EDEN; The Half Elf

EDEN; The Half Elf
Chapter 25_New Member Oicler


__ADS_3

"Sssstt, ini adalah hal yang penting dan tidak ada seorangpun yang boleh mengetahuinya selain kau dan aku. Apakah kau mengingat kakak kelas yang pernah datang ke ruang perkumpulan dan menyihir kita semua hingga tertidur sebelumnya?"Tanya Zenos.


'Emm, maksudnya Cicilia?'Eden membatin."Aku mengingatnya, mengapa kau menanyakan tentang hal ini?"Lanjut Eden.


"Apa! kau benar-benar mengingatnya? apakah kau tahu, aku sudah berkeliling ke seluruh tempat ini untuk mencarinya namun aku tidak menemukan apa-apa, dia menghilang begitu saja seperti ditelan oleh bumi. Dan...Dan, yang paling parah adalah siapapun tidak mengingat kejadian di ruang perkumpulan selain diriku. Sebenarnya apa yang sedang terjadi ya?!"Jelas Zenos panjang lebar.


'Ehh, aku benar-benar telah melupakan sesuatu yang penting. Tidak, aku sebenarnya tidak terlalu menganggap kejadian-kejadian itu sehingga hal seperti ini bisa terjadi! kemana gadis itu pergi?! dan kenapa hanya aku dan Zenos saja yang mengingat dirinya?!'


"Hei, Eden! bicaralah sesuatu."Ucap Zenos sambil mengangkat dagu Eden agar mereka berdua bisa bertatapan.


"Zenos, aku sebenarnya tidak terlalu menganggap hal yang telah terjadi waktu itu. Namun sekarang aku sudah merasa curiga, apa jangan-jangan dugaanmu sama sepertiku?"Tanya Eden serius.


"Sebenarnya aku memiliki dua dugaan mengenai hal ini, apakah kau ingat dengan perkataan guru Hoffen ketika seseorang bertanya mengenai keberadaan guru Halmark?"


"Guru Hoffen mengatakan bahwa guru Halmark telah kembali ke akademi, bukannya sedang berada di perjalanan menuju ke akademi. Bagaimana dirinya bisa seyakin itu? sejauh pandangan mata yang bisa terlihat hanyalah hutan serta pepohonan, dan kita baru saja melihat guru Halmark semalam, bagaimana bisa ia sampai di akademi sekarang?"Ucap Eden sambil menundukkan kepalanya dan berkonsentrasi penuh.


"Dan juga gadis itu....Apa jangan-jangan ada sebuah pintu teleportasi untuk menuju ke akademi Viothen Vrawl di tempat ini?!"Sahut Zenos setengah berteriak.


"Atau, semua hal yang ada disini ternyata hanyalah sebuah ilusi!"Lanjut Eden.


"Hei, kau berangkat bersama dengan kakak-kakakku bukan? apakah kalian berpisah di tengah jalan?"Tanya Eden lagi.


"Ini......"Gumam Zenos sambil menundukkan kepalanya.


"Zenos, ada apa?"


"A-aku tidak mengingat apa-apa dari saat kita meninggalkan kerajaan Venttrusus. Aku hanya memiliki ingatan begitu bangun disini kemarin, dan paman itu...."


Eden tersentak, ia menyadari sesuatu."Pa-paman yang telah melemparkanku juga menghilang ya!"Teriak Eden.


Ditempat lain, Gordon yang sedang


sedang sibuk membersihkan sebuah ruangan tiba-tiba mengalami bersin."Hachiuuu! ahh, siapa lagi yang sedang berbicara buruk tentangku dibelakang?"Gumam Gordon sambil mengusap-usap hidungnya.


"Eden, untuk sementara waktu mari kita merahasiakan hal ini terlebih dahulu. Jika ada kesempatan baru kita akan menjelaskannya ke mereka."Zenos membalikkan badannya dan menghela nafas panjang, sedangkan Eden menghela nafas lega karena dirinya tidak lagi berada dalam posisi yang dihimpit oleh tubuh Zenos.


"Lebih baik kita tidak usah memberitahu mereka saja, lagipula setelah ujian ini berakhir kita akan segera pergi ke akademi Viothen Vrawl yang sesungguhnya. Bukan begitu?"Ucap Eden sambil menepuk pundak Zenos.


"Kurasa kau ada benarnya juga, baiklah! hal ini akan menjadi rahasia kita berdua saja ya?"Zenos tersenyum hangat dan mulai melangkah meninggalkan tempat itu, Eden ikut berjalan di sampingnya dan berkata.


"Mulai hari ini kita berteman Zenos, namaku adalah Eden."


