
'Menjijikan, aku merasa muak!'Batin Aurora, ia pun lalu segera melenggang pergi dari tempat itu.
Card mengikuti Aurora dari belakang dan Aurora ternyata tidak menyadari kehadiran Card sama sekali, apa-apaan ini? ternyata mereka berdua telah saling membuntuti satu sama lain, untuk saja Card membuntuti Aurora dari jarak yang cukup jauh sehingga ia tidak terlalu melihat hal yang sedang dilakukan oleh Eden dan putri Leony. Kalau tidak, ia pasti akan menyebarkan rumor-rumor yang tidak benar untuk mencelakai Eden.
'Aurora, semenjak kejadian di hari pengujian pohon suci Digrasirs itu, dia selalu bersikap dingin kepadaku. Semua ini gara-gara benda itu!'Batin Card sambil mengertakan giginya.
_______\•°|°•/_______
[Kilas balik kejadian di taman Arc beberapa hari yang lalu]
"Taman Arc ini benar-benar luar biasa, kudengar ada sebuah tumbuhan yang mampu melihat cinta sejati seseorang. Ayo kita pergi dan mencarinya."Ucap Aurora senang sambil menarik-narik tangan Card ke suatu tempat.
"Ohh, ini....Baiklah~"Card pun akhirnya mengikuti Aurora kesana kemari dan menemukan bunga cermin cinta tidak jauh dari pohon Digrasirs, begitu Aurora mendekat ke bunga itu maka terlihatlah wajah Card yang sedang tersenyum di inti bunga cermin cinta. Namun begitu Card yang mendekat ke arah bunga itu, seseorang yang muncul bukanlah Aurora melainkan orang lain.
Tentu saja Aurora merasa terkejut."Ca-card, siapa itu?"Tanya Aurora ragu sambil melangkah mundur.
"Ehh, aku tidak mengenal siapa dia! Aurora, pasti ada yang salah disini! aku benar-benar hanya mencintaimu, dengarkanlah aku!"
"Menjauh!"Ucap Aurora sambil menepis tangan Card."Kau....Enyahlah dari hadapanku untuk sementara waktu."Aurora pun berlari meninggalkan Card sendirian bersama dengan bunga cermin cinta.
'Gawat, bukankah yang tadi itu adalah putri?! apakah aku benar-benar menyukainya?'Batin Card sambil mengelus-elus kelopak bunga cermin cinta.
_______\•°|°•/_______
"Cihh, jika dipikir-pikir lagi aku seharusnya menghancurkan bunga itu bukan?"Gumam Card sambil melangkah pelan mengikuti Aurora.'Aurora, aku masih membutuhkannya untuk bertahan hidup.'Lanjut Card membatin.
Pada malam harinya, semua orang kembali ke kamar masing-masing dan bersiap untuk ujian yang akan diadakan besok. Eden membuka pintu kamarnya secara perlahan-lahan takut jika teman sekamarnya sedang tertidur dan akan terbangun nantinya, ia melangkah masuk dan kembali menutup pintu kamar kemudian melirik ke arah setiap sudut tempat itu.
"Ehh, kenapa dia tidak ada disini?"Tanya Eden pada dirinya sendiri, ia pun melangkah mendekat ke sisi kanan kamar dan tiba-tiba tersentak karena kasur miliknya yang baru saja hancur pagi ini telah kembali seperti sedia kala.
'Ukh, tidak usah mandi lagi. Aku akan langsung tidur saja.'Eden menjatuhkan tubuhnya keatas ranjang, dan beberapa menit kemudian ia pun langsung tertidur.
"Dia tidak melakukan apa-apa setelah masuk ke dalam kamar, sebenarnya mengapa aku harus melakukan hal ini?"Teman sekamar Eden melompat turun dari langit-langit kamar, ia ternyata telah berada diatas sana daritadi dan mengawasi Eden. Entah mengapa hari ini banyak sekali orang-orang yang mengawasi pemeran utama kita.
Ia menguap dan segera menuju ke atas ranjangnya kemudian tertidur, Eden membuka kedua matanya secara tiba-tiba dan ia duduk di atas ranjangnya sambil membatin lalu menatap ke arah teman sekamarnya.
__ADS_1
'Mata-mata yang dikirim kakak-kakakku ya?'
Keesokan paginya semua murid-murid kelas satu berkumpul di lapangan seperti yang dikatakan oleh guru Halmark, untung saja semua yang berada di sana cerdas dan mengetahui bahwa ujian ini bukanlah seperti acara mengajukan dan menjawab pertanyaan, ataupun bertarung satu lawan satu di arena. Melainkan pergi berpetualang, semua orang telah siap dengan perlengkapan dan pakaiannya masing-masing. Termasuk Eden, lagi-lagi dirinya menjadi pusat perhatian karena terlalu menawan dan tampak keren.
'Ada apa dengan semua mata orang-orang itu?! mengapa selalu menatap ke arah kami!?'Batin putri Leony sambil melirik ke arah segerombolan gadis yang terus menatap Eden.
"Ehh, kakak, ada apa? apa yang sedang kau lihat disana?"Tanya Eden sambil melangkah mendekati putri Leony.
"Ohh, Eden! bu-bukan apa-apa, jangan melihat kesana!"Putri Leony menghalangi pandangan Eden dengan tubuhnya dan tersenyum canggung, Eden menurut dan ia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil mencari-cari seseorang.
