
Semua orang telah memiliki tim nya masing-masing, mereka kembali ke lapangan dan satu tim memisahkan dirinya dari tim lain agar tidak terlihat berantakan. Tak lama setelah mereka kembali, Hoffen juga akhirnya keluar dari dinding kedap suara yang ia buat, ia melirik tajam ke arah dua tim yang beranggotakan tujuh orang. Salah satunya adalah tim milik Eden, dan satunya lagi milik Card.
"Hooh! ternyata kalian semua telah memiliki tim kalian masing-masing, semua kapten tim dipersilahkan untuk maju kedepan."
"Ehh, kapten!?"Teriak Refana, ia lalu segera menoleh ke belakangnya."Ryzen, kau maju kedepan!"
"Tidak mau!"Balas Ryzen dingin.
Mendengar jawaban dari Ryzen, Refana lalu menoleh ke arah sampingnya."Leony!"
"Maafkan aku teman, aku tidak tertarik."Ucap putri Leony sambil membalikkan badannya.
"Waahh, Zenos, atau Eden! Kalian berdua cepatlah maju kedepan!"Teriak Refana mengubah targetnya.
"Tidak mau!"Ucap Eden dan Zenos bersamaan.
"Huhu, anak baru~"
"Hmm, apa kau sedang berbicara denganku? maaf, aku tidak bisa mendengarmu."Oicler menutup kedua telinganya dan bersiul-siul sambil menoleh ke arah lain, Refana membatu seketika. Nyawanya seperti sedang diserap keatas langit perlahan-lahan.
"Hei, tim yang ada disana! apakah kalian belum memiliki kapten!?"Ucap Hoffen lantang, merujuk ke arah tim Eden.
"WAAAHHH!"
"Xixixixixi~"Tawa Pink pelan.
"Pangeran Eden, kemarilah."Panggil Hoffen.
"A-apa!?"Ucap Eden kaget.
"Wahahahahaha, sambut kapten baru kita!"Teriak Refana.
__ADS_1
"Pufftt...."
"Kapten Eden, hahahahaha!"Tawa Zenos.
"Selamat~"Bisik Oicler didekat telinga Eden.
"Se-selamat."Ucap Rin.
"Pergilah kapten."Ryzen mendorong tubuh Eden agar ia bisa maju kedepan, Eden mendecakan lidahnya kesal ketika melihat tawa teman-temannya semakin menjadi. Hoffen tersenyum tipis ketika Eden sudah hampir sampai ke tempat para kapten tim berkumpul, Pink menatap Eden jahil sedangkan keempat anggota peri suci yang lainnya hanya terdiam saja.
Eden menyilangkan sebelah tangannya ke dada, kemudian menundukkan kepalanya."Namaku Eden, kapten dari tim.....!"Eden tersentak dan tiba-tiba berhenti berkata-kata.'Ehh, apa nama tim kita ya?'Eden menoleh ke belakang dan menaikkan sebelah alisnya, seakan mengerti apa maksud dari raut wajah Eden. Refana, Zenos, dan putri Leony pun berteriak secara bersamaan.
"Gunakan namamu!"
'Ohh.'Eden pun kembali menghadap Hoffen, dan menundukkan kepalanya."Kapten dari tim EDEN telah datang dan melaporkan nama anggota-anggotanya. Leony, Oicler, Refana, Rin, Ryzen, Zenos, dan yang terakhir Eden. Jumlah anggota tujuh orang!"Eden lalu mengangkat kembali kepalanya dan menatap Hoffen, ia tahu bahwa Hoffen pasti sengaja memilihnya karena ingin melakukan sesuatu.
'Ohh, ternyata dia sudah tahu ya?'Batin Hoffen sambil mengelus-elus dagunya.
"Paham, guru Hoffen."Sahut semuanya.
"Baiklah, sekarang aku meminta setiap kapten tim untuk mengeluarkan senjata sihirnya."Ucap Hoffen sambil tersenyum licik.
"APA!?"
