
"I-ibu, ibu......."
'Ibu!?'Batin salah satu pembimbing keheranan.
"Eden!"Gumam raja cemas.
"Ibu! ibu, kembalilah! ibuuuu! ibu maafkan aku, aku pasti akan belajar dengan lebih giat dan tidak akan bermain-main lagi. Maafkan aku, ibu jangan pergi! ibu!"Teriak Eden sambil mengulurkan tangannya hendak mengapai orang yang sedang ia lihat.
"Astaga, ada apa dengan pangeran Eden!?"
"Apa mungkin ia sedang berhalusinasi?"
"Gawat, gawat, gawat! lalu bagaimana sekarang!?"
'Ibu!? apa yang Eden maksud adalah ratu Arasyia?'Batin putri Leony sambil mengertakan giginya.
"Aduh, halusinasi ini bahkan lebih parah daripada yang dialami oleh pangeran Key kemarin. Baginda raja, haruskah kita melakukan sesuatu!?"Tanya sang pembimbing agung.
"Melakukan sesuatu? memangnya kita bisa apa? sudahlah jangan ikut campur dengan masalah keluargaku, aku yakin Eden pasti mampu mengatasinya."
"Ibu, mengapa kau pergi? apakah kau membenciku, ibu?!"Mata Eden tiba-tiba tersentak dan ia menjatuhkan uluran tangannya, Eden perlahan-lahan mulai menyentuh wajahnya dan menyadari pipinya terasa lumayan lembab.
'Apakah tadi aku sedang berhalusinasi?! sungguh nyata, aku bahkan sampai menangis.'Batin Eden sambil menghapus air matanya.
"Bagus, pangeran Eden telah sadar kembali!"
"Syukurlah~"
Eden mulai melangkah lagi dan membuat orang-orang kembali bersorak-sorai, baginda raja menghela nafas lega sedangkan putri Leony diisi dengan kecemasan akan test yang harus dialami oleh Eden selanjutnya.
'Apapun itu, aku tidak boleh berhenti! tidak boleh!'Eden mengertakan giginya, test di aspek hawa nafsu sedang berjalan saat ini. Tubuh Eden terasa seperti terbakar dan dihujani dengan ribuan jarum, memang ia terlihat baik-baik saja dari luar. Tetapi sebenarnya, Eden sedang tersiksa tanpa diketahui oleh siapapun.
'Selesai.'Batin Eden begitu seluruh rasa sakit yang ada di tubuhnya menghilang.
Eden meneruskan langkahnya, perlahan-lahan luka-luka yang ia dapat dari serangan segerombolan kupu-kupu tadi mulai terbuka.
Air yang awalnya tampak bersih dan bening, berubah menjadi biru akibat darah Eden.
"Hei! apa kau lihat itu? apa kau lihat itu?"
"Luka pangeran Eden terbuka!"
"Pangeran Eden tampak sangat kesakitan, tidak bisakah kita melakukan sesuatu?"
__ADS_1
'Berengsek, sebenarnya berapa lama lagi Eden harus seperti ini?'Batin Aurora.
"Aaahhh! aku sudah tidak tahan lagi, aku harus melakukan sesuatu!"Putri Leony mencoba untuk menerobos para penjaga, tetapi ia malah berhasil ditahan. Karena dirinya tidak bisa menyelamatkan Eden, maka ia akan meminta orang lain saja untuk melakukannya.
"Ayahanda, kau harus menyelamatkan Eden! kau harus menyelamatkannya! dia bisa mati, Eden bisa mati jika kau hanya berdiam diri saja."Teriak putri Leony.
"Putri Leony, apakah anda pikir baginda raja tidak ingin menyelamatkan Eden?"
"Apa!?"
"Kami tidak dapat melakukan apa-apa, hanya pohon suci Digrasirs saja yang bisa. Ini semua adalah takdir, anda harus tahu itu."
"Ta-tapi......"Putri Leony melirik ke arah Eden, dan air matanya kembali mengalir. Entah mengapa? dirinya merasa begitu tersiksa ketika melihat Eden terluka.
'Hampir, hampir sampai. Pohon suci Digrasirs.....'Eden sudah hampir menjangkau pohon suci Digrasirs, ia tersenyum samar-samar karena berpikir semua test ini telah berakhir. Namun tiba-tiba......
"Aaaaaaakkkkkhhhh!!"Teriak Eden sambil menutupi kedua telinganya.
"EDENN!"
"E-eden."Gumam baginda raja dengan suara yang bergetar, karena ketakutan.