"Hmph! kau ingin menyombongkan diri ya? siapa orang yang tidak mengenalmu di tempat ini?"Ucap Zenos sambil merangkul leher Eden dari belakang.


"Astaga, kau benar-benar suka merangkul orang lain ya?"


"Hehe~"


****


"Huwaaaaaaaa! tetapi aku adalah teman sekamar Eden, mengapa kau tidak mengijinkan diriku untuk setim dengannya!?"


"Tidak boleh, kami tidak akan menerima orang lagi. Tidak boleh!"Teriak Refana.


"Aku mohon~"


"Ahh, lepaskan kakiku!"Bentak Refana sambil memukul-mukul kepala seorang pria yang sedang memeluk kakinya.

__ADS_1


"Apakah kau benar-benar teman sekamarnya Eden?"Tanya putri Leony.


"Benar-benar merepotkan."Gumam Ryzen.


"Re-refana, kenapa kau tidak membiarkannya be-bergabung dengan kita saja?"Tanya Rin pelan.


"Tidak akan!"Teriak Refana sambil menyilangkan kedua lengannya.


"Hei, ada ribut-ribut apa ini? kenapa kalian berisik sekali?"Zenos dan Eden melangkah keluar dari sebuah semak-semak disamping mereka, Eden tersentak kaget begitu melihat seseorang yang sedang terduduk di tanah sambil memeluk pergelangan kaki Refana. Eden memiringkan kepalanya dan tak lama kemudian mulutnya terbuka lebar.


"Aaaahhhhhhh, ternyata kau adalah teman sekamarku. Sedang apa ka-"


"Eden, tolong bantulah aku. Aku ingin berada di satu tim yang sama denganmu namun mereka tidak mengijinkannya sama sekali, huhu~"Teriaknya sambil melangkah mendekati Eden, dan memeluknya sambil menangis tersedu-sedu.


"Hei, lepaskan Eden!"Bentak putri Leony.


"Woii!"Teriak Refana.


'Ingin berada satu tim denganku!? tentu saja, karena dengan begitu kau bisa mengawasi gerak-gerikku setiap saat bukan? aku akan mengikuti alur permainannya, lagipula ia tampak agak menyedihkan.'Batin Eden sambil tersenyum hangat, dan menepuk kepala pria itu.


'Eh, apa yang sedang dia lakukan? aku ingin bergabung dengan tim ini agar bisa selalu mengawasimu, kalau aku tiba-tiba bersikap akrab seperti ini tidakkah kau merasakan sesuatu? cepat tolak aku, cepat tolak!'Batinnya sambil mengeratkan pelukannya ke Eden, tanpa sadar.


"Refana, apakah kita benar-benar tidak boleh menambahkan orang lagi? kita hanya berenam, tambah satu lagi tidak apa-apa bukan?"Eden mengelus-elus belakang kepalanya karena merasa tidak enak meminta hal seperti itu, lagipula Refana sudah terlihat seperti seorang kapten bagi mereka.


'Ehh?'


"Itu, tapi Eden....."


"Maafkan aku, tapi jika kau tidak menerima dia maka aku juga tidak akan bergabung kedalam tim."Ucap Eden tegas.


"Eden?!"


'Dia!? kenapa melakukan hal seperti ini untuk orang yang baru saja ia kenal?'Batin teman sekamar Eden dengan mata yang terbelalak.


"Heh! apakah kau sedang mengancam kami?"Tanya Ryzen sambil tersenyum sinis.


"Iya, tetapi keputusan berada di tangan kalian. Kita bertujuh atau kalian berlima!"Eden menatap Ryzen sinis, senyuman yang berada di wajah pria bertudung kepala itu tiba-tiba berubah menjadi mengerikan.


"Hei, siapa namamu?"Tanya Eden.


"Ahh!? na-namaku Oicler, tapi kau bisa memanggilku dengan O."Jawab teman sekamar Eden sambil melepaskan pelukannya.


"Refana, aku tidak mau masuk ke dalam tim ini jika tanpa Eden."Ucap putri Leony pelan sambil menundukkan kepalanya.


"Ehh, Leony!?"


"Refa, kurasa sebaiknya kita membiarkan anak itu masuk saja. Aku tidak mau membiarkan Eden pergi."Zenos tersenyum nakal kearah Eden sambil mengedipkan matanya, Oicler yang secara tidak sengaja juga melihat hal itu merasa merinding sama seperti Eden.


"Re-refana, kumohon."Bujuk Rin.


"I-ini, kalian semua, baiklah. Aku menyerah~"Ucap Refana sambil mengangkat kedua tangannya.