"Apa!? apa-apaan ini?!"
'Ck! ternyata yang dia incar adalah Elegishku!'Batin Eden sambil mengertakan giginya.
Lagi-lagi suasana berubah menjadi riuh dan ribut, tidak ada satupun tim yang bisa bersikap tenang begitu mendengar Hoffen meminta para kapten untuk mengeluarkan senjata sihirnya. Mereka mulai menduga yang tidak-tidak dan secara refleks menaikkan penjagaan di sekitar diri mereka sendiri, Hoffen pun sampai tertawa dibuatnya.
"Hahaha, mengapa wajah kalian tampak begitu tegang? apa yang sedang kalian semua pikirkan?"Tanya Hoffen.
__ADS_1
Hoffen memang tampak sedang tersenyum dan merasa senang dihadapan semua orang sekarang, namun sebenarnya saat ini ia sedang murka dan telah memaki semua orang yang berada di lapangan diam-diam. Mereka tidak mematuhi perintahnya dan menganggapnya seperti seseorang yang sangat berbahaya, padahal niat Hoffen hanyalah sekedar melihat Elegish, dan menyegelnya.
"Aku bilang cepat dan keluarkanlah senjata sihir kalian! kapan ujian bisa dimulai jika kita terus begini?!"Bentak Hoffen keras.
Semua orang terdiam begitu mendengar bentakan guru Hoffen, dasar! mereka semua begitu ketakutan setiap kali melihat guru jahil itu mulai berteriak, semakin diamnya seseorang ketika sedang marah maka semakin besar pula amarahnya jika terlepas keluar. Seperti Eden.
Card melangkah maju satu langkah dan mengulurkan tangannya ke hadapan Hoffen."Lerwayuuzq pi'baal~" Busur silang keemasan yang dipenuhi dengan sebuah berlian berukuran kecil muncul ditangan Card begitu mantra miliknya selesai diucapkan, semua orang memperhatikan senjata sihir Card dengan seksama termasuk Eden.
'Rasanya aku seperti sedang bernostalgia, itu adalah senjata sihir kedua yang pernah kupakai selain Elegish.'Batin Eden.
"Hmm, lumayan~ kembalilah ke tim mu, kapten Card."Ucap Hoffen.
"Baiklah, terimakasih guru Hoffen."Card menghilangkan senjata sihir miliknya, atau bisa dibilang juga ia kembali ke dalam ruang hampa di hatinya. Cara memanggil dan menyimpan senjata sihir setiap orang memiliki dua jenis yang sangat berlawanan, seperti Oicler. Ia tidak menyimpan senjata miliknya kedalam ruang hampa seperti Eden dan putri Leony, ia membawanya dengan cara yang manual yaitu mengantungkan di belakang punggung.
Para kapten tim lainnya yang melihat Card melangkah pergi dan tidak mengalami hal apapun menarik nafasnya dalam-dalam sambil tersenyum lega, mereka mengeluarkan senjata sihirnya secara bergiliran dan merasa yakin bahwa Hoffen pasti tidak akan melakukan apapun.
"Verparasess tuk'zee!"
"Tyrkairr jewe'bo."
"Hepararates gaaza!"
Beberapa menit berlalu dan semua kapten tim telah kembali ke tempatnya semula, dan hanya menyisakan Eden sendiri saja. Elf itu masih merasa ragu-ragu untuk mengeluarkan Elegish karena melihat senyuman yang telah merekah di wajah Hoffen daritadi, ia lalu membatin.'Sudah kuduga, dia pasti ingin merampas Elegish dariku, untuk apa dia melakukan hal seperti itu? sial, senyumannya sangatlah menjijikkan.'
"Pangeran Eden, sekarang adalah giliran anda~"
'Cihh, jika nanti kau hendak berbuat yang tidak-tidak maka jangan salahkan aku berbuat kasar.'Eden memejamkan matanya dan mengibaskan tangan kanannya ke samping."Elegish!"
SRINGGGGGGG!!
To be continued_»
__ADS_1