'Dimana orang itu?'Eden mencari-cari keberadaan teman sekamarnya, mereka berdua tidak pernah bertatapan satu sama lain dari kemarin. Eden merasa cemas, ia cemas jika teman sekamarnya mengalami suatu hal yang buruk.
'Kenapa dia selalu menoleh kesana-kemari? sedang mencari seseorang? siapa yang sedang dia cari?'Batin seorang pria yang sedang bersembunyi dibalik pohon disamping Eden.
SWWIISSSHHHHH!!
"Hahahahahaha, halo semuanya!"
Sebuah suara yang terkesan agak berat datang bersama dengan tiupan angin kencang dari sisi timur, semua orang memalingkan wajahnya dan tak lama kemudian membalikkan wajahnya lagi karena angin kencang itu tiba-tiba saja berhenti.
Seakan tahu bahwa murid-murid kelas satu yang akan ia ajari hari ini memiliki banyak pertanyaan, Hoffen lantas memikirkan sebuah ide untuk menenangkan situasi.
"Dengar, dengar semuanya."Teriak Hoffen, semua orang pun segera menoleh ke arahnya.
"Hari ini kalian semua akan mengalami sebuah ujian berskala besar dan aku adalah orang yang bertanggung jawab untuk hal ini, kalian berbarislah terlebih dahulu dan aku akan menjelaskan mengenai cara ujiannya."Ucap Hoffen.
Di sebuah atap bangunan yang berada tidak jauh dari sana, keempat orang yang terdiri dari Ezekiel, Zamard, Angrence, dan Huknalurk sedang duduk bersama-sama dan mengamati Hoffen sang bintang utama. Ezekiel tampak tenang dan percaya kepada Hoffen, Angrence tampak santai, begitu juga dengan Huknalurk, sedang Zamard.....
"Hufftt, mengapa elf tua itu bisa menjadi orang yang begitu berbeda ketika sedang mengajar? dia selalu tersenyum dan berbicara lembut, sungguh jauh berbeda dengan dirinya ketika sedang berbicara pada kita."Ucap Zamard sambil menghela nafas panjang.
"Biarkan saja dia, mungkin dia sedang dalam mood yang baik saat ini."Ucap Ezekiel santai.
"Hmm~ aku ingin bertanya sesuatu kepada kalian, kita hanya akan mengawasi mereka dari sini kan? tidak ada hal lain kan?"Angrence meregangkan otot-otot tubuhnya, dan menatap malas Ezekiel, Zamard, dan Huknalurk.
"Ya, sepertinya cuma seperti itu. Tapi kita harus bertahan untuk tiga hari."Ucap Ezekiel menyahut Angrence.
"Tiga hari!"Teriak Zamard dan Angrence bersamaan.
__ADS_1
"Baiklah, sebelum aku memulai penjelasannya adakah orang yang ingin bertanya terlebih dahulu?"
Semua orang telah berbaris rapi, Eden berada di barisan sebelah kanan dan menjadi orang yang paling depan. Putri Leony berada di belakangnya, dan dibelakang putri Leony adalah teman sekamar Eden yang identitasnya sudah jelas adalah seorang mata-mata.
"Anu, guru Hoffen.....Dimana guru Halmark berada?"
"Berapa lama ujian kita akan dilaksanakan guru?"
"Itu, siapa keempat orang yang sedang berada di sana itu?"
"Haha, kita ketahuan."Ucap Ezekiel sambil tersenyum begitu mendengar pertanyaan salah seorang murid Hoffen.
"Permisi, bolehkah aku ijin pergi ke toilet sebentar?"
Hoffen tersenyum sejenak dan tak lama kemudian wajahnya tiba-tiba berubah menjadi menyeramkan, ia melirik ke arah Eden dan tersenyum sinis.
'Ekhh! kenapa dia menatapku!?'Eden menurunkan pandangannya karena tidak berani menatap Hoffen, ia bukannya merasa takut melainkan khawatir jika dirinya akan dilibatkan kedalam sesuatu.
"Apakah semua pertanyaannya telah selesai sekarang? kalau begitu, aku akan mulai menjawab. Pertama, guru kalian yang bernama Halmark telah kembali ke akademi."Ucap Hoffen.
"Kedua, aku masih belum menjelaskan tentang ujian kalian sama sekali, pertanyaan macam apa itu? ketiga, keempat orang yang sedang berada di sana itu...."Hoffen membalikkan badannya dan menunjuk ke arah Ezekiel dan tiga orang lainnya.
"Mereka hanyalah seorang pengamat, tidak perlu diperdulikan."Ucap Hoffen sambil mengibas-ibaskan sebelah tangannya.
"Kampret!"Umpat Zamard.
"Hoffen, lain kali aku akan mencampurkan racun kedalam minumannya."Ucap Ezekiel sambil tersenyum hangat.
"Dan yang keempat, kau tidak boleh pergi ke toilet karena aku baru saja akan menjelaskan mengenai hal yang penting!"Hoffen menunjuk ke arah seorang murid yang telah meminta ijin ke toilet tadi.
'Guru ini, benar-benar jahil.'Eden berusaha untuk menahan tawanya, rasanya ia sangat ingin tersenyum. Namun ketika melihat ekspresi orang-orang yang berada di sekitarnya, ia mengurungkan niat itu.
"Baiklah, sebelum kita mulai aku akan memanggil lima peri suci terlebih dahulu. Mereka akan menjadi target kemenangan kalian di ujian ini."
'Lima peri suci!'Batin Eden dengan mata yang terbelalak.
To be continued_»
__ADS_1