita.....Ikuti rencana Hoffen saja."
"Ohh, yang satu lagi disini."Ucap Cicilia lantang sambil tertawa kecil.
Eden berkeringat dingin dan tak bisa berkedip sedikitpun ketika melihat Cicilia mencoret-coret wajah orang-orang yang tidak disukainya, baik wanita maupun pria. Jarak diantara mereka berdua sudah semakin dekat sehingga Eden kembali memejamkan, dan menurut perhitungan waktu, giliran Eden sudah hampir tiba.
'Apa-apaan? apakah rupa itu sebegitu pentingnya bagi para wanita? mengapa dia cuma mencoret-coret wajah yang dianggapnya jelek? lalu, bagaimana denganku?!'Batin Eden.
"Hmmmm~ hanya tersisa satu lagi. Huuh, melelahkan sekali."Cicilia bangkit berdiri dari posisi jongkoknya dan meregangkan otot-otot yang terasa kaku, ia melangkah menuju ke arah Eden perlahan-lahan sambil bersenandung.
Memang merdu, namun senandung itu terasa seperti alunan kematian bagi Eden.
'Jangan mendekat, jangan mendekat! mari kita membuat kesepakatan, aku membiarkanmu pergi dan kau membiarkanku pergi, bagaimana!?'Batin Eden.
Cicilia melangkah semakin dekat dan akhirnya sampai ke tempat tujuan, ia berjongkok dan memandangi punggung Eden cukup lama.
'A-ada apa? apakah ada sesuatu di punggungku? mengapa dia tiba-tiba berhenti?'
__ADS_1
"Hei, kau.....Kau belum tertidur kan?"Ucap Cicilia sambil menyipitkan matanya, dan mendorong-dorong tubuh Eden.
DEGGGGG!!
'Hm, sudah ketahuan!'Batin Eden.
"Bangunlah kau dasar pembohong, aku sedang berbicara disini."Cicilia menarik tubuh Eden sehingga Eden kini sedang berbaring menghadapnya sekarang, reaksinya hampir sama dengan gadis-gadis sebelumnya.
"Wow, adik kelas ini.....Bahkan lebih tampan daripada yang sebelumnya."Gumam Cicilia.
Eden tersentak dan membatin.'Ehh, ini artinya wajahku tidak akan dicoret-coret bukan? dia masih belum menyadari apa-apa kan?'
"Ehh, entah mengapa aku merasa seperti pernah melihat wajah ini sebelumnya? tapi dimana ya?"Cicilia menusuk-nusuk pipi Eden menggunakan jarinya, dan ia mengacak-acak rambut Eden setelahnya. Bukannya malah bertambah hancur, Eden malah tampak semakin keren.
'Berhentilah memainkan rambutku!'Teriak Eden dari dalam hati.
"Astaga, apa-apaan ini?! mengapa hal yang terjadi malah melebihi perkiraanku?"Teriak Cicilia sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
'Sial, cepat lakukanlah hal itu. Aku ingin melihat sebenarnya sihir apa yang telah kau gunakan kepada Card, cepatlah!'
"Kakak Celine, kakak Celine, kau harus memaafkanku ya. Aku membutuhkannya untuk eksperimen pribadiku, tolong maafkan aku!"Cicilia Berlutut dan meminta pengampunan sambil menghadap ke langit, hal yang ia lakukan begitu tiba-tiba jadi Eden tentu saja merasa heran dan terkejut.
'Apa ini? apa yang sedang dia lakukan!?'
"Kakak Celine, aku meminta maaf yang sebesar-besarnya kepadamu."Selesai melakukan hal yang dianggap aneh oleh Eden tadi, Cicilia segera mengarahkan tangannya ke dahi Eden kemudian menyentilnya dengan pelan.
'Ehh, mengapa aku tiba-tiba merasa panas!'
"Baiklah, semua masalah telah selesai. Harus segera kembali....."Cicilia menghela nafas panjang dan memungut tongkatnya yang terletak disampingnya, baru saja ia hendak berdiri namun tiba-tiba terjatuh lagi karena tangannya sedang ditarik oleh Eden.
"A-apa yang kau berikan padaku?"Tanya Eden sambil menyentuh kepalanya, Cicilia berbaring tepat diatas tubuh Eden.
Ia terdiam dan keseluruhan wajahnya telah berubah menjadi merah.
"Hei, jawablah! ap-apa yang kau lakukan padaku?!"Tanya Eden lagi.
__ADS_1
To be continued_»