"Berhenti! berhenti membuat suara-suara itu!! Aaaaakkkkhhhh!"Teriak Eden lagi.
"Kurasa pangeran Eden mendengar suara yang tidak bisa kita dengar!"
"Suara macam apa itu!? mengapa pangeran Eden tampak seperti orang gila?"
"Menakutkan, apakah kita harus tersiksa seperti itu juga?"
"Diamlah!"Bentak Aurora.
"Hentikan! kumohon berhentilah!! hentikan!!"Teriak Eden sebelum dirinya kehilangan kesadaran dan terjatuh kebelakang.
BYUUURRR!!
"EDENNN!!"Teriak putri Leony histeris.
"Eden!"Batin Aurora lagi.
"Eden!"Baginda raja hendak menolong Eden yang telah pingsan dan tenggelam di dalam air, namun ditahan oleh para pembimbing. Para pembimbing percaya bahwa pohon suci Digrasirs pasti tidak akan memainkan nyawa seseorang begitu saja, baginda raja sibuk melepaskan dirinya dari pegangan para pembimbing. Putri Leony berusaha keras untuk melewati para penjaga yang terus saja menahannya, orang-orang sudah mulai berduka cita dan Aurora berusaha keras untuk menahan air matanya. Acara pengujian benar-benar berlangsung dengan dramatis.
SWAAAASHHHH!!
__ADS_1
"Waahh! uhukk, uhukk, uhuk, uhukk!"Eden bangun dan menyangga dirinya sendiri sambil terbatuk-batuk, ia menoleh ke belakang dengan nafas yang terengah-engah dan mendapati ekspresi keterkejutan timbul di wajah setiap orang.
"Haah....hah......hah......A-aku baik-baik saja." Ucap Eden pelan.
"Eden! huhu, dasar si bodoh. Mengejutkanku saja!"Isak putri Leony sambil berhenti mendorong-dorong penjaga yang berada di hadapannya.
"Pangeran Eden! hidup pangeran Eden!"
"Pangeran, apakah anda baik-baik saja?"
"Pangeran Eden!!"
"Bagus, semua test telah berhasil dilewati hanya dengan pangeran Eden seorang. Pohon suci Digrasirs seharusnya sudah merasa puas kan?"Gumam sang pembimbing agung.
"Eden, apa kau baik-baik saja?"Tanya sang baginda raja ragu-ragu.
"Iya."Eden mengangguk kepalanya dan kembali menghadap ke arah pohon suci Digrasirs, angin tiba-tiba saja berdatangan dan pangeran Eden memejamkan matanya sambil membatin.
'Menurutku, semua test ini telah berakhir sekarang. Pohon suci Digrasirs, bisakah kau menguji diriku sekarang?'Eden meletakkan kepalanya ke batang pohon Digrasirs, dan sebuah cahaya yang teramat menyilaukan tiba-tiba muncul.
Eden melayang dalam posisi yang terbaring secara tiba-tiba, ketika dirinya sudah tepat berada di tengah-tengah kristal pohon suci Digrasirs sebuah selimut yang berwarna keunguan perlahan-lahan mulai membungkusi dirinya.
"Luar biasa, benda apa itu?"
"Apakah pangeran Eden sedang diberkati sekarang?"
"Jika pohon suci Digrasirs sedang menganugerahkan sesuatu kepada pangeran Eden, maka yang bisa kukatakan hanyalah ia pantas untuk mendapatkannya."
'Berakhir, akhirnya berakhir juga~'Ucap syukur putri Leony.
'Selesai!'Batin Aurora sambil membalikkan badannya dan melangkah pergi.
Selimut yang membungkusi tubuh Eden perlahan-lahan mulai menghilang, sebuah tangga yang terbuat dari akar pohon suci Digrasirs tiba-tiba muncul dan sukses mengejutkan semua orang. Eden berpijak pada salah satu anak tangga tertinggi dan perlahan-lahan ia mulai membuka kedua matanya, seluruh tubuh Eden kini telah pulih kembali dan tidak terlihat bekas luka sedikitpun.
"Aku kembali kakak, mari kita pergi ke akademi bersama-sama."Eden tersenyum girang sambil memamerkan sebuah bunga yang ia dapat dari pohon suci Digrasirs.
"Selamat pangeran Eden, bunga itu adalah tanda masuk yang anda perlukan untuk bisa diterima di akademi Viothen Vrawl. Terimakasih banyak karena telah membukakan segel yang telah mengunci pohon suci Digrasirs, kini semua orang bisa mulai melakukan pengujian dengan tenang."
"Segel!? apa maksudmu?"
To be continued_»
__ADS_1