"EHH!?"


"Refana, maksudmu kau akan membiarkan anak baru itu masuk bukan!? kita bertujuh kan?"


"Ahh~ Refaku yang imut, kau sangat baik sekali~"

__ADS_1


"Syukurlah~"


"Haa, terimakasih banyak Refana!"Eden tersenyum gembira dan Oicler hanya berekspresi biasa-biasa saja, ia hanya merasa sedikit kebingungan mengenai Eden.


'Kenapa dia tampak sangat gembira? sedangkan aku saja, tidak merasakan apa-apa.'Batin Oicler.


"Hei, anak baru!"Teriak Refana.


"Ahh, iya!?"Oicler menoleh ke arah Refana, lalu merapikan pakaiannya dan memberi hormat kehadapan semua orang sambil berkata."Perkenalan bukan? namaku adalah Oicler yang tampan, tapi kalian juga bisa memanggilku dengan sebutan O. Salam hangat dariku untuk kalian semua~"Oicler berpose keren dihadapan semua orang, sejenak setelah ia memperkenalkan diri suasana menjadi hening dan tenang seketika, namun tak lama kemudian suara tawa pun pecah.



"Hahahahahaha, kau benar-benar lucu anak baru."


"Kau aneh, hahaha."


"Mengapa ada sebuah bunga di


bajumu?"Tanya Zenos.


"Sa-salam kenal."


"Wahahahahaha, aku sudah tidak tahan lagi."Refana menghapus air matanya yang mengalir keluar, kata-kata Oicler yang menurutnya paling lucu adalah Namaku adalah Oicler yang tampan.


Oicler tidak mengeluarkan reaksi apapun dan hanya diam saja ketika dirinya diolok dan ditertawakan oleh semua orang, Eden melangkah mendekatinya dan menepuk pundaknya pelan sambil tersenyum."Kini kau telah menjadi anggota tim kami jadi otomatis kita telah berteman sekarang, O. Namaku adalah Eden."


Angin yang sejuk bertiup dan menerbangkan daun-daun pepohonan yang telah gugur di tanah, beginilah awal mula terciptanya tim EDEN. Mereka bertujuh akan selalu melewati suka dan duka bersama-sama, tidak terpisahkan, berjanji untuk menjaga dan melindungi satu sama lain, menjadi sejarah yang tidak akan pernah bisa dilupakan oleh ras elf untuk selama-lamanya.


'Bolehkah aku berteman dengan mereka? tidak, maksudku. Apakah mereka benar-benar ingin berteman dengan orang sepertiku?'Batin Oicler.


"Hahaha, salam kenal anak baru. Maaf karena aku telah menertawakanmu tadi, namaku adalah Refana."


"Aku adalah Leony."


"Anak baru, namaku adalah Zenos."Zenos melangkah mendekati Ryzen dan merangkul lehernya."Dan dia adalah Ryzen."


"A-aku Rin."Ucap Rin pelan.


"Kami semua menyambut kedatanganmu!"Ucap semuanya serempak.


'Ehh, aku merasa senang. Rasanya aku sangat ingin tersenyum, aku tidak ingin bersandiwara lagi. Aku sudah tidak tahan! ini memuakkan, aku.....'


"Terimakasih semuanya, terimakasih banyak, sungguh. Akhirnya aku bisa terlepas dari semua rantai itu, terimakasih."Ucap Oicler sambil tersenyum hangat, ia pun mengusap air matanya yang hampir menetes.


"Hahaha, kau ini ternyata sangat cengeng ya? kemarilah."Ajak Refana sambil menarik tangan Oicler.


"Hei, lain kali kau harus memanggilku kakak. Mengerti?"Ucap Zenos berbangga diri.


"Hahahaha, kalian benar-benar konyol."Tawa Oicler.


'Ohh, jadi seperti ini ya? karakter asli Oicler?'Eden menatap Oicler yang sedang bermain dan tertawa bersama Refana, jika dilihat-lihat dengan lebih jelas ternyata Oicler tampak sangat menyedihkan.


'Kakak-kakakku yang baik, sebenarnya apa yang telah kalian lakukan selama ini? kini dia telah menjadi salah satu sahabatku, aku tidak akan membiarkan kalian menyentuhnya lagi.'Batin Eden sambil tersenyum sinis, dan lagi-lagi sebuah kilatan cahaya berwarna merah terang muncul di kedua matanya.


'Apakah aku bisa terus seperti ini? bolehkah aku bersikap tamak untuk kali ini saja?'Batin Oicler sambil tersenyum gembira.


To be continued_»

__ADS_1


__ADS_2